
Triya kembali setelah menenangkan diri. Jantungnya berdetak sangat cepat kala melihat mobil milik suaminya sudah terparkir di halaman rumah mereka.
Di depan rumahnya juga ada sebuah mobil yang memiliki gambar koperasi tempatnya meminjam uang.
"Aduh, aku sampai lupa sama Mas Jendral gara-gara mamah!" gerutunya.
Triya berjalan dengan cepat menuju pintu utama. Di sana tiga orang lelaki menyambutnya dengan tatapan berbeda-beda.
Yang jelas raut wajah suaminyalah yang paling dia takutkan.
Triya menelan kasar salivanya kala melihat sang suami menatapnya dengan pandangan tajam.
"Sore Bu Triya," sapa salah satu petugas koperasi yang tadi siang mengunjungi rumahnya.
Triya hanya berani mengangguk dan segera beranjak masuk ke ruangan lainnya.
Biarlah itu semua menjadi urusan suaminya. Dia yakin sang suami pasti hanya akan marah sebentar, setelah ia menangis, Jendral pasti akan kembali luluh.
Suara pintu di buka dengan kasar membuat Triya terenyak kaget. Dia tak menyangka jika sang suami akan berlaku kasar seperti itu.
"Mas ngagetin aja sih!" keluh Triya yang lupa jika saat ini dirinya sedang dalam masalah besar.
Jendral melempar kertas di depan sang istri. Triya yang sudah tau apa yang hendak di katakan sang suami hanya bisa diam sambil memegang kertas yang di lempar suaminya.
"Apa maksudnya ini Tri! Kamu tau aku sendiri udah bersusah payah mengumpulkan uang untuk kebutuhan kita, tapi apa ini!" bentak Jendral murka.
Triya sudah melakukan jurus andalannya yaitu menangis.
"Maafin aku mas, aku lakuin ini juga karena terpaksa. Mas tau aku harus mencukupi kebutuhan keluargaku mas," jawab Triya sambi terisak.
"Tapi enggak gini caranya Tri! Dari mana aku harus bayar tunggakan ini? Kamu enggak tau kan kalau pabrik lagi sepi. Aku udah enggak pernah lembur. Kamu sendiri enggak mau jatah bulananmu di kurangi. Kalau begini siapa yang harus bayar hah!"
Jendral menyugar rambutnya kasar. Putra Evita itu benar-benar frustrasi menghadapi sikap istri dan keluarga mertuanya.
Dia lelah menjadi orang yang selalu mengalah. Dirinya merasa selalu menomor satukan sang istri dan keluarga mertuanya. Nyatanya, dia seperti di jadikan sapi perah oleh mereka.
Andai dirinya tak malu, mungkin dia akan pergi meminta bantuan pada orang tuanya.
Namun dia sadar, orang tuanya sendiri tengah menghadapi masalah yang juga cukup serius, yaitu menurunnya kesehatan sang ayah yang mengakibatkan mereka banyak mengeluarkan uang untuk berobat.
Sebagai anak semata wayang, Jendral justru tak bisa membantu orang tuanya. Malah dialah yang masih di topang oleh Evita sejak dulu.
Kini dia baru merasakan, tak ada bantuan dari orang tua membuat kehidupan perekonomiannya menjadi carut marut.
__ADS_1
"Jendral ... Triya!" panggil seorang wanita yang sejak tadi ada di benak mereka, tapi dengan pikiran yang berbeda.
Jika Jendral memikirkan Evita karena merasa bersalah, sedangkan Triya memikirkan Evita karena berharap sang suami kembali meminta bantuan pada mertuanya itu.
"Ibu ..." panggil mereka secara bersamaan.
"Ya Allah kalian ini, pintu depan ke buka lebar malah di biarin aja sih!" gerutu Evita sambil mendekati keduanya.
Pintu kamar yang tidak tertutup membuat Evita melangkah masuk tanpa sungkan.
Jendral langsung menyambut sang ibu dengan mencium tangannya. Triya pun melakukan hal yang sama, setidaknya dia bisa bernapas lega dengan kehadiran mertuanya saat ini karena membuat dirinya terbebas dari amukan sang suami.
Baru kali ini aku bersyukur atas kedatangan ibu. Ah ... Aku yakin ibu pasti nolongin kami lagi. Huh! Coba sih dari kemaren-kemaren, jadi enggak perlu pusing begini kan.
"Kamu kenapa senyum-senyum sendiri?" bisik Jendral tajam.
Triya terkesiap karena tak menyadari jika ibu mertuanya telah meninggalkan mereka lagi.
