
Triya saling melempar pandangan dengan suaminya.
Evita menatap keduanya dengan perasaan kecewa. Dia yakin apa yang saat ini sedang dia pikirkan pasti itulah yang tengah di alami keluarga putranya.
"Untuk apa? Kalian sudah tidak memiliki tanggungan apa pun, kenapa harus berhutang?" cecar Evita dengan tutur katanya yang lembut tapi tegas.
Triya menunduk semakin dalam, dia takut di salahkan oleh sang suami. Yang dia butuh kan saat ini adalah sikap Evita yang seperti dulu, langsung sigap membantu tanpa banyak bertanya.
"Untuk kali ini kami enggak bisa membantu—" jelas Evita lemah.
Triya terkesiap tak percaya, apa yang tak pernah dia sangka akhirnya terjadi, di mana ucapan ibu mertuanya yang seperti inilah yang paling dia takutkan.
Evita semakin sedih saat melihat raut wajah keduanya. Dia memilih bersikap demikian. Segala kebaikan yang sering dia berikan nyatanya seperti buah simalakama.
Tadinya dia berharap, dengan bantuan finansial darinya keluarga putranya itu mampu menabung untuk masa depan mereka.
Nyatanya, kini dia harus menelan kekecewaan kala putranya justru memilih menghambur-hamburkan uangnya.
Oleh sebab itu Evita tiba-tiba memiliki ide untuk mendidik putranya agar mandiri.
Maafkan ibu, pak.
"Maksud ibu?" jawab Triya gugup.
"Kalau kalian memiliki hutang, bayarlah. Ibu dan bapak enggak bisa membantu kali ini," jawab Evita datar.
"Tapi Bu, hutangnya enggak banyak. Triya janji kali ini aja Bu, tolonglah," rengek Triya tanpa tahu malu.
Evita menggeleng tegas, kini dia bisa menebak jika sang menantulah yang pasti memiliki hutang.
"Bu, tolonglah, kalau perlu jual salah satu aset ibu—"
"TRIYA!" bentak Jendral murka.
"Kamu yang berhutang, jangan libatkan orang tuaku!" ujarnya jengkel.
"Tapi mas, uang dari mana kita untuk membayarnya!" keluh Triya kesal.
"Siapa suruh kamu berhutang hah! Pokoknya aku enggak mau tau, besok aku akan bawa mobilmu untuk di jual," putus Jendral tegas.
Evita memilih diam mendengarkan perdebatan keduanya. Sebenarnya ada sedikit rasa kasihan di hati saat melihat anak dan menantunya kesusahan seperti ini.
Namun sampai kapan keduanya selalu bergantung hidup padanya. Sebanyak apa pun harta peninggalannya akan habis, jika mereka selalu bersikap seperti ini.
__ADS_1
"Bu, masa hanya karena tunggakkan tiga puluh juta, harus jual mobilku," Triya masih kembali merengek, berharap sang mertua akan kembali luluh.
"Maaf Tri, ibu benar-benar enggak bisa bantu kalian. Uang dan aset sudah banyak di lepas buat berobat bapak," dusta Evita terpaksa.
Triya menyandarkan tubuhnya lemas, ibu mertua yang dia harapkan bisa membantu, nyatanya bahkan sudah kehilangan sebagian hartanya.
"Lalu kita harus gimana Mas?" tanya Triya pada suaminya.
"Ibu istirahat aja, besok aku antar ke rumah sakit," elak Jendral menjawab pertanyaan istrinya.
Evita bangkit di susul oleh Jendral yang juga lelah dengan sikap semaunya sang istri.
Dia menyalahkan diri sendiri yang tak pernah bisa tegas dengan Triya hingga sang istri bisa berlaku seenaknya. Bahkan bisa di bilang tidak menghormatinya sebagai suami.
"Mas jangan jual mobilku. Mobil mas aja, kan mobil mas mobil lama," rengek Triya.
"Justru karena mobil lama makanya lakunya murah. Aku harus jual mobil kamu Tri. Karena aku ingin melunasi semuanya," jelas Jendral.
Triya terduduk lemas. Dia tak lagi bisa membujuk suaminya. Padahal segala upaya yang biasanya dapat meluluhkan hati sang suami sudah dia lakukan, tapi semuanya nihil.
