Anakku Hanya Milikku

Anakku Hanya Milikku
Bab 48


__ADS_3

Salimah dan Alawiyah merasa lega dengan keputusan hakim. Berbeda dengan Triya yang langsung menangis histeris karena mereka kalah telak.


"Kamu gimana sih! Kami udah bayar mahal supaya kami menang kenapa bisa kalah seperti ini!" maki Triya yang kesal pada Dirga.


Meski kesal, Dirga tetap berusaha tenang dan menyadari kekalahannya.


"Ibu tenang dulu, kita enggak gagal begitu aja. Masih banyak cara untuk mendapatkan anak itu. Kalau tidak bisa di bicarakan baik-baik, mungkin kita bisa melakukan sesuatu yang lain?" tawar Dirga.


Dirinya yang di kalahkan dengan telak oleh anak baru seperti Alawiyah jelas tidak terima. Berbagai cara sudah Dirga lakukan seperti menemui Salimah dan menekan wanita itu, nyatanya Salimah tak juga mundur.


Biasanya lawan dari kliennya akan merasa terintimidasi dengan segala ancamannya, meski tak kentara.


Namun Salimah tetap pada pendiriannya. Lawannya seperti sudah bisa membaca gerak-geriknya, hingga dia kehabisan akal.


"Cara bagaimana menurut bapak?" tanya Triya penasaran.


Uang yang sudah mereka habiskan untuk merebut anak Salimah membuat mereka gelap mata. Triya tak mau gagal lagi apa pun yang terjadi.


"Jika cara baik-baik tidak berhasil, bagaimana kalau kita jadikan anaknya sandera?" tawar Dirga.


"Hah? Jangan gila pak, saya menolak, saya enggak mau berurusan dengan hukum!" tolak Jendral tegas.


Saat pengacaranya menyarankan dengan menawarkan sejumlah uang atau barang-barang tertentu pada Salimah dia setuju.


Namun saat rencananya berubah menjadi niat jahat, tentu saja Jendral menolak. Setidaknya dia masih punya akal untuk tak terjerumus ke dalam jeruji besi.


"Apaan sih Mas! Lagian kita kan enggak nyakitin anak itu, aku setuju sama rencana Pak Dirga. Pasti Salimah setuju dengan syarat kita, kalau kita ancam dengan anaknya. Apa kamu enggak mau mengurus anak kita sendiri mas?" cecar Triya yang sudah gelap mata.


Jendral bangkit berdiri, dia tetap pada pendiriannya, jika dia tetap tak setuju dengan rencana keduanya.


"Sudahlah Tri, ini memang salah kita. Lagi pula Salimah tidak melarang kita mengunjungi anak kami nanti," elak Jendral lantas berlalu meninggalkan keduanya.


Triya mendengus kesal melihat penolakan suaminya. Jendral yang biasanya akan menuruti apa pun keinginannya, kali ini seperti menyerah.


"Bagaimana Bu?" tanya Dirga. Lelaki itu berharap jika Triya mau mengikuti rencananya. Setidaknya itu semua dia lakukan demi harga dirinya sebagai pengacara.


"Saya rela enggak di bayar, kalau ibu mau mengikuti rencana saya," tawar Dirga.


Triya menggigit bibirnya. Tentu saja tawaran Dirga sangat menarik, tapi apa dia bisa melakukan semuanya sendiri tanpa persetujuan sang suami?


"Nanti saya pikirkan dulu ya Pak," jawab Triya lantas pergi meninggalkan Dirga seorang diri.


.


.

__ADS_1


Di Palm Group. Afnan, sedikit banyak sudah mampu bekerja membantu Yudis. Namun jika sakit kepalanya kambuh maka dia akan segera istirahat.


Yudis juga membuatkan sebuah ruangan khusus untuk Afnan beristirahat di dalam ruang kerjanya.


Fitria juga sudah semakin menikmati pekerjaan barunya. Tak sesulit seperti bayangnya saat nanti harus berhadapan dengan Afnan.


Justru diam-diam dia mengagumi Afnan yang ternyata seorang yang penyabar.


Selain tampan, Afnan juga ternyata sosok yang dewasa, tak heran para karyawati sering membicarakannya dan mengidolakannya.


Terlebih saat ini statusnya adalah seorang duda. Tak banyak yang tahu seperti apa rupa mantan istri Afnan karena memang Afnan tidak pernah membawa istrinya pada pertemuan kantor.


Mantan istri Afnan juga tak pernah menunjukkan batang hidungnya di kantor, sebab desas-desus yang beredar mengatakan jika pernikahan Afnan dan mantan istrinya tak pernah di setujui oleh keluarga besar atasannya itu.


Ketimbang Yudis, Fitria cenderung lebih menyukai sifat lelaki dewasa seperti Afnan. Yudis terlalu kekanakan bagi Fitria, meski lelaki itu sangatlah humoris dan enak di ajak berbicara.


