
Afnan yang sedang berbincang serius dengan Yudis syok bukan main kala di hubungi oleh pengacara mereka.
Daniel memberitahu jika Pardi sudah tertangkap, bersama dengan seseorang yang di duga otak dari segala kejahatan yang menimpa Fitria.
Keduanya bergegas mendatangi kantor kepolisian. Tubuh Afnan mematung seketika kala melihat sosok seorang yang sangat di cintainya ada di sana.
"Mamah ..." lirihnya.
Sri hanya menangis tanpa mau mengeluarkan satu kata pun di depan penyidik.
"Pak Yudis pak Afnan," sapa Daniel sambil menyalami keduanya.
Afnan duduk dengan pikiran linglung. Hal yang paling dia takutkan terjadi. Afnan bukan orang bodoh yang tidak melihat kegusaran sang ibu sejak kemarin.
Namun dia selalu mengelak pikiran buruknya dan hanya mengatakan kalau memang ibunya tengah sakit.
"Ada apa ini mah? Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Afnan.
Sri menengadah menatap sang putra. Sejak tadi dia memilih menundukkan kepalanya. Takut tentu saja. Bayangan gelapnya hidup di balik jeruji besi membuatnya sangat panik.
"Siapa dia mah?" tanya Afnan pada lelaki di sebelah sang ibu.
"Dia pak Pardi Pak, orang yang memerintah para pelaku. Sedangkan otak dari semuanya adalah ibu Sri Hartanti ini—" jawab seorang penyidik.
"Kenapa mah? Kenapa mamah lakuin hal keji kaya gini? Memang apa salah Fitria sama mamah!" pekik Afnan murka.
Melihat kemarahan sang putra, Sri lantas bangkit dan mendekati putranya.
"Maafkan mamah Afnan. Tolong mamah, semua mamah lakuin demi kamu. Perempuan itu licik dan berniat menggoda kamu. Mamah enggak mau kamu terperangkap sama dia!" Sri memohon dan berharap supaya sang putra mau mengerti akan niatnya.
"Tolong mamah Afnan, bebaskan mamah," pinta Sri mengiba.
Afnan tak dapat berkutik, pikirannya buntu, sedangkan Yudis menghela napas lelah. Hal yang paling dia takutkan terjadi. Semua jadi rumit sekarang karena Sri yang menjadi pelaku utamanya.
"Mamah harus tanggung jawab atas perbuatan mamah. Selama ini aku selalu mengabaikan segala tingkah buruk mamah. Entah itu pada Salimah dan juga pada putraku sendiri. Aku salah, seharusnya aku tegas sejak dulu pada mamah, hingga mamah enggak akan punya pikiran jahat seperti ini—"
Afnan menarik napas panjang lalu berdiri. Hatinya sangat kacau, dia tak menyangka jika ibunya yang memang suka berlaku semena-mena bisa melakukan hal yang tak berperikemanusiaan.
Cukup sudah Afnan bersabar dengan sikap sang ibu. Dia menyerah, mungkin memang penjara adalah tempat untuk Sri bisa merenungkan segala sikap buruknya selama ini.
"Apa maksud kamu Afnan? Kamu mau membiarkan mamah di penjara?" tanya Sri tak menyangka.
"Jika itu bisa buat mamah jera, maka lebih baik mamah di sana saja—"
"Enggak! Enggak Afnan, jangan lakukan ini sama mamah kamu. Jangan jadi anak durhaka. Bebaskan mamah Afnan, mamah enggak mau tau, bebaskan mamah!" Sri menjerit histeris bahkan memukul sang putra dengan membabi buta.
Para polisi wanita sigap menenangkan Sri dan menyeretnya masuk ke dalam sel tahanan.
__ADS_1
Sri masih berteriak mengeluarkan sumpah serapahnya pada sang putra.
Kata-kata yang sangat tak pantas di keluarkan dari mulut seorang wanita yang di panggil ibu itu.
"Beginikah balas kamu untuk mamahmu itu? Menyedihkan, seharusnya kamu mati saja bersama ayahmu itu," ucap Pardi sinis.
Afnan tak menggubris ucapan lelaki yang telah diketahuinya adalah mantan kekasih sang ibu.
Yudis yang melihatnya lantas menepuk bahu sang sepupu. Dia yakin batin Afnan sangat terguncang saat ini.
.
.
Setelah semua berkas dan bukti sudah terkumpul Sri beserta para orang suruhannya tak lupa juga saudaranya yang kala itu membantunya untuk mengajak Fitria keluar pun tertangkap.
Karyawan Afnan itu memohon-mohon pada Afnan karena hubungan persaudaraan mereka.
Dia mengaku terpaksa karena desakan dari ibu Afnan yang merupakan saudara jauhnya. Dia di tuntut untuk balas budi karena bisa bekerja di perusahaan keluarga besarnya itu.
