Anakku Hanya Milikku

Anakku Hanya Milikku
Bab 56


__ADS_3

Perang dingin sangat terasa dari tatapan dua orang wanita yang tengah berebut mencari perhatian Afnan.


Dia adalah Norma dan Fitria. Siang ini lagi-lagi tunangan Afnan mendatangi kantor atasannya dan mengganggu pekerjaan mereka.


"Nor, bisa enggak kamu sedikit bergeser, aku kesulitan bergerak kalau kamu menempel seperti ini!" keluh Afnan yang merasa jengah dengan sikap Norma yang menurutnya sangat kekanakan.


Yudis juga menggeram kesal melihat tingkah wanita di depannya ini.


Berbeda dengan Fitria yang berusaha menahan amarahnya karena tak punya hak apa-apa pada diri Afnan.


Fitria memang cemburu, ingin sekali dia bisa menyingkirkan tubuh wanita itu dari pujaan hatinya.


"Kamu kenapa natap aku segitunya?" cibir Norma pada Fitria.


Fitria menarik napas berusaha menangkan diri. Dia justru menatap atasannya.


"Maaf pak Afnan, jujur saya terganggu dengan keberadaan Bu Norma. Kita sedang bekerja, lagi pula ini sudah hampir mendekati waktu pulang. Jujur saya tidak mau di minta lembur untuk pekerjaan yang harusnya bisa selesai sejak tadi," keluh Fitria.


"Hei! Kamu itu cuma karyawan biasa, kenapa bersikap enggak sopan kaya gitu. Kamu mau di pecat!" maki Norma.


Tunangan Afnan itu lantas merajuk pada kekasihnya.


"Sayang, sebaiknya kamu pecat dia aja. Lihat, dia enggak sopan sama aku. Dia juga berani mengeluh tentang pekerjaan," rajuk Norma yang berharap Afnan mau mengabulkan keinginannya.


"Kamu juga Dis, sebaiknya kamu bilang sama papah kamu untuk memecat perempuan ini, dan beri penilaian buruk supaya dia susah mencari pekerjaan baru," sungutnya.


Yudis yang di minta seperti itu hanya tersenyum sinis, dia bingung mengapa Norma seperti percaya diri sekali kalau dia dan juga Afnan akan memenuhi keinginannya.


"Apa yang di ucapkan Fitria ada benarnya Nor! Kamu mengganggu pekerjaan kami. Andai dari tadi kamu tak merusak konsentrasi kami, tentu saja pekerjaan ini sudah selesai sejak tadi," jawab Yudis sinis.


"Sebaiknya kamu pulang, aku enggak mau jadi bahan gunjingan para karyawan kalau kamu selalu saja mengganggu jam kerjaku. Mengertilah Norma, aku tengah bekerja. Aku merasa malu karena tidak profesional dalam bekerja saat ini!" sambung Afnan yang setuju dengan ucapan Yudis.


"Ka-kamu mengusirku Mas? Tega sekali kamu!" lagi, Norma memulai drama air mata untuk meluluhkan Afnan.


Dia sangat tahu kalau sang tunangan sangat tak tega jika melihat wanita menangis, itulah sebabnya kini dia suka sekali menangis.


Yudis yang melihat drama murahan Norma mendengus kesal. Tentu saja pikirannya sama seperti Norma, jika Afnan pasti akan luluh dengan air matanya.


"Pulanglah, aku mohon. Aku tengah bekerja. Jangan sampai aku muak padamu," balas Afnan datar.


Norma dan Yudis terkejut bukan main dengan sikap tegas Afnan. Mereka melihat lelaki penyabar itu masih fokus dengan dokumen di depannya tanpa mau menoleh pada Norma.


Yudis merasa kagum dengan perubahan sikap Afnan. Mungkin sepupunya itu sudah bertekad akan memperbaiki sikap tak enaknya yang selalu saja bisa di manfaatkan orang lain.

__ADS_1


Fitria tersenyum tipis, tentu saja dia merasa di atas angin saat ini. Dia berpikir kalau apa yang di ucapkannya akan di dengarkan oleh atasannya itu.


Padahal, bukan seperti itu maksud Afnan. Dia memang membetulkan ucapan Fitria yang berkata jika pekerjaan mereka bisa selesai dengan cepat andai kata Norma tak mengganggu.


Afnan juga merasa tak enak, jika sampai harus membuat Fitria lembur untuk pekerjaan yang seharusnya bisa selesai sejak tadi.


"Kamu keterlaluan Mas!" tolak Norma yang sudah tak bisa lagi menyembunyikan kekesalannya.


Afnan menatap tajam pada wanita berpakaian seksi itu. Jika Norma berniat menggoda dirinya dengan pakaian terbuka seperti itu, jelas sangat salah. Sebab Afnan bukan lelaki yang bisa begitu saja tergoda dengan penampilan seperti itu.


Norma keluar dengan mengentak-entakkan kaki. Jelas dia lebih memilih menyelamatkan dirinya saat ini dari pada harus beradu argumen dengan tiga orang yang saat ini tengah berkomplot mengusirnya.


