
Triya kembali uring-uringan. Kedatangan mertua yang dia pikir akan membantunya, nyatanya hanya angan belaka.
Evita sama sekali tak mau membantunya. Kini dia harus bersiap kehilangan mobil kesayangannya itu karena hutang-hutangnya.
"Ini enggak bisa di biarin. Aku harus menemui Salimah, meminta uang yang ibu kirimkan untuknya!"
******
Di dalam kamar, Evita tengah berbincang dengan suaminya.
"Pak, maafkan ibu. Seharusnya kita menginap saja di rumah Salimah," ucap Evita lirih.
Darmono mengernyit heran. Dia memegang tangan sang istri yang saling bertautan di pangkuan.
"Ada apa Bu?"
Evita bingung bagaimana harus menjelaskan keadaan rumah tangga putra mereka pada sang suami.
Dirinya yakin sang suami pasti akan memintanya untuk membantu kesulitan Jendral.
Namun tentu dia tak bisa mengabulkannya. Evita sendiri harus memikirkan kondisi suaminya yang pasti masih membutuhkan pengobatan ke depannya.
Dia juga tak berniat menutupi keadaan putra mereka dari sang suami. Sebab lambat laun sang suami juga pasti akan tahu dan Evita takut justru nanti sang suami akan terkejut dan membuat kesehatannya kembali menurun.
"Jendral tengah terlilit hutang pak. Tapi bapak tenang aja, dia sudah bisa mengatasi masalahnya. Cuma ibu menyayangkan aja, kenapa mereka harus berhutang segala," keluhnya.
"Apa dia mencicilnya? Kalau iya, bayarkan saja Bu, kasihan," jawab Darmono pelan.
Benar saja, meski sudah menjelaskan jika sang putra mampu menyelesaikan masalahnya sendiri, Darmono tetap memintanya untuk membantu putra mereka.
"Iya, bapak jangan khawatir. Jendral akan menjual salah satu mobilnya. Biarkan mereka berusaha menyelesaikan masalah mereka sendiri pak. Bapak lupa? Kita sendiri memiliki banyak pengeluaran?"
Evita merasa bersalah telah mengatakan hal itu di hadapan suaminya. Darmono jelas merasa bersalah, sebab karena kondisinya yang seperti itu pengeluaran mereka semakin bertambah besar.
"Maafkan bapak Bu."
Evita menggeleng, tentu bukan itu maksudnya, dia tau sang suami pasti salah paham.
"Bukan karena bapak. Toh kalau untuk berobat bapak tentu ibu enggak menyesal. Ibu ingin bapak sembuh. Makanya, ibu rela berobat jauh-jauh ke sana kemari bukan? Tolong pak, bapak harus kembali sehat. Jangan terus memikirkan Jendral. Dia harus sudah bisa menyelesaikan masalahnya sendiri. Kita sudah tua, entah sampai kita hidup. Kalau kita tiada, lantas dengan siapa Jendral akan bergantung?" jelasnya.
Darmono mengangguk dan tersenyum tipis, dia tahu apa yang di ucapkan sang istri ada benarnya. Namun tetap saja dalam hati ia tak tega membiarkan putranya hidup dalam kesusahan, padahal ia dan sang istri masih sangat mampu membantu mereka.
"Kita juga akan segera mempunyai cucu pak. Bapak lihat sendiri. Ucapan Jendral yang bilang akan tetap bertanggung jawab pada anaknya juga tak pernah terealisasikan."
Evita menghela napas. Dia tak mengerti secarut marut apa kehidupan anaknya. Meski dia sendiri sudah memberikan nafkah untuk Salimah. Harusnya Jendrallah yang melakukan hal itu sebagai bentuk tanggung jawabnya.
Dari sana juga Evita yakin jika memberikan segalanya pada jendral hanya akan membuatnya berlaku tak adil pada cucunya.
Masa depan cucunya masih panjang. Evita tak mau segala jerih payahnya dengan sang suami justru habis tak jelas oleh putra mereka dan keluarganya.
__ADS_1
"Bapak merindukan Salimah dan Fitria. Bisakah kita ke sana?" pinta Darmono.
Evita tersenyum lebar. Dia memang lebih memilih tinggal di kediaman Salimah dari pada putranya.
Dirinya hanya takut membuat sang putra kembali bertengkar dengan istrinya dan menganggap mereka tak menghargai Triya.
"Ya udah sore kita ke sana ya. Nanti ibu minta Jendral antar kita," jawab Evita semangat.
.
.
Sore hari, sepulang kerja, wajah Fitria berubah sendu. Dia teringat akan ucapan Afnan yang menjawab pernyataan cintanya.
"Aku enggak bisa membalas perasaanmu Fit. Maaf kalau selama ini perhatianku kamu anggap berbeda. Sungguh aku tak pernah punya pikiran untuk mencintai wanita lain selain Salimah."
"Apa lagi dirimu adalah adik Salimah," jelas Afnan.
"Saya hanya adik angkat pak!" ralat Fitria tak terima.
Afnan tak memedulikan raut kekecewaan Fitria. Dia tak mau menyakiti hati Fitria lebih dalam lagi. Segala perhatian yang dia berikan nyatanya membuat gadis itu salah paham padanya.
