
"Tunggu Bu Evi, jelaskan dulu maksud Anda?" sergah Iwan.
Evita menghembuskan napas jengah, dia lalu menatap sang menantu, "coba jelaskan pada orang tuamu Tri. Ibu takut salah bicara, toh kenyataannya kalian yang membuat masalah," pinta Evita.
Iwan lantas menatap sang putri menuntut penjelasan. Tati yang juga belum menerima penjelasan dari sang putri sebenarnya juga merasa penasaran.
Triya menunduk, merutuki sang mertua yang kembali membuka tabir rahasianya. Padahal tadi dia sudah hampir bisa bernapas lega saat sang ibu lupa menanyakan masalahnya.
"Ada apa Tri? Ayo jelaskan, apa kamu beneran punya madu?" cecar Iwan.
"Iya Pah, kata besan kita tadi begitu, tapi mamah enggak tau awal ceritanya," sela Tati.
"Makanya kamu diem aja, aku kan nanyanya ke Triya!" sentak Iwan.
"I-iya mah, pah. Mamah papah tau kan kalau Triya punya kendala susah hamil? Jadi kami memutuskan menggunakan rahim pinjaman agar Mas Jendral bisa memiliki keturunan sendiri," jelas Triya.
"Astaga Triya! Keputusan besar gitu kenapa kamu enggak bicarakan dulu sama kami! Lalu kamu menikahkan suami kamu dengan wanita itu?" tanya Tati penasaran.
Triya mengangguk, "tapi mereka enggak berhubungan layaknya suami istri, bahkan Salimah hamil juga melalui inseminasi buatan."
"Lalu sekarang kamu akan menceraikan istri kedua kamu kan Jen?" tanya Tati sang menantu dan hanya di balas anggukan oleh Jendral.
Ibu kandung Triya bisa bernapas lega, tadinya dia pikir sang menantu yang terlihat sangat mencintai putrinya berani berselingkuh.
Namun saat mendengarkan penjelasan sang putri ternyata mereka hanya membutuhkan rahim pengganti saja.
"Kalian ini keterlaluan, masalah sebesar ini kalian sembunyikan dari kami. Lalu masalah anak itu nanti bagaimana? Kan anak itu tetap anak kamu Jen?" tanya Iwan.
"Kami lepas tanggung jawablah pah, kan aku sekarang udah hamil, lagi pula kehamilan Salimah bermasalah, mungkin anaknya cacat," ucap Triya tanpa perasaan.
"Bagus sayang, kamu memang pintar," puji Tati yang justru bangga terhadap pemikiran picik putrinya.
Iwan hanya mendengarkan saja, tapi tak menampik perasaannya ikut melega. Sama seperti sang istri dia tak mungkin membiarkan Triya meninggalkan Jendral, karena hanya lelaki itulah yang selalu memberikan jatah bulanan padanya.
Evita hanya bisa menggeleng melihat kelakuan besannya. Dia tak menyangka justru sang besan merasa bangga karena putrinya telah berlaku zalim ada orang lain.
"Kamu udah siap Jen? Panggil juga penghulu dan saksi yang waktu itu menikahkan kalian," pinta Evita yang ingin agar masalah mereka segera selesai.
"Emang harus begitu ya Bu!" sela Triya yang malas jika harus kembali bertemu dengan Salimah, terlebih lagi pasti ada Alawiyah yang selalu berkata ketus padanya.
"Harus! Kamu mau kalau Salimah tetap menjadi madumu?" jawab Evita datar.
"Eh, ya enggak Bu, maksud aku apa enggak bisa gitu bilang talak lalu di sampaikan sama ibu aja?"
"Memang harus begitu, makanya ayo kamu siap-siap, biar enggak penasaran," ajak Evita malas.
"Udah sana Tri, mamah sama papah juga akan ikut kalian," ucap Tati.
__ADS_1
Dengan malas Triya kembali ke kamarnya, dia sebenarnya sangat malas, inginnya dia tiduran saja dan bersantai.
Namun melepaskan sang suami dengan mertuanya, dia juga merasa segan, takut kalau mereka mencuranginya dan tetap mempertahankan Salimah sebagai madunya.
"Enggak, enggak boleh, aku kan tau pikiran picik Ibu!" monolognya.
"Lama bener sih Tri!" keluh Iwan yang sudah lelah menunggu sang putri berias.
Lelaki yang memiliki kesabaran sangat tipis itu sebenarnya merasa kesal pada sang istri yang tanpa bertanya padanya memutuskan sendiri hendak mengikuti acara anak dan menantu mereka.
Kalau pun hanya akan bercerai, dia merasa bukan hal terlalu penting dan harus menghadirkan dirinya.
Dia lebih suka istirahat dengan nyaman di kamar sambil bermain judi online di ponselnya.
"Maaf pah, namanya perempuan hamil, kalau aku ngerasa pusing ya duduk dulu sebentar," dusta Triya.
"Bunda sakit?" tanya Jendral cemas.
