Anakku Hanya Milikku

Anakku Hanya Milikku
Bab 64


__ADS_3

Saat pulang kerja, Afnan sudah di hadang oleh sang ibu.


Sri merasa geram karena sekretaris putranya mengetahui kelakuan buruk Norma.


Meski dia juga kesal, tapi Sri berusaha mengesampingkan egonya demi sebuah tujuan yang sudah dia impikan sejak lama. Menjadi ibu suri dari anak pemilik perusahaan, itulah angannya.


Dia kesal bukan main saat tadi pagi bertemu keponakannya— Yudis. Sri ingat bagaimana Yudis menolak mentah-mentah keinginannya, agar keponakannya itu mau memecat Fitria.


Flasback.


"Yudis, tolonglah tante. Norma sangat cemburu sama Fitria. Tante harap kamu mengerti. Tolong pecat dia dari sini. Tante yakin dia pasti bisa mencari pekerjaan lain lagi."


"Kalau perlu tambahi uang pesangonnya. Kamu tenang aja, tante yang akan menambahkannya," bujuk Sri pada atasan putranya.


"Maaf tante, saya enggak bisa pecat orang begitu aja. Terlebih lagi untuk alasan enggak masuk akal kaya gitu! Bisa di anggap enggak profesional nanti aku!" tolak Yudis tegas.


"Enggak masuk akal gimana Yud! Fitria itu jelas-jelas mengincar Afnan! Wanita penggoda seperti dia yang justru bakal membuat reputasi perusahaan kita hancur tau!" sanggah Sri tetap pada keyakinannya.


Yudis menggeleng, dia tetap pada prinsipnya. Meski dia sudah membaca gerak-gerik sekretarisnya yang menyukai sepupunya. Namun dia tak bisa memecat Fitria dengan alasan seperti itu.


"Aku minta maaf tante, tetap enggak bisa aku lakuin permintaan tante," tolak Yudis dengan tegas.


Sri mengepalkan tangan geram. Ternyata tak semudah itu membujuk seorang Yudis. Pemuda yang selalu dia anggap bergajulan dan tidak layak menjadi seorang calon pemimpin di perusahaan milik mantan mertuanya.


Dengan sinis Sri kembali mengejek Yudis dengan ucapan sarkasnya.


"Jelas kamu enggak berani ngambil keputusan! Kamu emang pengecut. Ingat Yudis, kamu hanya beruntung karena papah kamu memiliki saham terbesar di perusahaan ini. Tapi kalau lihat dari keahlian kamu, nyatanya kita harus berdoa supaya perusahaan ini akan tetap baik-baik aja di bawah kepemimpinan kamu ini," cibir Sri lantas berbalik pergi meninggalkan ruangan Yudis.


Yudis mendengus mendengarkan hinaan dari bibinya itu. Dia sudah biasa mendengar ucapan tajam dari ibu Afnan itu yang memang merasa cemburu dengan posisinya.


Andaikan Sri tahu, Yudis sendiri sebenarnya muak bekerja di belakang meja seperti ini. Semua ini bukan dunianya. Namun dia tak bisa mengelak begitu saja.


Apalagi jika dia teringat dengan ucapan ayahnya, yang berkata banyak orang yang bergantung nasib pada perusahaannya. Banyak ayah yang harus mencukupi kebutuhan anak-anaknya. Oleh sebab itu Yudis bertahan sampai dia yakin kalau ada orang lain yang lebih layak menggantikan posisinya.


Sebenarnya Yudis sendiri sudah sangat yakin dengan Afnan. Namun sangat di sayangkan sosok di belakang Afnanlah yang membuat dirinya takut melimpahkan kuasanya pada sepupunya itu.


Siapa lagi kalau bukan Sri. Andai sang bibi seperti seorang wanita paruh baya pada umumnya. Tentu dia tak segan meminta sang ayah agar Afnan saja yang menggantikan posisinya.


Dia takut jika kepemimpinan Afnan akan kembali di setir oleh Sri yang memang haus akan kekuasaan.


Terlebih lagi Yudis sangat paham dengan sifat Afnan yang sangat menyayangi ibunya itu. Yudis tidak menyalahkan, hanya terkadang dia merasa gemas dengan sikap Afnan yang di rasa terlalu lembek menurutnya.


"Aku enggak tau teguran seperti apa lagi yang harus Tuhan kasih buat tante agar sadar. Herannya kok bisa Afnan lahir dari rahim wanita seperti dia," monolog Yudis.

__ADS_1


Flasback off.


.


.


Tak berhasil membujuk Yudis. Sri memilih melanjutkan rencananya dengan menemui Brata dan Marla, orang tua Yudis.


Dia berharap saudara mendiang suaminya mau mengabulkan permintaannya. Meski dia tidak begitu yakin keinginannya akan mudah di dapatkan.


Sama seperti kedua tua Hari. Orang tua Yudis juga sebenarnya tidak terlalu menyukai Sri.


Namun mereka tak pernah menunjukkannya. Mereka hanya diam dan membatasi diri saja dengan ibunda Afnan itu.


"Loh mbak tumben datang ke sini, ada apa?" sapa Marla yang sebenarnya malas sekali harus berbasa-basi dengan iparnya itu.


"Brata ada Mar?" tanya Sri sambil melirik ke arah belakang iparnya.


