
Pikiran dua insan yang masih saling mencintai itu sama-sama kalut.
Salimah yang di minta pulang oleh Hari juga tengah termenung sedih mendapati perubahan pada diri mantan suaminya.
Ada rasa cemburu, rindu dan kesal bercampur menjadi satu.
Dia menangis meluapkan perasaannya. Perasaan yang tak bisa dia gambarkan bagaimana sakitnya.
Sedangkan di kediaman Afnan. Lelaki itu juga tengah termenung. Mengingat raut wajah cantik sang mantan istri membuatnya sedih tak terkira.
Dalam hati bertanya, mengapa Salimah begitu tega mengkhianatinya.
Afnan memejamkan mata sangat erat saat mengingat perut buncit Salimah tadi.
Pikirannya melayang membayangkan sang istri berbagi kehangatan dengan Hari, sepupunya.
Dia menyadari jika sejak dulu Hari pernah terlihat kagum pada Salimah, oleh sebab itu dia tak lagi sering membawa Salimah jika ada pertemuan keluarga.
Afnan tentu saja cemburu. Namun melihat kini keduanya bersama, membuat perasaannya semakin terasa sakit.
Dia merasa di curangi dan di pecundangi oleh Salimah dan Hari.
Afnan tertawa tapi air mata tak henti keluar dari kedua matanya.
Hatinya hancur tak terkira. Dia yang tadinya berpikir jika Salimah akan selalu mencintainya, kini di liputi perasaan marah dan dendam.
Brak!
Bingkai foto yang berisikan foto keluarga kecilnya menjadi sasaran kemarahannya.
Afnan menatap bengis pada wajah bahagia mereka bertiga yang dia rasa penuh kepalsuan.
"Kamu memang picik Sal!" monolognya.
__ADS_1
Sri dan Norma yang berada di luar kamar Afnan terkejut mendengar suara benda jatuh dengan keras dari kamar Afnan.
"Tante itu suara apa? Jangan-jangan mas Afnan berbuat nekat?" tanya Norma panik.
"Hust! Jangan sembarangan ngomong, enggak mungkin Afnan berpikiran pendek," elak Sri sambil berjalan ke arah kamar Afnan.
Sri mengetuk kamar sang putra dengan panik. Kali ini dia kembali mendengar suara benda jatuh lainnya. Bahkan suara kaca pecah membuat perasaan Sri semakin ketakutan.
"Afnan! Afnan! Buka nak! Kamu kenapa? Tolong hentikan! Ini mamah sayang! Jangan buat mamah sama Norma takut," pekik Sri cemas.
Prang, brak!
Suara kegaduhan semakin terdengar dari dalam kamar Afnan. Putranya itu seperti hilang kendali.
Karena sudah tak tahan, dia lantas meminta petugas keamanannya untuk membantu dirinya kalau-kalau Afnan melukai dirinya sendiri.
Sri membuka kamar Afnan dengan kunci cadangan miliknya.
Betapa terkejutnya Sri saat melihat kamar sang putra sangat berantakan.
Sri bergegas mendekati sang putra. Afnan masih menangis. Sebelah tangannya memegang foto keluarga kecilnya.
"Ada apa Nan? Jangan seperti ini, lupakan Salimah. Dia memang enggak pantas buat kamu," ucap Sri sambil menangis.
Sungguh dia tak pernah menyangka kalau sang putra akan terlihat semenyedihkan ini. Dia pikir saat memberitahukan kebohongan tentang Salimah tempo hari, Afnan percaya begitu saja.
Terlihat sang putra yang tak banyak protes atau membantah ucapannya.
Namun ternyata dia salah, ternyata Afnan diam karena tak ingin sang ibu semakin menjelekkan istrinya.
"Tolong tinggalkan Afnan mah," pinta Afnan datar.
"Ka-kamu mengusir mamah? Hanya karena wanita sialan itu kamu berani mengusir mamahmu Afnan?" tanya Sri tak percaya.
__ADS_1
Sri memang tak sadar diri. Dia tak melihat jika Afnan tengah frustrasi di sana. Wanita paruh baya itu bahkan terus mencecarnya, membuat sakit di kepala Afnan kembali.
"Hanya karena Salimah kamu berani sama mamah, hah? Apa hebatnya dia? Baru satu kali ketemu kamu langsung berubah sama mamah!"
"Memang kamu pikir selama ini yang selalu ada di samping kamu itu siapa? Mamah Afnan! Mamah!" bentaknya tak terima.
Afnan berjalan linglung. Ocehan dan makian sang ibu membuat telinganya berdengung.
Norma yang memperhatikan dari jauh hanya bisa menggeram kesal melihat kelaluan Sri.
Astaga ibu macam apa tante Sri ini, harusnya saat anaknya lagi kalut gini, dia berusaha menghibur.
Ini malah justru menyudutkan mas Afnan, bagaimana dia bisa lupa sama mantan istrinya. Kalau kelakuan ibunya kaya gini.
Karena merasa Sri sudah cukup banyak menyudutkan Afnan, Norma mengambil kesempatan untuk menarik simpati Afnan.
"Tante udah tenang. Jangan salahkan Mas Afnan. Dia masih syok, apa tante enggak kasihan? Lihat wajah Mas Afnan pucat," sela Norma lembut.
Sri baru sadar akan sikapnya yang meledak-ledak tadi bisa memicu menurunnya kesehatan sang putra.
"Maafkan mamah Nan," lirihnya lalu mendekati sang putra yang memilih tiduran sambil menutup mata menggunakan lengannya.
"Tolong tinggalkan Afnan sendiri mah," pinta Afnan lagi.
Dia memang hanya butuh sendiri demi menenangkan batinnya yang merancu.
Kehilangan wanita yang masih di cintainya tak mungkin sembuh begitu saja. Afnan butuh penjelasan.
Namun apa dia sanggup mendengarnya langsung dari mulut Salimah? Rasanya tidak.
.
.
__ADS_1
.
Tbc