
Subhan tersenyum sinis melihat keberadaan Afnan di kediamannya.
Dia yakin ada sesuatu yang di inginkan lelaki yang sempat di jodohkan dengan putrinya itu.
Sebagai seorang pebisnis yang berkecimpung di dunia hitam dan putih, dia menebak jika Afnan datang ke rumahnya bukan serta merta ingin berkunjung.
Andaikan bisa berharap, dia ingin lelaki di hadapannya ini meminta hubungan anaknya dan lelaki itu kembali bersama.
Namun dia sadar, semuanya terasa mustahil, terlebih lagi sang putri yang mengatakan dengan lantang jika Afnan sudah tau tentang kehamilannya.
"Ada apa kamu datang ke sini?" tanya Subhan yang sudah tak ada lagi sapaan ramah seperti yang selama ini selalu dia berikan.
"Saya cuma datang sesuai dengan keinginan ibu saya Pak Subhan. Meminta maaf dan melepaskan hubungan pertunangan kami secara baik-baik," jawab Afnan tenang.
Selama perjalanan dia memikirkan berbagai alasan yang akan dia utarakan pada Subhan dan Ratna. Namun hanya Subhan yang menyambutnya. Entah kemana ibunda Norma itu.
Subhan mendengus mendengar jawaban lelaki di hadapannya ini.
"Maafkan saya Pak Subhan. Saya yakin Anda pasti paham kenapa rencana pernikahan ini tak akan bisa di lanjutkan," sambung Afnan memancing Subhan.
Yudis sendiri melirik ke arah tangga di mana banyak sekali pengawal berjaga di sana. Dia yakin pintu di ujung tangga yang terdapat dua orang pengawal adalah kamar Norma.
Entah apa yang terjadi, Yudis tak terlalu peduli, hanya saja sambutan Subhan sungguh membuatnya tak nyaman dan ingin segera pergi dari sana.
"Memang apa yang membuatmu berpikir seperti itu? Kamu yakin Norma hamil? Kamu akan menyesal telah melepas Norma. Jelas banyak sekali anak dari kolega bisnisku yang lain yang ingin mempersuntingnya. Kau menyia-nyiakan waktuku!" Elak Subhan.
Dalam hati Afnan berdecih mendengar jawaban Subhan, tentu saja dia tahu. Mungkin Subhan tak tahu mengapa dirinya bisa dengan yakin mengetahui jika Norma tengah hamil anak orang lain.
Namun sekali lagi, Afnan malas menjelaskan sesuatu yang bukan urusannya. Dia malas menjawab ucapan Subhan.
Subhan bangkit berdiri, merasa percuma berbasa-basi dengan pemuda yang sudah tak dapat lagi dia gapai.
Afnan pun tau jika itu adalah tindakan pengusiran dirinya secara halus.
Afnan menghela napas pelan. Kedatangannya ternyata tak bisa memenuhi janji pada seorang lelaki yang sangat mencintai mantan tunangannya.
"Biarkan mereka bersama Pak Subhan. Pikirkan kembali kebahagiaan putrimu," ucap Afnan sebelum dia melanjutkan langkah meninggalkan Subhan yang terpaku sambil mengepalkan tangan.
Saat baru saja akan keluar dari kediaman Norma, betapa terkejutnya Afnan saat wanita yang menjadi tujuannya datang itu berteriak dari balkon kamarnya.
"Mas Afnan tolong mas Afnan. Tolong aku!" pekik Norma sambil melambai-lambaikan tangannya pada pegangan pagar.
Tak lama dua penjaga yang tadi berdiri di depan kamarnya masuk dan menarik wanita itu untuk kembali ke kamarnya.
__ADS_1
Afnan membeku, dia mencengkeram kemudi sangat kencang. Bimbang, pikiran itu menyeruak dalam benaknya sebelum seseorang memegang lengannya.
"Kita pulang Nan, ini di luar urusan kita. Yang panting kamu tau dia baik-baik aja kan seperti keinginan pacarnya si Norma itu?" cegah Yudis yang tau apa yang sedang di pikirkan sepupunya.
Afnan menarik napas panjang, sebelum akhirnya dia melanjutkan kemudinya meninggalkan kediaman Norma.
.
.
Sepeninggal Afnan, tamparan keras Subhan layangkan pada sang putri saat mendengar Norma berteriak meminta tolong pada mantan tunangannya.
"Kamu mau apa hah!" pekik Subhan murka.
"Kamu pikir dia datang untuk menolongmu? Kamu ini memang perempuan bodoh yang hanya bisa menyusahkan saja!"
Norma menangis dengan tergugu. Dia tak menyangka ayahnya akan begitu kejam. Dia bahkan di paksa untuk menggugurkan anaknya.
Kondisi Norma saat ini masihlah lemah pasca pengguguran secara paksa yang di lakukan ayahnya.
