
Setelah perdebatan sengit itu, Alawiyah merasa puas, sedangkan Salimah merasa tak enak hati pada Jendral dan Triya.
"Apa kita enggak keterlaluan Al? Aku enggak papa kalau mereka mau melepaskan tanggung jawab sama anak ini, kamu enggak perlu mengancam mereka. Aku tau mereka udah berusaha menemukan Mas Afnan, itu memang ngga mudah," lirihnya.
"Kamu emang tau usaha mereka?" cibir Alawiyah.
"Mas Jendral udah ke perusahaan tempat Mas Afnan bekerja, di sana mereka tau kalau Mas Afnan kecelakaan dan cuma ngasih tau itu aja karena mereka enggak tau kelanjutannya."
"Katanya pihak keluarga Mas Afnan sudah memindahkan dia keluar negeri untuk berobat. Makanya kami menemui titik buntu," jelas Salimah.
"Benarkah? Sebagai tempat Afnan bekerja, harusnya mereka tetap memantau kesehatan karyawannya serta keberadaannya. Jadi kamu sebagai istri berhak tau!" sungutnya.
"Masalahnya kami udah bercerai saat itu Al, makanya aku ngga menyalahkan Jendral sama Triya karena ada andil kebodohanku juga," lirihnya.
"Makanya yang udah berlalu kita biarkan aja, yang penting masa depan kamu. Coba kamu pikir Andai kamu udah menyerahkan anakmu, kebayang ngga kamu sama nasib anakmu kelak?" tanya Alawiyah.
Salimah menghela napas, semuanya terasa hampa baginya. Dia hanya ingin kembali bersama Afnan, tapi apa mungkin dirinya bisa bersama dengan sang suami setelah keadaannya berubah begini? Batinnya.
"Kamu enggak usah banyak pikiran. Yang penting sekarang kamu punya kekuatan hukum tentang anakmu. Aku bukannya melarang Jendral menemui anakmu kelak, hanya saja mereka tidak bisa sesuka hati mengambil dan membuang anak dan kamu aja!" jelas Alawiyah lalu berlalu pulang.
"Aku bakal cari rumah besok, sebelum ketemu Bu Evita, aku bakal tunjukin ke kamu dulu," sambung Alawiyah dari dalam mobilnya.
.
.
Di rumah Triya, Jendral tengah menenangkan sang istri yang masih menangis sedih karena kejadian tadi.
Berbagai usaha sudah dia kerahkan agar istrinya berhenti menangis, tapi tak juga membuahkan hasil.
Keinginan Triya tetap satu sang suami harus berbicara pada ibunya untuk berhenti mencampuri urusan mereka dengan memedulikan keadaan Salimah dan anaknya.
"Baiklah Mas akan bujuk ibu, tapi kalau gagal bagaimana? Itu semua hak ibu Bunda, Mas tentu tak bisa memaksanya!" ucap Jendral setelah menghela napas lelah.
Triya mengusap air matanya kasar, "Ya Ayah usaha dong! Pokoknya harus mau! Aku enggak mau tau ibu harus menarik kembali kata-katanya tadi. Aku enggak terima, bila perlu ancam sekalian!" saran gila Triya berikan pada suaminya.
Entah setan apa yang hinggap pada tubuh Triya hingga membuat wanita itu bertambah buruk saja kelakuannya.
__ADS_1
Suara pintu di buka membuat keduanya menoleh ke arah luar. Mereka memang tak menutup rapat pintu kamar karena fokusnya masih dengan amarah Triya.
"Assalamualaikum Jen? Tri?" panggil Evita. Wanita paruh baya itu meski sudah tahu sang menantu akan marah padanya, tapi tetap bersikap tenang seperti biasa.
"Tuh ibu kamu, habis nyakitin menantunya seperti enggak punya salah. Pokoknya ancam kalau ibu enggak mau dengerin permintaan kita, maka kamu enggak mau menemui ibu lagi!" ucap Triya ketus.
Permintaan kamu kali Bun. Ralat Jendral dalam hati.
Jendral merasa pusing, tak mungkin dia mengancam sang ibu dengan saran istrinya. Bagaimana pun dia merasa malu karena kehidupannya masih sering di sokong oleh orang tuanya.
Terlebih lagi rumah dan mobil miliknya adalah pemberian orang tuanya. Akan sangat terlihat tak tahu malunya jika dia berani mengancam seperti itu.
Namun demi sang istri, Jendral akan tetap berusaha bicara pada ibunya. Meski kemungkinan berhasilnya sangatlah kecil.
