Anakku Hanya Milikku

Anakku Hanya Milikku
Bab 42


__ADS_3

Flasback.


"Aduh Mah, kok perutku sakit ya," keluh Triya tiba-tiba.


Via yang mendengar sang kakak lantas mendekati keduanya.


"Astaga kamu Tri! Gila banget kamu makan duren ampe dua pak begitu!" ucap Via saat melihat dua bungkus styrofoam di atas ranjang Triya.


"Kamu makan sampai enggak nawarin Tri? Pelit banget sih!" keluh Tati yang juga menanggapi bekas makanan anaknya.


"Udah deh Mah, ini gimana kok perut aku makin sakit sih," keluh Triya yang bahkan sudah tak tahan dengan rasa sakit di perutnya.


"Si Jendral ke mana sih?" tanya Tati yang kembali panik saat melihat wajah pucat putrinya.


"Aduh Mah,” tak mampu menjawab, Triya bahkan kembali meringkukkan diri di atas ranjang.


"Vi. Kamu cari kakak ipar kamu buruan!" seru Tati panik.


"Ck! Nyusahin aja sih. Sukurin, kena tulah kan karena pelit," gerutu Via tapi tetap melanjutkan langkah untuk mencari Jendral.


Dia menuju halaman belakang, karena mungkin sang kakak ipar ada di sana.


Benar dugaannya, Jendral tengah membereskan halaman belakang untuk meletakan barang-barang di ruang tamu karena besok akan di adakan acara empat bulanan sang kakak.


"Jen, tuh si Triya kesakitan," pekik Via.


Jendral yang tengah sibuk memindahkan beberapa pot segera mendekati adik iparnya.


"Ada apa Vi?"


"Tuh si Triya kesakitan, kebanyakan makan duren sih!" jelas Via ketus.


"Duren? Ya Allah," tanpa banyak bertanya lagi Jendral segera menuju kamarnya.


"Bunda?" panggilnya. Di lihatnya sang istri tengah mengerang kesakitan sambil memegang perutnya.


"Ini kenapa Mah?" cecar Jendral panik.


"Ayo Jen, bawa istri kamu ke rumah sakit, mamah takut kenapa-napa!" titah Tati.


Kamar Jendral dan Triya menyeruak sekali bau duren. Dia tak tahu dari mana sang istri mendapatkannya.


Padahal sudah jelas di larang oleh Dokter kandungannya untuk menjauhi buah-buahan tertentu, tapi dia tak habis pikir kenapa Triya justru melanggarnya.


"Ayo gendong Jen, gimana sih!" keluh Tati yang melihat raut wajah bingung sang menantu.


"Gendong? Ya ampun mah, aku enggak bakal kuat angkat tubuh Triya yang besar begini, bisa-bisa malah kita jatuh bersama," jelas Jendral.


Tati menghela napas kasar. Memang tubuh Triya membengkak sangat besar meski dia baru mengandung selama empat bulan.


Tati memang tahu jika Triya tak mengalami ngidam seperti mual muntah. Justru semenjak hamil selera makan putrinya itu bertambah, membuat berat badannya berubah sangat cepat.


"Aduh terus gimana? Dendi mana sih, gotongan sama dia gih!" pinta Tati lagi.

__ADS_1


Jendral segera keluar menuju ruang tamu, di mana dia yakin sang adik ipar sedang tidur di sana.


Benar saja Dendi sedang tertidur pulas. Dia lantas membangunkan adik iparnya itu untuk membantunya karena tak mungkin ia mengangkat tubuh Triya seorang diri.


"Den, tolong Mas!" pinta Jendral sambil menggoyangkan tubuh Dendi.


Dendi bangun dengan linglung, matanya bahkan sangat merah menandakan betapa pulasnya dia tertidur.


"Apa sih Mas!" keluh Dendi yang hendak kembali membaringkan diri.


"Tolong Mas, ini kakak kamu kesakitan, mas enggak bisa angkat dia sendirian, tolonglah," pinta Jendral memelas.


"Nyusahin aja sih. Lagian heran sama Mbak Triya hamil baru empat bulan badan dah kaya gentong begitu!" gerutunya.


"Papah mau ikut bantuin enggak ya Den?" tanya Jendral yang tak yakin mereka berdua kuat menggotong tubuh Triya.


"Mana mau Mas, nanti malah dia marah-marah, udah sama aku aja!"


"Mas Wahyu emang belum pulang Mas?" Tanya Dendi tentang keberadaan suami Via.


"Belum kayaknya. Ya udah ayo!"


Keduanya berjalan ke kamar, di sana terlihat Tati tengah mengusap perut Triya dengan minyak gosok.


"Lama amat sih!" gerutu Tati.


"Ayo Mas, aku atas mas tengah, mamah bagian kaki!" saran Dendi.


