
Salimah tengah berbincang dengan Alawiyah di sebuah kafe usai pulang bekerja.
"Kamu beberapa waktu ini kelihatan murung terus Sal. Ada apa? Masih ke pikiran sama Fitria yang suka sama Afnan?" tebak Alawiyah.
"Sal sory, bukan aku mau membela Fitria. Posisinya emang enggak salah, cuma memang aneh aja. Tapi gimana ya ... Enggak mungkin kita melarang perasaan seseorang bukan?" sambungnya lagi.
Salimah menghela napas, dia sangat tahu akan hal itu, tapi tetap saja batinnya merasa sakit saat melihat pancaran kesungguhan dari Fitria saat ingin memiliki Afnan.
"Aku tau Al, bukan itu masalahnya. Tapi sikap Fitria yang membuat aku enggak nyaman," jelasnya.
"Memang apa yang dia lakuin?" cecar Alawiyah penasaran.
"Dia kaya bukan suka sama mas Afnan tapi lebih ke obsesi. Aku takut kalau semua hanya akan menghancurkan dirinya sendiri," jawab Salimah lemah.
Alawiyah mengernyit heran, dia hanya menebak jika saat ini sahabatnya tengah cemburu mengenai perasaan Fitria pada mantan suaminya.
Pengacara cantik itu hanya diam tak mau berkomentar banyak, sikapnya tegas, Salimah jelas tak memiliki hak untuk melarang perasaan Fitria.
"Al, kok kamu diam aja sih!" gerutu Alawiyah.
"Bosan," jawab Alawiyah jujur.
"Bosan kenapa?" tanya Salimah heran.
Alawiyah menarik napas panjang dan menghembuskannya secara kasar.
"Enggak usah bahas masalah Afnan lagi Sal. Aku sangat tau kamu masih mencintai mantan suamimu itu. Ayolah, enggak lucu kalau kamu cemburu sama Fitria tentang haknya dia," jelas Alawiyah.
Salimah tersentak, dia tak menyangka jika sang sahabat menilainya seperti itu.
Dia kembali mengingat percakapannya selama ini dengan Alawiyah mengenai mantan suami dan adik angkatnya, lalu mendesah pasrah.
Memang jika di gambarkan akan terlihat sekali jika dia tak suka dengan apa yang terjadi dengan Fitria dan Afnan.
Meski tak menampik dirinya memang agak cemburu, tapi bukan itu poinnya. Dia merasa Fitria terlalu terobsesi pada Afnan.
Bahkan gadis itu terang-terangan tak peduli dengan status Afnan yang sudah memiliki tunangan. Sungguh mengerikan bagi Salimah saat tahu lebih banyak sifat Fitria yang terlihat kalem itu.
Alawiyah lantas menatap sang sahabat, dia tahu mungkin ucapannya sedikit keterlaluan, tapi dia ingin menyadarkan Salimah jika hal itu bukanlah urusannya.
"Maafin aku Sal. Bukan maksud aku enggak mau mendengar keluh kesah kamu. Tapi kamu tau kan mau bagaimana pun kita bahas, kita cuma bisa bergosip di belakang mereka. Memangnya apa yang akan kita lakukan sama Fitria? Menegur dia? Enggak mungkinkan? Nanti justru kita di perolok dia," jelas Alawiyah.
"Aku tau Al, aku minta maaf," putus Salimah.
Dia merasa sendiri sekarang, sepertinya Alawiyah tak mengerti maksudnya. Dia hanya tak ingin adik angkatnya terjerumus masuk ke dalam keluarga mantan suaminya.
.
.
__ADS_1
Saat Salimah pulang, terlihat pemandangan yang begitu menyayat hati di teras rumahnya.
Ada mantan suaminya dan juga Fitria yang tengah bermain bersama putranya, Rino.
Alawiyah yang tahu bagaimana perasaan Salimah, lantas mengusap lengan sang sahabat dan memberikan saran.
"Bersikaplah biasa Sal, maaf aku enggak bisa menemani kamu."
Salimah tersenyum kaku lalu dia mengangguk, dia berusaha bersikap biasa saja dan melambaikan tangan saat mobil Alawiyah meninggalkannya.
"Mbak?" sapa Fitria yang lebih dulu mendekatinya.
Salimah mengernyit heran karena Fitria terlihat gugup.
"Ada apa?"
"Mbak masuk aja ya jangan temani Rino. Biar Rino sama aku, aku mau menghabiskan waktu dengan pak Afnan agar dia tau bagaimana perasaan aku," jelasnya tak tahu malu.
Salimah menggeleng tak percaya dengan permintaan Fitria. Sampai segitunya gadis itu mencari perhatian mantan suaminya. Padahal dia juga tak berniat mendekati sang mantan suami lagi. Dia terlalu lelah menghadapi banyak gadis yang menggila di sekitar laki-laki itu.
