
Evita memutuskan untuk kembali ke kotanya. Bukan karena sedang perang dingin dengan sang menantu, tapi karena suaminya, Darmono di kabarkan sakit oleh asisten rumah tangganya.
Hari ini dia kembali menemui Alawiyah dan Salimah terkait janjinya untuk membelikan Salimah rumah yang layak.
"Dalam surat perjanjian kemarin hanya Jendral yang tak boleh mengganggu gugat anaknya yang ada padamu," ucap Evita.
"Namun belum ada kata talak darinya, bagaimana pun kalian masih sah sebagai suami istri. Ibu mau tanya sama kamu, apa kamu mau melepaskan Jendral, atau tetap bersedia menjadi istri keduanya?" tanya Evita pelan.
Salimah menatap Alawiyah dan di balas anggukan oleh sang sahabat, "maafkan Salimah Bu, niat menikah kami memang udah salah sejak awal. Salimah hanya berpikir agar supaya nasab anak ini tetaplah milik mas Jendral, tapi kenyataan terkadang tak sesuai rencana manusia ya," jawab Salimah sambil tertawa miris.
"Setelah bayi ini lahir kami memang berencana bercerai Bu, selama ini pun tak ada hubungan layaknya suami istri antara saya dan mas Jendral," sambung Salimah.
"Karena keadaannya udah kacau seperti ini memang sepertinya lebih baik kami berpisah aja. Bagaimana pun saya enggak mau langkah saya berat karena masih berstatus sebagai seorang istri," jelas Salimah.
Evita menghela napas, andai boleh memilih, dia lebih memilih Jendral bersama dengan Salimah dari pada Triya.
Namun putranya itu memang sangat mencintai istrinya itu. Kalau melihat dari sikap dan sifat keduanya jelas Salimah dan Evita sangat berbeda.
Dia tak mau egois, bagaimana pun Triya pasti merasakan luka sendiri dengan memiliki madu.
Dulu saja dia sempat ingin mencarikan istri kedua untuk sang putra, pun dengan niatan yang sama agar putranya memiliki keturunan sendiri.
Namun tak pernah sekali pun dia berharap sang putra akan meninggalkan Triya. Dia berpikir biarlah menantu keduanya hidup bersamanya dan tak mengganggu kehidupan rumah tangga Jendral dan Triya.
Justru kini mereka menempuh cara yang dulu dia pikirkan tapi di tolak mentah-mentah oleh Jendral.
Oleh sebab itu Evita masih berharap Salimah tetaplah menjadi menantu keduanya dan hidup bersama dengannya beserta sang cucu tanpa mengganggu kehidupan Jendral dan Triya.
Namun setelah di pikir-pikir, Evita tak mungkin egois, Salimah masih muda, masa depannya masih panjang, bisa jadi dia bertemu dengan lelaki baik yang mau menerima keadaannya.
Evita lantas menggenggam tangan Salimah. "Berjanjilah sama Ibu, kalau nanti kamu menemukan lelaki baik dan ingin hidup bersamamu, tolong jangan pisahkan kami dengan anakmu ya," pinta Evita.
Salimah tersenyum lalu mengangguk, "enggak akan Bu, saya tetap akan memberitahukan dia tentang keluarganya," jawab Salimah yakin.
"Ya udah kalau begitu, yuk kita survei rumah kamu!" ajak Evita.
__ADS_1
Alawiyah tersenyum semangat, dia melakukan semua ini demi hak yang harusnya Salimah dapatkan dari keluarga Jendral.
Mereka akhirnya mendatangi satu perumahan yang di rekomendasikan oleh Alawiyah.
Meski Evita membebaskan Alawiyah untuk mencarikan rumah, tak membuat Alawiyah lupa diri dan semena-mena.
Setidaknya dia memilihkan rumah yang berada di bawah perumahan milik Jendral dan Triya. Agar dua manusia itu tak mengusik Salimah dan anaknya kelak.
"Perumahan ini?" tanya Evita gamang, sebab dia tahu ini adalah kelas perumahan biasa, perumahan yang di subsidi oleh pemerintah.
"Apa kamu yakin? Enggak ada yang lebih baik dari ini Al?" sambungnya lagi.
