Anakku Hanya Milikku

Anakku Hanya Milikku
Bab 58


__ADS_3

Triya sedang ketakutan dan bersembunyi di dalam kamarnya. Ketukan di depan pintu rumahnya tak urung semakin keras kala sang pemilik rumah enggan menerima mereka.


"Tolong Bu Triya kooperatif, kami lelah kalau harus seperti ini terus!" pekik seseorang berpakaian rapi.


"Ada apa mas? Kenapa sejak tadi saya dengar kalian meneriaki rumah Bu Triya?" tanya tetangga Triya yang mulai merasa terganggu.


Salah satu dari dua orang itu lantas mendekati tetangga nasabahnya.


"Maafkan kami Bu, boleh saya tanya? Apa ibu tau keberadaan Bu Triya? Sudah sejak tiga hari lalu sulit sekali kami menemui beliau," ucapnya.


Tetangga Triya yang bernama Hesti meneliti penampilan lelaki di depannya. Ada nama sebuah koperasi simpan pinjam di tanda pengenal yang tersampir di lehernya.


"Biasanya ada di rumah Pak, saya juga enggak tau kalau ngga ada. Tapi bapak bisa ke sini sore hari. Biasanya ada suaminya pulang kerja," jelas Hesti.


Kedua lelaki itu saling pandang dan tersenyum senang. Akhirnya mereka bisa bertemu dengan suami nasabahnya.


Salah satu dari lelaki itu lantas mengangguk dan mengucapkan terima kasih pada Hesti.


"Kalau memang Mbak Triya enggak ada, jangan di panggil lagi ya mas. Maaf, tapi suara masnya mengganggu kami. Apa lagi saya ada anak balita," sergah Hesti.


"Iya Bu, maafkan saya. Kami bingung karena Bu Triya enggak kooperatif Bu," jelas lelaki itu.


Hesti sendiri enggan bertanya lebih. Sebab yang pasti sedikit banyak dia tahu kalau kedatangan kedua lelaki tadi pasti ada sangkut pautnya dengan hutang piutang.


Sebenarnya saat sudah tidak mendengar suara panggilan di depan rumahnya, Triya buru-buru mendekat ke arah jendela depan.


Ternyata dua orang penagih itu justru tengah berbicara dengan tetangganya.


Betapa kesalnya Triya saat Hesti justru memberitahu para penagih untuk datang lagi sore hari nanti.


Tentu saja dia takut kalau sampai sang suami tahu kelakuannya.


"Kurang ajar! Ikut campur aja sih si Hesti!"


Dengan penuh amarah, Triya lantas keluar dari rumahnya, masih sambil melihat sekeliling. Sebab dia takut jika para penagih itu ternyata masih ada di sekitar rumahnya.


Setelah di rasa aman, Triya melanjutkan langkahnya mendekati rumah Hesti. Dia mengetuk pintu dengan tidak sabar.


Hesti yang sedang berusaha menidurkan anaknya, merasa kesal karena lagi-lagi ada yang mengganggu istirahat siangnya.


"Iya sebentar," teriak Hesti sambil menggendong anaknya yang menangis kencang.


"Aduh siapa sih, siang-siang gini gedor pintu kaya nagih utang aja. Enggak tau apa waktunya istirahat siang!" gerutu wanita yang seusia dengan Triya itu.


Setelah di buka, Hesti merasa kesal karena justru Triyalah yang mengetuk dengan keras pintu rumahnya.

__ADS_1


"Ada apa mbak Triya? Maaf ini anakku lagi rewel, mau tidur siang," ucap Hesti tanpa basa-basi.


"Heh mbak Hesti! Apa maksud kamu ngomong ke orang-orang tadi suruh datang lagi nanti sore? Kamu sengaja? Biar apa? Biar saya di marahin suami saya!" jawab Triya sambil berkacak pinggang dan menunjuk-nunjuk wajah Hesti.


"Astaga Mbak Triya! Kamu yang bikin kegaduhan di sini, tapi kamu yang marah-marah, enggak jelas banget sih!" balas Hesti sengit.


Anaknya bahkan menangis sampai histeris karena mendengar keduanya bertengkar dengan saling berteriak.


"Alah! Kamu itu harusnya jangan ikut campur urusan saya! Harusnya kamu enggak temui mereka! Ingat ya kalau ada apa-apa sama saya, kamu akan tau akibatnya!" ancam Triya lalu pergi dari sana, tak lupa dia juga menendang pot bunga milik Hesti karena kesal.


"Dasar perempuan aneh, dia yang utang, dia yang marah-marah. Kalau takut ya jangan utang!" gerutu Hesti lalu kembali menenangkan anaknya.


"Sial! Gimana ini, kalau sampai mereka ke sini terus ketemu mas Jendral, habis aku di marahi sama dia."


Triya sangat frustrasi menghadapi kesulitan hidupnya akhir-akhir ini. Memang dia yang salah karena tak membayarkan uang cicilan pinjamannya.


Namun semua karena sang suami tak memberikan nafkah yang besar pada orang tuanya, membuat dirinya selalu di rong-rong oleh kedua orang tuanya.


