
Kali ini ketiganya mendatangi kantor kepolisian bersama. Bahkan Afnan sudah menghubungi Yudis untuk menyusulnya, sebab bagaimana pun kejadian Fitria terjadi setelah wanita itu pulang kerja.
Yudis yang di kabari oleh sepupunya, hanya bisa menggeleng tak percaya. Rasanya kejadian akhir-akhir ini membuatnya pening.
Alawiyah mengatakan jika dirinya bertanggung jawab menjadi kuasa hukum Fitria dan akan mendampingi wanita itu menjalani proses hukum.
Dia ingin kepolisian bertindak tegas demi mencari pelaku agar Fitria bisa mendapatkan keadilannya.
Mereka semua mendengarkan apa yang sedang di jelaskan oleh pihak penyidik.
Tak lama Yudis datang dengan di dampingi pengacara, sebab dia tak tahu jika mereka telah memiliki pengacara.
"Saya temannya Salimah dan kebetulan mengenal Fitria Pak Yudis, tentu saya akan turun tangan membantu teman saya itu," ucap Alawiyah setelah memperkenalkan diri.
"Baiklah Bu Alawiyah, sebaiknya ibu bekerja sama dengan pengacara kami sebab bagaimana pun Firia juga tanggung jawab kami," saran Yudis.
Alawiyah pun mengangguk setuju, semakin banyak yang membantu proses hukum Fitria, dia yakin wanita itu akan mendapatkan keadilan yang seadil-adilnya.
"Apa enggak ada saksi yang melihat kejadian itu pak?" tanya Afnan.
Sejak tadi Salimah memilih diam dan mendengarkan, bisa di bilang dia masih syok dengan kejadian hari ini.
"Kami sudah menelusuri kawasan itu, tak jauh dari sana ada gubuk tempat tuna wisma tinggal. Hanya dua orang anak kecil, sekitar umur sembilan dan tujuh tahun."
"Anak yang berusia tujuh tahun menjelaskan jika dia memang mendengar suara jeritan dari gedung kosong itu saat hendak buang air kecil. Dia mendekati gedung itu dan melihat setidaknya ada lima orang lelaki dan wanita di sana."
"Tapi ya begitulah pak, namanya anak kecil, mendengar jeritan dan tertawaan para orang dewasa, anak kecil itu hanya bisa pergi dari sana sebab dia takut tertangkap."
"Dari keterangan kakaknya yang lebih besar, memang gedung itu sering di gunakan untuk para berandalan meminum minuman beralkohol dan berpacaran. Jadi mereka anggap kejadian seperti itu biasa saja."
"Paginya saat hendak mengumpulkan botol bekas yang biasanya di tinggalkan para berandalan di sana, mereka terkejut karena mendapati seorang gadis yang tergeletak tak sadarkan diri dengan tanpa busana," jelas sang penyidik.
Salimah meneteskan air mata, dia membayangkan betapa mengerikannya hal yang menimpa Fitria.
Orang biadab seperti apa yang bisa melakukan kejahatan mengerikan seperti itu pada seorang gadis.
Apa mereka tak punya hati nurani sama sekali? Rutuk Salimah.
"Mungkin ini bukan hanya tindakan pemerkosaan, sebab ada dugaan ini tindak perampokan juga, karena barang-barang milik korban juga bercecer dan hilang. Seperti uang dan juga ponsel miliknya."
Alawiyah tercekat, selam menjadi pengacara dia belum pernah sekalipun terlibat dengan kasus kriminal.
__ADS_1
Pekerjaan utamanya adalah di perusahaan dengan membantu perusahaan menyelesaikan masalah bisnis dan legalitas hubungan kerja.
Satu kali dia membantu masalah Salimah. Itu pun hanya surat perjanjian antara Jendral dan Salimah. Dan untuk pertama kali dia di hadapkan pada masalah pelik tantang kasus pemerkosaan, dia merasa tak percaya diri.
Melihat raut wajah seorang pengacara muda di sebelahnya, membuat pengacara yang di bawa oleh Yudis menepuk bahu gadis itu.
"Kita akan menangani kasus ini bersama. Memang akan banyak menyita pikiran, jadikan ini sebagai tempat kamu belajar lagi," ucap pengacara laki-laki yang usianya jauh di atas mereka.
Alawiyah tersenyum kaku dan mengangguk setuju, ini adalah pengalaman pertamanya menangani kasus kriminal, dia berdoa semoga dia tak mempermalukan firma hukumnya.
.
.
Salimah kembali ke rumah sakit untuk menemui Fitria, semoga kali ini gadis itu sudah sedikit tenang.
Di sana, Fitria duduk dengan pandangan kosong, matanya sembab wajahnya masih terlihat membengkak.
