Anakku Hanya Milikku

Anakku Hanya Milikku
Bab 11


__ADS_3

Dengan segala persiapan yang menurut Triya sudah matang, wanita itu bersiap menghias rumahnya untuk acara empat bulanan.


Dia bahkan sudah mengenakan bantal kecil untuk membuat sang mertua percaya kalau dia memang tengah mengandung.


"Yang benar aja Bun. Harus gitu pake bantal segala?" keluh Jendral saat mengetahui kelakuan sang istri.


"Gimana sih Yah, liat dong Salimah, hamil empat bulan aja perutnya udah kelihatan. Nanti ibu kamu curiga dong kalau perut aku masih rata!" jelas Triya masih sambil memosisikan bantal tipis di perutnya.


"Bun wajar kalau Salimah, sebab ini kehamilan ke duanya. Kamu lupa waktu Dewi hamil anak pertama? Perutnya rata kan? Makanya kita enggak nyangka kalau dia lagi hamil," jawab Jendral.


"Ishh, biarin aja apa sih Yah. Bunda juga mau ngerasain hamil," sanggahnya.


Jendral memilih diam, karena dia tahu tak akan pernah menang berdebat dengan sang istri.


Di kontrakan Salimah, tetangga barunya datang menemui ibu satu anak itu.


Mereka tengah berbincang hangat. Beruntung Lisa bukanlah seperti tetangga lainnya yang selalu ingin tahu kehidupan Salimah yang terlihat berkecukupan meski tidak bekerja.


"Mbak Salimah beruntung ya bisa punya sahabat seperti mbak Triya dan suaminya," ucap Lisa.


Salimah membalas hanya dengan senyuman. Tetangganya tidak tahu berapa harga yang harus dia bayar hanya untuk bisa menyambung hidup.


Usai berbincang. Salimah bergegas mendatangi kediaman Triya untuk menghadiri acara empat bulanannya.


Di perjalanan dia membeli sebuah kue hanya untuk buah tangan. Karena dia merasa tak enak jika datang dengan tangan kosong.


Di dalam toko kue dia bertemu lagi dengan sahabat baiknya Alawiyah.


Alawiyah inilah yang benar-benar sahabat Salimah. Berbeda dengan Triya yang terkadang masih bersikap canggung, jika dengan Alawiyah, maka Salimah akan merasa sangat terbuka.


Sayangnya, mereka sudah jarang bertemu sejak Salimah menikah sebab Alawiyah juga harus pindah dari kota mengikuti orang tuanya.


Kini sahabatnya itu kembali. Membuat perasaan Salimah merasa senang.


"Alawiyah?" panggilnya canggung, meski yakin wanita yang tengah memilih kue dalam etalase adalah sahabatnya, Salimah memilih menyapa dulu tidak langsung memeluknya.

__ADS_1


Alawiyah pun menoleh karena merasa tak asing dengan suara panggilan itu.


"Salimah? Astaga ya Tuhan akhirnya aku ketemu kamu juga! Kamu dari mana aja Hah!" ucapnya lantas segera memeluk Salimah.


Merasa ada sosok sahabat yang bisa menjadi bahunya, Salimah pun menangis dalam pelukan Alawiyah.


"Hei kamu kenapa? Kamu pindah ngga bilang-bilang? Aku kehilangan kontakmu, maaf. Kamu baik-baik aja kan?" cecar Alawiyah.


Melihat keadaan sang sahabat seperti yang tidak dalam keadaan baik, Alawiyah pun mengajak Salimah untuk duduk di salah satu kursi dalam toko kue dan memesan minuman untuk mereka.


"Hei kenapa?"


Salimah mengusap air matanya, dia lantas meminta sang putra untuk menyapa sahabat baiknya.


"Rino, salim dulu sama tante Al," pintanya.


"Ini Rino? Ya ampun keponakan Ante udah besar aja. Sini sayang, kamu mau kue apa?" tawar Alawiyah sambil memangku Rino.


"Kamu apa kabar Al? Tambah matang aja," ucap Salimah begitu bisa menenangkan diri.


"Enggak, aku yakin banyak cowok yang deketin kamu. Dasar kamunya aja yang terlalu pemilih!"


Alawiyah lalu memindahkan Rino agar bisa memakan kuenya sendiri. Dia ingin bertanya serius pada sahabatnya.


"Kamu pindah ke mana? Aku kaget begitu ke rumahmu, ada orang lain yang menghuninya."


Salimah menunduk, dia bingung harus mulai dari mana menceritakan masalahnya.


Alawiyah lantas berpindah ke sisi Salimah dan memegang bahu sahabatnya.


Salimah sedang berandai-andai. Andai saja saat itu dia bertemu dengan Alawiyah dari pada Triya terlebih dahulu dia yakin hidupnya tak akan nelangsa seperti ini.


Dia mengusap perutnya yang sudah terlihat sedikit membuncit.


"Kamu hamil?" tanya Alawiyah lagi.

__ADS_1


"Iya. Kamu ikut ke acara empat bulananku yuk!" ajak Salimah.


Waktu acaranya sudah hampir mulai dan dia tidak bisa menceritakan masalahnya saat itu juga pada Alawiyah.


"Hah! ya udah yuk! Bentar aku kabarin mamahku, soalnya dia minta kue ini," balas Alawiyah.


Salimah datang menggunakan mobil Alawiyah. Kini sahabatnya itu sudah resmi berprofesi sebagai seorang pengacara di sebuah firma hukum terkenal di kota mereka.


"Ini rumah siapa Sal?" tanya Alawiyah heran.


"Rumah Triya. Yuk masuk!" ajaknya.


.


.


Di dalam rumah, mertua Triya sudah sampai sejak tadi. Triya yang tau jika sang mertua hendak memberikan kejutan, pura-pura terkejut saat kedatangan sang mertua yang tiba-tiba.


"Ya Allah, kamu cantik sekali nak," ucap Evita kala melihat sang menantu membukakannya pintu.


Triya tersenyum saat melihat binar bahagia terpancar dari raut wajah sang mertua kala melihat perutnya yang sedikit membuncit.


Refleks Evita mengusap perut sang menantu. "Sehat-sehat ya sayang, jangan menyusahkan mamah. Kami semua menunggu kehadiranmu di sini," luruh sudah air mata ibunda Jendral itu.


Jendral dan Triya hanya bisa saling berpandangan saat melihat tangisan haru Evita.


"Maafkan sikap ibu yang lalu ya Tri," ucap Evita begitu mereka duduk di ruang tamu.


"Enggak papa Bu, Triya ngerti kok maksud ibu baik," jawab Triya sekenanya. Meski dalam hati dia masih memendam kekesalan pada mertuanya.


Suara salam dari luar membuat suasana haru itu terhenti seketika.


Evita menatap bingung pada tamu menantunya yang juga terlihat sedang hamil.


"Siapa ini Tri?"

__ADS_1



__ADS_2