
Afnan sudah berdandan dengan rapi. Dia sudah tak sabar ingin pergi bersama anak dan mantan istrinya.
Dia membayangkan kejadian dulu saat keluarga mereka masih utuh. Membayangkan kebersamaan mereka, membuat sudut hati lelaki tampan itu berdenyut nyeri.
Takdir benar-benar telah mempermainkan hidup mereka.
"Loh Nan, kamu udah di rumah?" tanya Sri heran. Sebab yang dia tahu saat putranya pergi mengajak Norma. Orang tua Norma berkata andaikan malam ini anak-anak mereka tidak pulang, Ratna meminta Sri untuk tak khawatir sebab mereka mengerti pacaran anak muda jaman sekarang.
Meski tak begitu setuju dengan pemikiran calon besannya. Namun Sri berusaha berbesar hati demi sebuah tujuan yang sudah dia harapkan.
Afnan mengernyit heran dengan ucapan ibunya. "Kenapa mamah tanya begitu?"
Sri gelagapan, tapi kembali berusaha menenangkan diri. "Ya mamah kira kamu menghabiskan waktu bersama Norma agar bisa saling mengenal lebih dekat. Ya mamah maklumi lah gaya pacaran anak sekarang kan beda sama jaman dulu."
"Maksud mamah, mamah membolehkan aku bergaul secara bebas? Dengan wanita yang belum halal aku sentuh?" selidik Afnan.
"Eh enggak sampai kaya gitu maksud mamah. Ya maksud mamah, kalian ngobrol apa hangout ke klub-klub malam begitu," elak Sri yang tahu kalau anaknya sangat memegang teguh ajaran agamanya, seperti mendiang suaminya.
"Ya enggaklah, mamah ngaco aja kalau ngomong. Mana pernah aku ke tempat begituan. Aku udah terlambat." Afnan memilih menyudahi obrolan mereka Karena tak mau perjalanannya terjebak macet. Sebab tempat wisata yang hendak di kunjungi berada di luar kota.
"Emang kamu mau ke mana minggu-minggu kaya gini?" cecar Sri curiga. Sudah lama dia tak memata-matai sang putra karena Afnan tak menunjukkan gelagat mencurigakan.
Tak lama Yudis datang dan di sambut senyuman oleh Afnan. Ya, Afnan memang meminta bantuan sepupu sekaligus atasannya itu agar bisa menghabiskan waktu bersama dengan Salimah dan putra mereka.
Yudis pun setuju meski ada harga yang harus Afnan bayar mahal, yaitu Afnan harus mengerjakan pekerjaan miliknya selama seminggu ke depan.
Afnan tak mempermasalahkannya, setidaknya dia ingin kembali merasakan kehangatan keluarga kecilnya seperti dulu.
"Loh Yudis? Kalian ada janji?" tanya Sri setelah keponakannya itu menyalami dirinya.
"Kami mau meninjau proyek tante. Ya udah yuk Nan dah kesiangan ini," ajak Yudis yang tak mau lebih lama di interogasi bibinya.
Sri bernapas lega, sempat ada pikiran buruk dalam benaknya saat sang putra mendadak hendak pergi di hari liburnya. Baru saja dia akan menghubungi mata-mata yang biasa dia sewa untuk mengikuti putranya.
Namun kedatangan Yudis menampik pikiran buruknya.
"Baiklah, kalian hati-hati ya," ucap Sri melepaskan kepergian keduanyan.
.
.
__ADS_1
"Makasih ya Dis, kamu udah bantu aku," ucap Afnan tulus.
Yudis menghela napas panjang. "Enggak masalah Nan. Tapi kamu tau kan enggak selamanya kamu bisa kucing-kucingan terus sama tante Sri. Kamu harus tegas. Kalau emang kamu enggak di izinkan bertemu Salimah. Senggaknya kamu harus tegas mengenai Rino. Dia punya hak untuk dapat kasih sayang dan perhatian kamu Nan!" jawab Yudis.
"Aku tau, tapi aku harus pastiin mereka aman dulu. Kamu tau bagaimana gilanya mamah aku kalau kemauannya enggak di turuti," jelas Afnan.
"Ya, aku setuju, bahkan kemarin tante mencak-mencak di rumahku gara-gara papah enggak mau pecat si Fitria," keduanya terkekeh mendengar tingkah absurd dari Sri.
Afnan mengantar Yudis ke tempat tujuannya terlebih dahulu sebelum berjalan menuju kediaman Salimah.
Dia sudah di sambut oleh Rino bersama dengan Iyem yang memang tengah menunggu kedatangan Afnan.
