Anakku Hanya Milikku

Anakku Hanya Milikku
Bab 28


__ADS_3

Hari tersenyum geli melihat kewaspadaan Aliyah padanya.


"Saya enggak akan menyakiti Salimah Bu Al, Anda tenang aja," jelas Hari.


Alawiyah menghela napas, andai dia tahu kalau Hari adalah sepupu dari Afnan, tak akan dia memasukkan Salimah ke perusahaan ini.


"Mau kan Sal?" tanya Hari penuh harap.


Salimah mengangguk setuju, "saya enggak punya waktu banyak Pak Hari, sebentar lagi waktunya masuk kerja," jawab Salimah.


"Kamu tenang aja, biar saya yang bilang sama pak Ishak kalau kamu ada di ruangan saya."


Mau tak mau Salimah menyetujui permintaan mantan sepupunya sekaligus atasannya itu.


Dalam hati Salimah berpikir apa yang hendak di tanyakan oleh Hari padanya.


Kalau menyangkut Afnan rasanya tidak mungkin, sebab Salimah paham betul bagaimana hubungan dua keluarga itu.


Hari meminta Salimah untuk duduk di sofa dan meminta OB untuk memberikan suguhan pada Salimah.


"Maaf, mungkin pembicaraan ini di luar urusan kantor. Aku hanya penasaran aja, apa kamu bercerai dari Afnan dalam kondisi mengandung?" tanya Hari langsung.


Meski tidak berhubungan langsung dengan keluarga bibinya. Namun berita mengenai Afnan dan keluarganya selalu saja terdengar olehnya.


Tak perlu mata-mata sebab dirinya dan keluarganya masih berada dalam grup chat keluarga besar sang kakek, jadi berita apa pun tentang keluarganya dia pasti tahu.


Salah satunya adalah pembahasan tentang keluarga Afnan dan Salimah yang sangat panas beberapa waktu lalu.


Bibinya mengatakan jika Salimah keguguran dan akan bercerai dengan Afnan karena di anggap pembawa sial. Kebanyakan keluarga besarnya mendukung keinginan ibunda Afnan itu.


Hanya beberapa keluarga termasuk keluarganya yang memilih tak ikut campur.


Namun apa yang dia lihat saat ini adalah Salimah masih mengandung. Jadi dia berpikir mungkin itu adalah tipuan bibinya untuk menutupi kebenarannya.


Salimah menunduk, dia kembali di hadapkan pada masalah yang sama, yaitu harus menjelaskan kondisinya.


Setelah menghela napas cukup panjang Salimah memberanikan diri menatap Hari.

__ADS_1


"Kehidupan saya cukup rumit Pak Hari dan saya merasa tak perlu menjelaskan kehidupan saya pada Bapak," tolak Salimah.


Hari tersenyum hambar, "maafkan aku kalau di rasa terlalu ikut campur. Hanya saja kamu tahu sendiri bagaimana keluarga besar kami kan?" jelas Hari.


Salimah lagi-lagi mengangguk, dia pernah melihat obrolan dalam grup chat keluarga mereka di ponsel suaminya. Di mana ibu mertuanya selalu menjelek-jelekkan dirinya.


Dirinya seperti selalu menjadi obyek pembicaraan yang seru di grup itu, bahkan mereka seperti tak peduli dengan kebenarannya.


Dia memang sadar kalau dirinya tak terlalu di terima di keluarga besar sang suami, untungnya Afnan selalu menguatkannya dan hanya keluarga Harilah yang tak pernah ikut terpancing membicarakannya.


"Apa mas Hari tau kabar Afnan?" tanya Salimah penuh harap.


Hari mengangguk, "walau kamu tau bagaimana hubungan kami, tapi kami selalu tau tentang keluarga Bibi Sri," jawab Hari.


Dari seluruh keluarga besar Afnan, hanya Hari dan keluarganya yang tak bekerja di perusahaan milik keluarga besarnya.


Entah apa yang terjadi, Salimah pun tak mengerti, yang dia tahu dulunya Hari juga bekerja di perusahaan milik kakek mereka, menurut cerita Afnan.


Namun sang suami enggan menceritakan masalah keluarganya karena merasa jika itu adalah aib mereka.


