Anakku Hanya Milikku

Anakku Hanya Milikku
Bab 35


__ADS_3

"Mas Afnan?" panggil Salimah lirih.


Sedangkan di hadapannya, sosok laki-laki yang masih sangat di cintainya itu diam dengan wajah datarnya.


Afnan yang memakai kaus berkerah warna putih dengan paduan celana jeans biru terlihat seperti dulu meski wajahnya masih sedikit tirus, tak tampak bahwa lelaki itu pernah mengalami koma hingga berbulan-bulan lamanya.


Di sebelahnya ada seorang wanita cantik dan seksi yang menggandengnya erat.


Hari pun sama terkejutnya, hingga membuat dia mematung.


"Jadi dia selingkuhanmu?" ucap Afnan dingin.


Salimah terdiam kaku, tak mengerti arah pembicaraan sang mantan suami beberapa detik.


Hingga dia menyadari keadaannya dan juga kebersamaannya dengan Hari.


Wanita di samping Afnan tersenyum sinis padanya.


"Kamu memilih bercerai denganku karena pecundang ini?" cibir Afnan.


Salimah benar-benar tak mengenali Afnan. Dia yang berpikir jika sang suami hilang ingatan dan melupakannya, di buat semakin sakit saat Afnan menuduhnya seperti sekarang.


Wanita itu menggeleng tak percaya. Ingin membantah tapi rasanya sulit saat tatapan Afnan padanya telah berubah.


Tak ada tatapan lembut yang dulu sangat di sukainya. Tatapan mata itu berubah datar dan menuduh.


Kenyataan kalau dirinya hamil dari lelaki lain mungkin juga bisa di jadikan alasan bagi Afnan membencinya dan menuduhnya berselingkuh.


Salimah bisa apa kalau tidak menerima dan pasrah atas segala ucapan Afnan padanya.


"Kamu menyukai Salimah sejak dulu. Aku ucapkan selamat karena kini kamu udah bisa memiliki dia!" sarkas Afnan menatap Hari tajam.


Hari tertawa sinis, malas mengelak dari tuduhan sepupunya yang memang tidak pernah menyukai dirinya.


"Selamat juga buat kamu karena udah bisa menaklukkan mantan calon istriku," balas Hari datar.


Tubuh Norma menegang, dia merutuki ucapan Hari yang mengatakan tentang siapa dia sebenarnya.


Meski sang calon mertua tau siapa dirinya. Namun dengan ucapan manisnya dia mampu membuat Sri percaya padanya.


Jangan sampai Afnan mencari tahu tentangnya karena ucapan Hari tadi, batinnya maracau.


"Ayo Sal, kita kembali!" ajak Hari yang tidak ingin mereka menjadi pusat perhatian karena drama pertengkaran.


Salimah menatap tak percaya pada atasannya yang justru enggan memberikan klarifikasi pada Afnan tentang status mereka yang di tuduhkan Afnan.


Masih banyak kerinduan serta penjelasan yang ingin Salimah ucapkan pada Afnan.

__ADS_1


Namun ia sadar, sang suami telah berubah. Mungkin hasutan ibu mertuanya telah di percayai sepenuhnya.


Kondisinya juga semakin menambah kepercayaan Afnan pada kebohongan yang mungkin di katakan mertuanya.


Tak ada daya untuk menyangkal dan mengelak. Beribu pertanyaan yang dulu ingin Salimah sampaikan jika mereka bertemu nyatanya menguap sudah.


Dia merasa sakit, saat Afnan bahkan tak memberikan kesempatan padanya untuk bicara.


Dirinya semakin bertambah sakit saat Afnan bahkan tak menyinggung soal putra mereka.


"Ayo Sal!" ulang Hari tak sabar.


Salimah berjalan lemah meninggalkan suami yang masih di cintainya.


Afnan sendiri sama terlukanya dengan Salimah.


Dia memang mengalami sedikit hilang ingatan, tapi tidak melupakan wanita yang di cintainya.


Bahkan saat sadar pertama kali yang dia cari adalah istrinya.


Namun seperti yang sudah di duga. Sri justru memberi kabar yang sangat menghantam jiwanya.


Yaitu kabar mengenai percerainya. Sang ibu bahkan menghasutnya dengan berita perselingkuhan Salimah, meski tak menunjukkan bukti-buktinya.


