
Di kediaman Sri, sedang terjadi ketegangan antara dirinya dan juga sang putra.
Afnan merasa sang ibu sudah sangat keterlaluan dengan membohongi dirinya.
"Salimah enggak menikah dengan Hari mamah, tante Hana sama Om Bastian udah menjelaskan sama Afnan! Jadi sebenarnya apa yang udah mamah lakuin sama Salimah!" bentak Afnan murka.
"Kok kamu nyalahin mamah sih Nan! Mana mamah tau Hari sama Salimah menikah apa enggak. Toh kenyataannya Salimah saat ini lagi hamil kan? Jadi sama aja, dia udah berkhianat sama kamu!" elak Sri.
Afnan mengusap wajahnya kasar. Selama ini dia selalu di cekoki sang ibu yang mengatakan jika Salimah, mantan istrinya meninggalkannya karena dia yang sudah tak bisa di harapkan.
Pertemuan waktu itu juga membuat hatinya terluka saat mendapati kenyataan sang istri sudah kembali hamil entah oleh siapa.
Bohong jika dia sudah melupakan Salimah. Nyatanya perpisahan yang dia tak tahu apa sebabnya masih sangat membekas di hatinya.
Ingin bertanya, tapi dia kehilangan jejak Salimah. Tak ada nomor ponsel yang bisa dia hubungi. Saat meminta orang lain menyelidikinya juga belum membuahkan hasil.
Dalam benaknya selalu di penuhi tanya tentang anak siapa yang mantan istrinya itu kandung.
"Udahlah Nan, ada Norma yang sudah menjadi tunanganmu. Mamah udah malu sama orang tuanya. Kamu selalu mengulur waktu untuk segera menikahinya," keluh Sri.
"Afnan belum memikirkan soal menikah Mah, sebelum Afnan tau ada apa dengan rumah tangga Afnan. Lebih baik mamah keluar, besok Afnan sudah harus kembali bekerja," usir Afnan halus.
Sri tak mau menekan putranya lagi. Selama ini sang putra selalu tampak diam dan baru kali ini putranya itu mampu membantahnya.
Dirinya hanya takut jika semakin menekan sang putra maka Afnan akan semakin menjauhinya.
Lebih baik dia mengalah sekarang. Terlebih lagi sang putra memilih untuk kembali bekerja, membuat perasaan Sri melega.
Setidaknya dengan bekerja anaknya akan melupakan mantan istrinya, pikirnya penuh harap.
Sri keluar dari kamar Afnan langsung di hadang oleh Norma yang sedari tadi menunggu dengan cemas di depan kamar lelaki pujaannya itu.
"Gimana Mah? Afnan mau kapan nikahnya?" cecar Norma penuh harap.
Sri tersenyum lalu mengusap lengan sang calon menantu. Dia lalu menuntun Norma ke ruang keluarga untuk berbincang.
"Sabar ya Nor, Afnan masih belum siap. Lagi pula dia masih dalam masa penyembuhan. Mamah enggak bisa memaksa dia, takutnya malah nanti dia memberontak," jawab Sri apa adanya.
Norma mendesah. Kesal tentu saja, dia sangat berharap segera di resmikan hubungannya dengan Afnan melalui Sri.
__ADS_1
"Sebaiknya kamu semakin gencar mencari perhatiannya Nor. Mamah yakin lambat laun dia akan balas perasaan kamu," saran Sri.
"Sampai kapan Mah! Aku udah berusaha keras loh mah mencari perhatian Mas Afnan. Tapi sepertinya dia bahkan tak tertarik sama sekali sama aku. Makanya aku inginnya mamah memaksa mas Afnan menikahi aku!" keluhnya.
"Mamah tau kan, kata orang, kalau udah nikah, lambat laun perasaan itu pasti ada. Cuma itu harapan terakhir aku mah," sambung Norma yang masih berusaha membujuk Sri agar segera memuluskan rencana mereka.
"Maafkan mamah Nor. Sungguh mamah enggak bisa maksa Afnan saat ini. Kamu jangan khawatir, tadi Afnan bilang dia bakal kembali bekerja. Biarkan dia menenangkan perasaannya dulu, setelah itu dekati dia lagi, pasti lambat laun dia luluh."
Senyum Norma merekah, dia senang karena calon suaminya akan kembali bekerja. Sejujurnya dia sempat minder saat teman-temannya bertanya tentang calon suaminya.
