
Salimah keluar dari ruangan Hari dengan keadaan lesu. Perkataan sepupu mantan suaminya yang mengatakan jika sang mantan suami akan kembali ke negeri ini membuatnya antara senang dan bingung.
Hari mengatakan kalau nanti dia tahu kapan waktunya, dia akan memberitahu Salimah, sebab sudah di pastikan kalau seluruh keluarga besar akan menyambutnya.
"Kenapa Sal? Kamu kenapa kelihatan sedih begini?" tanya Alawiyah begitu melihat Salimah keluar dari ruangan Hari.
Salimah mendudukkan diri di sofa yang di khususkan menerima tamu di bagian itu.
"Kata Pak Hari, mas Afnan udah sadar terus udah mau pulang ke sini," jawab Salimah.
"Harusnya kamu senang kenapa malah sedih?" heran Alawiyah.
"Kamu gimana sih Al! Aku ini lagi hamil, anak orang lain lagi. Yang bikin aku sedih, enggak ada pertanyaan tentang aku dan Rino saat mas Afnan sadar," lirihnya.
"Apa mantan ibu mertuaku mengatakan sesuatu yang buruk tentangku dan mas Afnan percaya ya Al? Atau ada yang lain?" sambungnya.
Alawiyah menghela napas, dia tahu kekhawatiran sang sahabat. Dia pun penasaran, mungkin ibunda Afnan belum memberitahukan tentang perceraian mereka, atau mungkin mantan mertua sahabatnya itu berbohong pada putranya tentang Salimah.
"Aku bingung harus ngomong apa, kalau ketemu Afnan sekarang, aku yakin mantan mertuamu pasti langsung menjatuhkanmu," jawab Alawiyah apa adanya.
Salimah kembali menunduk sedih, Alawiyah lantas mengusap bahu sang sahabat.
"Kan masih ada pak Hari, kamu minta beliau aja jadi perantara kamu. Tapi minta dia rahasiain dulu kehamilan kamu sama Afnan dan keluarganya," saran Alawiyah.
Salimah tersenyum, dia akan melakukan apa yang di sarankan Alawiyah, harapannya seolah kembali.
Dia akan bersabar sampai anak ini lahir dan menemui Afnan lagi.
Lagi pula hubungan keluarga Afnan dan Hari memanglah tidak pernah akur, jadi Salimah bisa menggunakan Hari sebagai perantara antara dirinya dan Afnan.
.
.
Sore hari, Evita yang sudah merasa segar setelah beristirahat di hotel, memutuskan kembali ke kediaman sang putra.
Di kediaman Jendral sendiri tengah terjadi keributan yang cukup besar. Jendral tengah kesal karena keberadaan sang ibu tak di temukan, tentu saja dia menyalahkan sang istri karena menganggap sang ibu pergi karena ulah istriya.
Saat dia menanyakan apa yang terjadi dengan ibunya ketika dia pergi bekerja, justru ucapan sinis keluar dari mulut mertuanya.
"Enggak ada yang ngusir ibu kamu, tapi dia aja yang keluar sendiri, kok jadi kamu salahin Triya? Kamu mau Triya kenapa-kenapa karena stres akibat ulah ibu kamu!" sentak Tati kesal.
Jendral meraup wajahnya kasar. Dia melirik sang istri yang menangis di atas ranjang mereka.
__ADS_1
Jika ada mertuanya, maka permasalahan mereka akan semakin panjang.
Iwan, ayah Triya yang baru bangun dari tidur lantas menuju ke kamar sang putri karena mendengar keributan mereka.
"Ada apa sih Mah! Berisik banget tau," keluh Iwan pada sang istri.
"Ini loh Pah, menantu kamu, enak aja dia nyalahin Triya karena ibunya pergi!" adu Tati.
Iwan seakan tak begitu peduli, karena kalau mereka sedang berkunjung ada saja hal yang di ributkan, entah apa lagi sekarang, pikirnya.
Yang Iwan pikirkan saat ini adalah perutnya yang keroncongan minta di isi.
"Lapar papah mah!" ucap Iwan tak peduli.
"Ish, papah ini gimana sih, anak di perlakukan semena-mena sama menantu kita kok kamu malah ngurusin perut aja!" gerutu Tati.
"Terus mau apa? Bukannya biasa kalau kita ke sini ada aja hal yang kalian ributin? Papah enggak bisa berpikir kalau lapar mah!" jawab Iwan sengit.
