
Alawiyah tengah bersitegang dengan Jendral dan pengacaranya. Putra Evita itu memilih nekat meminta haknya sebagai seorang ayah dari anak yang di kandung Salimah.
"Maaf Pak Jendral, silakan kembali di baca surat perjanjian yang pernah bapak dan klien saya sepakati." Alawiyah berusaha menahan amarahnya saat mendengar jika Jendral akan mengajukan banding.
Jendral diam, dia tahu dengan pasti apa isi surat itu. Namun dia tak bisa mengabaikan perasaan istrinya yang sangat menginginkan anak Salimah.
Dirinya tak peduli jika harus di benci oleh ibu bahkan Salimah. Cintanya pada Triya membuatnya gelap mata.
Bahkan Jendral rela menggunakan uang sisa tabungannya untuk menyewa pengacara mahal yang dia pikir mampu melawan Alawiyah.
Pengacara yang di sewa Jendral lantas mengambil map yang sudah terbuka itu.
Lelaki itu membaca dengan saksama surat perjanjian antara Jendral dan juga mantan istri keduanya.
Pengacara itu mengangguk-anggukan kepala. Tak ada cela memang untuk kliennya menggugat. Namun dia pantang menyerah. Semua yang datang ke firma hukumnya akan mendapatkan kemenangan, begitu pikirnya.
"Begini Bu Alawiyah. Memang di sana tertera jelas jika klien saya tak boleh menuntut anak itu di kemudian hari—" jedanya.
Alawiyah berusaha tenang, mendapatkan lawan yang lebih lama berkecimpung di dunia hukum jelas sedikit membuatnya waswas.
Terlebih lagi Alawiyah sangat tahu bagaimana cara firma hukum tempat pengacara Jendral bekerja itu selalu berhasil meraih kemenangan, meski dengan cara licik sekali pun.
"Tapi untuk mengasuh anak mereka. Tentu Bu Salimah tak bisa mengabaikan hal itu bukan? Pak Jendral mempunyai porsi yang sama besar dalam merawat anak mereka, meski mungkin hanya sesekali," sambungnya.
Alawiyah tersenyum, tahu akan taktik yang di gunakan pengacara yang di sewa jendral.
Lelaki itu ingin membuat seolah Jendral melakukan tugasnya sebagai seorang ayah dengan meminta sesekali menjaga anak Salimah kelak.
Mereka akan kembali membuat siasat busuk yang akhirnya mungkin bisa membuat Salimah kehilangan hak asuh anaknya kelak.
"Bapak Jendral memang diberi hak oleh klien saya untuk menemui anak mereka. Ingat satu hal pak, sudah ada poinnya di sana. Hanya menemui, bukan untuk mengasuh dan membawa," jelas Alawiyah tenang.
"Saya paham Bu. Tapi kita lihat situasinya. Saudari Salimah seorang ibu tunggal. Tak memiliki pasangan dan juga seorang pekerja. Apa Ibu Alawiyah yakin kalau saudari Salimah akan mampu menjaga kedua anaknya?"
"Pikirkanlah lagi, jangan egois Bu, toh Bu Triya tak akan memiliki anak lagi. Mereka tak akan mengambil hak asuh anak kalian nanti. Tolong lebih bijaksana lagi. Istilahnya mereka semua harusnya saling bergotong royong untuk menjaga dan memberi kasih sayang pada anak itu nantinya," bujuk pengacara Jendral.
Alawiyah sangat kesal dengan kegigihan pengacara Jendral. Namun dia tak akan menyerah, karena yakin semua hanya siasat mereka semata.
"Maaf Pak Dirga, kami tetap pada keputusan kami. Semua sudah kami tuliskan lengkap di surat perjanjian yang bahkan mereka sangat setuju saat itu."
"Bukan saya yang memaksa, bahkan kami punya video yang merekam semua percakapan kami. Jadi saya rasa pertemuan kita akhiri sampai di sini saja," ucap Alawiyah sambil bangkit berdiri.
__ADS_1
Jendral ikut bangkit, dia merasa akan gagal dalam membujuk keduanya, karena fakta yang ada memang tak berpihak padanya.
"Apa kamu enggak kasihan sama Triya Al?" tanya Jendral menghentikan langkah Alawiyah.
Alawiyah menghentikan langkahnya lalu berbalik dan menatap sinis mantan suami sahabatnya.
"Sudah berapa kali kami mengingatkanmu, sebaiknya memang kamu melihat sendiri betapa angkuhnya istrimu itu dulu dalam menolak anak kalian!" balas Alawiyah lalu pergi meninggalkan mereka berdua.