Salimah pun tak memaksa dan tak pernah mencari tahu, baginya hidup dengan Afnan saja sudah cukup dari pada harus terlibat dengan keluarga besar ayah mertuanya.


Yang Hari tau, Afnan dan Salimah bercerai saat sang sepupu tengah menjalani pengobatan di luar negeri.


Sri selalu menceritakan perkembangan apa saja yang sudah di lalui oleh Afnan. Begitu juga dengan rencana sang bibi yang ingin segera menikahkan sepupunya dengan Norma.


"Dia udah sadar sejak beberapa hari lalu. Kini sedang menjalani terapi karena dia koma lumayan lama," jelas Hari.


Salimah menunduk, air matanya menetes, dia sangat merindukan mantan suaminya. Entah seperti apa rupa lelaki yang selama enam tahun ini mendampinginya.


"Kamu kenapa?" tanya Hari heran.


"Apa Pak Hari punya foto mas Afnan?"


Hari mengangguk, lalu menyerahkan ponselnya yang sudah dia atur untuk menunjukkan foto sepupunya.


Sang bibi selalu membagikan potret Afnan dari hari ke hari, makanya dia memiliki foto terakhir Afnan.

__ADS_1


Salimah menutup mulutnya. Air matanya mengalir semakin deras, rasa rindu kian membuncah saat melihat sang suami yang tampak sangat berbeda.


Afnan kelihatan kurus dengan pipi sedikit cekung, kelopak matanya menghitam sayu seperti orang yang tak pernah bisa tidur malam, padahal Afnan mengalami koma yang cukup lama.


Bulu-bulu halus juga sudah memenuhi dagunya yang biasanya selalu terlihat rapi dan bersih.


Kulitnya memang masih putih tapi pucat seperti tak ada aliran darah melewatinya.


Bahkan senyuman manis yang dulu di milikinya berubah seperti seringaian menakutkan bagi Salimah saat ini.


"Hei, kamu baik-baik aja Sal? Katakan sebenarnya ada apa dengan kalian? Maaf, yang aku tau Bibi Sri pernah bilang kalau kamu keguguran, tapi nyatanya kamu baik-baik aja dengan kehamilanmu," ucap Hari.


Salimah masih sesenggukan, ingin sekali dia terbang menemui suaminya. Namun apa daya, tak mungkin mereka bertemu dengan keadaannya yang seperti ini.


"Keluarga besar kami harus tau kalau kamu masih mengandung darah keturunan keluarga kami," sambung Hari.


Salimah menatap Hari dalam, benaknya berkata bahwa kalau pun anak ini adalah anak Afnan, toh mereka semua tak akan pernah peduli, nyatanya Rino yang jelas-jelas nyata ada pun mereka tak memedulikan nasibnya.


"Jangan katakan apa pun tentang kondisiku pada keluarga besar Pak Hari. Jangankan anak ini, pada Rino yang jelas-jelas mereka tau pun tak peduli kan?"


Ucapan Salimah seperti sebuah cambuk yang menamparnya. Benar, dia merasa malu karena di singgung secara tidak langsung oleh Salimah.


Jangankan keluarga besarnya, dia bahkan lupa kalau Salimah memiliki anak yang seharusnya keluarga besarnya perhatikan.


Nyatanya mereka memang seperti melupakan Salimah dan Rino. Bahkan tak pernah ada pembahasan mengenai keponakannya itu.


"Bagaimana keadaan Mas Afnan sekarang Pak? Apa dia enggak menanyakan kami setelah sadar?" tanya Salimah penuh harap.


Dari foto yang di bagikan oleh Hari, Salimah merasa ada yang janggal, sebab Hari tak mengatakan jika Afnan mencarinya.


Tadinya dia sempat berpikir kalau Hari mengajaknya bertemu mungkin ingin mengatakan hal itu padanya. Ternyata harapannya terlalu tinggi.


"Kamu yang sabar ya," jawab Hari ambigu.


"Ada apa Pak Hari? Meski aku mantan istrinya, tapi ada putranya yang selalu mencari keberadaannya, kami berhak tau keadaanya!" ucap Salimah putus asa.


"Aku enggak tau bagaimana pastinya keadaan Afnan saat ini Sal, yang pasti kami hanya tau kalau Afnan udah sadar dan akan kembali ke tanah air. Apa kamu mau menyambutnya?"

__ADS_1



__ADS_2