
Jendral menghela napas panjang. Tak ada yang bisa ia lakukan. Kalau pun Salimah ingin bersenang-senang dia bisa apa? Pikirnya.
Melarangnya? Memang dirinya siapa yang berhak melarang wanita itu.
Dia tak mengerti mengapa dia harus sekesal itu melihat rona kebahagiaan yang terpancar dari wajah mantan istrinya.
Bukan cemburu, Jendral hanya meluapkan rasa kesalnya dan rasa frustrasinya karena di hadapkan pada kesulitan hidupnya.
Setelah mengenal Salimah dan terlibat dalam hubungan rumit, dia merasa hidupnya semakin susah.
Jendral berandai-andai, jika saja dia tak mengenal Salimah, apa mungkin kehidupannya tak akan sampai sial seperti ini.
Apa Salimah membawa sial ya? Pantas saja dia di ceraikan dan di usir mertuanya. Mungkin benar ... Sialnya aku pernah menampung dia. Gerutu Jendral.
Setelah mengemasi pakaian bapak dan ibunya Jendral bergegas ke rumah sakit. Dia juga harus bergantian menjaga istrinya.
Sejak semalam sudah ada adik iparnya yang menjaga Triya jadi sudah waktunya bergantian dengan dirinya. Padahal sejak semalam juga dia berjaga di ruangan sang ayah sambil sesekali menengok sang istri yang masih belum juga sadar.
Sungguh Jendral merasakan lelah yang amat sangat.
Tiba di rumah sakit, Jendral segera meletakan barang-barang milik ayahnya. Untuk makanan, Fitria telah membuat makanan untuk mereka pagi tadi.
"Salimah enggak datang Jen?" tanya Evita yang berpikir jika ibu dari calon cucunya itu akan menjenguk suaminya.
"Dia justru pergi sama mantan suaminya Bu," jawab Jendral pelan.
"APA?!" pekik Fitria. Dia benar-benar merasa kecolongan.
Saat malam Rino menangis karena Afnan tak jadi datang ke rumah kakak angkatnya, dia pikir rencana liburan mereka pun batal.
Fitria juga sempat menelepon Afnan dan bertanya seolah dia perhatian pada Rino, padahal dia hanya ingin memastikan keberadaan atasannya itu.
Afnan meminta tolong padanya kalau dia tak bisa datang sebab ada kesibukan mendadak yang tidak bisa di tinggalkan. Afnan tak menjelaskan secara rinci, membuat Fitria tersenyum puas karena rencana kepergian mereka batal dengan sendirinya, begitu pikirnya.
"Enggak tau diri! Ayah mertua lagi sakit dia malah pergi senang-senang!" gerutu Fitria.
"Siapa ayah mertua Salimah? Bapak bukan lagi mertua Salimah Fit. Sudahlah, biarkan mereka senang-senang, lagi pula ibu kasihan sama Rino, dia pasti merindukan kebersamaan orang tuanya," sela Evita yang memilih menengahi keadaan.
__ADS_1
Fitria yang kesal bukan main lantas pamit untuk ke depan. Dia ingin menelepon Salimah dan Afnan untuk melampiaskan kekesalannya.
Pertama dia menelepon Salimah. Pada dering ke dua panggilannya itu baru terjawab.
"Mbak Sal! Kamu benaran pergi? Kamu tega banget sih sama bapak! Senggaknya bersimpati sedikitlah, bapak dan ibu udah baik sama mbak, kok bisa-bisanya mbak seneng-seneng saat keadaan lagi kacau begini!" pekiknya kesal.
Di seberang sana, Salimah sampai harus menjauhkan ponselnya mendengarkan luapan amarah Fitria.
Afnan yang mendengar pekikan marah Fitria lantas meminta ponsel milik Salimah. Dia merasa geram dengan kelakuan sekretarisnya, yang di rasa terlalu ikut campur.
"Halo Fit?" sapa Afnan yang membuat Fitria diam seketika.
"Pa-pak Afnan?" gagap Fitria. Dia semakin kesal karena beranggapan kalau Salimah sengaja mengadu pada atasannya itu.
"Maafkan saya fit. Tolong jangan salahkan Salimah. Bagaimana pun saya ingin membahagiakan Rino. Dan bahagianya Rino adalah menghabiskan waktu bersama orang tuanya," ucap Afnan datar.
"Tapi pak. Mertua mbak Salimah sedang terbaring sakit dan kritis, rasanya enggak etis kalau mbak Salimah pergi begitu aja. Terlebih lagi kalian bukan muhrim," sanggah Fitria.
