Anakku Hanya Milikku

Anakku Hanya Milikku
Bab 33


__ADS_3

Hari ini Salimah sudah resmi pindah ke rumah barunya, tak lupa ia mengabari sang mantan ibu mertua yang telah memberikan keberkahan berupa tempat tinggal untuknya.


Evita yang berada di kotanya merasa senang karena Salimah bahkan tak sekali pun lupa sering menghubunginya. Tak segan bertanya tentang kabarnya dan sang suami.


Dirinya berjanji jika nanti keadaan ayah Jendral sudah membaik, mereka akan main ke sana sesuai janjinya dulu.


Evita juga telah memberitahu Darmono tentang permasalahan yang pernah di hadapi putra mereka.


Lelaki paruh baya itu hanya bisa menghela napas saat mengetahui sang putra berlaku begitu tak pantas pada seorang wanita, terlebih lagi, mempermainkan ikatan suci pernikahan.


"Gimana nasib kehidupan rumah tangga mereka kelak ya Bu? Bapak takutnya kalau Jendral terlalu di setir istrinya, maka lambat laun anak itu akan menjauhi kita," lirih Darmono.


"Sudahlah pak, Gusti Allah tau apa yang terbaik buat kita. Yang penting kita berdoa agar anak dan cucu kita selalu di berkahi kehidupan yang baik," jawab Evita menenangkan.


Tak lama seorang gadis berhijab putih dengan paras manis mendatangi keduanya sambil meletakan dua teh hangat dan juga camilan.


"Makasih ya Fit. Maafkan ibu yang enggak bisa menjadikanmu menantu. Tapi ibu janji akan tetap memperlakukanmu seperti anak kandung kami sendiri, seperti janji kami pada almarhum bapakmu," ucap Evita.


Gadis bernama Fitria itu adalah calon madu yang di siapkan oleh Evita dulu.


Dia hanya ingin agar gadis itu tak pergi dari rumahnya. Selain menyayangi Fitria, Evita dan Darmono pernah berjanji menjaga anak gadis mantan sopir pribadi mereka.


Fitria hanya mengangguk dan tersenyum bahagia. Baginya di perlakukan dengan layak dan di sekolahkan oleh majikannya membuat dirinya merasa bersyukur. Dirinyaa tak pernah berharap di akui sebagai keluarga.


"Bagaimana kuliahmu Fit?" tanya Evita.


"Tinggal nunggu wisuda minggu depan Bu," jawab Fitria segan.


Meski sering berbincang dengan majikannya, dia tetap merasa rendah diri di hadapan kedua orang tua Jendral itu.


"Setelah lulus apa rencanamu Fit?" Sambung Evita penasaran.


Meski dia membiayai anak sopirnya hingga ke perguruan tinggi, tak pernah sekali pun terbesit niatan untuk mencampuri masa depan Fitria.


Jika gadis itu memiliki mimpi besar untuk hidupnya, maka dirinya akan membiarkan langkahnya, asal semuanya positif.


Fitria yang di tanya seperti itu hanya bisa menunduk dalam. Ada sebuah keinginan dalam hati bekerja di kota besar. Dalam angan Fitria dia mungkin bisa mencari pengalaman di sana.

__ADS_1


Namun, dia segan mengatakan keinginannya, karena dulu sang ayah pernah berpesan, lakukan apa pun yang di perintahkan oleh Evita dan Darmono sebagai rasa balas budinya.


Jadinya saat ini dia menunggu apa yang Evita dan Darmono inginkan tentang masa depannya.


Sejatinya saat rencana pernikahannya dengan Jendral gagal, dia merasa senang. Hatinya sempat di landa kegalauan yang besar saat akan di jadikan istri kedua hanya demi sebuah keturunan.


Seperti dirinya hanya di anggap sebagai mesin pencetak anak. Dia memang mengakui jika Jendral adalah sosok lelaki idamannya.


Namun harus menjadi yang kedua dan dengan tujuan hanya untuk melahirkan anak, tentulah batinnya menolak.


Dia ingin di cintai, melahirkan anak karena mereka saling membutuhkan, bukan hanya di butuh kan saja.