Jendral duduk dengan lunglai, di sebelahnya sang pengacara, mencoba memberi semangat.
"Bapak tenang aja, Firma kami akan melakukan segala cara supaya kita bisa menang," ucap Dirga tenang.
Jendral terkesiap, dia memandang sang pengacara bingung, antara senang tetapi juga waswas.
Dia memang mendatangi firma hukum tempat Dirga bekerja atas rekomdasi rekan dan atasannya di kantor.
Mereka memang tak tahu kasus yang akan di hadapi olehnya. Namun rekan-rekannya memberi semangat apa pun pasti akan di menangkan oleh firma hukum tempat Dirga bekerja.
Ingatannya kembali pada keadaan sang istri yang sampai saat ini masih murung. Bahkan Dokter Setyo menyarankan padanya mendatangi psikiater untuk membantu memulihkan kesehatan mental Triya karena kehilangan anak mereka.
"Saya mohon bantuannya ya Pak Dirga," ucap Jendral yakin.
.
.
Dirinya hanya mengirim pesan jika dia telah kembali. Ia yakin Salimah pasti cemas memikirkan pertemuan mereka tadi.
Untuk membuat pikiran sahabatnya itu tenang, Alwiyah hanya memberitahu bahwa sepulang kerja nanti dia akan menjelaskan segalanya.
Ting.
Notifikasi pesan dari Salimah membuat Alawiyah segera membukanya.
[Bagaimana hasilnya Al? Burukkah?]
Hati Salimah tak tenang. Perempuan yang tengah mengandung anak kedua itu begitu sangat perasa.
Apa pun yang dia pikirkan maka akan membuat perasaannya memburuk. Terlebih lagi beberapa hari ini dia di liputi kecemasan karena permintaan Jendral yang ingin bertemu dengannya.
[Tenang aja Sal, ada aku dan rekan-rekan di Firma kami yang akan selalu membela hakmu. Jangan pikirkan apa pun, rileks, kasihan anakmu akan merasa stres nanti]
__ADS_1
Salimah yang membaca pesan dari sahabat sekaligus pengacaranya mendadak merasa bersalah pada bayinya.
Beberapa waktu belakangan ini juga nafsu makannya menurun akibat stres. Sungguh Salimah merasa dirinya tak pantas menjadi ibu.
"Maafkan Mamah ya sayang," ucap Salimah sambil mengusap perutnya.
.
.
Setelah mereka pulang kerja, Salimah segera mencecar Alawiyah terkait pertemuan gadis itu dengan mantan suaminya.
"Bagaimana Al, apa mas Jendral tetap pada keputusannya? Kalau dia mau memperebutkan hak asuh anak kami?"
"Bukan begitu tujuan mereka. Mereka hanya minta di beri porsi yang sama denganmu, saling mengasuh dan memberi kasih sayang," jawab Alawiyah menerawang.
Salimah bernapas lega, dia lantas tersenyum yang membuat Alawiyah justru mengernyit heran.
"kok kamu kelihatan lega? Dengerin aku dulu Sal, jangan main seneng dulu!" gerutu Alawiyah yang melihat kepolosan sahabatnya.
"Memangnya ada apa Al? Kalau hanya ingin bertemu untuk memberikan kasih sayang ya enggak papa Al. Paling enggak anakku enggak akan kehilangan sosok ayahnya," jawab Salimah bingung.
"Astaga Salimah ... Salimah oon sama polos emang beda tipis ya!" keluh Alawiyah.
"Loh kok kamu ngatain aku bodoh Al?" jawab Salimah tak terima.
"Emang! Kamu denger ngga apa yang tadi aku bilang? inti utamanya Jendral sama Triya mau di beri kesempatan buat ngasuh anak kamu juga!"
"Tunggu! Ngasuh gimana? Jadi mereka kaya minta jatah gitu buat anakku tinggal bersama mereka?" jawab Salimah yang baru mengerti maksud perkataan Alawiyah.
"Ho'oh, astaga, dari tadi baru paham dia."
"Dih enggak ah Al, kalau mereka datang ke rumah buat jenguk anakku bolehlah, tapi kalau di rawat mereka, enggak mau aku, lama-lama bisa aja kan mereka berharap bisa merawat anakku selamanya. Enggak pokoknya Al!"
"Makanya, tapi aku mau kasih tau kamu juga sesuatu yang penting. Kamu harus hati-hati mulai sekarang—"
"Ada apa sih Al, kok jadi horor gini. Emang mereka ngancem aku gitu?" potong Salimah waswas.
.
.
__ADS_1
tbc