
Evita sudah sampai di kediaman Salimah. Hanya ada Iyem dan Rino di rumah sebab, saat ini Salimah pasti masih bekerja.
Iyem yang mengenal baik Evita tentu mengizinkan mantan mertua Salimah untuk masuk.
"Bu Evi? Ya Allah gusti. Kaget ibu datang. Mbak Imah enggak ada bilang kalau ibu mau kemari, saya jadi belum menyiapkan makan siang untuk ibu," ucap Iyem.
"Mbok ini, saya memang enggak bilang sama Salimah. Boleh kami masuk mbok?" pinta Evita yang kini berada di teras rumah Salimah.
"Nenek?" sapa Rino sambil menyalami Evita.
Evita tanpa sungkan mencium anak Salimah yang sudah di anggapnya cucu sendiri.
"Ini kakek, salim sama kakek," pinta Evita pada Rino.
Bocah lima tahun itu lantas mendekati Darmono dan menyalami ayah Jendral.
"Siapa namanya?" tanya Darmono mencoba mengakrabkan diri pada cucu sambungnya.
"Lino Kek," jawab Rino dengan logat cadelnya.
"Nah yang ini tante Fitria," sambung Evita memperkenalkan Fitria.
Rino lantas mendekati Fitria dan menyalami anak angkat Evita.
"Anak ganteng udah sekolah belum?" tanya Fitria dengan menyejajarkan tubuhnya dengan tinggi badan Rino.
"Udah tante, Lino sekolah Tk," jawabnya lugas. Bocah itu tak malu atau takut pada orang baru sebab sedikit banyak dia tahu siapa orang yang baru saja datang karena diperkenalkan oleh Evita.
"Ayo masuk Bu! Apa mau langsung istirahat? Kamar tamu juga selalu bersih kok," tawar Iyem pada keluarga Evita.
"Iya Mbok, ini suami saya biar istirahat aja dulu," jawab Evita tak merasa sungkan.
Bukan karena rumah yang saat ini di tempati Salimah adalah pemberiannya. Namun karena entah kenapa datang ke rumah Salimah memiliki perasaan yang berbeda.
Dia yakin Salimah tak akan pernah keberatan dengan kedatangannya, tak seperti Triya menantunya.
Setelah mengantar sang suami beristirahat, kini Evita, Fitria dan mbok Iyem sedang bercengkerama di ruang keluarga dengan menggelar karpet.
Di sana juga Evita bisa mengistirahatkan tubuhnya yang lelah.
Beruntung kamar di rumah Salimah ada tiga jadi mereka bisa tinggal di sana saat ini.
Mbok Iyem sendiri masih pulang pergi ke rumahnya sendiri karena memang berada di kota yang sama dengan Salimah.
Namun terkadang dia juga menginap di sana jika di perlukan. Seperti beberapa waktu ini, dia lebih sering tinggal di kediaman Salimah karena tak tega meninggalkan Salimah yang tengah hamil besar seorang diri.
__ADS_1
"Nanti bantu Ibu masak buat Salimah ya Fit, pasti dia senang," pinta Evita dan hanya di balas anggukan olah Fitria.
.
.
Tak lama suara mobil berhenti di depan rumah Salimah membuat mereka semua bangkit untuk menyambut ibu hamil tersebut.
Saat Iyem membukakan pintu untuk majikannya, betapa terkejutnya Salimah mendapati Evita berada di kediamannya.
"Ibu!" pekiknya senang.
Ibu hamil itu refleks mendekati Evita dengan tergesa-gesa lalu memeluknya.
Sungguh penyambutan yang sangat berbeda di pandangan Fitria.
Terlihat sekali jika Salimah sangat senang dengan kedatangan Evita, tak ada raut kesal tau pun malas, berbeda sekali dengan Triya yang justru terlihat tak peduli dengan ibu angkatnya itu.
"Eh, ini siapa Bu?" tanya Salimah begitu menyadari keberadaan seorang gadis manis di belakang Evita.
"Oh iya, kenalin Sal, ini Fitria, anak angkat ibu," jelas Evita.
Fitria lantas mengulurkan tangan untuk memperkenalkan dirinya. Keduanya saling menyebutkan nama masing-masing.
Hanya saja, ada yang menggelitik dirinya. Mengapa Evita tega menjadikan Salimah sebagai rahim pengganti.
Pikiran Fitria selalu berprasangka buruk pada Evita karena sampai sekarang Evita tak pernah menjelaskan kejadian di balik putranya menikahi Salimah pada Fitria.
