Anakku Hanya Milikku

Anakku Hanya Milikku
bab 75


__ADS_3

Jendral kembali ke kamar Darmono karena hendak berbicara dengan ibunya mengenai pembicaraannya dengan Fitria.


Fitria sendiri memilih pulang sebab tak ingin terlibat dengan rencananya yang akan di realisasikan oleh Jendral.


Dia tersenyum puas saat Jendral ternyata menyambut idenya. Lelaki baik itu mendadak jadi dungu hanya karena terdesak keadaan menurut Fitria.


Saat sampai di kediaman Salimah, senyumnya kembali merekah kala melihat mobil milik atasannya ada di sana.


Dia buru-buru membayar ongkos taksi bahkan tak meminta kembaliannya karena saking bahagianya.


Hal yang sangat jarang Fitria lakukan, sebab wanita itu penuh perhitungan. Selama tinggal di rumah Salimah pun dia tak mau mengeluarkan uang lebih. Hanya sesekali membeli keperluan makan agar tak terlihat sekali bagaimana perhitungannya dia.


Dia memilih menggantinya dengan membantu pekerjaan Iyem di rumah agar Salimah tak menyindirnya mengenai keperluan rumah.


"Pak Afnan," sapa Fitria saat melihat sang atasan tengah duduk memangku putranya.


"Iya," jawab Afnan datar.


Fitria menghela napas kesal mendapat perlakuan datar dari atasannya itu.


"Bapak pasti lelah. Biar saya gantikan menggendong Rino," tawarnya saat melihat Rino ternyata sudah terlelap dalam pangkuan Afnan.


"Enggak perlu, nanti dia terbangun," tolak Afnan yang sudah tak lagi respek dengan segala perhatian sekretarisnya.


"Bapak berubah," ucap Fitria tiba-tiba sendu.


Afnan mengernyit heran dengan ucapan Fitria yang seolah menyudutkannya.


"Sejak dulu aku begini Fit, apa yang berubah dariku? Sepertinya kamu hanya salah paham aja sama semua sikapku. Aku berbuat baik karena kamu calon sekretarisku. Saat pertama melihatmu aku tahu kamu sedikit kesulitan," ucap Afnan menjeda kalimatnya.


"Terlebih lagi aku dan Yudis juga sangat tahu bulian yang kamu alami karena bisa menjadi sekretaris kami justru membuatmu di kucilkan oleh rekan kerjamu bukan? Itulah yang membuat aku dan Yudis merasa kasihan padamu."


"Sayangnya sikapku itu justru kamu salah artikan, saya enggak pernah memiliki perasaan apa pun sama kamu. Hanya sebatas atasan dan kamu perempuan itu aja," jelas Afnan panjang lebar.


Fitria justru terisak mendengar penolakan yang di dengar begitu tegas dari Afnan. Jika kemarin lelaki itu tampak biasa mendengar segala ungkapan hatinya.


Namun kini lelaki yang berhasil membuatnya jatuh cinta untuk pertama kalinya justru membuatnya patah hati yang teramat sangat.


“Apa saya salah mencintai bapak? Bapak pasti tau bagaimana rasanya jadi saya,” tanya Fitria.

__ADS_1


“Saya enggak bisa melarang seseorang menyukai atau mengagumi saya. Hanya saja tolong mengerti batasanmu. Sikapmu yang membuat aku merasa kalau kamu berharap aku harus membalas perasaanmu. Padahal kamu udah tau dengan pasti orang yang kamu sukai, menyukai orang lain. Bukankah lebih baik kamu menyerah?” pinta Afnan tegas.


Tak kuat menanggung sakit hati atas segala penolakan atasannya itu, Fitria bangkit berdiri dan meninggalkan Afnan dengan tangisan yang tak bisa dia tahan.


Afnan menghela napas, biarlah dia di katakan kejam dari pada membuat Fitria semakin dalam menyukainya.


Dirinya pikir dengan penolakan tegas seperti ini maka akan membuat Fitria sadar dan mengubur perasaan suka padanya.


Lagi pula dia sudah memberi keputusan untuk bisa kembali bersama dengan mantan istrinya. Jadi dia akan fokus pada tujuannya saja.


.


.


Di rumah sakit, Jendral duduk bertiga dengan ibunya dan juga Salimah yang lebih banyak menunduk.


"Ada apa Jen? Apa kamu mau minta maaf sama Salimah?" cecar Evita datar.


Jendral menarik napas, sulit rasanya merendahkan harga dirinya untuk meminta maaf pada wanita yang dia anggap pembawa hal buruk pada hidupnya.