"Kenapa bapak kejam seperti ini. Saya yakin bapak lebih tau bagaimana rasanya mencintai seseorang," jawab Fitria.
Gadis itu sudah menjatuhkan harga dirinya lebih dalam. Namun dia tak peduli, saat ini yang muncul selain perasaan kecewa juga ada perasaan sakit hati dan tak terima.
Ucapan Afnan benar-benar melukai hatinya. Patah hati untuk pertama kali bukannya membuat dia malu, justru mematik perasaan dendam dan menuntut pelampiasan.
“Enak banget dia bilang suruh cari yang lain. Kalau bisa tanpa dia suruh juga aku pasti berusaha. Enggak segampang itu. Lagian apa sih yang di lihat pak Afnan dari mbak Salimah?" gerutunya.
"Assalamualaikum Fit?" panggil seseorang dari arah belakangnya.
Mata Fitria membulat sempurna. Dia tak menyangka kalau orang tua angkatnya akan datang hari itu.
"Ibu, bapak!" seru Fitria bergegas mendekati keduanya.
Evita lantas memeluk anak angkatnya. Perubahan Fitria membuat mata Evita berkaca-kaca. Wanita paruh baya itu tak menyangka jika kehidupan kota bisa merubah penampilan Fitria yang dulu sederhana selayaknya gadis desa menjadi wanita yang berpenampilan modis.
Fitria sendiri memiliki pemikiran lain saat di kunjungi oleh orang tua angkatnya. Entah bisikan dari mana tiba-tiba dia merasa harus mempengaruhi Evita agar bisa menyingkirkan Salimah dari kehidupan Afnan.
"Kamu sehat nak? Ibu sampai pangling. Kamu cantik sekali," puji Evita tulus. Fitria yang memang memiliki kulit bersih mulus, semakin terlihat cerah dan glowing karena perawatan yang di lakukannya.
"Ibu bisa aja. Mbak Triya mana?" tanya Fitria yang tak melihat menantu ibu angkatnya.
Jendral sendiri tengah sibuk mengeluarkan barang-barang milik orang tuanya.
"Kamu sehat Fit? Maaf mas enggak pernah jenguk kamu. Mas bener-bener enggak tau kalian tinggal di sini," sapa Jendral.
Fitria hanya tersenyum dan menjawab sekenanya. Dia tak menyangka lelaki yang sempat di jodohkan dengannya berubah sangat drastis.
__ADS_1
Jendral terlihat lebih kurus dengan wajah tak sesegar dulu.
Fitria memilih membantu Jendral terlebih dahulu, sebelum masuk ke dalam rumah.
"Salimah belum pulang Fit?" tanya Evita begitu Fitria membukakan pintu rumah mereka.
"Sebentar lagi Bu. Ibu istirahat aja dulu, nanti Fitria buatkan minuman," pinta Fitria.
Evita mengangguk lantas mendorong kursi roda milik suaminya menuju kamar tamu. Beruntung kamar tamu di kediaman Salimah selalu di bersihkan olehnya.
Setelah membantu sang suami istirahat, Evita bergegas keluar untuk menemui anak angkatnya.
Langkahnya terhenti kala melihat sang anak angkat terlihat tengah terisak.
"Kamu kenapa Fit?" tanya Evita lembut.
Fitria bergegas menghapus air matanya. “Enggak papa Bu,” elaknya.
“Apa enggak papa mas Jendral tau tempat tinggal mbak Salimah Bu? Ibu enggak khawatir kalau mbak Triya akan menyakiti mbak Salimah lagi?”
Evita menarik napas panjang. “Ibu udah minta sama Jendral untuk merahasiakan tempat ini sih,” jawabnya lemah.
“Ibu kenapa?”
“Ibu khawatir dengan rumah tangga Jendral. Sepertinya mereka selalu di timpa masalah,” jelas Evita.
Dalam hati Fitria bersorak gembira. Andai saja Evita bisa mempengaruhi Jendral untuk menceraikan Triya.
Dia yakin Evita pasti akan meminta Salimah kembali pada putranya. Jika sudah begitu, kesempatan untuk Afnan kembali pada Salimah akan semakin kecil.
“Kamu kenapa melamun Fit?” tegur Evita.
“Enggak Bu, apa ibu enggak ke pikiran? Kasihan kalau calon cucu ibu itu enggak di besarkan dengan kondisi kedua orang tuanya yang enggak utuh?”
“Maksud kamu?” tanya Evita tak paham arah pembicaraan anak angkatnya.
“Aku lihat sendiri bagaimana Rino besar tanpa kasih sayang orang tuanya Bu. Mbak Salimah sibuk bekerja karena memang di tuntut seperti itu. Lalu dia juga enggak merasakan kasih sayang seorang ayah. Apa ibu enggak ke pikiran nasib cucu ibu juga?”
Evita tampak terdiam memikirkan ucapan Fitria. Jelas dia memikirkan hal itu. Namun sering dia tepis, tapi melihat penjelasan sang anak angkat yang sudah lebih dulu hidup dengan mantan menantunya. Dia yakin apa yang di ucapkan Fitria pasti ada sebabnya.
“Lalu ibu harus apa?”
.
.
.
Tbc
__ADS_1