Anakku Hanya Milikku

Anakku Hanya Milikku
Bab 21


__ADS_3

Jendral benar-benar di buat malu dengan sikap sang istri. Dia seperti tak mengenali sifat istrinya yang berubah sedrastis ini.


Memang makanan di sana terbilang cukup mahal bagi mereka. Namun tak mungkin dirinya tak mampu membayar.


"Kamu pesan aja Bun, jangan ngeributin siapa yang bayar!" sergah Jendral.


"Harus di pastiin dong Yah, bunda kan enggak mau kita buang-buang uang. Inget loh keperluan kita banyak," jawab Triya.


"Bukankah aku udah bilang pesan aja, jangan khawatir, aku yang bayar!" sela Alawiyah yang merasa jengah.


"Baiklah," jawab Triya sambil menunjuk beberapa makanan yang benar-benar paling mahal di sana.


Selain penasaran dengan rasa makanan yang menurutnya mahal, dia juga ingin memberi pelajaran pada Alawiyah yang di rasanya sangat sombong.


"Bun apa-apaan sih, banyak banget itu, kalau enggak abis juga mubazir jadinya," tolak Jendral.


Dia lalu memesankan satu porsi steik dan minuman untuk istrinya. Sedangkan dia menyamakan minumannya saja dengan sang istri.


"Apaan sih Yah, lagian aku juga pengen tau rasanya. Pasti abis, orang aku bawaannya laper mulu," balas Triya jengkel.


Jendral tak menggubris ucapan istrinya. Dia segera menutup buku menu dan menyudahi pesanan.


Triya masih saja menggerutu karena sang suami menyia-nyiakan kesempatan makan enak secara gratis.


Alawiyah dan Salimah hanya menatap keduanya. Salimah bahkan tak percaya dengan sikap tak tahu malu Triya yang tak pernah dia tahu.


"Sekarang kita mulai pembahasannya aja! Kami enggak punya banyak waktu juga," sergah Alawiyah yang membuka pembicaraan.


"Apa enggak makan dulu? Kamu tau wanita hamil itu gampang emosi kalau lapar," elak Triya.


"Lanjutkan aja Al," jawab Jendral.


Dia tahu kalau dua orang di depannya ingin segera membicarakan masalah mereka. Dia juga tak ingin berlarut-larut. Biarlah Triya menikmati makanannya, sedangkan dia akan mendengarkan permintaan mereka.


"Tunggu Sal. Mas Jendral juga akan menceraikan kamu. Berhubung kalian tidak terikat pernikahan secara negara, jadi kamu enggak bisa menuntut nafkah untuk anakmu itu ya," ucap Triya buru-buru.

__ADS_1


"Kalau pun kamu mau menggugurkannya itu lebih baik. Mungkin kami mau membiayainya untuk terakhir kali—"


"Cukup!" sela Jendral menghentikan ucapan Triya.


"Kamu bentak aku mas?" jawab Triya dengan mata berkaca-kaca. Dia tak menyangka sang suami akan meninggikan suaranya di depan orang lain.


Triya merasa harga dirinya di injak-injak oleh sang suami, terlebih di hadapan dua orang yang ingin dia singkirkan.


"Kamu jangan bicara keterlaluan seperti itu Bun! Kamu ingin membunuh anakku?" balas Jendral kesal.


"Aku enggak mau anakku berbagi dengan anak lain Yah," lirihnya.


"Lalu apa dulu kamu enggak memikirkan hal itu? Gimana kalau setelah Salimah melahirkan lalu kamu hamil? Apa kamu juga akan menyingkirkan anak itu? Picik sekali pikiranmu," sela Alawiyah.


Salimah hanya menunduk merutuki kebodohannya. Dia yang gelap mata karena ingin mencari keberadaan suaminya tak pernah memikirkan keputusannya sampai jauh ke depan.


Benar kata Alawiyah, bagaimana nasib anaknya kalau kelak Triya mengandung. Dia tak bisa membayangkan kalau anaknya mungkin akan di buang atau di kembalikan padanya kelak.


Kini dia sudah yakin dengan keputusannya, kalau dia akan terus memperjuangkan anaknya, meski tak di akui oleh ayahnya sendiri.