"Maafkan aku Sal. Aku lagi banyak pikiran hingga akhirnya kamu kena pelampiasan kekesalanku," ucap Jendral terpaksa.


Namun dia menghargai Jendral yang mau berbesar hati meminta maaf padanya.


"Enggak papa mas," balas Salimah lembut.


Jendral lantas menatap ibunya. "Bu ada hal pentung yang ingin Jendral sampaikan."


"Ada apa?" tanya Evita cemas. Dia tak tahu lagi bagaimana harus membantu putranya menghadapi kemelut permasalahannya.


Dia sudah mengeluarkan banyak uang untuk membantu pengobatan menantunya. Namun jika harus mengeluarkan uang lagi untuk biaya ganti rugi jelas sekali dia tidak sanggup.


Besannya pun menyerah, padahal kecelakaan itu terjadi karena ulah anak mereka, tapi Tati dan Iwan berkata angkat tangan karena tak sanggup membantu.


"Jendral berencana menjual rumah kami Bu. Juga mungkin beberapa perhiasan milik Triya. Hanya saja ..." ucap Jendral menjeda.


"Aku enggak bisa membeli rumah lagi. Bahkan untuk sekedar mengontrak pun rasanya akan berat,” sambungnya.


"Lalu?" sela Evita bingung dengan arah pembicaraan putranya.

__ADS_1


"Bukankah rumah milik Salimah ibu yang beli?" tanya Jendral tiba-tiba.


"Kamu jangan macam-macam Jen. Rumah itu meski ibu yang beli tapi sudah atas nama Salimah. Jadi kamu jangan berharap bisa menguasai rumah itu!" sergah Evita.


"Ya ampun Bu, aku belum selesai bicara. Segitu burukkah aku di pikiran ibu," lirih Jendral mencari simpati ibunya.


"Lalu kamu mau apa? Jangan muter-muter enggak jelas begini dong," keluh Evita.


"Boleh enggak untuk sementara waktu aku tinggal di sana dulu? Banyak pertimbangan aku meminta kaya gitu Bu. Selain jarak ke rumah sakit ini lebih dekat dari sana. Aku juga bisa membayar secara penuh uang dari penjualan rumah untuk ganti rugi."


"Jujur aku enggak tau lagi uang dari mana untuk menutupi semua ini. Jadi hanya ini permintaanku pada ibu dan juga kamu Sal."


Evita gamang, dia tau kesulitan yang di alami putranya. Namun untuk mengizinkan sang putra tinggal di rumah Salimah yang kecil rasanya juga segan pada Salimah.


Evita lantas melirik Salimah yang kembali menunduk sambil memilin tangannya.


"Semua keputusan tergantung Salimah Jen. Seperti yang kamu tau rumah itu milik Salimah sepenuhnya, jadi ibu enggak berhak memutuskan," putus Evita.


Salimah menatap Evita bingung. Sungguh dirinya dilema. Apa harus mengabulkan permintaan mantan suaminya atau menolak.


Lagi pula hendak tinggal di mana lelaki itu, sedangkan kamar di rumahnya hanya tiga dan sudah terisi semua.


"Maaf mas, bukan mau menolak, tapi mas mau tinggal di mana? Sedangkan kamar di rumah sudah di isi semua," jawab Salimah yang berharap Jendral mau mengerti.


Jendral tersenyum tipis menahan kekesalannya. Sepertinya Salimah hendak mempersulit dirinya, begitu pikirnya.


"Apa ibu dan bapak akan tinggal di sana selamanya?" pertanyaan telak yang membuat Evita pasti menjawabnya dengan cepat.


"Tentu aja enggak, bahkan bapak kamu udah minta pulang kalau sudah keluar dari sini," jawab Evita sesuai perkiraan Jendral yang membuat senyumnya berkembang.


Sedangkan Salimah menegang mendengar jawaban mantan mertuanya.


"Aku akan tinggal di sana setelah ibu dan ayah pulang. Lagi pula, di rumah enggak ada laki-laki. Bagaimana kalau Salimah mau melahirkan di tengah malam? Fitria sendiri enggak bisa menyetir mobil. Jadi Jendral rasa kehadiran Jendral dapat sedikit membantu Salimah."


"Setidaknya aku bisa jadi ayah siaga mendekati detik-detik kelahiran anak kita," sambungnya sambil menatap Salimah.


Salimah menelan kasar salivanya. Bingung bagaimana lagi harus menolak sedangkan alasan yang diberikan Jendral sangat masuk akal.


__ADS_1


__ADS_2