Anakku Hanya Milikku

Anakku Hanya Milikku
Bab 54


__ADS_3

Salimah kembali merasa heran karena Fitria terlihat sekali seperti menjaga jarak dengannya.


Seperti saat ini, gadis dengan hijab hitam itu tengah melamun sambil mengaduk tehnya.


"Fit?" tegur Salimah.


"Kamu kenapa lagi?" Salimah tetap perhatian pada adik angkatnya meski gadis itu jelas-jelas tengah menaruh hati pada mantan suaminya.


"Mbak Sal," jawab Fitria linglung.


Sore hari di halaman belakang rumah Salimah, keduanya memutuskan berbincang sambil menikmati minuman favorit mereka.


"Mbak, boleh aku meminta sesuatu sama mbak?" ucap Fitria tiba-tiba.


Salima tentu saja mengernyit bingung, permintaan apa lagi yang bisa dia berikan pada adik angkatnya itu.


"Ada apa? Katakanlah, siapa tau mbak bisa mengabulkannya," jawab Salimah hati-hati.


"Aku mencintai pak Afnan mbak, sangat ..." Fitria menarik napas, berusaha menenangkan debaran jantungnya. Dia tak berani menatap Salimah yang berada di sebelahnya. Sebagai ganti dia memilih memandang lurus kedepan.


"Pak Afnan adalah lelaki pertama yang mampu membuatku kembali menemukan sosok lelaki idaman," sambungnya.


Hati Salimah berdenyit nyeri mendengar segala ungkapan hati Fitria. Bingung bagaimana harus menjawabnya.


"Aku menginginkan pak Afnan mbak. Jadi ... Aku harap mbak mau mengerti perasaanku," ucap Fitria ragu-ragu.


"Mbak enggak paham maksud ucapan kamu Fit," jawab Salimah jujur.


Memang kurang mengerti apa dia? Bukankah Fitria memang sudah mengakui perasaannya? Lagi pula Afnan hanya mantan suaminya.


Salimah sadar tak berhak marah pada Fitria yang mencintai mantan suaminya. Perasaan gadis itu datang bukan sebagai orang ketiga.


Kini Fitria memantapkan hati dengan keinginannya. Dia menatap Salimah dengan berani.


"Aku harap mbak enggak punya keinginan untuk kembali pada pak Afnan. Tolong mbak," pintanya menahan malu.

__ADS_1


Fitria sadar permintaannya sangat keterlaluan, tapi dia tak peduli. Dia berharap Salimah mengerti akan dirinya.


Fitria takut jika sampai Salimah tahu bagaimana mantan suaminya itu terlihat masih mengharapkannya, dirinya yakin mereka pasti akan kembali dan dia tak mau itu terjadi.


Oleh sebab itu dia memperingatkan Salimah agar tak termakan oleh bujukan Afnan kelak.


Dia harus bergerak cepat. sebab terlihat jelas jika sang atasan tengah berupaya mendekati kembali kakak angkatnya melalui dirinya.


Salimah menggeleng sambil tertawa miris. Benar-benar perempuan yang memiliki hati yang teguh, batin Salimah mengungkapkan sikap Fitria saat ini.


"Kenapa kamu bisa berpikir demikian? Apa Mas Afnan mengatakan sesuatu padamu?" pancing Salimah.


Tubuh Fitria menegang. Bagaimana bisa sang kakak angkat yang terlihat bodoh itu bisa menebak pikirannya.


"Kamu kenapa? Apa pertanyaanku benar Fit?" cecar Salimah yang gemas melihat sikap Fitria.


"Enggak. Pak Afnan enggak berkata begitu—"


"Apa dia bilang kalau masih mencintaiku?" potong Salimah.


Dulu Fitria menebak, jika Salimah adalah sosok pendiam yang tak akan mampu melawan ucapan orang-orang, meski di hina sekali pun.


Munafik! Batin Fitria memaki.


Wajahmu yang polos ternyata menyimpan sikap yang sangat munafik mbak!


"Kamu kenapa? Kelihatan kesal sama mbak, Fit?" tebak Salimah santai.


Dia tidak bodoh dalam melihat sorot mata kebencian dari adik angkatnya itu.


Sepertinya aku salah menerima dia. Fitria seperti seorang gadis yang menyimpan banyak sekali teka-teki.


"Apa maksudnya mbak akan kembali pada pak Afnan?" elak Fitria.


Salimah tertawa, membuat Fitria mengernyitkan dahinya bingung. Dia merasa di permainkan oleh kakak angkatnya saat ini.

__ADS_1


"Aku memang masih mencintainya Fit. Perpisahan kami bukan atas dasar keinginan kami. Dan aku yakin mas Afnan juga masih mencintaiku—"


"Tolong tau dirilah mbak!" seru Fitria yang sudah tak bisa lagi memendam kekesalannya.


Tawa Salimah berhenti. Gadis santun dan polos yang pertama kali dia lihat pada sosok Fitria hilang sudah.


"Apa maksud kamu Fit? Kita bicara santai, tapi sepertinya dari tadi kamu merasa cemas akan sesuatu. Kamu takut aku kembali pada mas Afnan?" jawab Salimah datar.


Fitria membuang muka. Dia enggan melihat wajah Salimah yang menurutnya sangat munafik.


"Aku tanya, siapa kamu Fit? Apa hubunganmu dengan mas Afnan? Kekasih? Tunangan? Atau istri?"


Pertanya Salimah tentang status Fitria memukul telak sikap angkuh sekretaris Afnan itu.


Siapa memangnya dia yang berani memaki Salimah dengan kata 'tak tahu diri'.


Salimah tak menyangka hanya karena laki-laki Fitria bisa berubah mengerikan seperti ini.


Fitria mendengus kesal, tentu saja dia tak bisa menjawab pertanyaan menohok Salimah.


"Dia bukan siapa-siapa kita Fit. Bukan aku yang harus tau diri, tapi kita. Mimpimu terlalu tinggi jika ingin bersanding dengan Afnan."


"Kita bagaikan langit dan bumi dengan dia. Kamu tak tau bagaimana perangai keluarganya. Maaf mbak harus jujur padamu sebelum perasaanmu terlalu jauh pada mas Afnan."


"Menyerahlah, lupakan dia. Bukan mbak ingin merebut mas Afnan darimu. Tapi mbak berusaha melindungimu. Keluarganya sangat mengerikan. Mbak hanya takut kamu akan merasakan nasib yang sama dengan yang mbak alami," jelas Salimah panjang lebar.


"Mbak enggak usah mengkhawatirkan aku, terima kasih atas nasihat mbak. Aku hanya berharap, mbak mau memberikan aku kesempatan. Aku akan pegang janjiku kalau tak akan pernah memisahkan Rino dengan ayahnya," jawab Fitria penuh percaya diri.


.


.


.


Tbc

__ADS_1


__ADS_2