Sedangkan gadis itu menganggap alasan di balik pernikahan kedua Jendral sama seperti apa yang dulu pernah hampir terjadi padanya.
"Ibu udah lama datang? Kenapa enggak ngabarin? Untung Salimah enggak jadi pergi," aku Salimah jujur.
"Memang kamu mau pergi ke mana Sal?" tanya Evita penasaran.
"Salimah mau kontrol kandungan, tapi badan rasanya lengket semua, makanya pengen mandi dulu baru pergi ke rumah sakit."
"Ya ampun kebetulan banget kalau begitu. Apa ibu boleh ikut?" pinta Evita antusias.
"Tentu aja boleh. Sekalian kita ke Mall yuk Bu, pengen liat baju-baju bayi. Liat aja sih, belinya nanti."
Keduanya terkekeh mendengar celotehan ibu hamil itu. Bahkan Evita terlihat sangat lepas jika berhadapan dengan Salimah di bandingkan Triya.
Wanita paruh baya itu tak perlu hati-hati dalam berkata, karena Salimah tak pernah merasa ada yang salah dengan setiap perkataan Evita.
Berbanding terbalik jika Evita berbicara dengan Triya. Dirinya selalu harus hati-hati dalam berbicara karena salah-salah, mereka bisa terlibat dalam percekcokan panjang.
__ADS_1
"Kamu juga ikut ya Fit, sekalian nanti kita makan di luar gimana Bu?"
Evita dan Fitria mengangguk bersamaan, jelas saja Evita merasa senang di sana sebab di perlakukan baik oleh mantan menantu keduanya, pikir Fitria.
"Kamu tadi pulang sama siapa Sal?" tanya Evita penasaran. Sebab orang yang mengantar Salimah tak sempat turun tadi.
"Itu Alawiyah Bu, dia kan sopir aku, antar jemput aku pergi kerja. Padahal aku udah nolak, tapi dia kekeh karena katanya khawatir sama keadaan aku," jelas Salimah sambil menggeleng tak percaya dengan kelakuan sahabatnya.
Dia tahu kalau Alawiyah sangat menyayanginya dan ingin melindunginya, tapi terkadang Salimah merasa selalu merepotkan sahabatnya itu.
"Ibu sampai lupa belikan kamu mobil ya Sal," lirih Evita merasa bersalah.
Salimah terkesiap mendengar ucapan sang mantan mertua. Bukan maksudnya meminta mobil pada Evita mengenai ceritanya tadi. Dia hanya sekedar menjelaskan saja.
"Eh, enggak gitu Bu! Aku enggak butuh mobil. Maaf kalau Salimah salah bicara, sungguh bukan maksud Salimah seperti itu Bu," sergah Salimah panik.
"Ibu ngerti, cuma ibu benar-benar lupa, karena memang kamu membutuhkan kendaraan untuk keperluan kamu sayang," jawab Evita lembut.
Jelas dia sangat paham maksud ucapan Salimah. Tak ada sekali pun mantan menantu keduanya itu meminta sesuatu padanya.
Hanya saja nuraninya sendiri merasa tersentil karena bagaimana pun dia tak memberikan alat transportasi untuk menunjang kehidupan Salimah.
"Syukurlah. Ibu enggak usah kasih Salimah macam-macam lagi. Satu pinta Salimah, doakan saja Salimah dan cucu ibu selalu sehat dan di mudahkan dalam segalanya, itu lebih dari cukup bu," pinta Salimah tulus.
Fitria tersenyum bahagia bisa mengenal Salimah. Meski ada sisi dirinya yang mengatakan jika Salimah ini terlalu baik atau bodoh.
"Ibu datang ke sini sama bapaknya Jendral juga Sal. Tapi beliau lagi istirahat. Dia juga ingin sekali bertemu dengan kamu loh," jelas Evita senang.
"Iya kah? Wah ada acara apa sampai bapak mau ke sini juga?"
Salimah merasa sangat antusias mendengar penuturan sang mantan mertua.
Dirinya yang selalu merasa terbuang, kini bisa merasa di perhatikan dan di inginkan.
"Sebenarnya kami datang ke sini selain ingin menjengukmu juga karena Triya akan melakukan syukuran empat bulanan."
Hati Salimah merasa tercubit, dia sadar jika dirinya bukanlah siapa-siapa bagi Evita. Kegembiraan yang tadi sempat dia rasakan terkikis sudah, karena dia tahu tujuan utama Evita datang bukanlah untuk bertemu dengan dirinya, melainkan menghadiri acara istimewa menantu Evita yang sebenarnya.
.
.
.
Tbc
__ADS_1