"Kenapa Fit?" tanya Evita yang melihat seperti ada keraguan dari anak asuhnya.


"Sa-saya ingin merantau ke kota Bu, mencari pengalaman," jawab Fitria gugup.


Kedua tangannya saling meremas. Perasaan takut tentu saja menghampirinya. Dia takut di katakan tak tahu balas budi dan tak tahu di untung.


Namun tekad ingin mandiri dan mencari jati diri tak bisa di bendung lagi.


Evita tersenyum lalu mengusap bahu Fitria, ibunda Jendral tahu sekali kegundahan gadis di depannya.


Dia memegang kedua tangan gadis yang dulu dia harapkan bisa mendampingi sang putra.


Fitria menengadah menatap mata Evita. Kerinduan akan sosok sang ibu yang mampu di berikan oleh Evita tak ayal membuatnya tersentuh.


Meski ada batas antara mereka yang Fitria rasakan karena bagaimana pun dia merasa hanya sebagai seorang pekerja di rumah Evita dan Darmono.


Air mata menetes di sudut matanya. Kegundahan dan ketakutan yang selama ini ia rasakan seakan sirna saat Evita mau mengerti dirinya.


"Kami menjagamu karena amanah. Bapakmu bukan hanya sekedar sopir bagi kami. Tapi dia juga keluarga kami Fitria," ucap Evita bangga.


Ingatannya menerawang jauh saat dirinya dan Darmono bahkan hampir jatuh bangkrut saat tertipu oleh rekan bisnis mereka dulu.


Ayah Fitria yang sudah bekerja lama dengan mereka tak segan turun tangan dengan merelakan sertifikat rumahnya digadaikan untuk membantu kembali perekonomian keluarga Evita dan Darmono.


Bahkan ayah Fitria rela tidak di bayar saat mereka sedang kembali merintis sebuah usaha. Meskipun setelah berhasil Darmono dan Evita tak segan memberikan sesuatu yang sangat pantas untuk di terima oleh Ayah Fitria.

__ADS_1


Oleh sebab itu, menjaga dan merawat Fitria bukanlah suatu tanggung jawab, melainkan bukti balas budi mereka pada ayah Fitria dulu.


"Rencananya, kamu akan pergi ke mana?" tanya Darmono.


"Saya ingin ke Jakarta Bu, apa boleh?" jawab Fitria takut-takut.


Evita kembali tersenyum, "tentu saja, tapi apa boleh ibu memberi saran?"


Fitria lekas mengangguk, dia yakin apa pun yang di katakan oleh wanita yang selama ini merawatnya, adalah sesuatu yang baik.


"Ibu memiliki calon cucu dari mantan istri siri Jendral," ujar Evita hati-hati.


Hati Fitria mencelos, bukan cemburu, hanya merasa iba saja pada wanita yang akhirnya di jadikan rahim pengganti oleh Evita, begitu pikirnya.


"Dia tinggal di Jakarta. Mau kamu tinggal bersamanya dulu? Terus terang ibu khawatir, karena kamu pasti akan seorang diri di sana. Melepaskan kamu begitu aja juga ibu enggak berani."


"Kalau memintamu tinggal di rumah Jendral ibu rasa juga enggak mungkin. Gimana, kamu setuju?"


Fitria bimbang, dia tak mengenal mantan istri siri dari Jendral. Dia hanya takut wanita itu akan memperlakukannya buruk.


Melihat keraguan Fitria, Evita kembali menggenggam tangan anak asuhnya.


"Dia perempuan yang baik dan lembut. Ibu yakin kamu pasti akan kerasan di sana," sambungnya meyakinkan.


Fitria hanya tersenyum kaku, jelas dia tidak bisa begitu saja percaya pada ucapan dari Evita.


Namun untuk menolak jelas ia tidak berani, karena takut menyinggung majikannya.


Pilihan apa yang dia punya kalau tidak menerima usulannya?


Fitria hanya berharap semoga saja wanita yang di bicarakan mereka baik seperti ucapan Evita.


.


.


.

__ADS_1


Tbc


__ADS_2