Jendral bukannya tak memberi bantuan uang bulanan pada mertuanya, hanya nominalnya saja yang dia kurangi, karena di harus membayar cicilan hutang istrinya.


"Ah iya mending aku ke rumah mamah aja. Terus minta mas Jendral pulang ke sana dulu, pasti nanti mereka enggak akan bisa menemui mas Jendral!"


Tiba-tiba sebuah ide muncul di benak Triya. Setidaknya sampai dia bisa mendapatkan uang untuk membayar tunggakannya, dia akan berusaha menutupi masalahnya pada sang suami.


.


.


Mereka tertawa tanpa beban, tidak seperti dirinya yang harus pusing memikirkan setoran pinjaman yang di pakai untuk biaya hidup mereka.


"Enak ya kalian bisa santai kaya gini!" ucap Triya seketika mampu menghentikan tawa mereka semua.


"Loh Tri, kamu mau ke sini enggak bilang-bilang! Kalau tau kan kita bisa minta di beliin gulai sama sate kambing di langganan kita," jawab Tati santai.


Benar-benar mereka tak ada yang peduli melihat raut wajah Triya yang terlihat kalut itu.


Tatapan mata Triya menyorot tajam pada sebuah kalung emas yang di pakai oleh adik iparnya, yang tak lain istri dari adik bungsunya Dendi.


Melihat tatapan nanar kakak iparnya padanya, membuat Puji salah tingkah. Dia yang memakai pakaian berkerah pendek tak ayal membuatnya bingung hendak menutupi kalung emasnya.


Bahkan Via juga memakai gelang emas yang sedari tadi coba mereka sembunyikan.


"BANGUN KALIAN!" bentak Triya yang sudah tak sanggup lagi menahan kekesalannya.


"Kalian enak-enakkan hidup bergelimangan tanpa memedulikan aku yang harus bersusah payah menghidupi kalian!" bentak Triya.

__ADS_1


"Apaan sih lu Tri!" keluh Via yang berusaha bersembunyi di belakang ibunya.


"Ada apa ini Tri, kenapa kamu marah-marah?" tanya Tati bingung.


Triya lantas menatap sang ibu dengan pandangan kecewa, dirinya yang selalu di jadikan sapi perah sedangkan kedua adiknya bisa hidup tenang dengan menjadi benalu.


"Aku ini pusing di tagih sama penagih hutang karena nunggak bayar cicilan. Tapi lihat anak ibu yang benalu itu!" tunjuk Triya pada adik dan iparnya.


"Apa maksud lu benalu Tri!" jawab Via tak terima.


"Apanya kalau bukan benalu? Hidup masih menumpang dengan orang tua, enak enggak harus mengeluarkan uang karena aku yang kasih buat mamah papah!" bentak Triya murka.


"Enak aja, kita juga ngeluarin duit buat biaya hidup kita Tri!" sela Via tak terima.


"Iyakah?" Triya tertawa meledek.


"Kamu pikir aku enggak tau berapa gaji suami lu itu? Apa lagi dia masih harus biayain dua adiknya! Pikir pake otak lu dari mana dia bisa beliin lu emas segede itu!" ketus Triya menohok.


Tentu saja hal itu membuat Via mati langkah, dia hanya bisa membuang mukanya kesal. Ucapan sang kakak benar-benar menghina dirinya.


"Kamu juga Puji! Bilang sama suami kamu, urusan mamah sama papah kan emang harus tanggung jawab suami kamu sebagai anak laki-laki. Jangan juga hidup jadi parasit kamu!" bentak Triya yang membuat Puji hanya bisa menunduk saja.


"Kamu ini apa-apaan Tri! Kalau pun adik kamu pakai emas, ya biarin aja. Kamu keberatan ngasih jatah mamah sama papah?" bentak Tati yang justru membela adik-adiknya.


Via tersenyum miring, jelas ibu mereka akan membela dirinya, selama ini yang membantu di rumah adalah dia dan adik iparnya, tentulah mereka lebih dekat dengan sang ibu ketimbang Triya.


"Mamah membela mereka? Ok mulai sekarang aku enggak akan pernah lagi membantu mamah!" pekiknya pada sang ibu.


Tamparan keras mendarat di pipi Triya. Sang ibu yang sudah melakukannya.


Tati terkejut dan hendak meraih tubuh putri sulungnya untuk meminta maaf.


"Ma-maafkan mamah Tri," ucap Tati gugup.


Via dan Puji juga terkejut bukan main, kali ini hal yang mereka takutkan pasti akan terjadi. Triya akan pasti akan menghentikan segala bantuan pada orang tua mereka.


Mereka tak bisa membiarkan itu terjadi, bagaimana pun mereka sadar berkat dari uang bulanan Triyalah, ekonomi keluarga mereka bisa terjamin seperti sekarang.


Mereka tak peduli kesulitan apa yang di alami kakak sulung mereka asal, kehidupan mereka sendiri tak kekurangan.


Triya mengentakkan tangan sang ibu lalu berlari keluar. Dia tak menyangka jika keluarganya bahkan tak memikirkan perasaannya.


.


.

__ADS_1


.


Tbc


__ADS_2