
Alawiyah dan Salimah hanya bisa menggeleng saat melihat perdebatan antara dua orang wanita paruh baya itu.
Mereka tak mau ikut campur. Untungnya Jendral dan yang lainnya tak lama ribut di depan rumah Alawiyah, jadi keduanya bisa merasa lega.
"Jadi janda lagi Sal?" ledek Alawiyah.
Salimah lantas memukul pelan lengan sahabatnya. "Maka sih udah mau pinjami rumahmu buat pertemuan ini ya Al," ucap Salimah segan karena selalu merepotkan sahabatnya.
"Alah, ku ini setiap kali melakukan sesuatu kenapa harus bilang maka sih mulu sih! Enggak cape apa?" gerutu Alawiyah lantas kembali masuk ke dalam rumah.
"Mamah sama papah kamu lama liburannya Al?"
"Katanya sih semingguan, tapi aku enggak percaya, mamahku kadang lupa pulang kalau udah di negara Eropa," keluh Alawiyah.
Salimah terkekeh mendengar ucapan Alawiyah yang merasa nelangsa di tinggal orang tuanya.
Alawiyah memang sengaja mengajak Salimah dan Rino menginap di rumahnya karena dia merasa kesepian di rumah besar itu.
Meski ada beberapa pekerja rumah tangganya, tapi kebanyakan mereka lebih sering berada di dapur dan teras belakang.
Alawiyah juga tau kalau para pekerjanya agak merasa segan jika berbincang dengannya, oleh sebab itu dia meminta di temani oleh Salimah.
"Makanya punya pacar deh, jadi enggak kesepian," ejek Salimah.
Alawiyah kembali mencebik, lagi-lagi sang sahabat dan orang tuanya mengatakan tentang pasangan.
"Lagian aku heran, orang humble kaya kamu masa enggak punya temen selain aku sih Al?" tanya Salimah heran.
"Teman mah banyak, yang deket enggak ada. Gue tuh pilih-pilih kali. Kebanyakan cuma buat ha ha hi hi aja," jawab Alawiyah malas.
"Al aku lupa mau tanya ma kamu. Pak Hari itu udah nikah belum?" tanya Salimah tiba-tiba.
Alawiyah yang sedang memakan jeruk sampai tersedak karena kaget dengan pertanyaan sahabatnya.
"Ngapain lu nanya-nanya Hari? Naksir sama sepupu mantan suami lu?" cibir Alawiyah.
"Astaga Al, enggak gitu aku nanya aja!"
"Sumpah?" tanya Alawiyah dengan mata memicing.
"Suer! Aku penasaran aja, soalnya banyak karyawan yang kayaknya naksir ma dia. Pas aku tanya pada enggak tau status Pak Hari," jawab Salimah heran.
"Cih, pak Hari belum ada apa-apanya sama calon CEO baru di kantor kita nanti," ucap Alawiyah jemawa.
"Calon CEO baru? Berarti kita mau punya atasan baru dong?"
Alawiyah kembali mengangguk, dia dan tim kuasa hukum di perusahaan itu baru saja mengesahkan jabatan CEO baru di perusahaan tempat mereka bekerja.
__ADS_1
Tak lama lagi posisi atasan sekarang akan di alihkan pada pewarisnya.
"Ganteng banget ya Al?" tanya Salimah penasaran.
"Banget, tapi sayang orangnya dingin banget, agak merinding kalau deket dia," jawab Alawiyah sambil bergidik mengingat raut wajah calon atasan barunya.
"Wah ada yang mau geser popularitasnya Pak Hari dong ya."
Alawiyah mengedikkan bahu tak peduli. Salimah lantas kembali pada pertanyaannya semula tentang status Hari.
"Kenapa sih, penasaran banget!" keluh Alawiyah yang masih di desak oleh Salimah.
Salimah menghela napas, "kata kamu aku harus memanfaatkan Pak Hari sebagai perantara untuk mencari tau kabar Mas Afnan. Aku takutnya dia udah punya istri kan berabe Al," jawab Salimah jujur.
"Oh masalah itu, ngomong dong. Dia belum punya istri, kabarnya sih dulu sempet mau nikah, udah hari 'H' di tinggal calon istrinya. Katanya sih gitu, tapi enggak tau bener apa enggak."
"Yang pasti statusnya masih single, tapi beberapa orang percaya pak Hari udah nikah sih, aku mah diem aja, enggak mau ikur campur, bukan wewenang aku buat jawab pertanyaan mereka bukan?"