"Bu, ini udah lebih dari cukup, lagi pula di sini dekat sama kantor aku kerja dan lingkungannya juga cukup nyaman," balas Salimah.
"Apa enggak ada yang kelasnya seperti punya Jendral?" tanya Evita lagi.
"Bu, Salimah merasa rumah ini cukup. Dia enggak mau kalau pemberian ibu nantinya malah jadi bumerang bagi Triya untuk memojokkan Salimah," jawab Alawiyah.
Evita mengangguk paham, dia tahu apa yang di pikirkan dua wanita itu. Menantunya memang akan semakin mengganggu Salimah jika tahu dia memperhatikan Salimah sampai seperti ini.
Keduanya mengangguk setuju. Mereka bertiga lalu ke bagian kantor pemasaran guna melakukan transaksi pembelian.
Setelah sah menjadi milik Salimah, Evita lantas berpamitan pada keduanya jika akan kembali ke kotanya sendiri.
"Baik-baik kamu di sini ya Sal, jangan lupa selalu hubungi ibu. Jaga kesehatan cucu ibu, semoga aja ibu masih kuat buat jenguk kamu sebulan sekali ya," ucap Evita pamit undur diri.
"Terima kasih banyak ya Bu," balas Salimah sambil memeluk Evita.
Perasaan hangat yang tak pernah dia dapatkan dari ibu kandungnya sendiri membuat Salimah bisa melepaskan segala kerinduan itu pada Evita.
"Anggap saja ibu ini ibumu Salimah. Terima kasih sudah mau memberikan ibu cucu. Jangan pikir semua pemberian ini adalah sebagai bayaran untukmu ya, ibu benar-benar tulus menyukaimu," balas Evita sambil mengusap punggung menantunya.
"Satu yang harus kita lakukan sekarang yaitu, memutus pernikahan kamu dengan Jendral. Agar kalian bisa hidup damai."
Salimah mengurai pelukannya dan mengangguk mendengar ucapan Evita.
__ADS_1
"Pulang lah ke rumah, nanti sore ibu ke sana bersama Jendral," jelas Evita.
Salimah lantas pulang menggunakan mobil Alawiyah, sedangkan Evita memilih pulang menggunakan taxi online.
.
.
Sesampainya di rumah sang putra, Evita mengernyit heran karena ada sebuah mobil asing terparkir di depan rumah Jendral.
"Assalamualaikum," ucap Evita saat memasuki rumah yang pintunya terbuka lebar.
Di ruang tamu ada Triya dan ibunya tengah berbincang. Mata Triya sembab yang di yakini Evita menantunya itu tengah mengadu pada ibunya.
Terlihat juga Tati sang besan menatap sengit padanya.
"Besan? Kapan datang?" sapa Evita ramah.
"Kenapa? Ada gitu larangan buat saya datang ke rumah anak saya sendiri?" jawab Tati ketus.
Evita menghela napas panjang, dia berusaha sabar menghadapi besannya yang mungkin sudah mendengar permasalahan dirinya dengan sang menantu.
"Bukan begitu besan, kalau tau besan mau datang, tadi pulang saya bisa sekalian beli makanan untuk besan," jelas Evita.
"Namanya orang tua, aturan mah di rumah aja jeng, jangan ngelayap enggak jelas, buang-buang uang anak aja!" ketusnya.
"Astagfirullah," Evita tak menyangka sang besan bisa menuduhnya seperti itu. Mana ada dia menghamburkan uang anak dan menantunya, yang ada dia justru yang masih menyokong kebutuhan rumah tangga putra semata wayangnya.
Evita lantas menatap sang menantu meminta penjelasan. Namun sayang Triya justru membuang muka.
"Kenapa situ ngeliatin anak saya jeng? Mau marahin Triya? Jangan keterlaluan ya, bisa-bisanya Anda berani memelototi anak saya padahal ada saya di sini!" kecam Tati.
"Maaf ya besan, saya enggak memelototi Triya, hanya tak mengerti kenapa besan bisa semarah ini sama saya? Apa saya ada salah?" jawab Evita jujur.
"Alah, pura-pura enggak tau lagi!"
__ADS_1