
"Kamu tenang aja Salimah, kalau Jendral sama Triya enggak mau tanggung jawab maka ibu yang akan menghidupi kamu dan cucu ibu, karena bagaimana pun dia cucu ibu juga," sela Evita yang sedari tadi hanya bisa mendengarkan dari jauh.
Dia merasa geram dengan sikap Triya yang tak tahu malu dan kesal juga dengan sikap putranya yang terlalu lembek.
"I-ibu?" ucap Triya gugup.
"Ibu enggak nyangka kalian bisa berbuat sekejam ini," lirih wanita paruh baya yang melahirkan Jendral itu.
"Bu bukan begitu, ini kan ada cucu ibu, ibu enggak perlu memikirkan anak Salimah," sela Triya dengan wajah pias.
Meski tak menyukai sang mertua karena Evita pernah berpikir menghadirkan sosok madu untuknya.
Namun Triya sadar sang mertua sangat baik dan perhatian padanya.
Saat dirinya dan sang suami mengabarkan kehamilan serta membuat acara empat bulanan, bahkan keluarganya sendiri tidak datang, padahal tempat tinggal orang tua Triya terbilang tidak terlalu jauh dari kotanya.
Hanya Evita yang terlihat antusias mendengar kabar kehamilannya dan rela jauh-jauh datang ingin memberinya kejutan.
Bahkan kebutuhan dirinya dan juga Jendral terkadang di bantu oleh Evita karena Jendral adalah anak satu-satunya.
Ini juga salah satu alasan mengapa dirinya tak mau mengakui anak Salimah sebab dia tak mau membagi harta warisan milik suaminya kelak.
Dia tahu sebanyak apa harta mertuanya. Meski orang kampung, tapi tanah sang mertua sangat banyak. Belum lagi usaha kontrakan yang berjumlah ratusan tentulah sangat menggiurkannya.
Evita mengabaikan menantunya dan berjalan mendekati Salimah.
"Kamu enggak usah mikir macam-macam, anak ini adalah darah daging keturunan Ibu, jadi ibu akan bertanggung jawab padanya," ujar Evita lembut.
"Ibu apa-apaan sih! Anak itu enggak terdaftar dalam catatan negara, jadi ibu enggak usah memedulikannya. Lagi pula Triya harap ibu enggak ikut campur!" sergah Triya kesal.
Evita menoleh dan menatap sang menantu sengit. "Apa urusanmu? Anak Salimah adalah cucuku juga? Mau kamu menutup mata sekali pun dia tetap darah daging suamimu."
"Bukankah semua ini karena ulahmu sendiri? Dulu kamu yang mendatangkan Salimah di kehidupan rumah tangga kalian, sekarang setelah kamu hamil, kamu mau memutuskan hubungan kalian?" sambungnya.
"Kamu juga Jen, tolong didik istrimu, kamu pasti sadar kehidupan itu berputar, jadi jangan merasa di atas angin saat di atas seperti ini!" ucapnya pada sang putra.
__ADS_1
"Kamu yang tenang, enggak perlu risau memikirkan nasibmu dan anakmu, ibu yang akan jamin. Kalau enggak percaya, boleh nak Alawiyah memberikan surat perjanjian pada ibu," ucap Evita tegas.
"IBU!!" bentak Triya tak terima. Dia tak mau Salimah atau anaknya menerima pemberian entah itu dari suami atau mertuanya. Dia tak rela, harusnya sang mertua memikirkan nasib anak yang di kandungnya saja, pikirnya.
"Aku juga lagi hamil Bu, cucu sah ibu," lirih Triya sambil terisak.
"Kamu punya suami yang akan terus menuruti permintaanmu, meskipun itu permintaan gila sekali pun," sindir Evita pada putranya.
Jendral hanya menunduk, dirinya dilema karena tak bisa membela diri saat itu. Kalau dia mengatakan keinginannya dia yakin akan menyakiti hati istrinya.
Namun diam seperti itu pun dia tahu di anggap pecundang oleh mereka semua.
"Sudahlah, kamu enggak boleh tertekan, nanti dede kenapa-napa," ujar Jendral yang ingin menyudahi perdebatan itu.
"Ibu Evita serius kan dengan ucapan ibu tadi? Kalau iya maka saya akan segera membuat surat perjanjian. Maaf, tapi terus terang saya udah enggak percaya dengan kalian semua," ucap Alawiyah.
