Anakku Hanya Milikku

Anakku Hanya Milikku
Bab 38


__ADS_3

Kediaman Jendral sudah cukup ramai dengan kedatangan mertua serta saudara-saudara Triya.


Jika saat acara Salimah dulu keluarga besar sang istri tak ada yang bisa datang kini mereka semua bersedia hadir di kediamannya.


"Untungnya kita enggak buang-buang waktu ke sini waktu itu ya Mah! Nyatanya hamil boongan," cibir Via pada sang kakak.


"Cih! Yang penting kan Gue sekarang udah hamil Vi!" jawab Triya kesal.


"Ya syukurlah. Badan lu gede bener Tri, baru juga empat bulan, enggak takut Mas Jendral kepincut sama mantan istri sirinya?" cibir Via pada sang kakak.


Mulut keluarga itu menang sangat pedas, bagi mereka mungkin biasa, tapi jika seseorang yang baru mengenal mereka bisa berpikiran kalau keluarga itu tak pernah akur.


Mungkin ada benarnya, toh kadang-kadang Triya sering bertengkar dengan ibu atau pun adik-adiknya. Meski tak lama kemudian mereka kembali berbaikan.


Ucapan pedas dan ketus masih di anggap biasa oleh mereka.


Percakapan mereka terhenti kala ada suara panggilan salam di luar rumah Triya dan Jendral.


Triya sendiri memilih segera masuk ke kamarnya, enggan mencari tahu siapa tamunya.


Via yang memang duduk di ruang tamu segera bangkit dan menengok ke arah pagar.


"Tri, mertua lu dateng noh!" seru Via yang sama sekali enggan menyambut mertua sang kakak.


Dia juga tak pernah memanggil Triya dengan panggilan layaknya kakak beradik.


Triya yang memang mendengar ucapan sang adik memilih tak peduli. Nanti juga merek bertemu dan dia masih malas berbasa-basi pada mertuanya.


Tati yang mendengar ucapan putri keduanya lantas bangkit dari dapur.


"Kenapa enggak di bukain sih Vi!" seru Tati kesal.


"Males mah, mager," jawab Via jujur, adik Triya itu bangkit dan memilih pindah ke ruang tengah bersama adik iparnya.


Terpaksa Tati yang menyambut keluarga besannya. Meski kesal, dia sadar bahwa kehadiran besannyalah yang di butuh kan sang putri saat ini.


Apalagi kalau bukan uang dan bantuan tenaganya. Tati bahkan sudah membayangkan makanan lezat yang akan di masakan oleh Evita untuk makan mereka nanti.


"Mayanlah, bisa makan enak lagi nanti," gumamnya.


Tati lantas membuka pintu pagar, dia terpaku sejenak saat menatap seorang gadis yang datang bersama dengan besannya.


"Eh jeng Evi, Pak Darmono, udah sehat kah?" sambut Tati berbasa-basi.


"Alhamdulillah Bu, udah janji juga sama Jendral kalau saya mau datang ke acaranya," jawab Darmono sekenanya.


"Loh iya dong wajib, kan ini cucu sah kita," entah apa maksud ucapan Tati. Namun Evita dan Darmono tak memedulikannya.

__ADS_1


Mereka hanya kesal karena tak di minta segera masuk ke dalam. Tentu saja mereka lelah dan ingin segera mendudukkan diri.


"Ini siapa jeng?" tanya Tati yang tak paham gerakan tubuh Evita yang mengusap dahi tanda dia sudah kepanasan di luar sana.


"Dia Fitria, anak asuh saya," jawab Evita datar.


Beruntung Jendral datang dari arah belakang mereka dan segera meminta keluarganya untuk masuk.


"Bapak, Ibu!" panggilnya setelah turun dari mobil dan menyambar barang bawaan orang tuanya.


"Jendral, dari mana nak?" tanya Evita lega.


Sedangkan Tati merasa kesal karena di acuhkan oleh besannya.


"Habis pesan ketring bu, untuk acara besok," jawab Jendral setelah menyalami orang tuanya.


"Oh ya udah, semuanya sudah selesai?" tanya Evita begitu sampai di ruang tamu.


Jendral mengangguk. Sedangkan tubuh Evita mendadak kaku saat melihat penampakan rumah putranya yang sangat berantakan.


Melihat sikap sang besan yang seperti itu membuat Tati justru merasa kesal karena seolah Evita tengah menghakimi keluarganya.