Saat Salimah hendak meninggalkan Fitria karena malas berdebat dengannya, Fitria justru mencekal tangan sang kakak angkat.
Dia tak terima karena Salimah belum menjawab pertanyaannya.
"Tolonglah mbak," bujuknya.
"Aku lelah Fit, terserah kamu aja," jawab Salimah datar.
Namun dia tak bisa berbuat apa-apa sebab saat ini Afnan pasti sedang memperhatikannya. Andai tak ada Afnan, Fitria pasti berhasil menekan Salimah seperti biasa.
Salimah sampai di teras lalu menyapa sang mantan suami serta putranya.
"Mas," sapa Salimah begitu mereka saling berhadapan.
Jantung keduanya berdebar keras, menandakan jika cinta itu masih besar keduanya rasakan hingga kini. Bahkan Afnan tak sekali pun memalingkan pandangannya dari wajah Salimah.
"Emm ... Mbak katanya lelah?" sela Fitria yang berharap keduanya tak saling berkomunikasi.
Salimah menghela napas pasrah, terserah apa yang hendak di lakukan oleh Fitria. Meski kesal karena di interupsi seperti itu, tapi mau tak mau Salimah tetap menyingkir.
"Maaf kalau mengganggu ya Sal, aku kangen banget sama Rino. Udah beberapa hari enggak jenguk dia," ucap Afnan seketika menghentikan langkah Salimah.
"Bunda lihat, ayah belikan Rino mobil-mobilan yang Rino mau. Oh iya Bun, kata ayah, ayah mau ngajak kita ke pantai nanti, bunda mau kan?" Cicit Rino takut-takut.
Balita itu sangat berharap kedua orang tuanya bersama lagi, karena dia belum mengerti mengapa sang ibu dan ayahnya tak pernah tinggal bersama.
"Eh Rino. Rino tau enggak, tante mau juga loh anter Rino. Kalau sama mamah kan kasihan mamah, nanti mamahnya cape gimana?" sela Fitria tak mau kalah.
Salimah benar-benar jengah dengan sikap Fitria yang terlihat sekali berusaha menjauhkan dirinya dan Afnan.
__ADS_1
Jika tadi dia berpikir hendak mengalah pada Fitria, tapi kali ini dia ingin menyentil sikap Fitria yang dia rasa sudah melampaui batas.
"Benarkah mas? Kapan?" Jawab Salimah.
Mata Fitriana membulat sempurna, dia tak menyangka jika sang kakak angkat seperti menabuh genderang perang dengannya.
Setelah menyetujui ajakan mantan suaminya. Salimah bergegas melanjutkan kembali langkahnya.
"Saya masuk dulu ya mas, mau bebersih dulu, gerah," ucapnya undur diri.
Afnan hanya mengangguk dan kembali bermain pada sang putra.
Fitria yang masih terpaku di tempat, tersentak kala melihat sang kakak angkat telah meninggalkannya lagi.
"Maaf Pak, saya masuk dulu ya," pamit Fitria buru-buru sebab dia harus mengejak sang kakak angkat.
"Tunggu mbak!" panggil Fitria saat Salimah hendak membuka pintu kamarnya.
Salimah menghela napas jengah, dia tahu tujuan Fitria menghentikannya.
"Ada apa?" tanyanya datar.
"Apa maksud mbak setuju dengan ajakan Pak Afnan? Kan aku udah bilang mbak, beri aku kesempatan untuk bisa menaklukkan pak Afnan mbak! Kalau mbak Salimah selalu jadi penghalang kaya gini—"
"Apa maksudmu penghalang?" sela Salimah tajam.
Fitria benar-benar menguji kesabaran wanita hamil itu.
Fitria kaget mendengar nada suara Salimah yang terdengar sedikit membentaknya. Namun dia berusaha menenangkan diri dan kembali menjawab ucapan Salimah.
"Kenapa mbak setuju dengan ajakan Pak Afnan harusnya mbak menolak—"
"Lalu menyakiti hati anakku? Dengar ya Fit. Aku memang tak punya hak melarangmu mendekati mas Afnan tapi enggak kaya gini caranya. Aku dan mas Afnan akan terus terhubung karena ada Rino di antara kami. Naiklah tanpa harus menjatuhkan!" cibir Salimah yang sudah mulai jengah.
"Kenapa? Kamu takut mas Afnan ternyata masih mencintaiku kan? Sekarang aku tanya, kamu bisa apa seandainya dia ingin kembali padaku?" tantang Salimah.
Fitria diam mematung, dia mengepalkan tangannya menahan kesal. Sebenarnya itu salah dia sendiri yang terlalu menyetir Salimah.
Hal yang dia takutkan adalah bersaing dengan Salimah, makanya setengah mati dia mencoba menghalangi keduanya berdekatan.
Namun apa ini? Sekarang Salimah bahkan terang-terangan menantangnya.
"Munafik!" desisnya.
.
.
.
__ADS_1
Tbc