Dia yang tahu Salimah sedang mengandung bahkan di beri kabar oleh sang ibu, kalau Salimah sudah keguguran.


Kondisinya memang masih lemah. Bahkan demi mengobati depresinya karena kabar pengihanatan Salimah dia harus menjalani perawatan dengan seorang psikolog.


Setelah sedikit membaik, kini dia kembali untuk mencari kebenaran itu, tapi nyatanya, hal pahit yang justru dia dapatkan.


"Mas kamu enggak papa?" tanya Norma lembut.


Afnan menatap wanita yang selalu ada di sisinya dengan datar.


Dia memang merasa risi dengan sikap Norma yang berlebihan.


Namun dia tak kuasa menolak gadis itu karena sang ibu selalu memberitahu jika bukan karena Norma, mungkin dirinya tidak akan selamat.


Ya, Norma lah, wanita yang menyelamatkannya dari kecelakaan maut itu.


Sebagai ucapan terima kasih, sang ibu meminta dirinya untuk dekat dengan Norma.


Meski sudah berapa kali dia jelaskan pada Norma kalau dirinya masih mencintai Salimah. Norma bersikeras tetap berada di sampingnya, sebab merasa tak ada yang salah dengan kedekatan mereka.


Afnan yang duda dan dirinya yang lajang jelas tak menyakiti siapa pun dan merusak hubungan siapa pun, ucap Norma kala itu.


"Aku mau pulang," jawab Afnan sambil menyingkirkan tangan Norma yang bergelayut di lengannya.

__ADS_1


"Mas," keluh Norma yang kembali memegang erat tangan Afnan.


"Ayo kita pulang!" pasrah Norma.


Meski dia kesal karena kencannya jadi rusak. Namun dia puas saat Afnan melihat sendiri keadaan Salimah.


Tak ada penolakan dari Afnan saat Norma kembali menggandeng dirinya menuju parkiran.


Yang penting baginya kembali ke rumah dan beristirahat menenangkan pikirannya yang kacau.


Sesampainya di rumah, Sri menatap heran pada keduanya yang kembali sangat cepat.


Wajah keduanya pun tampak berbeda. Jika tadi Afnan berwajah datar saat dirinya meminta sang putra keluar dengan Norma.


Berbanding terbalik saat ini wajah sang putra terlihat seperti kecewa, sedangkan Norma yang tadi terlihat bahagia, kini justru terlihat muram.


"Loh kok kalian udah pulang?" tanya Sri menyambut Afnan dan Norma.


Dengan wajah dibuat memelas, Norma menghela napas dan berbicara pada Sri.


"Kami tadi ketemu mbak Salimah Tan, ternyata dia sedang hamil," sambil melirik ke arah Afnan.


Dia tersenyum senang dalam hati saat melihat perubahan wajah Afnan menjadi kaku.


"Apa?! Hamil? Dia udah keguguran Norma!" sanggah Sri kesal.


"Tante tenang dulu. Tadi kita ketemu mbak Salimah berdua sama mas Hari. Apa mungkin mereka berdua ...," ucap Norma sengaja menggantung.


Mata Sri memicing. Dia menatap Norma meminta penjelasan.


Dalam hati Norma merutuki kebodohan Sri yang tak tanggap dengan maksudnya.


Namun setelah dirinya berkedip, barulah Sri paham maksud ucapan Norma.


"Jadi selingkuhan Salimah itu Hari? Ck ... Ck, enggak nyangka ya. Tapi emang udah ke tebak kalo mereka berdua pasti punya hubungan. Hari sama orang tuanya itu dari dulu sangat suka sama Salimah," dusta Sri.


"Pantaslah mereka bersama. Cocok, yang satu anak enggak jelas. Satunya lagi anak enggak tau di untung. Cuma tante enggak nyangka aja sama orang tuanya Hari. Kaya enggak ada perempuan lain aja, Salimah di embat," cibirnya.


Afnan yang mendengar ucapan sang ibu jadi tak tahan dan segera berlalu menuju kamarnya.


Sri dan Norma tersenyum puas saat Afnan terlihat sangat kesal.


"Jadi beneran kamu ketemu sama Salimah? Dia ngomong apa aja?" cecar Sri kemudian.


Norma menghempaskan tubuhnya. Meski dia puas melihat pertemuan keduanya, tapi ada sedikit rasa kecewa karena tak bisa menjebak Afnan seperti niatannya awalnya.


__ADS_1


__ADS_2