"Lakukanlah, hubungi ibu kalau surat itu udah selesai."
Evita lantas memberikan kartu nama pada Alawiyah agar sahabat menantu keduanya bisa menghubunginya.
"Pegang ini untuk keperluanmu, nanti kalau surat perjanjian sudah selesai, ibu bisa memberikan kebutuhan lewat rekeningmu sendiri," ucap Evita lembut.
"Ibu keterlaluan!" sentak Triya. Wanita hamil itu menangis tergugu melihat perhatian sang mertua pada madunya.
Hatinya sakit seolah-olah sang mertua tak menginginkan anak dalam kandungannya, padahal menurutnya anaknya jelas keturunan asli dan langsung dari suaminya.
Jendral juga tak bisa mencegahnya, dia tahu apa yang di lakukan sang ibu sebagai bentuk tanggung jawab yang mereka pikir tak bisa dia berikan, jadi dia memutuskan membiarkannya saja.
Namun dia menghadapi masalah besar yang lain, yaitu kemarahan sang istri yang pasti cemburu dan tak terima.
"Ibu kamu keterlaluan mas, hu ... hu ...," Triya menangis meluapkan rasa kesalnya.
"Sudahlah ayo kita pulang, kamu harus tenang, aku takut dede kenapa-kenapa!" Jendral betul-betul khawatir terhadap kandungan sang istri.
Dia hanya merutuki keputusan sang ibu yang tidak bisa menahan diri dalam membela Salimah.
__ADS_1
Pusing dengan keributan di sana Jendral terpaksa membawa sang istri pergi, toh dirinya juga sudah menandatangani berkas perjanjian mereka.
Kini hubungannya dengan Salimah telah berakhir meski dia belum mengucap kata talak pada istri keduanya itu.
Dia berpikir akan berbicara dengan sang ibu nanti, sebab dia yakin ibu dan istrinya pasti akan kembali terlibat percekcokan lagi setelah ini.
.
.
Selepas kepergian Jendral dan Triya, Evita lantas duduk di hadapan keduanya.
"Bu, saya rasa ini terlalu berlebihan. Maafkan saya yang udah masuk dalam kehidupan rumah tangga Mas Jendral dan Triya," ucap Salimah tak enak hati.
"Bukan kamu yang masuk, tapi mereka yang memintamu masuk, setelahnya kamu di buang, seolah-olah sebuah pernikahan hanya sebuah mainan," elak Evita.
"Tapi enggak perlu begini Bu, saya masih bisa menghidupi anak-anak saya. Asal ibu mau mengakui anak ini sebagai cucu ibu saya udah merasa bersyukur," lirih Salimah.
"Ini adalah bentuk tanggung jawab kami sebagai keluarganya Nak Salimah. Maafkan anak ibu yang ngga bisa tegas dengan istrinya jadi menyakiti perasaan kamu."
"Kamu enggak usah banyak pikiran, jaga kandungan kamu dengan baik dan ibu janji akan sering mengunjungi kamu nanti."
"Nak Alawiyah, tolong carikan rumah yang layak untuk Salimah tinggal. Yang ibu dengar dia tinggal di kontrakan petakan. Ibu ingin cucu ibu di besarkan di tempat yang layak," ucap Evita pada Alawiyah.
"Bu, enggak perlu seperti ini, saya janji akan menjaga anak ini. Tapi tolong jangan seperti ini, saya semakin enggak enak sama Triya Bu," tolak Salimah.
Alawiyah lantas melirik Salimah geram, dia merasa kalau Salimah pantas mendapatkan perhatian dari Evita. Toh wanita paruh baya itu juga mertuanya, batin Alawiyah.
"Baik Bu, saya nanti kabari Ibu rumah mana yang sekiranya ingin ibu berikan pada Salimah," jawab Alawiyah yakin.
"Al!" tegur Salimah.
"Makasih ya nak Alawiyah. Tolong jaga menantu dan cucu ibu ya. Maaf kalau Ibu enggak bisa menemani kamu di sini. Kamu jangan khawatir bagaimana perasaan Triya. Enggak mungkin ibu mengabaikan dia dan juga cucu ibu."
"Justru dengan seperti ini ibu bisa berbuat adil pada kalian," jelas Evita.
__ADS_1