
Triya mendudukkan dirinya dengan tegak di bantu sang suami yang menegakkan ranjangnya.
Dia sudah mengira kalau sahabat madunya pasti akan membela wanita itu.
"Baiklah, karena kamu sahabatnya, maka aku akan bicara jujur sama kamu," ucapnya datar.
Alawiyah yang tak mengira akan mendapat tanggapan seperti ini, menjadi semakin yakin kalau Triya pasti memiliki rencana busuk, karena sudah mendapatkan apa yang dia inginkan.
"Kamu sudah tau pastinya kalau aku sendiri tengah mengandung. Benar dulu aku meminta Salimah agar mau mengandung anak kami—“
"Tapi seperti yang kamu lihat. Ternyata Tuhan lebih memilih menitipkan anak di rahimku sendiri kala tau kalau kondisi Salimah dan anaknya yang tak sempurna."
Ucapan Triya benar-benar seperti manusia yang tak memiliki hati. Mereka berpikir jika kondisi anak bisa di tentukan oleh Salimah.
Lagi pula itu semua baru prediksi Dokter Setyo, beliau juga belum mengecek dengan lebih mendetail.
Namun tetap saja Triya berpikir apa yang teman Dokternya katakan adalah mutlak, hingga mereka berpikir melepaskan Salimah dan anaknya karena tak sesuai dengan keinginan mereka.
Benar-benar tak punya hati dan perasaan. Jendral yang merasa ucapan sang istri sedikit keterlaluan merasa tak enak hati pada Alawiyah.
"Bun, jaga ucapanmu," tegur Jendral.
Alawiyah menatap sinis pasangan suami istri yang menurutnya tak memiliki hati nurani.
__ADS_1
"Bagaimana pun anak dalam kandungan Salimah adalah anakmu, apa kamu enggak punya harga diri dengan selalu mengikuti keinginan istrimu yang tak memiliki hati ini?" tuding Alawiyah pada Triya.
"Apa jadinya kalau ibu kamu tahu kalau Salimah juga mengandung anakmu?" ancamnya.
"Jangan ikut campur urusan keluarga kami. Ingat Al, kamu hanya orang luar. Aku akan menuruti Salimah kalau dia memang mau menggugurkan anaknya agar tak menghalanginya," ucap Triya tiba-tiba.
"TRIYA!" bentak Jendral murka.
Dia tak menyangka istrinya akan berpikiran sepicik ini. Dia tau sang istri hendak menyudahi hubungan mereka yang rumit.
Namun mau bagaimana pun Jendral sudah memikirkan sendiri nasib anaknya yang ada pada Salimah.
Dia tak akan pernah lepas tanggung jawab pada anaknya Salimah, semua sudah dia pikirkan matang-matang, meski kelak harus sembunyi-sembunyi dari istrinya.
"Maaf ya Al, kata dokter aku enggak boleh stres. Aku ngga mau bahas lagi, syukur-syukur kamu bisa jelasin ke Salimah dengan kata-katamu yang baik menurutmu."
"Kamu benar-benar gila! Dasar iblis!" umpat Alawiyah.
Ingin sekali dia menerjang tubuh Triya dan menghajarnya habis-habisan. Dia tak mengira ada manusia sekejam Triya di muka bumi ini.
Kalau saja dirinya tak mengerti hukum tentu apa yang ada di pikirannya saat ini akan segera dia lampiaskan.
"Tolong kamu keluar ya. Kamu pasti enggak paham apa yang kami rasakan jadi, percuma juga aku menjelaskan," usir Triya lalu menutup matanya.
__ADS_1
Alawiyah mengepalkan tangannya lalu keluar dari ruangan Triya. Bisa-bisa dia menghajar Triya kalau tak segera keluar dari sana.
Jendral menyusul Alawiyah, sebab dia tak ingin Alawiyah berkata apa-apa dulu pada Salimah.
Biarlah nanti dia yang menjelaskan pada istri keduanya itu tentang keinginan Triya.
"Tunggu Al!" panggil Jendral.
Tadi dirinya sempat ribut dengan sang istri yang menolak di tinggalkan begitu saja olehnya.
Namun Jendral berkata kalau dia harus meluruskan semuanya. Dia tak memedulikan teriakan sang istri yang mencegahnya bertemu dengan Alawiyah.
"Apa lagi? Kamu sama istri kamu itu punya otak enggak sih! Segampang itu kalian mau buang Salimah mentang-mentang istri kamu udah hamil HAH!" bentaknya.
"Jangan dengarkan ucapan Triya. Dia hanya sedang khawatir aja. Aku tetap akan bertanggung jawab pada anak itu, bagaimana pun anak Salimah adalah darah dagingku."
"Aku butuh bantuanmu untuk menjauhkan Salimah dari Triya setelah ini ya Al. Sebisa mungkin aku akan tetap tanggung jawab dengan keadaan dia," pintanya.
Alawiyah yang mendengar ucapan Jendral hanya mendengus, melihat bagaimana Jendral sangat patuh pada Triya membuatnya tidak yakin.
"Aku memang akan menjauhkan dia dari orang-orang tak punya hati seperti kalian!" sentaknya lantas berlalu meninggalkan Jendral.
__ADS_1