"Hah! Kok mamah ikut-ikutan angkat? Nanti sakit pinggang mamah kambuh Den!" tolak Tati.


"Jangan-jangan, ya udah ayo! Duh nyusahin banget sih kamu Tri!"


"Sakit Mas, sakit banget," keluh Triya lemah.


"Iya sabar ya. Ayo Den, Mah. Satu ... Dua ... Tiga," ketiganya secara bersamaan mengangkat tubuh Triya.


Jendral yang paling keberatan karena dialah yang bisa di katakan hampir mengangkat sebagian besar tubuh Triya.


"Aduh, pelan-pelan dong, sakit ini. Jangan miring-miring gini!"


"Udah kamu diem aja Tri! Berat banget ini kamu tau!" jawab Tati kesal.


"Mamah apaan, cuma kaki doang, nih angkat kepala mbak Triya!" balas Dendi kesal mendengar keluhan sang ibu.


Ketiganya secara terbata-bata bisa mengangkat tubuh Triya hingga sampai ke parkiran mobil Jendral.


"Mamah bukain pintu mobilnya mah, buruan!" titah Dendi yang sudah tak tahan dengan sakit di tangannya.


Tati segera membuka pintu belakang dengan dia naik terlebih dahulu untuk menopang kepala Triya.


Setelah berhasil memasukkan tubuh Triya, Jendral segera berlari ke arah kemudi untuk menjalankan mobilnya.


"Ayo Den naik buruan!" pinta Tati kesal yang melihat sang putra masih saja diam.

__ADS_1


"Dih, Dendi enggak ikut Mah, masih ngantuk banget ini. Sampai rumah sakit juga nanti banyak perawat," tolak Dendi.


"Ya udahlah," jawab Tati malas.


Jendral bergegas menjalankan mobilnya. Baru juga setengah jalan, rasa sakit di perut Triya berkurang, hingga membuat dia bisa mendudukkan diri.


"Loh, udah enggak sakit Tri?" cecar Tati.


"Mendingan mah," jawab Triya lemah.


"Terus gimana ini, jadi enggak periksanya?" tanya Tati bingung.


"Periksa aja Mah, Jendral takut bayinya kenapa-napa," jawab Jendral.


"Tapi Setyo enggak praktik hari ini mas, gimana?"


"Siapa aja Dokternya sama aja Bun, yang penting periksa kondisi dedek. Aku khawatir," jawab Jendral berusaha menahan amarahnya.


Setelah sampai di rumah sakit, mereka segera menuju poli kandungan. Di sana barulah Jendral mencecar sang istri.


"Kamu gimana sih, Bun, kan udah di bilangin sama Dokter Setyo kamu di larang makan duren, nangka sama nanas, kenapa malah ngeyel?" cecar Jendral kesal.


"Ayah marah sama Bunda? Ini semua gara-gara Ibu bawa Fitria! Bukan gara-gara duren," elak Triya.


"Bukan kali ini aku makan duren Ayah. Tapi karena aku stres mikirin kedatangan Fitria. Kenapa ibu tega banget sih sama aku? Ini semua salah ibu, tadi itu aku lagi mikirin alasan ibu bawa Fitria ke rumah kita! Apa mau melanjutkan rencananya menikahkan kamu sama dia?!" seru Triya kesal.


"Astaga Bunda, kenapa kamu berpikir seperti itu sih! Enggak mungkin ibu ngelakuin itu," balas Jendral membela ibunya.


Belum sempat menjawab pertanyaan sang suami, perawat dari dalam poli sudah memanggil namanya, mau tak mau Triya dan Jendral menghentikan perdebatan mereka.


"Sore Bu Triya, silakan duduk pak Bu,” pinta sang Dokter pada Jendral dan Tati.


"Bu Triya silakan tidur di ranjang, biar kami periksa dulu ya," jelas sang Dokter lagi.


Lama Dokter memeriksa keadaan janin Triya tanpa berkata apa-apa, membuat Jendral merasa cemas.


"Cucu saya enggak papa kan Dok?" cecar Tati yang sama khawatirnya dengan Jendral.


"Sebentar saya jelaskan ya Bu, Sus bantu Bu Triya turun ya," pintanya pada sang perawat.


Karena hanya ada dua kursi di depan meja sang Dokter. Jendral memilih bangkit memberikan kursinya pada sang istri.


"Maaf Pak Bu, janin Bu Triya sudah tak bernyawa—"


Ucapan sang Dokter tentu membuat Triya dan yang lainnya terkejut bukan main.


Tangis Triya dan Tati pecah, tak menyangka jika anak dalam kandungan Triya sudah tak bisa lagi di selamatkan.


Entah siapa yang harus di salahkan, tapi dalam hati Triya menetapkan sang mertualah biang segala kemalatakaan ini.


.


.

__ADS_1


.


Tbc


__ADS_2