Namun Afnan dan Yudis tak bergeming. Semua kejahatan harus mendapatkan ganjaran sesuai dengan kesalahannya.
Beruntung kondisi Fitria semakin membaik karena di tangani oleh psikiater dalam penyembuhan mentalnya.
Kini keluarga Evita minus Darmono kembali ke kota untuk melihat para pelaku serta melihat jalannya persidangan.
Salimah duduk berdampingan dengan Alawiyah. Meski Sri sudah bukan lagi mertuanya, tapi ada perasaan tak enak hati pada Evita dan Fitria.
Fitria, gadis yang dulu cukup ceria kini berubah sangat drastis. Tatapan matanya datar cenderung kosong. Kini dia pun seakan mengabaikan Salimah semenjak kedatangan mereka kemarin.
Salimah tak tersinggung, dia di tenangkan Evita jika sekarang Fitria memang cukup berubah. Mereka tak bisa berharap jika Fitria akan kembali seperti dulu.
Tidak mengamuk dan berusaha menyakiti diri sendiri saja sudah di syukuri oleh mereka.
Fitria terbelalak saat para petugas membawa para tersangka. Dia tak menyangka jika dalang dari semuanya adalah Sri. Wanita dari lelaki yang di cintainya.
Evita memang tak pernah menceritakan kasusnya. Saat di minta datang pun dia berusaha menjelaskan sepelan mungkin, karena takut kondisi jiwa Fitria kembali terguncang karena mengingat kejadian nahas itu.
"Bu Sri?" lirihnya.
Evita yang mendengar ucapan anak angkatnya lantas menoleh ke arahnya.
"Kamu kenal mereka Fit?" tanya Evita lembut.
Air mata Fitria jatuh, dia tak menyangka jika Sri bisa melakukan hal keji seperti itu hanya untuk menyakiti dirinya.
Fitria menyesal karena tak mendengarkan peringatan Salimah dan Fitria, jika keluarga Afnan terutama ibunya sangatlah mengerikan.
__ADS_1
Kini masa depannya telah hancur karena kekejaman wanita itu.
Sri yang sudah sampai di depan mereka lantas segera berlari dan memeluk kaki Fitria memohon pengampunan.
"Fit. Maafkan ibu. Ibu khilaf, ibu di butakan oleh kekecewaan dan sakit hati. Tolong ampuni ibu Fit. Ibu janji akan memberikan apa pun yang kamu mau," ucap Sri mengiba.
Afnan membuang wajahnya, dia sebenarnya merasa sesak saat melihat keadaan sang ibu yang baru beberapa hari ini di tahan tampak sangat berubah.
Wajahnya kelihatan pucat, pakaian jingga itu menggantikan segala macam kemewahan yang biasa di sandangnya.
Terlebih kini ibunya tengah memohon belas kasihan pada korbannya sampai harus berlutut. Sungguh nuraninya sebagai seorang anak terkoyak.
Namun sekali lagi tak ada yang bisa dia lakukan.
"Anda sekarang meminta maaf setelah melakukan hal keji dan tak berperikemanusiaan pada anak saya. Di mana hati nurani Anda Hah!" bentak Evita murka.
Sedangkan Fitria hanya bergeming. Pandangan matanya kosong. Namun saat mendengar suara lelaki yang sedikit terkesiap dia menoleh dan ternyata di sana ada Afnan yang sejak tadi tak di sadari keberadaannya.
"Pak Afnan?" panggilnya lirih.
Sri tak memedulikan segala ucapan Evita, dia masih berusaha membujuk Fitria agar bisa terbebas dari segala hukuman.
Berada dalam penjara membuatnya tak tahan, dia akan melakukan segalanya agar bisa terbebas, meski harus mencium kaki Fitria sekali pun.
Begitu pikirnya.
"Ibu ingin bebas?" tanya Fitria membuat semua orang menatap tak percaya padanya.
Hal gila apa yang di pikirkan wanita itu, hingga bisa mengatakan hal tak masuk akal.
Dengan semangat Sri mengangguk sambil mengusap air matanya. Hatinya merasa lega, karena berpikir telah berhasil membujuk Fitria.
"kamu kenapa begini Fit! Jangan gila, masa depan kamu telah hancur karena wanita laknat ini!" maki Evita frustrasi.
"Karena masa depan saya sudah hancur Bu, maka Bu Sri ini harus tanggung jawab. Ibu pikir siapa yang mau dengan wanita kotor sepertiku," sarkasnya.
"Apa yang kamu inginkan, katalanlah nak, ibu akan kabulkan," ucap Sri semangat.
"Aku mau pak Afnan nikahin aku Bu Sri," jawabnya langsung.
.
.
.
Tbc
__ADS_1