Salimah sedikit takut mendekati adik angkatnya karena takut Fitria kembali mengamuk.
Alawiyah yang memilih menghampiri Fitria dan duduk di sebelahnya.
"Fit," panggil Alawiyah yang tak mendapatkan respons apa pun.
"Pergi! Pergi kalian! Kalian biadab, kalian bajingan! Pergi! Aaaaaaa ..." teriak Fitria sambil memukul-mukul udara demi bisa menghalau siapa pun yang hendak mendekatinya.
Salimah menangis, perawat kembali datang dan meminta mereka untuk segera keluar sebab pasien saat ini belum bisa di ajak berkomunikasi.
"Bagaimana ini Al? Ibu pasti akan menanyakan keberadaan Fitria," tanya Salimah lesu.
Alawiyah menepuk bahu sang sahabat. "Mereka berhak tau Sal. Bagaimana pun Fitria adalah anak angkat mereka."
Salimah menggigit bibir dalamnya, bimbang.
Melihat keraguan Salimah, Alawiyah lantas kembali berucap, "kamu takut mereka menganggapmu pembawa sial?" tebaknya.
Salimah menunduk lalu mengangguk. Hatinya gundah gulana, setelah Jendral dan Fitria menganggapnya pembawa sial. Kini ia takut Evita pun akan terpengaruh dan menganggap apa yang terjadi dengan anak angkatnya karena kesialan dirinya.
Alawiyah terkekeh, "kalau mereka bicara seperti itu ya artinya mereka enggak tau ketetapan Tuhan. Udah tenang aja, ada aku yang akan ikut bantu ngomong."
Salimah menatap keluar jendela mobil, pemandangan di luar sana sedikit meredamkan rasa khawatirnya.
__ADS_1
"Apa kamu enggak takut juga tertimpa kesialan dariku Al?" tanya Salimah tiba-tiba.
Alawiyah terkekeh, "aku udah lama kenal kamu, apa pernah terjadi sesuatu yang buruk sama aku?"
"Mungkin kejombloanmu termasuk kesialan juga," keluh Salimah gemas.
Tawa Alawiyah makin kencang, "mungkin iya, kesialan yang sayangnya aku syukuri."
"Kamu ini Al! Mau sampai kapan sendiri terus? Kasihan pak Heri tau, dia kayaknya serius ma kamu."
"Aku akan pikirkan nanti," jawab Alawiyah pendek.
Mereka telah sampai di rumah sakit tempat Darmono dan Triya di rawat. Saat hendak ke ruangan Darmono, mereka melihat rombongan keluarga Triya dan juga Evita berada di sebuah lorong dengan tangis yang berderai.
Salimah dan Alawiyah pun bergegas mendatangi mereka yang masih menangis di depan ruang ICU.
"Bu ada apa?" tanya Salimah pada Evita yang sedang memeluk Jendral.
"Triya Sal. Triya ... Meninggal," ucap Evita lirih.
Tak lama ibunda Triya jatuh tak sadarkan diri, membuat anak-anak mereka akhirnya membawa sang ibu ke ruang UGD untuk di tangani.
Salimah juga menangis. Beruntung ada Alawiyah yang menjadi sandarannya saat ini.
Tak lama tubuh Triya keluar dari ruang ICU hendak di bawa ke kamar jenazah untuk di urus dan di bawa pulang.
Jendral meraung, memegang ranjang sang istri. Dia berteriak di depan jenazah istrinya yang sudah pucat.
Triya tak sempat sadarkan diri untuk sekedar berpamitan. Mantan madu Salimah itu, menghembuskan napas terakhirnya setelah melewati beberapa kali operasi.
Dokter memang sudah memprediksi kesembuhan Triya yang di rasa akan sulit. Namun mereka tak patah semangat, mereka terus meminta keluarga untuk selalu berdoa agar Triya bisa melewati masa kritisnya.
Namun Tuhan seakan lebih menyayanginya dan memilih membebaskan Triya dari rasa sakitnya.
Keluarga Evita benar-benar sedang di uji. Setelah kehatan Darmono menurun, kini mereka harus kehilangan salah satu keluarganya.
Di tambah lagi kini Evita belum mengetahui tentang kondisi Fitria. Entah akan seperti apa mental wanita paruh baya itu jika mendengar kabar tentang anak angkatnya kelak.
"Bagaimana ini Al. Enggak mungkin kita memberitahu mereka tentang keadaan Fitria saat ini," lirih Salimah.
Alawiyah menarik napas panjang. Dia pun bimbang. "Ya lebih baik nanti saja, tunggu keadaan sedikit kondusif."
__ADS_1