Triya lantas menggeleng dan tersenyum membalas perhatian sang suami.
"Jen, mana orang-orang yang ibu suruh datang?" tanya Evita.
"Sebentar Bu, Pak Rt sama Pak Rw lagi jemput pak Ustadz," jawab Jendral sambil menatap ponselnya.
"Nah itu mereka," tunjuk Jendral pada mobil milik ketua Rtnya.
"Aduh jeng, gimana ini ya, mobil Jendral kan cuma muat buat empat orang, jeng mau naik apa? Mau desak-desakan sama kami, apa sama bapak-bapak itu?" tanya Tati mengejek sambil menunjuk mobil Pak Rt menggunakan dagunya.
"Saya udah pesan kendaraan sendiri, tuh udah datang mobil pesanan saya," jawab Evita lantas berlalu meninggalkan mereka semua.
.
.
Dalam perjalanan, Triya merasa heran karena jalan yang mereka lalui bukanlah menuju ke kontrakan Salimah.
Perjalanan mereka menuju ke sebuah perumahan elite yang berada di kota mereka.
"Ini ibu bener kasih lokasinya Yah!" seru Triya kesal.
"Benerlah, ini kan mau ke rumahnya Alawiyah. Salimah meminta pertemuan di adakan di sana," jawab Jendral datar.
Triya mendengus kesal mendengar nama Alawiyah di sebut.
Tak lama mereka sampai di sebuah rumah besar dengan dua pilar tinggi menjulang, membuat kesan mewah semakin terasa.
"Ini rumah madu kamu Tri?" tanya Tati sambil memandang takjub rumah Alawiyah.
__ADS_1
"Cih, bukanlah Mah, mana mau orang kaya jadi istri siri! Ini rumahnya Alawiyah, temannya Salimah," jelas Triya kecut.
"Eh iya juga ya, kalau aja madu kamu kaya mah, mamah setuju aja Jendral mempertahankan rumah tangganya. Biarin dia kerja kamu jadi ratunya," jawab Tati.
Jendral hanya bisa mendesah mendengar ucapan mertuanya yang tak jauh-jauh dari uang.
Alawiyah sebagai tuan rumah sudah menyambut tamunya.
Dia menyalami Evita bahkan memeluk wanita paruh baya itu, sedangkan pada rombongan Jendral, wajahnya berubah datar dan menyapa sekenanya saja.
"Silakan duduk, saya panggilkan dulu Salimah," ucap Alawiyah sambil pamit undur diri.
"Cih yang tamu malah kaya tuan rumah, enggak punya otak memang madu kamu itu Tri!" sinis Tati.
Tak lama Salimah datang bersama dengan Alawiyah sambil membawa suguhan bagi tamunya.
"Terima kasih bapak-bapak sudah mau hadir memenuhi undangan kami. Sebelum melanjutkan ke pembahasan masalah utama, sebaiknya bapak dan ibu mencicipi hidangan ini dulu," tawar Alawiyah.
Tati memandang sinis pada madu putrinya. Dia mengakui jika Salima memang cantik, tapi dia tetap merasa benci pada wanita itu.
Setelah mereka mencicipi hidangan dan berbincang ringan. Alawiyah kembali pada pembahasan awal di adakannya pertemuan ini.
"Jadi sahabat saya ini memutuskan untuk berpisah dari suami sirinya. Bapak-bapak sekalian yang menjadi wali dan saksi nikah bukan?" tanya Alawiyah.
Rombongan wali nikah dan saksi mengangguk serempak, sedangkan Salimah sejak tadi hanya diam mendengarkan, dia berbicara hanya pada Evita, karena sepertinya Triya dan orang tuanya tak suka padanya.
"Mamah rasa-rasanya kaya enggak asing sama Salimah ini Tri?" bisik Tati.
"Dia temanku semasa Kuliah mah, mamah lupa karena emang cuma dua kali main ke rumah kita," jawab Triya santai.
Tati hanya mengangguk saja. Toh dia juga lupa dengan Salimah. Dia juga malas berbasa basi dengannya makanya sejak tadi dia memilih berbincang dengan putrinya saja.
Setelah kata talak Jendral ucapkan di depan para wali dan saksi nikahnya. Salimah mengucap syukur dan tersenyum bahagia.
Dia memang tak memiliki perasaan apa pun pada suaminya, jadi tak ada perasaan sedih atau kehilangan setelah di ceraikan oleh Jendral.
Berbanding terbalik dengan Evita yang justru merasa sedih dengan perpisahan itu. Dalam hati dia memang masih berharap keduanya masih bisa bersama, meski itu semua terkesan mustahil.
"Jaga diri baik-baik ya, nanti ibu sama bapak ke sini jenguk kamu," ucap Evita di sela perpisahan mereka.
"Apa-apaan sih jeng! Hubungan mereka udah putus, ngapain Jeng Evi sok baik sama dia? Pikirkan perasaan anak saya dong jeng!" maki Tati kesal.
.
.
.
__ADS_1
Tbc