Dengan langkah tertatih dia bergerak menuju jendela, saat mendengar pelayan mengatakan jika ada mantan tunangannya di bawah.
Hati Norma menggebu, secercah harapan seakan datang saat mengetahui Afnan datang menemuinya, entah untuk apa.
Memang apa yang bisa dia harapkan dari lelaki itu.
Kini dia harus bersiap menghadapi kemarahan sang ayah. Entah siksaan apa lagi yang akan di terimanya kali ini.
"Beruntung kamu masih laku. Lebih baik aku menjualmu pada Pak Lohan. Setidaknya lelaki tua itu masih mau memungutmu!" ucap Subhan yang sangat menyakiti hati Norma.
"Apa papah belum puas menyakitiku? Setelah mengambil paksa anakku, cucu papah sendiri, kini papah berencana menjualku?" lirih Norma.
"Baguslah kamu masih berguna. Kamu memang mau hidup susah? Tak perlu banyak drama, setidaknya pak tua itu mau membantu perusahaan kita. Berlaku baiklah, agar dia tak membuangmu." Subhan benar-benar tak peduli dengan air mata putrinya.
"Kenapa papah enggak bunuh aku aja? Aku lelah pah, aku hanya ingin bahagia," lirih Norma.
Hatinya teramat sakit, hidupnya sangat menyedihkan. Tak bisa bersama dengan orang yang di cintai, bahkan anak dalam kandungannya pun di renggut paksa oleh orang tua yang seharusnya menjaganya.
Miris sekali nasibnya.
"Tak perlu banyak drama. Papah lakukan semua ini karena sayang padamu. Kamu belum jadi orang tua, jadi enggak bakal tau bagaimana rasanya," kecam Subhan lantas berlalu meninggalkan kamar putrinya.
.
__ADS_1
.
Keesokan harinya, kediaman Salimah di kejutkan dengan kedatangan dua orang petugas kepolisian.
"Selamat pagi Bu, apa benar di sini rumah Nona Fitria Handayani?" tanya sang polisi sopan.
"Iya benar Pak, ada apa ya?" Salimah menjawab dengan cemas.
Dia tak tahu kenapa dua orang polisi itu menanyakan Fitria. Tiba-tiba perasaannya menjadi tak karuan. Sejak pagi dia memang tak melihat keberadaan adik angkatnya itu.
Sejak kepergiannya dengan Afnan tempo hari, Salimah bahkan jarang melihat keberadaan Fitria. Sepertinya gadis itu memang marah dan menghindarinya.
Salimah mengabaikannya, sebab dia pikir gadis itu hanya enggan menemuinya saja.
"Begini Bu, kami mengabarkan bahwa saat ini saudari Fitria sedang di rawat di rumah sakit karena telah mengalami pelecehan malam tadi," jelas petugas kepolisian.
Salimah terkejut bukan main, lututnya bergetar hingga dia merasa limbung. Beruntung petugas di depannya sigap dengan memegang tubuh Salimah dan menuntunnya untuk duduk di sofa.
"Semalam?" lirih Salimah pelan. Dia tak sadar jika Fitria tak berada di rumah karena gadis itu memang sering mengurung diri di kamar akhir-akhir ini.
Ke tidak pedulian Salimah berujung petaka karena dia tak menyangka jika adik angkatnya ternyata tengah mengalami musibah tadi malam.
Semalam pun setelah pulang kerja, Salimah memilih mengistirahatkan tubuhnya di kamar, karena beban pikirannya akhir-akhir ini membuat perutnya sering keram.
Beruntungnya Rino tak rewel dan mau bermain di kamar bersamanya.
"Bagaimana bisa pak?" tanya Salimah lemah.
"Nona Fitria di temukan oleh warga di sebuah gedung kosong dengan keadaan yang mengenaskan. Saat di bawa ke rumah sakit, Dokter sudah mendiagnosis kalau Nona Fitria telah mengalami rudapaksa. Saat ini korban masih trauma. Beruntung kami menemukan tanda pengenalnya tak jauh dari lokasi kejadian."
"Maaf kalau boleh tau, Anda siapanya Nona Fitria?" Sambung petugas.
Salimah masih mematung dengan air mata berderai. Dia tak percaya adik angkatnya yang memang tengah berselisih paham dengannya telah mengalami kejadian yang mengerikan.
Bagaimana dia bisa menjelaskan pada Evita dan Jendral tentang keadaan Fitria saat ini? Batinnya.
Ya Allah, kenapa jadi begini.
"Sa-saya kakak angkatnya Pak," jawab Salimah lemah.
"Ibu bisa ikut kami? Ini harus di proses hukum. Rumah sakit juga memerlukan kehadiran keluarga pasien," ajak Polisi.
Salimah berdiri dengan linglung, bahkan Iyem pun sampai menutup mulutnya tak percaya saat mendengar penjelasan petugas kepolisian itu.
__ADS_1