Anakku Hanya Milikku

Anakku Hanya Milikku
Bab 7


__ADS_3

Sesuatu yang di takutkan oleh Salimah terjadi. Dengan tak memiliki perasaan ibu mertuanya sudah melayangkan gugatan cerai untuknya.


"Ibu mertua Mbak Salimah sengaja menitipkan ini pada saya, karena beliau tau kalau kita pasti masih berhubungan," ucap Tuti di seberang sana.


Air mata Salimah luruh seketika. Bagaimana kehidupannya nanti. Dia tak memiliki siapa pun selain suaminya.


"Terima kasih ya Tut, tanggal berapa sidangnya?" dengan suara bergetar Salimah bertanya.


Dalam hati berkata apa bisa dia menang melawan sang mertua yang sangat membencinya?


"Sekitar satu minggu lagi Mbak," jawab Tuti.


Sebagai seorang wanita Tuti paham apa yang saat ini tengah di rasakan oleh mantan tetangganya.


Sedih, hancur dan yang pasti terluka karena di paksa pisah dengan orang yang kita sayangi seperti ini.


Salimah mematikan ponselnya setelah mengetahui tanggal persidangannya. Dia menghela napas berat.


Ke mana dia akan pergi sekarang? Uang tak ada, saudara apa lagi.


Sedang termenung, tiba-tiba dia kembali di kagetkan dengan suara sahabatnya— Triya.


"Kamu kenapa Sal?" tanyanya heran.


Salimah yang merasa sungkan menggeser duduknya agar Triya bisa duduk di sampingnya.


Dia ingat perdebatan mereka saat di rumah wanita itu tadi. Hanya Salimah tak menyangka kalau Triya bisa kembali menemuinya.


"Maafkan atas sikapku tadi. Benar kata suamiku kalau aku tak bisa memaksamu," lirih wanita berambut panjang itu.


"Kamu enggak salah Ya, wajar kalau kamu berharap. Maafkan aku yang enggak bisa bantu," jawab Salimah sungkan.


"Enggak papa, aku udah berdamai dengan hatiku. Mungkin memang sudah seharusnya aku menerima madu pilihan mertuaku," ucap Triya.

__ADS_1


Salimah merasa kasihan, pasti berat menjadi Triya yang di paksa berbagi dengan wanita lain. Padahal nasibnya sendiri bahkan lebih memprihatinkan.


"Ya sudah aku permisi dulu ya Sal," ujar Triya sambil bangkit berdiri.


Salimah hanya mengangguk, dalam hati dia tengah bimbang, apa dia harus menerima tawaran Triya? Sebab dia sedang merasa terdesak saat ini.


"Triya tunggu!" sergah Salimah saat Triya sudah berada di samping mobilnya.


"Ada apa Sal?" herannya.


"A-apa tawaranmu masih berlaku?" lirihnya.


Hati Triya membuncah, tak sia-sia dia mengikuti Salimah. Dia yakin kalau Salimah pasti akan merubah keputusannya.


Namun demi sebuah misi, dia menampilkan wajah bingungnya.


"Kamu bicara apa Sal? Aku yakin kamu ngga memikirkan panjang keputusanmu. Kamu tau setelah setuju kamu ngga bisa mundur," tantang Triya.


Salimah mengangguk pelan. Meski hati menjerit, tapi ia tak punya pilihan. Tak mungkin ia mengorbankan sang putra demi harga dirinya.


Lagi pula hanya sembilan bulan, setelah itu dia berharap bisa kembali hidup normal bersama suaminya.


Ia yakin sang suami akan membelanya seperti dulu. Sang suami pasti akan tetap mempertahankan dirinya.


Begitulah harapan Salimah.


"Baiklah, ayo kita pulang, tenang kan dirimu dulu, kamu terlihat kacau," ajak Triya.


Salimah memantapkan diri, saat ini hanya Triya dan suaminya yang mungkin bisa membantunya.


Keduanya kembali ke kediaman Triya. Jendral terkejut mendapati sang istri membawa kembali Salimah pulang.


"Mas," sapanya dengan wajah ceria.

__ADS_1


Jendral sudah merasa cemas dengan raut wajah sang istri. Ia yakin sang istri mendapatkan apa yang dia inginkan.


"Kamu tidur kan dulu Rino di kamar Sal, setelah itu kita bicara di sini," pinta Triya yang di balas anggukan oleh Salimah.


Salimah tak menyapa Jendral, dia memilih segera melakukan apa yang di inginkan Triya agar dia juga bisa mendapatkan apa yang dia inginkan.


"Ada apa ini Ya?" tanya Jendral heran.


"Salimah setuju Mas. Harapan kita akan jadi kenyataan," balasnya santai.


"Apa kamu sengaja pergi ngikutin dia tadi?" bisik Jendral.


Triya mengangguk, memang dia sengaja mengikuti Salimah pergi. Bahkan dia juga yang membayar preman pasar untuk mencopet dompet sahabatnya.


Semua tidak sia-sia. Dengan keadaan terdesak seperti ini bukan kah dia mendapatkan apa yang dia inginkan?


"Apa yang kamu lakukan?" selidik Jendral menatap penuh curiga.


Pembicaraan keduanya terhenti kala Salimah datang menemui pasangan suami istri itu.


Salimah duduk menghadap keduanya. Gugup tentu saja, tapi ia sudah menentukan pilihan dan tidak bisa mundur lagi.


"Bisa kah aku minta tolong dengan kalian?" ucap Salimah.


Triya memandang suaminya bingung, dia juga cemas dengan apa yang akan di minta Salimah pada mereka.


"Kamu butuh apa Sal?" tanya Triya lembut.


"Carikan aku pengacara."


.


.

__ADS_1


.


Tbc


__ADS_2