"Kenapa berhenti jeng? Kesal lihat rumah Triya berantakan?" tanya Tati ketus.


Evita hanya bisa menghela napas, belum apa-apa sang besan sudah bersiap mengajaknya bertengkar.


Evita hanya bisa tersenyum kaku dan mengangguk. Jendral segera membereskan beberapa mainan dan bungkus sisa makanan yang berserakan di atas sofa.


Sejujurnya dia juga merasa kesal dengan kelakuan keluarga istrinya, tapi dia bisa apa. Jika dia protes justru akan memicu pertengkaran lainnya.


Fitria sendiri hanya bisa berucap dalam hati merutuki sikap mertua dari kakak angkatnya.


Kasihan kamu mas, pantas ibu kamu ingin kamu menikah lagi, ternyata keluarga istri kamu itu benar-benar mengerikan.


"Ayo duduk Fit, jangan bengong aja!" pinta Jendral pada anak angkat orang tuanya.


Fitria lantas menuju kursi satu dudukan sedangkan Darmono dan Evita duduk di sofa panjang.


Darmono sangat kelelahan. Andai boleh meminta, dia ingin sekali merebahkan tubuhnya di ranjang guna merebahkan tubuhnya.


"Sebentar ya Bu, pak, Jendral buatkan minum dulu," ucap Jendral yang memilih segera menghidangkan suguhan untuk orang tuanya, sebab tak ada tanda-tanda sang mertua akan membuatkan suguhan untuk orang tuanya.


"Biar Fitria aja Mas, di mana dapurnya? Mas Jendral ngobrol aja sama bapak dan ibu," sela Fitria menawarkan diri.


Gadis itu merasa gemas dengan keluarga mertua Jendral yang tak ada satu pun paham menyediakan suguhan untuk orang tua angkatnya.


Bahkan tak ada satu pun dari mereka yang keluar memperkenalkan diri, padahal Fitria jelas mendengar suara orang berbicara dan tertawa di ruangan dalam.

__ADS_1


"Ayo mas antar!" ajak Jendral yang merasa tertolong dengan tawaran Fitria.


Benar saja, saat dirinya melewati ruang keluarga Jendral, ada mertua dan beberapa orang dewasa yang tengah asyik berbincang sambil mengunyah makanan.


Dia adalah adik-adik Triya beserta pasangannya. Fitria bahkan tak habis pikir dengan kelakuan mereka yang menyampah di rumah Jendral.


"Siapa dia Jen?" tanya Via penasaran.


"Oh ini anak angkat ibu Vi."


"Mau ke mana kalian?!" seru Triya tiba-tiba yang baru saja keluar dari kamarnya.


"Astaga Bunda. Kamu udah bangun?" jawab Jendral.


"Kamu belum jawab aku Mas, kenapa wanita ini ada di sini!" ketus Triya kesal.


Dia menatap garang pada Fitria yang berjalan masuk ke dalam rumahnya.


Meski mertuanya tak pernah mengatakan langsung padanya tentang niatan mereka menjadikan Fitria istri kedua suaminya.


Namun Triya tak bisa serta merta menyembunyikan kebenciannya pada Fitria. Jelas dia masih merasa kalau Fitria bisa menjadi ancaman lagi baginya.


"Kamu kenapa sih Bun? Fitria datang sama ibu dan bapak. Dia mau bantu aku buatkan minum untuk mereka," jelas Jendral sambil mengusap lengan sang istri.


Fitria hanya diam bergeming, dia merasa kalau Triya tahu akan rencana ibu angkatnya tentang pernikahan keduanya waktu itu.


Namun dia tak takut, toh nyatanya mereka tidak pernah menikah.


"Siapa sih dia Tri? Kok lu kesel gitu?" sambar Via yang merasa janggal dengan kemarahan sang kakak.


"Jangan bilang kalau nih cewek pernah mau di jodohin sama mertua lu?" tebaknya asal tapi tepat sasaran.


Triya memilih bungkam, adiknya itu memang bisa menjadi kompor yang membuat masalah di sekitar mereka semakin bertambah runyam.


"Jangan bilang itu bener Jen!" seru Tati murka.


Tati lantas mendekati mereka dan berdiri di hadapan Fitria.


"Kamu siapa? Jangan-jangan kamu mau mengganggu rumah tangga anak saya!" maki Tati tiba-tiba.


"Aku enggak mau tau Mas, pokoknya aku enggak mau lihat dia di sini!" sergah Triya.


.


.


.

__ADS_1


Tbc


__ADS_2