Anakku Hanya Milikku

Anakku Hanya Milikku
Bab 65


__ADS_3

Dengan tekad yang bulat, Triya memdatangi kediaman Salimah. Di sana dia terkejut bukan main saat mendapati mertuanya ternyata ada di sana.


"Apalagi ini Tuhan ... Ternyata ibu dan bapak udah tau keberadaan Salimah? Jadi selama ini mereka membohongiku?"


"Jendral juga telah menipuku berarti! Kurang ajar, mereka sekongkol berkhianat di belakangku!"


"Sejak kapan ibu dan bapak tau kediaman Salimah? Kenapa mata-mata yang aku sewa enggak bilang apa-apa ya?" pikir Triya bingung.


Sejatinya wanita itu memang telah di bodohi oleh Dirga. Mantan pengacaranya, menyewa orang yang hanya memotret Salimah dan rumahnya saja. Tanpa bersusah payah mencari tahu tentang kehidupan Salimah.


Tentu saja Dirga tak mau rugi. Dia memanfaatkan kepolosan Triya demi keuntungannya sendiri.


"Kurang ajar! Mata-mata yang di rekomendasikan pak Dirga nyatanya abal-abal!" sungutnya.


Setelah berhasil memaki dan meluapkan amarahnya di dalam mobil, Triya bergegas merapikan diri.


Dia mencoba tenang dan berpikir akan menjatuhkan mental mantan sahabat sekaligus madunya itu dengan cara elegan.


Pintu gerbang yang memang masih terbuka membuat Triya masuk tanpa perlu bersusah payah memanggil penghuninya.


Di teras ada Evita dan Darmono yang tengah berbincang sambil menikmati teh mereka.


Darmono bahkan sudah bisa bernapas tanpa bantuan oksigen lagi.


Pagi hari di waktu libur seperti itu kediaman Salimah sudah sepi sebab Salimah dan putranya tengah berbelanja untuk keperluan piknik mereka esok.


Evita terkejut bukan main saat melihat tamu yang datang ke rumah mantan menantunya.


Triya berjalan dengan angkuh lalu tersenyum sinis pada mertuanya.


"Jadi ini yang ibu bilang hotel?" sindir Triya sambil melipat kedua tangannya di dada.


"Triya? Bagaimana kamu bisa tau kami ada si sini?" jawab Evita gugup.


Sebuah bencana akan terjadi jika menantunya itu tau akan kebenaran tentang rumah ini.


Dia yakin sang menantu akan menuntut dan mengganggu kehidupan Salimah dan cucunya.


Triya memang tahu, dulu sang mertua pernah bilang akan membiayai kehidupan Salimah, tapi ia tak pernah tahu kalau mertuanya akan membelikan rumah untuk Salimah.


Jangan-jangan rumah ini ibu yang beli? Secara enggak mungkin Salimah bisa beli rumah di sini, dia baru beberapa bulan bekerja, rasanya mustahil.


Eh, tapi tunggu, bisa juga kan temannya yang kaya raya itu membelikannya rumah ini?


Enggak ... Enggak, paling Salimah cuka kontrak aja, iya bener!


Triya di penuhi dengan pikirannya sendiri hingga dia lupa dengan tujuannya sesaat.


"Kenapa Bu? Apa ini yang ibu sembunyiin dari aku? Ibu membelikan rumah ini untuk wanita tak tau diri itu?" sinis Triya.

__ADS_1


"Cukup! Jaga ucapanmu Triya! Ibu di sini karena ada Fitria, lagi pula di sini juga dekat dengan rumah sakit tempat bapak periksa!" jelas Evita murka.


"Oh, jadi sesama pelakor tinggal di tempat yang sama?" cibirnya.


"Siapa yang pelakor? Apa di sini ada yang merebut suamimu?" sergah Fitria yang datang dari dalam.


Dia yang sedang di kamar mendadak mendengar keributan di depan rumah kakak angkatnya. Hingga akhirnya dia memutuskan untuk melihat ada apa di depan sana.


"Kamu memang bukan pelakor, tapi mantan pelakor yang dulu berusaha merebut suamiku!" balas Triya sengit.


Fitria tak gentar, dia tersenyum sinis pada menantu orang tua angkatnya.


"Hati-hati sama ucapanmu. Lagi pula apa yang bisa di pertahanin dari perempuan seperti kamu? Udahlah mandul, tukang utang. Mending kalau kaya. Keluarga kamu sendiri juga benalu kan? Bisanya cuma merongrong mas Jendral sama ibu aja," ejek Fitria berani.


Evita tersentak tak menyangka jika anak angkatnya bisa berkata sekasar itu.


Dia yang dulu selalu melihat Fitria merupakan gadis desa yang lugu, tentu merasa sangat terkejut dengan perubahan anak angkatnya.


Sedangkan Triya, matanya terbelalak tak percaya dengan ucapan adik angkat suaminya itu.


