Anakku Hanya Milikku

Anakku Hanya Milikku
bab 76


__ADS_3

Takut menyakati hati Evita yang sudah baik padanya, terpaksa Salimah menyetujui permintaan Jendral.


Meski Evita menyerahkan keputusan padanya, tapi jelas sekali dari ucapannya dan pandangannya berharap dirinya mau membantu sang putra.


"Saya cuma bingung bagaimana menjelaskan sama pak Rt nanti Bu. Karena bagaimana pun tamu wajib melapor kan," ucap Salimah berharap jawabannya kali ini membuat Jendral menyerah kalah.


"Kamu tenang aja. Bilang aja kita suami istri. Lagi pula surat nikah siri kita masih ada kok Sal. Kamu bisa tenang," jawab Jendral santai.


Tunggu balasanmu perempuan pembawa sial. Akan aku pastikan kamu merasakan apa yang aku rasakan saat ini.


Salimah sudah pasrah. Tak bisa lagi dia mengelak, menikah secara siri jelas berbeda dengan menikah secara sah. Jika secara sah tentu dia pasti sudah memiliki akta cerai, setelah di talak oleh Jendral.


Sedangkan pernikahan siri yang hanya tercacat pada suat keterangan menikah masih di miliki oleh Jendral.


Jika dalam kasusnya Jendral mempersulit dirinya tentu dia bisa dengan mudah mengelak masih menjadi istri Jendral, sedangkan saat ini situasinya hanya sebagai bantuan saja, jika menolak berarti dirinya terlihat sekali keberatan membantu Jendral dan dia yakin meski sedikit Evita pasti merasa kecewa padanya.


Salimah benar-benar merasa kalah telak. Tentu dia tak nyaman, tapi dia tak tahu harus berbuat apa.


Melihat kegusaran mantan menantunya. Evita paham betul jika Salimah seperti enggan mengabulkan permintaan putranya.


Namun dia juga memikirkan ucapan Jendral yang berkata akan menjaga Salimah menjelang kelahirannya.


"Kamu tenang aja, ibu pastikan kamu akan selalu aman," ucap Evita menenangkan.


Salimah tersenyum tipis dan mengangguk dengan terpaksa.


.


.


Sedangkan di kediaman Norma, Subhan dan Ratna sudah berhasil menemukan putri mereka berkat bantuan anak buah Subhan.


Norma di seret paksa saat akan melarikan diri bersama dengan Medi melalui jalur laut.


Norma berteriak memukul dan memaki anak buah sang ayah yang menariknya secara kasar.


Brukk!!


Norma jatuh tersungkur tepat di depan orang tuanya.


Tanpa perasaan, Subhan menarik rambut panjang anaknya hingga Norma mendongak menatapnya.


"Kamu memang anak sialan yang enggak berguna! Papah memintamu untuk menaklukkan Afnan, tapi kenapa kamu justru ingin kabur dengan kacung itu!!" bentak Subhan murka.

__ADS_1


Ratna yang berada di sebelahnya merasa iba dengan sang putri. Namun dia tak bisa melakukan apa pun terlebih lagi suaminya sedang dalam keadaan marah.


"Pah, mas Afnan enggak mencintai Norma, bagaimana mungkin Norma bisa hidup dengan lelaki seperti itu?"


"Persetan dengan cinta! Papah kan minta bantuanmu bukan untuk menaklukkan hati Afnan. Taklukan dia agar tunduk di bawah kaki kita. Apa kamu sanggup hidup miskin hah! Anak bedebah!" maki Subhan kasar.


"Pah, sabar, kasihan Norma," sela Ratna yang sudah tak tahan dengan sikap keras sang suami.


"Sekarang, kembali ke rumah Afnan dan minta maaf sama dia!" titah Subhan.


Norma menunduk, nyalinya ciut, tak mungkin dia menuruti keinginan sang ayah. Afnan tak akan bisa di bujuk dengan cara apa pun sebab lelaki itu sudah tau tentang dirinya.


"Mbok, seret Norma ke kamarnya! Dandani dia segera."


Subhan benar-benar kesal dengan sikap sang anak yang diam saja sejak tadi.


"Pah," panggil Norma pelan.


Dia memberanikan diri menatap orang tuanya. Entah apa yang akan terjadi nanti, yang penting dirinya harus mengatakan yang sebenarnya saat ini agar orang tuanya tak lagi mendesak dirinya untuk menikah dengan Afnan.


"Buruan!" sentak Subhan tak sabar.


"Aku hamil pah."


Melihat orang tuanya yang terdiam karena syok, Norma melanjutkan kembali ucapannya.


