Anakku Hanya Milikku

Anakku Hanya Milikku
Bab 74


__ADS_3

Salimah dan Afnan kembali setelah langit sudah berubah menjadi jingga. Keceriaan Rino tak pernah surut, betapa bahagianya bocah itu bercerita hingga terlelap karena kelelahan.


Berbeda dengan kedua orang tuanya yang sama-sama terdiam dengan pikiran masing-masing selama sisa perjalanan mereka.


Salimah mengusap-ngusap perutnya yang sudah sangat besar karena merasakan tendangan bayinya yang sejak tadi tak mau diam.


Melihat mantan istrinya sibuk melamun, tanpa di sangka Afnan justru ingin mengusap perut buncit Salimah.


Meski bukan anaknya, tapi dia tak membenci anak itu ada di rahim wanita yang di cintainya.


Tangannya refleks berada di atas perut Salimah, membuat Salimah terkejut dan menoleh ke arahnya.


"Wah bayinya nendang. Apa jenis kelaminnya?" tanya Afnan antusias.


Salimah menggigit bibir bawahnya. Matanya berair memancarkan kebahagiaan.


"Aku enggak tau Mas. Anaknya ngumpet terus," jawab Salimah jujur.


"Sehat-sehat ya, jangan banyak pikiran. Masalah ucapan aku tadi, kamu masih bisa memikirkannya matang-matang Sal. Aku tau berat buat kamu nerima aku," ucap Afnan sendu.


Salimah tahu mantan suaminya itu berkata serius saat memintanya kembali pada dirinya.


Dia merutuki diri sendiri yang justru merasa bimbang.


Bukankah dia sampai nekat menjadi rahim pengganti hanya agar bisa kembali bersama dengan Afnan?


Lantas mengapa setelah dia mendapatkan apa yang dia inginkan dengan mudah hatinya merasa gamang?


Dia sendiri bingung apa yang membuat dia kembali tak yakin. Salah satunya jelas jika keberadaan mantan ibu mertuanya yang membuat dirinya takut menjadi bagian dari keluarga Sri lagi.


Yang kedua mungkin Fitria. Salimah sangat tahu seobsesi apa wanita itu pada mantan suaminya. Dia takut Fitria akan kembali melakukan sesuatu karena sakit hati dengan kembalinya mereka.


Entahlah, begitu rumit pikiran ibu hamil itu. Namun tak bisa di salahkan karena banyak ketakutan yang menghantui pikiran Salimah saat ini.


"Kamu serius mau aku antar ke rumah sakit? Kamu enggak cape?" tanya Afnan memecah keheningan yang sempat terjadi lagi.


"Iya mas, aku ke sana dulu, enggak enak," jawab Salimah yakin.


"Ya udah, aku antar kamu dulu baru aku antar Rino pulang," putus Afnan.


.


.


Mereka sampai di rumah sakit, Salimah turun seorang diri dan berjalan menuju ruang rawat inap Darmono setelah bertanya pada resepsionis.


Langkahnya terhenti saat hendak masuk ke ruangan waktu melihat Jendral beserta Evita berjalan ke arahnya sambil berbicara.

__ADS_1


Pembicaraan yang cukup keras menurut Salimah. Hingga dia yakin ucapan Jendral cukup mengganggu pasien di sana.


"Bu," sapa Salimah berjalan mendekati ke duanya.


"Sal," jawab Evita dengan senyum terkembang. Tak ada raut kemarahan dari wanita lembut itu. Justru Evita bahagia saat melihat mantan menantunya terlihat lebih ceria.


Hanya Jendral yang melihatnya dengan masam. Dia masih menyalahkan kesialan dirinya akibat kehadiran Salimah dalam hidupnya.


"Inilah wanita pembawa petaka itu!" ucap Jendral ketus.


Evita menatap tak percaya pada putranya yang mampu berkata sekasar itu pada seorang wanita.


"Jendral, apa yang kamu katakan hah!" pekik Evita murka.


"Bu, tenanglah, sabar," pinta Salimah yang juga bingung dengan perubahan Jendral yang jadi sinis padanya.


"Bukannya benar Bu? Aku saja yang bodoh mau menerimanya. Dia—" tunjuk Jendral pada Salimah.


"Dia di buang oleh mertuanya karena di anggap pembawa sial. Lalu sekarang lihatlah Bu apa yang terjadi dengan hidupku setelah menampungnya? Hidupku penuh kekacauan, apalagi kalau bukan karena dia yang memang pembawa sial!" jawab Jendral ketus.


Tamparan keras Evita layangkan pada pipi sang putra. Jendral tak menyangka sang ibu melakukan hal itu padanya.


Selama hidup sudah dua kali Evita menamparnya dan dua-duanya karena Salimah.


"Ibu menamparku hanya demi wanita busuk ini?" tanya Jendral tak percaya.


Mereka selalu menyalahkan dirinya jika terjadi sesuatu yang buruk menimpa mereka.


Awal menikah, tak berselang lama ayah mertuanya meninggal, membuat ibu mertuanya makin tak menyukainya karena sejak awal sudah menentang pernikahan dirinya dan juga Afnan.