Jendral sangat tahu bagaimana sifat sang ibu, terlebih lagi yang di lakukan ibunya tak ada salah sedikit pun, makanya dia merasa bimbang.
"Udah sana cepetan! Kalau sampai ayah gagal aku mogok makan!" ancam Triya saat melihat wajah enggan sang suami.
"Tolonglah Bun, kenapa kamu jadi egois gini? Apa kamu enggak pikirin nasib anak kita? Anak yang udah lama kita inginkan ini bisa kenapa-kenapa kalau ibunya selalu emosi, terus enggak memberikan gizi yang cukup baginya," jawab Jendral putus asa.
"Terus gimana caranya supaya ibu mau setuju dengan kemauan kita?" Cecar Triya kesal.
"Jendral? Triya?" panggil Evita lagi.
Jendral segera menuju pintu untuk memenuhi panggilan ibunya.
"Ingat Yah! Harus berhasil!" sergah Triya saat sang suami hendak meninggalkannya.
"Sayang, kamu harus sehat dan tumbuh dengan sempurna, Bunda tak akan membiarkan orang lain merebut apa yang memang harusnya jadi milikmu," monolog Triya sambil mengusap perutnya.
.
.
"Bu?" panggil Jendral sambil menutup pintu kamarnya.
Dia melihat sang ibu membawa banyak barang belanjaan. Dirinya lantas segera mendekat ke arah meja tamu.
__ADS_1
"Ibu habis belanja?" tanyanya. Lalu mengecek satu persatu kantung plastik di atas meja.
Ada buah-buahan, susu hamil dan aneka camilan kesukaan istrinya.
Dia menarik napas panjang, bagaimana bisa dia mengancam sang ibu saat ibunya justru sangat perhatian pada istrinya.
Sang ibu sangat tahu apa pun kesukaan istrinya. Membuatnya bingung bukan main saat akan memulai percakapan.
"Duduklah, ibu mau bicara. Di mana istrimu?" tanya Evita setelah mendudukkan dirinya.
"Istirahat di kamar Bu," jawab Jendral pelan.
"Maafkan ibu yang sudah mengambil keputusan tadi tanpa berdiskusi dengan kalian."
Jendral menatap sang ibu, perempuan sabar yang selalu mengerti dirinya, bagaimana bisa dia menyakiti wanita pemilik surganya itu dengan saran ancaman dari sang istri? Batinnya merancu.
"Kalian juga mengambil keputusan besar tanpa melibatkan kami. Kejam rasanya kalau ibu juga harus turut andil pada kejahatan kalian sama cucu ibu," ucap Evita.
"Ibu enggak bisa, maafkan ibu. Kalau pun istri kamu marah ibu mengerti, makanya ibu tak akan memaksanya mengerti keputusan ibu."
"Ibu harap kalian juga enggak ikut campur. Ibu enggak memaksa kamu mempertahankan pernikahan keduamu, karena ibu tahu kamu tidak mencintai Salimah. Tapi ingat, anak yang Salimah kandung, adalah anak kamu, jadi jangan mengatur ibu," sambung Evita.
"Enggak bisa gitu dong Bu! Itu namanya keterlaluan, kenapa ibu sangat membela anak Salimah tapi mengabaikan anakku?!" sela Triya tiba-tiba.
"Apa ibu mengabaikanmu? Hanya karena ibu memberi kebutuhan pada Salimah untuk merawat cucu ibu, kamu lantas marah? Apa ibu memakai uangmu?" sekak Evita.
"Jangan serakah, itu uang ibu, bukan kamu atau Jendral yang berhak mengaturnya!" jawab Evita dingin.
Wanita paruh baya itu lantas bangkit hendak meninggalkan anak dan menantunya.
"Apa ibu enggak berpikir kalau ibu udah tua siapa yang akan merawat ibu? Mas Jendral satu-satunya anak ibu yang mungkin akan mengurus ibu. Kalau ibu bersikeras seperti ini jangan salahkan kami, kalau kami malas bertemu dengan ibu lagi!" ancam Triya.
Evita yang sudah berjalan memunggungi keduanya lantas berbalik.
"Bukankah sekarang ibu dan bapak sudah tua? Apa kami merepotkan kalian? Justru kalian yang masih kami sokong kehidupannya bukan?"
"Kalau kamu maunya begitu, maka baiklah, lakukanlah apa yang kamu mau. Maka ibu juga akan menghentikan segala sokongan dana yang selama ini masih bisa kalian nikmati," ancamnya balik.
__ADS_1