"Kamu tenang aja, selepas pulang nanti, aku akan segera antar Salimah ke rumah sakit. Mengenai bukan muhrim, bukan hanya Salimah dan Rino aja, tapi mbok Iyem juga ikut," jelas Afnan.
"Maaf ya Fit, saya matikan ponselnya, assalamualaikum." Tutup Afnan mengakhiri panggilannya.
"Maaf Sal, bisa kamu matikan ponselmu selama kita pergi? Aku enggak mau suasana liburan kita justru membuat kita enggak menikmatinya dan Rino yang jadi korban," pinta Afnan.
Salimah tersenyum kaku, lalu mengangguk setuju. Dalam hati dia berkata semoga tak ada hal penting lagi yang membuat orang ingin menghubunginya.
Di rumah sakit, Fitria menggeram kesal. Dia benar-benar merasa kecolongan.
Tepukan di bahu membuat Fitria menoleh. Ternyata Jendral yang mendekatinya.
"Kamu kenapa Fit?" tanya Jendral heran.
"Enggak papa mas, ya udah aku balik dulu ke ruangan bapak," elaknya lantas berlalu meninggalkan Jendral seorang diri.
.
.
__ADS_1
Di kediaman sri, wanita yang melahirkan Afnan itu merasa heran dengan kedatangan tamunya yang baru berkunjung malam tadi.
"Mas Subhan mbak Ratna, silakan duduk. Ada apa ini berkunjung lagi?" tanya Sri langsung.
Subhan dan Ratna saling melempar pandangan sebelum Subhan angkat bicara.
"Maaf nih Mbak Sri, berhubung tingkah anak kita yang bisa di bilang di luar batas. Apa enggak sebaiknya kita segerakan saja menikahkan keduanya?" ucap Subhan tiba-tiba.
Sri terkejut dengan ucapan calon besannya itu. Dia sedikit tak terima jika pergaulan anaknya di katakan melewati batas, sebab yang dia tahu putranya masih memegang norma yang berlaku.
"Maaf mas Subhan, maksudnya apa ya?" tanya Sri heran.
"Loh mbak Sri gimana sih, sampai jam sekarang aja anak-anak kita belum pulang, sudah jelas bukan jika mereka menghabiskan watu bersama sepanjang malam?" sergah Ratna sambil tertawa.
"Ya walaupun kita menyayangkan sikap mereka. Tapi ya sudahlah mbak Sri. Cuma takut kebablasan, lebih baik segera kita nikahkan saja bukan?" sambung Ratna.
"Tunggu. Afnan sudah pulang, bahkan kata pembantu saya, Afnan kembali sejak pukul sepuluh malam tadi. Saat ini dia sedang pergi melihat proyek bersama atasannya," jelas Sri bingung.
Ratna dan Subhan saling melempar pandangan. Jika Afnan sudah pulang seperti apa yang di ucapkan oleh calon besan mereka. Lantas ke mana putri mereka semalaman hingga tidak pulang sampai saat ini.
"Loh ini gimana sih Mbak, Norma itu belum pulang loh. Aduh gimana sih Afnan, kenapa enggak ngabarin kita!" pekik Ratna yang mulai mengkhawatirkan nasib putri semata wayangnya.
"Aduh, aku enggak tanya-tanya mbak Ratna, ya aku pikir Afnan sudah mengantar pulang Norma malam tadi."
Tanpa buang waktu Subhan dan Ratna bergantian menghubungi ponsel putri mereka. Sayangnya nomor sang putri tidak aktif hingga operatorlah yang menjawabnya.
"Mbak Sri tolong telepon Afnan! Dia harus memberi penjelasan pada kita ke mana Norma pergi hingga tidak kembali!" pekik Ratna lagi.
Sri segera mengambil ponselnya yang berada di ruang keluarga.
Sayangnya panggilannya di abaikan oleh Afnan. Afnan memang sengaja tidak mengangkat panggilan ibunya sebab dia tak mau di ganggu oleh siapa pun hari ini.
Dia sengaja tidak mematikan ponselnya sebab dia takut sang ibu akan mencurigainya.
Karena sang putra tak mengangkat panggilannya, dia lantas menghubungi ponsel milik Yudis, karena Sri yakin keduanya sedang bersama saat ini.
Yudis yang tengah bersenang-senang dengan temannya lantas berhenti seketika kala ponselnya berdering dan tertera nama bibinya di sana.
__ADS_1
"Mampus Gue!"