Mendengar nada suara suaminya yang mulai meninggi Tati memilih menghentikan rengekannya.
Dia lantas menatap Triya dan juga Jendral. "Kalian pesankan makanan untuk kami. Tuh papah kelaparan!" pintanya.
Jendral hanya bisa menghela napas kasar, begitulah kalau kedua mertuanya datang ke sini.
Kalau Evita yang main, jangankan masak, ibu kandung Jendral itu bahkan tak segan membantu sang menantu membersihkan rumah dan mengisi segala keperluan dapur.
Belum lagi uang yang pasti akan dia tinggalkan. Pernah dulu dia mengatakan perbedaan kedua orang tua mereka pada Triya.
Namun tak di sangka, jawaban Triya justru membela orang tuanya sendiri dan mengatakan wajar kalau Evita memberikan segalanya pada mereka sebab Jendral anak tunggal.
Sedangkan orang tua Triya, memiliki dua anak lain selain dirinya.
"Di kulkas ada bahan masakan Mah, kenapa enggak di masak aja?" pinta Jendral pelan.
Tati menoleh dan menatap sengit sang menantu. "kamu nyuruh mamah masak?!" ketusnya.
"Mamah ini udah cape dari rumah. Terus mau santai di rumah kalian, tapi kalian justru mau membudaki mamah? Keterlaluan!" sungutnya semakin kesal.
Memang di rumahnya masih ada satu orang anaknya yang tinggal bersama dengannya dan juga cucunya.
Segala pekerjaan rumah sering di lakukan Tati, makanya jika berkunjung ke kediaman Triya, dia selalu berharap bisa bersantai dari rutinitasnya mengerjakan pekerjaan rumah tangga.
Makanya dia selalu merasa jika wajar besannya membantu sang putri sebab di rumahnya, sang besan tak pernah melakukan pekerjaan rumah tangga karena memiliki pembatu.
__ADS_1
Baru akan menjawab ucapan sang mertua, mereka di kejutkan dengan ucapan salam dari suara wanita yang telah membuat keributan di rumah tadi.
"Ibu!" seru Jendral segera berlalu ke pintu depan.
Evita mengernyit heran saat melihat raut wajah sang putra yang terlihat lega.
"Ada apa?" tanya Evita heran.
"Ibu dari mana? Aku cemas banget tadi. Aku kira ibu marah terus pulang tanpa pamit ke kami," jelas Jendral sambil memeluk ibunya.
Rasa lega luar biasa mendapati sang ibu kembali, membuatnya merasa tenang.
"Hei jeng! Astaga, kamu ini bisa-bisanya buat heboh anak dan menantu kamu karena pergi gitu aja! Kamu tau? Jendral memarahi Triya hanya karena dia enggak tau ke mana jeng pergi!" sentak Tati sambil menunjuk wajah Evita dan Jendral bergantian.
"Maafkan saya besan, bukannya tadi saya udah bilang kalau saya mau istirahat? Saya sangat kelelahan tadi," jawab Evita tenang.
"Emang ibu dari mana?" sela Jendral penasaran.
"Ibu abis menemui Salimah dan ibu datang ke sini mau ngajak kamu menemui Salimah—"
Ucapan Evita di potong begitu saja oleh Tati.
"Apa-apaan kamu jeng! Menyebut nama wanita lain di hadapan kami Hah!" bentak Tati sambil berkacak pinggang.
Wajah wanita itu sangat merah padam menahan amarah dan kesal luar biasa pada Evita.
Dia tak menyangka mertua putrinya itu bisa berlaku kejam pada putrinya dengan menghadirkan wanita lain dalam kehidupan rumah tangga anaknya, pikir Tati.
Jendral menegang karena ibunya berbicara mengenai Salimah di hadapan mertuanya.
"Bu," Jendral hendak menarik Evita masuk ke kamarnya dan mencoba menghentikan maksud sang ibu.
"Tunggu, ada apa lagi sih ini! Dari tadi kan papah bilang papah lapar, bukannya pada nyiapin makanan malah masih ribut aja!" sela Iwan yang tadi sempat kembali ke kamar untuk kembali merebahkan diri.
Namun karena mendengar suara keributan semakin besar membuatnya sangat marah dan memutuskan keluar lagi.
.
.
.
Tbc
__ADS_1