
Afnan pulang dengan perasaan bahagia, meski niatnya untuk berbincang dengan Salimah tak terpenuhi, karena ternyata mantan istrinya itu memilih untuk istirahat, tapi dirinya senang sebab Salimah bersedia pergi dengan dirinya.
"Apa suaminya mengizinkan ya? Tapi kenapa Salimah langsung setuju, tanpa bilang harus tanya dulu dengan suaminya?" Afnan menggelengkan kepala bingung.
Dia juga masih merasa penasaran tentang siapa suami Salimah. Tak sekali pun dia pernah bertemu dengannya.
Dari penyidikan anak buahnya juga tak pernah ada tanda-tanda seorang lelaki di kediamannya.
Apa benar berita yang selentingan dia dengar jika Salimah adalah seorang istri kedua?
Hendak menanyakan kepada sang putra juga rasanya tak pantas, sedangkan Fitria masih dengan jawabannya yang sama, dia tak berani memberikan jawaban apa-apa, membuat rasa penasaran Afnan semakin membuncah.
"Ah, terserahlah, aku hanya berniat membahagiakan Rino aja," sambungnya.
Ketukan di pintu kamarnya, membuat Afnan bangkit untuk membukanya.
Terdengar suara sang ibu yang memanggil namanya.
"Nan, keluar dulu, mamah mau ngomong sesuatu," pinta Sri pada putranya.
Afnan mengangguk lantas menggandeng sang ibu untuk duduk di ruang keluarga.
"Kamu akhir-akhir ini sering pulang telat, ke mana aja?" cecar Sri.
Sepengetahuan Sri, Afnan selalu pulang terlambat dari kantornya meski tak lama, para anak buah yang di minta memata-matai sang putra juga mengatakan jika Afnan memang berada di kantor.
Mereka tak tahu saja jika Afnan mengelabui mereka dengan pergi menggunakan mobil lain untuk ke rumah Salimah dan kembali ke kantor lagi untuk mengambil mobilnya, barulah dia akan pulang.
"Afnan kan kerja mah, tau sendiri keponakan mamah itu udah uring-uringan karena ingin bebas pergi ke mana aja lagi!" jawab Afnan sambil terkekeh.
Sri menggeleng, dia merasa tak adil, putranya yang terlihat lebih kompeten harusnya yang lebih pantas menjadi pemimpin perusahaan keluarga besar mantan suaminya.
Namun ini justru anak yang dia anggap urakan yang akan menggantikan posisi adik suaminya hanya karena mereka memiliki saham terbesar di sana.
"Mau jadi apa perusahaan itu kalau di pimpin sama si Yudis!" gerutu Sri.
Afnan menghela napas, sang ibu tidak tahu bagaimana hebatnya sang sepupu menghandle pekerjaannya.
Meski terlihat urakan karena memiliki jiwa petualang. Namun Yudis seorang yang cerdas dan kompeten di perusahaan. Semua idenya sangat mengagumkan, dia mewarisi bakat sang ayah di sana.
Hanya satu sifat bosanannya saja yang membuat lelaki itu mudah sekali merasa jenuh dengan rutinitas kantor.
__ADS_1
"Dia itu pintar dan cekatan mah, wajarlah kalau jadi pengganti om Brata. Kalau bukan karena Yudis perusahaan akan ketinggalan dengan perusahaan lain," jawab Afnan membanggakan sang sepupu.
Sri mencebik, tetap saja baginya lebih baik sang putra yang memimpin, karena dia akan sangat senang bisa membanggakan putranya.
"Mamah ada apa mau ngajak Afnan ngobrol? Apa cuma mau ngomong tentang Yudis aja?"
"Eh sampai lupa kan. Mamah mau tanya, apa kamu enggak bisa ganti sekretaris aja Nan? Terus terang mamah pusing sama aduan Norma yang selalu cemburu dengan sekretaris kamu itu!" keluh Sri.
"Mamah tau sendirikan kalau Fitria hanya bekerja di kantor. Norma aja yang pencemburu buta. Justru aku yang jengah dengan kelakuan Norma mah, mamah tau sendiri dia selalu mengganggu pekerjaan Afnan. Makanya Afnan sering lembur karena ya itu dia ngerecokin mulu," adu Afnan.
Sri menghela napas, dia yakin dengan ucapan sang putra. Hanya saja dia tak mau kehilangan tambang emasnya.
Menikahkan Afnan dan Norma adalah salah satu target yang ingin dia realisasikan.
Norma yang orang tuanya memiliki perusahaan jelas sangat menggiurkan bagi Sri.
Karena Norma anak tunggal, sudah pasti kepemimpinan akan jatuh pada wanita itu.
Setelah menikah nanti, Sri akan meminta pada Norma untuk menyerahkan kepemimpinan perusahaannya pada putra saja.
Lagi pula Norma juga setuju, sebab wanita itu juga malas meneruskan perusahaan sang ayah.
Meski perusahaan kecil tapi bagi Sri jika mengemban jabatan sebagai pemimpin maka akan membuat dirinya bangga.
