Anakku Hanya Milikku

Anakku Hanya Milikku
Bab 49


__ADS_3

Afnan menemui Hari di rumahnya. Tentu saja dia di sambut hangat oleh bibinya yang membukakan pintu.


Meski sang ibu selalu berselisih paham dengan orang tua Hari. Namun sikap paman dan bibinya tak pernah berubah padanya.


Terkadang Afnan merasa malu, sebab dirinya selalu menuruti permintaan sang ibu untuk menjauh dari keluarga Hari.


"Apa kabar kamu Nan? Tumben datang ke sini ada apa?" tanya Hana lembut.


Ibunda Hari yang terlebih dahulu bertanya padanya. Sebenarnya Afnan agak sungkan berbicara dengan tantenya, karena dia sangat tahu bagaimana kelakuan sang ibu yang selalu menyakiti hati wanita itu.


"Saya mau ketemu Hari tante, apa dia udah pulang?" tanya Afnan langsung.


Dia sengaja langsung datang ke rumah Hari selepas pulang bekerja. Dia ingin menanyakan sesuatu pada sepupunya itu.


"Ada, baru aja pulang, dia lagi bersih-bersih kayaknya," jelas Hana.


"Ada apa? Apa ini terkait dengan Norma?" tebak Hana khawatir.


Entah apa yang di pikirkan kakak iparnya itu yang mau menjodohkan anaknya dengan mantan tunangan putranya.


Kalau pun Afnan berpisah dari Salimah, harusnya sang kakak ipar mencari pengganti yang lebih baik, bukan malah menikahkan Afnan dengan perempuan mata Duitan seperti Norma.


"Bukan tante, saya mau bahas masalah Salimah," jawab Afnan malu.


"Salimah? Kenapa dengan mantan istrimu itu? Jangan bilang kamu mau kembali sama dia Nan?" cecar Hana.


"Mah, Afnan?" panggil Hari saat keluar dari kamarnya.


Rumah Hana dan Bastian yang sederhana membuat Hari dapat dengan jelas mendengarkan obrolan ibu dan tamunya.


"Hari?" panggil Afnan sambil bangkit berdiri.

__ADS_1


"Mau apa lagi Nan? Bukannya udah aku jelasin kalau bukan aku suami Salimah?” ucap Hari datar.


Hana yang bingung lantas menatap Afnan meminta penjelasan dari keponakannya.


"Ada apa ini Nan? Kamu nuduh Hari jadi suami mantan istrimu?" cecar Hana tak terima.


"Maafin Afnan tante. Saat itu kami hanya salah paham aja, makanya Afnan datang ke sini mau mencari tau tentang Salimah dan anak kami."


"Mah tinggalin kami dulu," pinta Hari pada ibunya.


"Baiklah, bicarakan baik-baik. Selesaikan masalah kalian dengan kepala dingin. Mamah akan buatkan minum dulu," ujar Hana lantas berlalu pergi.


"Ada apa lagi Nan?"


"Maafin aku Har. Aku mau minta tolong sama kamu. Di mana Salimah tinggal? Siapa suaminya sekarang?" tanya Afnan sendu.


Hari menarik napas panjang. Sejujurnya dia merasa iba pada kedua orang yang masih saling mencintai itu, tapi harus berpisah karena keegoisan dari bibinya.


Afnan terkesiap, dia tahu sang sepupu merasa kecewa padanya. Namun Afnan berharap, setidaknya sang sepupu mau mengerti keadaannya.


Jika Hari menjadi dirinya apa sanggup lelaki itu tak berpikiran buruk pada orang yang di cintainya telah mengandung benih lelaki lain? Pikirnya.


Namun Afnan tak ingin berasumsi sendiri, dia hanya butuh kejelasan tentang kondisi Salimah dan putranya.


"Andai kamu jadi aku, apa bisa kamu berpikir yang baik-baik Har? Saat kamu tengah berjuang antara hidup dan mati dan setelah melaluinya kamu di hadapkan pada kenyataan telah di tinggalkan oleh orang yang kamu cintai? Tolong mengerti aku sedikit," pinta Afnan.


Hari membuang muka, apa yang di ucapkan Afnan ada benarnya. Situasi keduanya yang membuat mereka berasumsi dengan pikiran mereka masing-masing.


Jadi Hari mengalah dan mendengarkan apa yang ingin di sampaikan sepupunya.


"Apa yang bisa aku bantu?" tawar Hari akhirnya.

__ADS_1


"Aku yakin kamu tahu di mana Salimah dan Rino tinggal. Aku ingin bertemu mereka. Menanyakan apa yang sebenarnya terjadi pada hubungan kami," jawab Afnan semangat.


"Untuk apa? Aku takut justru ini adalah jalan lain yang akan membuat ibumu kembali menyakiti Salimah dan Rino lagi,” elak Hari.


"Biarkan mereka tenang Nan, lagi pula kamu bukannya akan menikah? Lepaskan Salimah dari belenggu ibumu. Bukannya kamu sendiri yang enggak bisa tegas dengan ibumu yang selalu menyakiti Salimah kan, jadi lebih baik kalian enggak usah bertemu lagi," sindir Hari telak.


"Aku tau, makanya aku ingin meminta maaf sama dia Har. Aku juga merindukan Rino. Tolong pertemukan aku dengan mereka. Hanya kamu harapanku," pinta Afnan penuh harap.


Pembicaraan mereka terhenti kala ponsel Afnan berdering. Tertera nama sang ibu di layar. Afnan hanya bisa menarik napas panjang sebelum menjawab rentetan pertanyaan ibunya.


"Halo Mah?"


"Kamu di mana Afnan? Kenapa belum pulang? Mamah memang membebaskan kamu bekerja, tapi jangan semena-mena begini!" pekik Sri kesal.


"Mah, Afnan masih ada kerjaan, tolong ngertiin keadaan Afnan," balas Afnan berdusta.


"Benarkah? Ingat Nan, jangan bohongi mamah! Apa lagi kalau kamu sampai mencari Salimah. Mamah enggak rela!" ancam Sri lalu memutus panggilannya.


Afnan menatap layar ponselnya dengan nanar, sang ibu benar-benar mengekang kebebasannya.


Hari yang sedari tadi mendengarkan obrolan keduanya hanya menggeleng tak percaya dengan sikap ibunda Afnan itu.


"Gimana aku mau nolongin kamu Nan, kalau pada akhirnya kita mempertaruhkan keselamatan Salimah dan Rino?" tanya Hari


.


.


.


Tbc

__ADS_1


__ADS_2