Di tempat berbeda, Fitria sendiri masih memikirkan ucapan Sri padanya.
Dia masih tak mengerti kenapa ibunda Afnan itu terlihat tahu akan kelakuan calon menantunya.
Apa ada sesuatu yang di inginkan ibu Sri ya? Yang aku tau ibu Sri emang ambisius.
"Kamu kenapa?" tanya pemuda yang memiliki jambang tipis itu.
"Enggak papa pak. Ada yang perlu saya bantu pak?" tawar Fitria.
"Ini tolong kamu serahkan sama pak Afnan ya," pinta Yudis sambil menyerahkan map pada sekretarisnya.
Fitria yang di beri tugas untuk mendatangi Afnan tentu merasa senang.
Tanpa banyak bertanya lagi, wanita berhijab biru itu segera melangkahkan kaki menuju lantai ruangan calon atasannya kelak.
Fitria mengetuk dengan semangat. Setelah di persilakan masuk oleh Afnan, dia bergegas membuka pintu dan mendekati meja kerja atasannya.
Hatinya mencelos saat melihat ada foto kebersamaan Afnan dan Salimah serta anak mereka.
"Ada apa Fit?" tanya Afnan memecah kebekuan Fitria.
"Ini pak, ada berkas dari pak Yudis, katanya suruh bapak periksa," jawab Fitria lesu.
__ADS_1
Pandangan mata Fitria masih tertuju pada potret kebersamaan keluarga atasannya itu.
Afnan yang sadar dengan tatapan Fitria lantas meletakan berkas yang sejak tadi dia pegang.
"Aku masih sangat mencintai Salimah," ucap Afnan tiba-tiba menjelaskan apa yang dia tebak dari tatapan Fitria.
Hati Fitria seperti bom yang meledak karena syok mendengar pengakuan tiba-tiba atasannya.
"Apa aku salah jika mencintai istri orang?" monolognya.
Fitria tahu mungkin pertanyaan itu untuk diri Afnan sendiri. Namun bagi Fitria, seperti menegaskan bahwa tak ada yang bisa menggeser posisi Salimah di hati atasannya.
Meski tahu sang atasan masih mencintai kakak angkatnya, tapi sebisa mungkin dia selalu mengelak dan percaya bahwa suatu saat sang atasan akan menyadari perasaannya.
"Apa yang buat bapak enggak bisa melupakan mbak Salimah?" tanya Fitria akhirnya.
Afnan menarik napas panjang, dia tak bisa mendeskripsikan perasaannya. Cinta, hanya itu yang ada di pikirannya tanpa perlu mencari tahu apa alasannya.
"Kamu tau? Aku udah nyuruh orang untuk menyelidiki Salimah. Salah satu berita yang di bawa oleh orang suruhanku bilang, kalau memang Salimah udah menikah dan di jadikan istri kedua. Aku enggak tau kenapa bisa dia berpikir sedangkal itu," jawab Afnan lemah.
Afnan sampai sekarang tidak tahu kalau Salimah sudah bercerai. Menikah di bawah tangan tentu membuat mata-mata yang di sewanya merasa buntu.
Terlebih lagi, Salimah dan Jendral menutup rapat pernikahan serta perceraian mereka.
"Kalau bapak tau mbak Salimah istri orang, kenapa bapak seperti terus mengejarnya? Biarpun istri kedua, mungkin mbak Salimah bahagia pak."
Fitria juga tak mau jujur pada Afnan jika kakak angkatnya itu telah menyandang status janda lagi. Dia yang sakit hati memilih menghancurkan harapan Afnan.
Dia sungguh tak siap membiarkan Afnan kembali pada Salimah.
Afnan menyandarkan tubuhnya. Dia tak menampik apa yang di ucapkan Fitria ada benarnya. Namun dia tak bisa semudah itu melupakan cintanya pada Salimah.
"Cobalah untuk membuka hati bapak," ucap Fitria lirih.
Afnan menghela napas berat. "Aku amat mencintai Salimah Fit. Enggak semudah itu melupakan dia—"
"Aku juga menyukai bapak," potong Fitria berani.
Mungkin harga dirinya saat ini sangat turun di mata Afnan, tapi dia tak peduli. Dia memilih melakukan saran Salimah untuk menyatakan perasaannya pada sang atasan.
.
.
__ADS_1
.
Tbc