Mungkin lebih baik anaknya berada dalam pengasuhan ibu kandungnya, pikir Jendral mantap.


"Kalau anak itu terlebih dulu ada ya pasti aku sudah menyayanginya. Kalau pun nantinya aku hamil tetap enggak akan aku bedakan mereka. Cuma kan keadaannya berbeda, anak kita seumuran jelas aku lebih memilih anak kami sendiri."


"Misal pun kamu enggak mau menggugurkan kandungan kamu ya itu keputusanmu, tapi yang jelas kami enggak mau terlibat sama anak itu di kemudian hari," ucapnya tanpa perasaan.


"Dasar iblis!" desis Alawiyah geram.


"Sudah Yah sebaiknya kamu talak Salimah sekarang, Alawiyah yang jadi saksinya," jawab Triya tak peduli dengan hinaan Alawiyah.


Jendral menarik napas, ingin sekali dia menarik sang istri pergi dari sana karena ucapan istrinya sangatlah tak masuk akal baginya, tanpa perasaan dia ingin membunuh anaknya yang ada pada Salimah.


Dirinya tak bisa membiarkan hal itu terjadi. Bagaimana pun anak itu adalah darah dagingnya. Tak akan dia biarkan orang lain melukai anaknya, meski anak itu adalah hasil pembuahan.


Alawiyah dan Salimah yang sebetulnya ingin bertanya, tapi tanpa bertanya pun Triya sudah mengungkapkan keinginannya membuat Alawiyah sigap mengambil keputusan.

__ADS_1


Dia lantas mengeluarkan secarik kertas di mana ada materai di sana.


"Baca ini baik-baik. Kami tak perlu lagi bertanya karena sepertinya kalian sudah memiliki jawaban sendiri," cibir Alawiyah.


Triya lantas mengambil kertas itu dan membacanya sambil memakan makanannya.


"Maksud kamu apa?!" sentak Triya kesal.


"Kamu doa in anak kami kenapa-kenapa!" sambungnya sengit.


"Bukankah semua bisa terjadi? Seperti saat ini, kamu aja dengan enggak punya hatinya melepaskan tanggung jawab pada Salimah dan anaknya, gimana kalau ada apa-apa di kemudian hari? Kamu mau ambil anak Salimah lagi? Enak aja," jawab Alawiyah.


Triya menggeram kesal. Dia tak masalah kalau pun harus kehilangan anak yang di kandung Salimah.


Namun tulisan di sana yang mengatakan kalau dia dan suaminya tak bisa merebut atau mengambil anak Salimah jika terjadi sesuatu dengan anak mereka membuatnya tak terima.


Bagi Triya mereka seperti menyumpahinya. Dia merasa bukankah apa yang di lakukannya tidak salah? Lalu kenapa mereka seolah kesal dengan keputusannya.


Jendral lantas membaca kata demi kata yang tersusun rapi di sana secara mendetail. Dia menghela napas. Bukan seperti ini keinginannya.


Kalau pun tidak bisa merawat anak itu, dia tetap berharap Salimah tetap mau mengenalkan dirinya sebagai ayah kandung dari anaknya kelak.


Jendral lantas menyela pertikaian Alawiyah dan istrinya yang masih merasa jika mereka menyumpahi anak dalam kandungannya.


"Di mana kami harus tanda tangan?" ujar Jendral.


"Apaan sih Yah! Mereka harus tarik kata-kata mereka dulu yang ngatain anak kita!" tolak Triya.


"Terus kamu maunya gimana?" jawab Jendral jengkel.


"Ya, pokoknya jangan ada kata-kata 'jika di kemudian hari terjadi sesuatu dengan anak kalian' itu loh yang enggak aku suka," keluh Triya.


"Terus apa maumu? Benarkan kita harus jaga-jaga sama orang licik seperti kalian. Memperhitungkan kemungkinan yang akan terjadi," sela Alawiyah.


"Tanda tangani atau tolak silakan kalian pikirkan. Tapi ingat, kalau kalian menolak maka aku akan membawa kasus ini kemeja hijau. Kamu tau kan aku bisa menuntutmu saat ini?"

__ADS_1



__ADS_2