"Mbak ada perlu sama mas Brata? Kalau begitu duduk dulu ya mbak, biar saya panggilkan," jawab Marla dan bergegas pergi meninggalkan iparnya.


.


.


Brata yang sedang membaca beberapa berkas di tangannya, tersenyum menyambut kedatangan istrinya.


"Ada apa? Kok mukanya di tekuk gitu?" tanya Brata lembut.


"Di depan ada mbak Sri pah. Mau apa sih dia ke sini, mual aku harus basa-basi ma dia," keluh Marla.


Brata terkekeh mendengar gerutuan istri tercintanya. Dia lantas bangkit berdiri dan mendekati sang istri.


"Ayo kita temui dia. Biar dia cepet pulang juga. Papah enggak mau istri papah yang cantik ini harus di tekuk mukanya," ajak Brata sambil merangkul pinggang sang istri.


"Males banget aku kalau ngobrol ma dia. Enggak ada faedahnya sama sekali. Dia itu sombong dan bermulut tajam!"


"Sabar. Makanya kita harus langsung cari tahu apa keperluannya. Enggak mungkin dia tiba-tiba datang ke sini kalau enggak ada maunya," jawab Brata santai.


Namun berbeda dengan Marla yang justru merasa tegang. "Aduh, kira-kira dia minta apa ya Pah? Jangan-jangan minta sumbangan buat acara pernikahannya si Afnan!"


Brata hanya mengedikkan bahu, sebab dia sendiri merasa penasaran dengan tujuan mantan kakak iparnya mendatangi kediamannya.


"Kamu jangan asal kasih aja ya Pah, awas! Enggak inget kamu waktu dia minta bantuan buat pengobatan si Afnan. Buat anak sendiri aja pelitnya enggak ketulangan. Harta masih banyak tapi takut di jual padahal demi kesembuhan anaknya. Dia malah milih ngemis ke kita-kita," gerutu Marla yang semakin menampakkan ke tidak sukaannya pada Sri.

__ADS_1


"Kamu jangan marah-marah terus, kita dengar dulu apa maunya dia," putus Brata.


Keduanya berjalan bersamaan menemui Sri. Sri yang melihat kemesraan keduanya sedikit merasa cemburu sebab dia sudah tak bisa melakukan hal seperti yang di lakukan Brata dan Marla.


"Sri silakan duduk. Tumben datang kemari? Ada perlu apa?" tanya Brata langsung.


Brata memang tidak pernah memanggil Sri dengan panggilan mbak atau kakak, sebab umur Sri selain di bawahnya, wanita itu juga dulunya adalah pembantu di rumah orang tuanya.


Sri sebenarnya merasa sebal dengan panggilan adik iparnya. Seluruh keluarga inti mertuanya memang seperti terpaksa menerimanya. Namun Sri tak peduli, asal semua tujuannya terpenuhi, dia tak perlu harus merasa di hormati oleh saudara-saudara mendiang suaminya.


"Aku ada perlu sama kamu Brata. Tolong kamu pecat sekretaris Afnan yang bernama Fitria itu. Dia bisa mengacaukan hubungan anakku dengan Norma," jawab Sri cepat.


"Kamu tau kan, aku berharap Afnan bisa segera menikahi Norma. Selain demi putraku sendiri, ini juga demi bisa melebarkan sayap perusahaan kita. Kamu jelas setuju, kalau Afnan bisa memimpin perusahaan milik keluarga Norma. Perusahaan kita akan berkembang semakin pesat," bujuk Sri antusias.


Sayangnya Brata hanya bisa tersenyum tipis mendengar penjelasan Sri yang sangat menggebu-gebu itu.


Sri hanya di butakan oleh pemikiran bahwa anaknya akan bisa jadi pemimpin tanpa tahu seperti apa perusahaan yang sedang dia bicarakan.


Apalagi ucapan Sri yang mengatakan bisa membuat perusahaan yang tengah di pimpinnya bisa melebarkan sayapnya, tentu membuat lelaki paruh baya itu hendak mengeluarkan tawanya yang sejak tadi berusaha dia tahan.


Sri benar-benar tengah di bodohi oleh angannya sendiri pikir Brata.


Dia pikir perusahaan milik keluarga Norma itu besar hingga bisa di sama kan dengan perusahaan milik keluarga besarnya.


Sri benar-benar tak tahu bagaimana kondisi perusahaan itu yang hampir kolaps.


"Kamu masih aja ambisius ya Sri," jawab Brata sarkas.


"Apa maksud kamu? Kamu iri dengan kenyataan anakku yang bisa menikah dengan anak pemilik perusahaan?" sela Sri pongah.


"Hei dengarnya ya Brata, aku melakukan semua ini demi perusahaan kita. Aku dan Afnan bekerja keras agar perusahaan kita bisa berkembang pesat. Bukan seperti anakmu yang urakan itu. Dia jadi pemimpin juga hanya karena beruntung sebab kamu memiliki saham besar di sana!" ejek Sri.


"Lancang! Tutup mulutmu pembantu sialan! Sejak tadi aku dengar kamu selalu menyombongkan diri, kamu lupa dari mana kamu berasal Hah!"


"Ingat Sri, di mata kami kamu tetap pembantu keluarga kami. Mengenai status, kamu hanya merasa ingin agar keberadaanmu di lihat, tanpa peduli apa yang putramu rasakan karena keegoisanmu," balas Marla sengit.


.


.


.


Tbc

__ADS_1


__ADS_2