"Kurang ajar! Beraninya kamu menghinaku!" bentak Triya lalu mendekat ke arah Fitria hendak menamparnya.


Fitria dengan sigap mencengkeram tangan Triya dan memelintirnya hingga wanita itu terjerembap ke depan dengan bertumpu pada lututnya.


Ilmu bela diri yang dia pelajari saat sekolah dulu bisa dia praktikkan saat ini pada Triya.


"Lepas sialan! Sakit tau! Ibu tolong," rengek Triya.


"Ya Allah Fit, lepasin mbakmu, kasihan," bujuk Evita yang tak tega dengan keadaan Triya.


Darmono hanya bisa duduk sambil bernapas pendek-pendek. Dadanya sesak karena merasa panik dengan situasi di depan matanya.


"Bapak!" pekik Evita yang sadar jika sang suami sejak tak memerhatikan pertengkaran mereka.


Fitria menoleh kepada bapak angkatnya dan ikutan panik juga. Dia lantas melepaskan cengkeraman tangannya pada lengan Triya dan menghempaskan tubuh Triya dengan kasar hingga istri Jendral itu jatuh menubruk lantai.


"Bapak," panggil Fitria cemas.


Salimah yang baru pulang berbelanja bersama putra dan Iyem terkejut bukan main dengan keadaan rumah mereka yang penuh dengan teriakan.


Bergegas dia mendekati mereka dan melepaskan belanjaannya begitu saja.


"Ya Allah pak, ada apa ini Bu?" tanya Salimah panik. Dia bahkan tak sadar ada Triya di sana yang sedang mengusap dahinya.


Fitria bergegas menghubungi ambulans agar bisa segera datang ke kediamannya.


Namun, belum sempat mengatakan alamatnya, terlihat Afnan yang juga baru sampai di kediaman kakak angkatnya.


Dia bergegas mendekati pujaan hatinya dan meminta tolong agar Afnan mau membantunya membawa Darmono ke rumah sakit.

__ADS_1


Tanpa banyak tanya Afnan bergegas membuka pintu mobil.


Evita dan Salimah yang tidak menyadari kehadiran tamu lain di kediaman mereka lantas terkejut kala Fitria bergegas mendorong kursi roda milik Darmono menuju ke mobil Afnan.


"Mas Afnan?" panggil Salimah pelan.


Afnan tidak sempat menyapa balik Salimah karena sibuk mengangkat tubuh Darmono di bantu oleh Fitria dan Evita.


"Sal, aku antara mereka ke rumah sakit dulu ya. Kamu di sini aja," ujar Afnan yang ikut merasa tegang dengan situasi di kediaman mantan istrinya.


"Pak ayo cepat!" sela Fitria yang merasa kesal sekaligus cemburu.


Mereka meninggalkan kediaman Salimah dengan Fitria yang duduk di samping kursi kemudi.


Setelah melepas kepergian mereka, Salimah berbalik dan terkejut kala melihat Iyem tengah membantu seseorang yang sejak tadi di abaikan keberadaannya.


"Triya?" panggil Salimah pelan lantas mendekati mereka.


Saat berhasil mendudukkan Triya di kursi teras, Iyem bergegas masuk ke dalam rumah untuk mengambil kotak obat dan juga kompresan.


Saat Triya menengadah, terlihat dahi mantan madunya itu terdapat benjolan yang cukup besar.


Antara kasihan dan ingin tertawa Salimah melihat keadaan Triya.


"Kamu kenapa Tri?" tanya Salimah yang duduk di seberangnya.


Triya memicing menatap Salimah. Dia benci melihat keadaan mantan madunya itu yang terlihat semakin bertambah baik.


Bahkan bukan cuma Salimah, Fitria yang beberapa bulan lalu dia temui dalam keadaan biasa pun kini telah berubah menjadi lebih bersinar, tentu saja Triya yakin kehidupan keduanya sangat layak hingga bisa melakukan perawatan mahal, pikirnya.


"Ini karena ulah perempuan udik itu. Dasar orang kampung, kelakuannya bar-bar sekali!" gerutu Triya.


Tak lama Iyem datang membawakan baskom berisi air es dan sapu tangan untuk di gunakan mengompres benjolan Triya.


"Ini non, kompres pakai ini biar enggak semakin besar benjolannya," jelas Iyem sambil menyodorkan baskomnya.


Triya mencebik tapi tetap melakukan apa yang di sarankan oleh pembantu Salimah.


"Bagaimana kamu tau tempat tinggalku Tri?" sengaja Salimah tak mengatakan rumahnya, sebab dia tak mau mencari keributan dengan mantan madunya itu.


"Cih! Sekarang jelaskan sama aku, ini rumah kamu beli atau apa?" cecar Triya setelah melempar kompresannya dengan kasar.


.


.


.


Tbc

__ADS_1


__ADS_2