"Kalau kamu pikir, aku akan minta bantuan ibu, kamu salah. Yang pasti aku akan menjual mobil kamu untuk menutupi semua tagihan itu!" ucap Jendral lalu meninggalkan sang istri yang terdiam.
Apa? Mobil aku di jual? Enggak ... Enggak, ini enggak boleh terjadi. Mas Jendral enggak boleh semena-mena kaya gini.
Triya menggeleng, mengenyahkan segala pikiran buruk akibat ucapan suaminya.
Saat hendak menyusul sang suami, langkahnya terhenti di ruang keluarga. Dia melihat ternyata ibu mertuanya tidak datang sendiri, melainkan bersama sang ayah mertuanya.
Kondisi Darmono semakin menurun. Ayah mertua Triya itu bahkan harus menggunakan alat bantu pernapasan. Darmono juga terlihat pucat dan tak sesegar biasanya.
Triya yang melihat itu sedikit ragu-ragu saat mendekat. Jujur dalam hati dia takut tertular, meski dia sendiri tidak tahu apa penyakit yang di derita oleh ayah mertuanya.
"Tri!" tegur Jendral saat melihat sang istri yang sejak tadi hanya bergeming.
Triya yang kaget lantas segera mendekati ayah mertuanya, hendak menyalaminya, meski hanya seujung jarinya saja.
Jendral yang melihat kelakuan sang istri menahan kegeramannya. Namun dia tak ingin meluapkannya saat ini.
"Bapak istirahat dulu. Ibu mau menghangatkan makanan yang tadi ibu bawa ya," ucap Evita lembut.
Darmono hanya mengangguk. Jendral merasa sedih melihat kondisi ayahnya yang semakin menurun.
Sebagai anak satu-satunya, bahkan dia tak bisa merawat orang tuanya di saat seperti ini. Dia benar-benar merasa malu dan tak berguna.
Tak terasa air mata keluar dari sudut matanya membuat dia buru-buru menyekanya karena tak ingin sang ayah melihatnya bersedih.
__ADS_1
Menurut ibu, bapaknya harus selalu merasa tenang. Makanya sejak tadi senyum ibu tak pernah lepas dari bibirnya, karena Jendral tahu sang ayah tidak akan banyak memikirkan apa-apa jika melihat keluarganya bahagia.
"Jendral susul ibu di dapur ya Pak. Bapak istirahat dulu," pamit Jendral setelah menyelimuti sang ayah.
Triya sendiri sejak tadi hanya berdiri melihat interaksi suami dan ayah mertuanya tanpa sedikit pun mau membantu kerepotan suaminya. Dia tetap merasa malas dan takut.
"Mas kenapa bapak sama ibu tiba-tiba datang?" tanya Triya yang lupa dengan pembicaraan mereka tempo hari.
"Aku kan udah bilang kalau bapak mau operasi di sini!" jawab Jendral ketus.
Triya menelan ludahnya kasar. Dia lupa kalau ayah mertuanya hendak melakukan pengobatan di sana. Setelah sadar dia jadi merasa waswas, sebab ke pikiran waktu yang akan di habiskan mertuanya di kediamannya.
"Berarti mereka bakal nginap lama dong?" keluh Triya tanpa sadar.
Jendral segera menghentikan langkahnya dan menatap sang istri sengit.
Mata Triya membola karena dia keceplosan mengutarakan pikirannya. Wanita itu lantas membuang muka menghindari tatapan sang suami.
"Kenapa kalau mereka lama? Kamu lupa kalau rumah ini milik mereka?" ketusnya lalu kembali melangkahkan kakinya ke dapur.
Di dapur, harum semerbak masakan Evita sudah menyambut keduanya.
Jendral yang sejak pulang kerja belum mengisi perutnya mendadak menjadi sangat lapar hingga perutnya mengeluarkan bunyi yang membuat Evita tertawa.
"Kamu laper Jen. Apa belum makan?" tanya Evita sambil melirik pakaian sang putra yang masih mengenakan pakaian kerjanya.
"Iya Bu, duh aku kangen masakan ibu. Ibu bagaimana, sehat kan?" tanya Jendral begitu dia mendudukkan dirinya.
"Sehat. Oh iya, tadi ada tamu siapa? Ibu papasan sama mereka pas mau masuk tadi. Kelihatannya dari bank apa koperasi gitu."
Triya mendadak gugup. Tak tahu apa yang akan di ucapkan suaminya.
Selama ini sang mertua melarang mereka untuk meminjam uang kepada bank dan sejenisnya.
Entah bagaimana tanggapan sang mertua jika tahu masalah yang tengah melilit mereka.
Melihat anak dan menantunya diam saja, membuat pikiran Evita jadi cemas.
"Apa kalian meminjam uang di bank?"
.
.
__ADS_1
.
Tbc