"Afnan udah tau Pah, jadi enggak mungkin dia mau menikahi wanita yang sedang mengandung anak orang lain."


Subhan mengepalkan kedua tangannya. Tanpa perasaan lelaki paruh baya itu lantas menyeret sang putri sampai ke kamarnya.


Setelah sampai di kamar, Subhan kembali melempar tubuh Norma hingga putrinya itu tersungkur dan dahinya terpentok ujung ranjangnya.


"Berdoalah, semoga ucapanmu tadi hanya bualan semata. Sebab kalau memang kau mengandung benih kacung itu, maka bersiap menerima kemarahan papah!" kecam Subhan lantas mengurung Norma agar tak kabur.


Tanpa banyak kata Subhan menelepon dokter pribadinya, dia bertanya tentang dokter kandungan yang bisa mereka panggil ke rumah.


Dokter langganan Subhan jelas tak bisa membantu banyak jika harus merepotkan kerja dokter lainnya, sebab mereka bukanlah dokter umum yang bisa bekerja sama di luar rumah sakit seperti dirinya.


"Jika hanya sekedar mengecek kehamilan, saya juga bisa Pak. Tak perlu harus dokter spesialis, sebab percuma juga mengundang mereka sebab pekerjaan mereka bergantung dengan alat USG," jawab si Dokter.


"Terserah Anda saja, saya hanya ingin memastikan apa benar putri saya ini hamil atau enggak."


Tak lama dokter pribadinya datang bersama dengan seorang perawat. Mereka bergegas mendatangi kamar Norma di antar oleh anak buah Subhan.

__ADS_1


Di sana Norma masih duduk di tempat semula. Wanita itu masih menangis sambil memeluk lututnya.


Saat mendengar suara pintu terbuka, dia menatap dengan tubuh bergetar dengan hebat. Sungguh dia sangat takut dengan kemurkaan sang ayah.


Terlebih lagi, pikirannya juga cemas memikirkan nasib kekasihnya.


Dia takut anak buah sang ayah akan menghabisi nyawa lelaki yang di cintainya itu.


Dokter pribadi Subhan terkejut tapi berusaha bersikap biasa, sebab sudah tau orang seperti apa Subhan itu.


Dia sebenarnya merasa iba melihat seorang wanita yang terlihat sekali tengah tertekan. Namun tak ada yang bisa ia lakukan, selain melakukan apa yang di minta oleh keluarga pasiennya.


"Nona Norma, silakan ikut perawat saya ya," pinta sang Dokter lembut.


Tak ada perlawanan dari Norma saat di tuntun menuju kamar mandi. Setelah sepuluh menit berlalu, Norma dan perawat itu keluar dengan membawa sebuah alat tes kehamilan.


Dokter pribadi Subhan menerima dan menatap Subhan dengan cemas, sebab dia tau putri tunggal Subhan masihlah seorang gadis.


"Bagaimana?" tuntut Subhan lalu mengambi alat tes kehamilan dari tangan Dokter pribadinya.


Matanya menyorot tajam, sebenarnya dia bisa saja meminta anaknya mengecek sendiri, hanya saja dia takut di tipu oleh Norma.


Setela yakin jika Norma benar-benar hamil, tentu saja dia tak akan melepaskan Norma dengan mudah, karena dia tak mau nama baiknya akan tercoreng akibat ulah liar putri tunggalnya.


"Kurang ajar! Kamu memang memalukan!" maki Subhan dan kembali hendak menghajar Norma.


Beruntung Dokter pribadi mereka sigap dan menghadang tubuh Subhan agar tak bertindak anarkis.


"Tolong sabar pak, kekerasan tak akan menyelesaikan masalah," bujuk sang Dokter.


"Pergilah," usir Subhan tenang.


Tubuh Norma bergetar hebat karena ketakutan, dia ingin meminta tolong pada Doter agar tak meninggalkannya, sebab dia merasa sang ayah pasti akan melakukan sesuatu.


Benar saja, setelah Dokter dan perawat meninggalkan kamar Norma. Subhan menghubungi seseorang.


"Ada pekerjaan untukmu," ucap Subhan datar. Seseorang di seberang sana terkekeh dan menjawab pertanyaan Subhan dengan santai.


"Bukan. Putriku hamil. Singkirkan janin itu. Anak itu hanya akan menyebabkan masalah," jawabnya.


Tubuh Norma luruh seketika, dia tak menyangka jika sang ayah akan berbuat kejam dengan menyingkirkan cucunya sendiri.


__ADS_1


__ADS_2