"Sialan! Awas aja perempuan kampung, aku akan menyingkirkanmu secepat mungkin. Apa aku harus naik ke ranjangnya om Brata aja ya demi bisa pecat si Fitria?" monolog Norma ketika di dalam lift.


Lalu dia geleng-geleng kepala membuyarkan pikirannya tersebut. Dia jijik membayangkan harus melayani lelaki paruh baya bertubuh tambun itu.


"Iyuh, enggak deh. Andai si Yudis gampang di rayu, pasti sekarang aku enggak memerlukan Afnan. Sayangnya tuh anak lempeng banget, apa jangan-jangan bener kata orang kalau dia bengkok?" lagi-lagi Norma berbicara sendiri.


Beruntung di dalam lift hanya ada dia seorang, hingga tak lama ada beberapa karyawan masuk ke dalam lift bersama dengannya.


Mereka memilih mengabaikan keberadaan Norma yang beberapa kali kerap terlihat di kantor mereka.


Bukan tak tahu siapa wanita itu. Hanya saja mereka malas berbasa-basi pada Norma yang terlihat sangat angkuh.


Sial, ini para karyawan kok cuek banget ama Gue? Mereka enggak kenal siapa Gue emang? Enggak ada nyapa-nyapanya sama sekali.


Norma menggerutu sepanjang perjalanannya menuruni kantor tempat Afnan bekerja.


Setelah sampai di tempat parkir kendaraannya, Norma bergegas pulang. Tujuannya hanya satu, yaitu mendatangi Sri untuk mengadukan sikap Afnan padanya.


.


.


"Mah?" panggil Norma begitu asisten rumah tangga di kediaman Sri membukakan pintu untuknya.


"Nyonya di mana?" tanya Norma ketus pada asisten rumah tangga Sri.


"Nyonya ada di belakang Non. Lagi nyiramin ta—"


Norma mengangkat tangan menghentikan ucapan pembantu Sri. Dia sudah sangat hafal apa yang sedang di lalukan calon mertuanya di belakang sana.


"Ya Allah, begitu amat ya calon istri Mas Afnan. Kok bisa Nyonya setuju dengan perempuan jadi-jadian kaya dia," cibir asisten rumah tangga Sri.

__ADS_1


"Udahlah kalau pakai baju kaya kurang bahan. Dandannya menor kaya boneka mampang, judes lagi, hiii ..." bahkan asisten rumah tangga Sri sampai bergidik ngeri membayangkan Norma jika sampai menikah dengan Afnan.


.


.


"Mah?" panggil Norma yang sudah mulai melakukan dramanya.


"Loh ... Loh kenapa kamu nangis gini? Ada apa?" cecar Sri sambil mengusap punggung calon menantunya yang tiba-tiba datang memeluknya.


"Mas Afnan mah," keluh Norma dengan suara manjanya.


"Kenapa Afnan?" tanya Sri yang sedikit paham karena pasti keduanya kembali bertengkar.


"Kalian pasti berantem lagi ya? Mamah kan udah bilang, sabar ngadepin Afnan. Kalau kamu maksa terus kaya gini lama-lama dia akan menjauh dari kamu," saran Sri.


Sebenarnya Sri juga berharap Afnan mau segera menikahi Norma. Namun apa daya, dirinya tak bisa lagi memaksa Afnan seperti dulu, sebab takut dengan ancaman sang putra yang akan kembali mencari keberadaan Salimah dan Rino.


Sri belum tahu jika sang putra sudah berhasil menemukan keberadaan mantan istri dan putranya.


Afnan bermain cukup rapi, hingga sang ibu tak pernah curiga padanya.


Entah apa yang akan di lakukan oleh wanita paruh baya itu terhadap mantan menantu dan cucunya jika dia sampai tahu kalau anak dan mantan menantunya sudah pernah bertemu.


"Mah, bukan gitu! Sekretaris mas Afnan yang ganjen itu berusaha mendekati dia lagi. Sekarang malah udah terang-terangan mah!" keluh Norma.


"Terang-terangan gimana maksud kamu Nor. Mamah lihat sendiri kalau Fitri hanya totalitas aja dalam bekerja. Mamah udah buktikan sendiri kan waktu kamu ngadu pertama kali?"


"Dia pandai bersandiwara mah. Pokoknya aku ingin dia di pecat dari kantor mas Afnan!" pintanya mutlak.


"Maaf Nor, mamah enggak bisa begitu aja meminta Afnan pecat dia. Mamah udah pernah minta sama Afnan buat pecat dia, tapi enggak mungkin, sebab perusahaan bisa kena penalti atau apalah itu kalau memecat karyawan tanpa alasan yang jelas," jelas Sri.


Norma kesal bukan main, niat hati ingin mengadu pada calon mertuanya, nyatanya semua sia-sia.


Sepertinya dia harus bertindak menyingkirkan wanita itu dari sisi tunangannya seorang diri, putusnya.


.


.


.


Tbc

__ADS_1


__ADS_2