Meski dia tahu Afnan memiliki jabatan yang lumayan di perusahaan keluarga besarnya, tapi saat ini posisi Afnan masih di gantikan oleh sepupunya yang lain, maka dari itu Norma belum bisa berbicara banyak tentang Afnan pada teman-temannya.
Namun kini, dia bisa bernapas lega, setidaknya dia yakin dirinya akan mendampingi Afnan saat lelaki itu ada acara di pekerjaannya kelak.
"Kamu kenapa senyum-senyum sendiri begitu Nor?" tanya Sri heran.
"Eh enggak mah, syukurlah kalau mas Afnan udah mau bekerja lagi. Nanti Norma bakal sering mampir ke kantor mas Afnan buat kasih makan siang, atau ngajak makan siang deh."
"Nah gitu juga bagus. Mamah doakan semoga usahamu berhasil ya."
Kedua wanita berbeda usia itu tersenyum dengan segala rencana Norma untuk menarik perhatian Afnan.
.
.
Bagaimana wanita lembut itu selalu memperhatikannya. Dia bahkan ingat jika Salimah selalu membantunya bersiap, dari memilihkan pakaian, memakaikan dasi. Bahkan hingga menyemir sepatunya.
Semua perhatian itu sedikit demi sedikit membuat ingatannya kembali.
"Kenapa Sal, kenapa kita berpisah seperti ini," monolognya.
Afnan memegang dadanya yang tiba-tiba terasa sesak. Dia sangat merindukan Salimah juga putranya.
Afnan yang tadi terpejam, membelalak saat mengingat jika dia masih bisa berhubungan dengan Salimah. Dia akan menggunakan Rino, Anak mereka.
Bukan ingin memanfaatkan putranya. Dirinya juga sangat merindukan Rino. Namun dirinya belum memiliki waktu juga tenaga untuk mencari mereka.
Bekerja juga hanya alasan agar dirinya sedikit bisa menjauhi sang ibu, meski fisiknya belum terlalu sembuh benar.
__ADS_1
Itu juga sebagai salah satu cara untuk dirinya mencari tahu keberadaan anak dan mantan istrinya dengan lebih leluasa.
"Ayah akan mencarimu sayang, tolong jangan benci ayah."
Tak ada foto atau apa pun yang berkaitan dengan Salimah dan Rino. Sang ibu benar-benar membuang darah dagingnya sendiri.
Mungkin masih di anggap wajar jika Sri membuang Salimah, tapi ini putranya yang notabenenya adalah cucunya sendiri pun sang ibu buang, entah di mana hati nurani sang ibu.
Namun dia tak bisa berbuat banyak, sebab dirinya takut segala ucapan atau perbuatannya akan membuat sang ibu tambah menyakiti Salimah dan putranya.
Afnan memilih mengalah dan tak banyak mendebat sang ibu, sebelum dia tahu bagaimana keadaan Salimah dan juga putranya.
"Mas Afnan?" panggil Norma senang dari arah meja makan.
Dirinya sangat semangat datang pagi-pagi demi bisa membantu Sri menyiapkan sarapan untuk calon suaminya.
Dia berharap dengan sikapnya seperti ini membuat Afnan tersentuh dan membuka hati untuknya.
Sayangnya semua sia-sia. Afnan bersikap datar tanpa mau membalas sapaannya tadi.
Sri yang melihat sikap dingin putranya lantas mengusap punggung Norma, menyemangati.
Norma tersenyum tipis. Menaklukkan Afnan sangatlah sulit baginya. Namun dia tak akan menyerah, semakin sulit di taklukan, semakin Norma penasaran ingin bisa menundukkan Afnan seperti kebanyakan pria yang berhasil dia taklukkan.
"Mas pasti suka. Aku yang masak loh, kata mamah, mas suka makan nasi kuning ya," ucap Norma sambil meletakan nasi di piring Afnan.
Afnan menatap Norma datar. Ingin sekali dia menyingkirkan wanita yang selalu berusaha mencari perhatiannya itu.
Sedangkan Norma yang di tatap seperti itu oleh Afnan menjadi salah tingkah.
Dia berpikir jika Afnan terharu dengan segala sikap dan perhatiannya.
Tanpa banyak kata, Afnan melahap makanan di hadapannya. Bukan menikmati, hanya tak ingin membuat panjang daftar masalah dengan ibunya.
Setelahnya, dia bergegas pergi ke kantor tanpa sedikit pun mengucapkan terima kasih pada Norma.
.
.
__ADS_1
tbc