"Mah, mah, mau kerja di perusahaan kakek atau di perusahaan Ayahnya Norma sama aja mah, aku tetep pekerja. Tetep seorang kuli. Bedanya aku berdasi aja," jawab Afnan santai.
"Kamu ini, iya mungkin kamu kerja dulu, tapi mamah yakin lama-lama perusahaan itu pasti jatuh ke tanganmu!" ucap Sri cemberut.
"Mah, walaupun aku ini suami Norma, perusahaan itu akan tetap milik Norma. Kalau ada apa-apa dengan hubungan kami, tetap aku yang di depak, mamah pikir aku bisa memiliki perusahaan Norma semudah itu? Tolonglah mah, berpikirlah yang logis," keluh Afnan.
"Kalau mamah mau aku jadi pemimpin doakan aja Afnan bisa membangun usaha Afnan sendiri. Sesuatu yang di dapatkan secara instan enggak akan pernah bertahan lama mah," sambungnya.
Sri hanya diam tak menjawab. Dia tetap berpikir akan mampu mengendalikan Norma seperti kemauannya.
Kalau pun perusahaan itu milik Norma, dia bisa membuat menantunya itu menyerahkan perusahaannya pada sang putra. Begitu pikirnya.
.
.
Di kediaman Norma, ayah Norma yang bernama Subhan merasa pusing menghadapi kemelut permasalahan perusahaannya.
__ADS_1
"Norma! Gimana sama si Afnan, kenapa hubungan kalian lambat sekali?" keluh Subhan kesal.
"Ya sabar dong pah, mau maksa gimana coba! Lagian papah kenapa sih marah-marah mulu?" jawab Norma sebal.
"Kepala papah ini rasanya mau pecah loh Nor, papah udah berharap penuh kalau Afnan bisa menggantikan posisi papah dan yang pasti dengan saham yang dia miliki di Palm grup, dia pasti bisa membantu keuangan perusahaan kita,” jelas Subhan.
"Emang perusahaan kita sangat kacau ya pah? Kalau nanti mas Afnan menolak gimana?" tanya Norma khawatir.
"Ya itu tugas kamu buat ngeyakinin dia, kalau perusahaan ini akan di ambil alih kepemimpinan sama dia. Papah yakin dia tergiur. Nyatanya ibunya aja di iming-imingi kaya gitu tergiur."
"Pah, papah tau sendiri mas Afnan enggak bodoh. Kalau dia harus mengurus perusahaan yang hampir tumbang, pasti dia menolak pah."
"Kamu ini, usaha aja dulu, lagian kamu papah suruh gaet anak dari perusahaan Gemilang Group malah gagal! Cuma Afnan harapan kita. Yang papah tau saham miliknya dan ibunya lumayan besar di Palm Group, bisalah mereka ambil untuk membantu kita nanti!"
"Ah entahlah Pah. Aku aja pusing, mas Afnan seperti semakin menjauhi Norma. Kenapa papah enggak biarin Norma sama Medi aja sih! Dia juga kan pekerja keras, Norma yakin Medi juga pasti mampu membesarkan perusahaan kita."
Norma sendiri lelah dengan tekanan orang tuanya. Dia yang awam dengan perusahaan tak mengerti mengapa perusahaan milik ayahnya itu semakin menurun saja.
Bahkan pengurangan karyawan juga sudah di lakukan tapi tetap tak bisa membangkitkan perusahaannya.
Saat dulu perusahaan itu di pegang oleh pamannya, perusahaannya sangat berkembang pesat. Namun setelah perseteruan antara paman dan ayahnya lalu perusahaan jatuh ke tangan sang ayah, justru perusahaan itu mengalami kemunduran, sedangkan perusahaan baru sang paman makin berkembang.
Norma yakin ayahnya hanya bisa berambisi menjadi pemimpin tanpa benar-benar bisa menjadi seorang pemimpin. Pantas saja dulu sang kakek lebih memilih pamannya yang notabenenya adik sang ayah untuk memimpin perusahaan mereka.
Norma kesal, dia merasa di jadikan tumbal sang ayah untuk selalu bisa menggait anak para pengusaha agar bisa membantu bisnis sang ayah.
Dia bahkan harus meninggalkan Hari, saat sang ayah tahu jika ternyata Hari tak memiliki saham sedikit pun di perusahaan kakek mereka.
"Medi itu hanya pekerja! Yang kita butuh kan saat ini adalah saham. Sekarang aja banyak pemegang saham yang mulai meninggalkan perusahaan kita, karena mereka merasa profit kita kurang memuaskan!"
"Kalau enggak bisa Afnan. Cobalah mendekati Yudis, dia itu tambang emas kita andai kamu bisa mendapatkan dia. Selain calon pengganti ayahnya. Papah yakin saham dia pasti yang paling besar," saran Subhan.
Norma memutar bola matanya malas. Papahnya tak pernah tahu bagaimana sikap laki-laki itu padanya.
Bukan hanya tak suka, tatapan Yudis padanya terlihat seperti jijik.
.
.
.
__ADS_1
Tbc