"Pagi sayang," sapa Afnan pada putranya. Rino bergegas lari dan memeluk sang ayah.
"Papah datang. Rino kirain enggak jadi," celoteh bocah berusia lima tahun itu.
"Enggak mungkin papah enggak dateng dong. Ayo, mamah mana?!"
"Saya panggil mbak Salimah dulu ya pak," ujar Sri undur diri.
Afnan berharap tidak ada Fitria yang akan mengganggu kebersamaan dirinya dan keluarga kecilnya.
Sungguh perhatian dan segala tingkah Fitria membuat Afnan sedikit jengah.
Seorang laki-laki berperawakan sama dengannya turun dan menatap Afnan heran.
"Maaf, Anda siapa?" tanya Jendral pada lelaki yang tengah bermain bersama Rino.
Afnan bangkit lantas berhadapan dengan Jendral. Dia berpikir jika mungkin inilah suami Salimah.
Hatinya berdenyut nyeri membayangkan mantan istrinya itu memadu kasih dengan lelaki di hadapannya ini.
"Perkenalkan, saya Afnan papahnya Rino," sengaja Afnan tak menyebut dirinya mantan suami Salimah, sebab dia yakin lelaki di depannya itu paham siapa dirinya.
"Oh, saya Jendral—" belum sempat Jendral menjelaskan siapa dirinya, Salimah datang menyela perkenalan mereka.
"Mas Jendral?" tanya Salimah heran dengan kedatangan mantan suami keduanya.
"Kalian mau pergi?" tanya Jendral begitu meneliti penampilan Salimah dan juga mereka semua.
"I-iya mas, saya pamit ya Mas," ucap Salimah enggan menjelaskan lebih jauh.
__ADS_1
"Kamu mau meninggalkan bapak dan ibu?" cegah Jendral.
Bukan maksud lelaki itu menghalangi kepergian Salimah. Namun tenaganya benar-benar tak sanggup jika harus merawat bapak dan juga istrinya.
Saat ini saja dia memaksa Fitria untuk menunggui Darmono karena dia harus pulang mengambil keperluan ibu dan bapaknya.
Meski dia tahu Salimah tak bisa begitu di andalkan karena kondisinya yang tengah hamil besar. Namun melihat mereka justru ingin bersenang-senang kala bapaknya sedang terbaring lemah sungguh membuatnya kecewa
Jendral hanya meminta Salimah sedikit bersimpati pada kondisi keluarganya yang tengah tertimpa musibah, itu saja.
"Ma-af mas, kami udah merencanakan ini jauh-jauh hari. Aku takut mengecewakan Rino," jelas Salimah.
Afnan mengepalkan tangannya di dalam saku. Jelas dia merasa sakit hati dengan ucapan Jendral yang dia pikir adalah suami Salimah.
"Apa kamu belum tau kalau Triya juga mengalami kecelakaan?"
Salimah terkesiap, berita tentang kecelakaan Triya jelas membuatnya terkejut bukan main.
"Kapan dia kecelakaan mas?" tanya Salimah dengan tubuh bergetar.
"Kemarin sore," jawab Jendral membuat Salimah harus mendudukkan dirinya.
Apa Triya kecelakaan selepas pulang dari kediamannya? Pikir wanita hamil itu.
"Sal, kalau memang kamu sibuk, aku akan mengajak Rino aja. Kasihan kalau dia nanti kecewa," putus Afnan yang tahu kondisi keluarga mantan istrinya tengah kacau.
Salimah menengadah, menatap Afnan dan Jendral secara bergantian.
Bimbang tentu saja dia rasakan. Di satu sisi dirinya ingin menghabiskan waktu bersama orang-orang yang di cintainya itu. Namun di sisi lain dia takut di katakan kejam bila meninggalkan keluarga orang yang pernah menolongnya.
"Ya udah kami pamit ya Sal," ucap Afnan undur diri.
"Tunggu mas," cegah Salimah.
"Aku ikut," putus Salimah. Dia tak bisa kehilangan momen yang mungkin tidak akan dia rasakan lagi di kemudian hari.
Biarlah dia di katakan kejam dan tak tahu diri, setidaknya dia ingin merasa bahagia dan egois kali ini saja.
"Sal?" panggil Jendral kecewa karena Salimah lebih memilih bersenang-senang dengan mantan suaminya.
"Maafkan aku mas, pulang nanti aku bakal segera ke rumah sakit. Hanya kali ini aja. Aku harap mas Jendral mau mengerti," ucap Salimah lantas mendatangi Afnan dan juga Rino.
__ADS_1