Lalu kecelakaan Afnan juga di salahkan padanya. Dalam hati dia berkata, benarkah dirinya memang pembawa sial?


Kecelakaan Triya juga di alami setelah bertemu dengannya. Hati Salimah benar-benar merasa kacau.


"Ibu enggak menyangka sudah membesarkan seorang lelaki pengecut seperti kamu! Kamu tau semua ini adalah musibah, kenapa kamu justru menyalahkan Salimah? Kamu menyalahkan takdir Tuhan?" jawab Evita yang masih murka.


"Bu sudah, tenang, jangan sampai bapak dengar suara ibu bertengkar dengan mas Jendral, kasihan Bu," lerai Salimah.


Evita lantas mengusap dada menahan sesak. Sedangkan Fitria yang menyaksikan keributan mereka dari jauh tersenyum puas karena ada yang bisa dia jadikan sekutu.


Evita dan Salimah berjalan masuk ke dalam ruang rawat Darmono. Namun langkah Salimah terhenti kala mendengar bisikkan dari Jendral yang menyentil hatinya.


"Puaskan kamu udah bisa buat hidup kami berantakan?"


Setelahnya dia kembali melangkahkan kaki mendatangi Evita dan Darmono, sedangkan Jendral memilih kembali ke ruang ICU menunggu sang istri pasca operasi tadi.


"Maafkan Jendral ya Sal. Dia dalam keadaan kalut tadi karena semua masalah seakan datang bertubi-tubi padanya," ucap Evita saat mereka duduk di sofa.

__ADS_1


Beruntung Darmono tidak terbangun saat terjadi keributan di depan kamarnya. Entah bagaimana nasib ayah Jendral itu, jika sampai mendengarnya. Mungkin bisa kembali membuat keadaannya menurun lagi.


Fitria yang tadi melihat keributan itu lantas berbalik hendak menyusul Jendral di ruangan istrinya.


Melihat Jendral duduk dengan raut wajah frustrasi membuat Fitria sedikit iba.


Lelaki yang sempat ingin di jadikan suaminya itu tampak banyak berubah, terlihat jelas dari raut wajahnya yang menyimpan banyak pikiran.


"Mas," sapa Fitria sambil memberikan secangkir kopi panas pada Jendral.


Jendral menengadah dan menerima pemberian Fitria itu sambil mengucapkan terima kasih.


"Bagaimana keadaan Mbak Triya mas?" tanya Fitria basa-basi.


"Operasinya berhasil, tapi dokter enggak bisa memprediksi apa Triya bisa sadar atau enggak," jawab Jendral lemah.


"Yang sabar ya Mas. Semoga aja mbak Triya bisa cepat sadar," ucap Fitria memberi dukungan meski dalam hati dia berharap jika Triya mati saja.


Bukan tanpa alasan dia berpikir seperti itu, dia tengah menyusun rencana, andai Triya meninggal, tentu saja dia akan membujuk Evita agar kembali menjodohkan Salimah dengan Jendral.


Akan terasa sulit mungkin, tapi dia punya banyak ide agar Evita lambat laun terpengaruh dengannya bujukkanya.


"Maaf mas, aku denger dari ibu katanya mas lagi pusing masalah biaya pengobatan mbak Triya ya?" pancing Fitria.


"Bukan cuma pengobatan Triya aja Fit, tapi juga ganti rugi akibat kecelakaan yang ternyata di sebabkan oleh Triya," jelas Jendral.


"Memang berapa kerugian yang dia akibatkan sama mbak Triya mas?"


"Tujuh ratus lima puluh juta. Itu untuk satu orang, belum yang lainnya. Entah uang dari mana lagi aku membayarnya," lirih Jendral sambil menjambak rambutnya.


Fitria tersenyum tipis. Tiba-tiba ada ide terlintas dalam benaknya.


"Kenapa enggak minta bantuan ibu mas?" tanya Fitria pura-pura bingung.


"Udah, ibu enggak sanggup kalau nominalnya segitu banyak. Aset punya ibu juga hanya tinggal rumah kontrakan yang tinggal beberapa pintu aja."


"Hemm ... Lalu kira-kira mas akan dapat uang dari mana?"


"Entah, harta yang aku punya tinggal rumah sama mobil aja. Kalau aku jual, akan tinggal di mana kami nanti. Sedangkan rasanya enggak akan mungkin uang penjualan rumah cukup untuk membeli rumah lagi," jelas Jendral.


"Ya enggak papa mas jual aja. Mas bisa tinggal di rumah mbak Salimah. Toh rumah itu kan pemberian ibu. Jadi aku rasa mbak Salimah enggak berhak nolak juga, paling enggak buat sementara aja, gimana?" bujuk Fitria.


Jendral termenung memikirkan ucapan Fitria. Haruskah dia menjual rumahnya. Untuk menyewa atau membeli lagi rasanya tidak akan mungkin, sebab untuk mengganti kerugian pun entah cukup atau tidak, pikirnya.


Belum lagi pengobatan istrinya yang memerlukan biaya yang cukup besar.


"Mas tenang aja, nanti aku coba bicara sama mbak Salimah juga sama ibu. Pasti mereka mengerti keadaan mas saat ini," ucap Fitria meyakinkan.

__ADS_1



__ADS_2