Namun hati siapa yang bisa mengatur, jika pilihan jatuh pada duda yang sangat memesona seperti Afnan, ketimbang bujangan seperti Yudis.


Ketiga orang itu tengah sibuk di ruangan Afnan saat pintu ruang kerja Afnan di buka tanpa izin.


Norma yang datang dengan membawa rantang makanan, memicing saat melihat jika Afnan duduk bersama dengan seorang wanita di sofa yang sama, meski ada jarak di sana.


"Kamu apa-apaan sih!" seru Norma segera menyeret Fitria bangkit dari duduknya.


"NORMA!" bentak Afnan.


"Kamu apa-apaan, datang bukannya ketuk pintu main masuk aja terus tau-tau nyeret Fitria!" ujar Afnan kesal.


"Kamu aneh banget sih mas, kursi banyak begitu kenapa coba harus duduk berdekatan! Aku enggak suka ya mas. Hargain aku sebagai tunangan kamu," jawab Norma kesal.


Afnan mengusap wajahnya kasar. Kata 'pertunangan' membuatnya sangat muak. Bagaimana bisa sang ibu melamar Norma saat dirinya tengah terbaring sakit.


"Sebaiknya kamu pulang. Kami lagi sibuk," usir Afnan.


"Kamu usir aku mas? Enggak liat apa usaha aku buat luangin waktu makan siang bersama? Pantas aja perasaan aku enggak enak, ternyata sedang ada yang coba-coba deketin kamu!" jawab Norma sinis.


"Kamu!" tunjuknya pada Fitria, membuat gadis berhijab cokelat itu menatap ke arah Norma.


Fitria memang gadis pemberani, dia tidak pernah suka di rendahkan. Siapa pun akan dia lawan jika memang orang tersebut menghinanya.


"Kamu enggak malu sama hijab kamu? Mau coba-coba jadi pelakor?"


"Apa di sini saya berdua saja dengan Pak Afnan Bu? Apa ibu enggak lihat berkas-berkas yang ada di meja. Atau apa ibu melihat kami sedang bercumbu, hingga Anda menyebut saya pelakor?" jawab Fitria berani.


"Kau!" Norma hendak mendekati Fitria karena telah lancang berani menjawabnya.

__ADS_1


Fitria tak gentar, jika nanti wanita yang mengaku sebagai tunangan atasannya itu hendak melakukan kekerasan padanya, maka dia akan melawan.


Norma segera di tahan oleh Afnan, "mau apa kamu? Cepat pergi dari sini atau aku akan minta sekuriti buat nyeret kamu?" ancam Afnan.


Norma terdiam tak percaya, bagaimana bisa Afnan justru membela wanita lain.


"Bener lah Nor, kamu ini ganggu kerjaan kita aja sih!" sambar Yudis yang mulai jengah dengan sikap wanita licik itu.


"Kalian," gerutunya sambil mengentak-entakkan kakinya. Dia akhirnya mengalah dengan keluar dari ruangan Afnan.


Namun dia tak akan menyerah, satu-satunya cara membalas sakit hatinya adalah dengan mengeluarkan Fitria dari kantor Afnan, yaitu dengan bantuan Sri tentunya.


"Awas kau, ja*la*ng kecil, aku pasti akan menyingkirkanmu segera," monolognya.


Usai kepergian Norma, ketiganya melanjutkan kembali kerja mereka. Afnan yang tak enak dengan sikap Norma lantas menanyakan keadaan Fitria.


"Bagaimana keadaan kamu Fit? Maafkan sikap Norma tadi ya," ucap Afnan.


"Enggak papa pak, saya tau beliau mungkin hanya salah paham. Saya hanya terkejut, ternyata bapak sudah punya tunangan," ucap Fitria santai, meski hatinya merana karena patah hati.


Keluarga besar atasan mereka memang sangat menjaga sekali privasi, dia dan rekan-rekannya bahkan tak mengira jika Afnan sudah bercerai entah karena apa, tak ada berita yang bisa di percaya kebenarannya, karena semua hanya asumsi mereka sendiri.


Lalu kini sang atasan ternyata telah memiliki tunangan. Pasti seisi kantor akan kembali heboh jika mendengar berita ini.


"Jangan bahas dia," elak Afnan.


Fitria sendiri mengernyit bingung, sedangkan Yudis memberi kode pada sekretarisnya dengan gelengan kepala.


Sepulang kerja, Fitria memeriksakan dirinya yang ternyata mengalami luka pasca di cengkeram dengan kencang oleh Norma.


Dia tengah duduk di ruang keluarga sambil berusaha mengobati lukanya.


"Kamu kenapa Fit?" tanya Salimah heran.


"Ini Mbak, di cakar sama tunangan bos aku," jawab Fitria jujur.


"Lah, bos kamu yang kamu suka itu udah punya tunangan?" ucap Salimah sambil terkekeh.


Dia tidak tahu orang yang di bicarakan oleh Fitria adalah lelaki yang sampai saat ini masih menempati hatinya.


.


.


.

__ADS_1


Tbc


__ADS_2