Salimah mengangguk setuju, ada rasa lega menghinggapinya, setidaknya saat dia bertemu dengan Hari dan membicarakan masalah Afnan tidak akan ada kesalah pahaman yang bisa merusak hubungan Hari dengan pasangannya.
Namun di sisi lain, dia merasa kasihan pada sepupu mantan suaminya itu. Dia merasa Hari adalah sosok lelaki yang baik.
Mungkin juga dia merasa trauma hingga belum juga menikah, pikir Salimah.
"Tapi pacar punya enggak?"
"Aamiin," Salimah justru mengaminkan ucapan Alawiyah. Siapa tahu keduanya memang berjodoh.
"Kamvret!" gerutu Alawiyah sambil melempar kulit jeruk ke arah Salimah.
.
.
Di kediaman Jendral, Evita tengah bersiap membereskan pakaiannya.
Sedangkan Triya dan Tati berada di ruang tamu sambil berbincang.
"Berapa biaya yang kamu keluarin buat bayi tabung?" tanya Tati penasaran.
"Kurang lebih seratus jutaan lah Mah, kenapa emang?"
"Gila! Duit segitu kamu hambur-hamburin cuma buat bikin anak? Pemborosan!" keluh Tati kesal.
Padahal bukan dia yang mengeluarkan uang, tapi hatinya tetap merasa kesal karena ternyata sang putri memiliki uang yang cukup banyak.
"Kamu uang dari mana?" tanya Tati heran.
__ADS_1
Triya tersenyum lebar saat mendapatkan pertanyaan seperti itu dari sang ibu.
"Duit hasil jual rumah yang dulu," jelasnya tanpa merasa bersalah karena telah membohongi ibunya.
"Lah, kamu bilang duitnya buat beli rumah ini, jadi rumah ini ngontrak, Apa gimana?" cecar Tati.
"Beli lah, aku minta mas Jendral minta sama orang tuanya. Tapi aku minta mereka enggak minta uang hasil penjualan rumah yang dulu," jelas Triya.
"Bagus, meskipun mamah kesal sama kecerobohan kamu, tapi baguslah, orang tua Jendral kan memang wajib mencukupi kebutuhan kamu. Gimana juga anak laki-laki selain masih harus berbakti pada ibunya, dia juga masih tanggung jawab ibunya."
"Eh Tri. Karena perjanjian kamu batal, harusnya kamu mintalah uang hasil bayi tabung itu sama si Salimah, kan urusan kalian udah selesai?"
"Lah, enggak bisa gitu dong mah, nanti aku di tuntut sama dia gimana? Mamah enggak liat ada Alawiyah yang jadi tamengnya?"
"Ishh, sayang banget duit seratus juta melayang. Rugi ... Rugi," keluh Tati.
"Nanti kalau anak itu lahir, terus nuntut tanggung jawab Jendral gimana?"
"Mamah tenang aja, kita udah punya surat perjanjian kalau Salimah enggak berhak nuntut nafkah dari mas Jendral, tapi sayangnya—"
"Sayangnya apa?" potong Tati cemas.
"Mertuaku yang akan mencukupi kebutuhan cucunya itu," jawab Triya lesu.
"Enggak bisa gitu dong, ngapain sih di sok jadi pahlawan mau tanggung jawab segala? Harusnya mertua kamu itu cukup mikirin kamu sama calon anak kamu aja, ngapa jadi mikirin orang lain, emang enggak ada otak mertua kamu."
Evita dan Jendral yang mendengar hanya obrolan keduanya hanya bisa menghela napas panjang.
Keduanya lantas mendekati Triya dan Tati yang masih asyik membicarakan dirinya.
"Saya pamit dulu ya besan," ucap Evita pada besannya yang di balas deheman saja oleh Tati.
"Ibu pulang dulu ya Tri. Jaga kesehatan kamu, jangan mikirin yang macam-macam. Ingat, kamu menginkan anak ini lebih dari apa pun, jadi jaga dia dengan baik ya," pesan Evita pada menantunya.
"Jeng juga jangan bikin anak saya stres, jangan lupa juga dengan kebutuhannya. Jeng perhatian sama cucu yang lain, cucu sahnya malah di abaikan," sindir Tati.
"Insya Allah enggak besan. Kalau begitu Ibu pamit ya Tri," putus Evita menghentikan obrolan mereka.
Triya hanya mengangguk dan tersenyum kaku. Dia melepas kepergian sang suami yang akan mengantar mertuanya ke bandara.
.
.
.
Tbc
__ADS_1