Anakku Hanya Milikku

Anakku Hanya Milikku
Bab 53


__ADS_3

Fitria datang dengan wajah sendu. Dia bukannya bodoh yang tak melihat bagaimana tatapan terluka Salimah.


Namun dia tak ingin berbohong. Dia bukan perebut atau pun perusak hubungan keduanya. Mereka sudah bercerai, harusnya itu bukan masalah bagi Salimah jika ternyata dirinya dekat dengan mantan suami kakak angkatnya itu.


"Maafin aku mbak, aku tau kamu masih mencintai Pak Afnan, tapi hubungan kalian sudah berakhir. Aku hanya berharap kamu tau di mana tempatmu," monolognya.


Hal mengejutkan terjadi kala Afnan memanggil namanya sambil berlari-lari kecil. Hati Fitria tentu saja berbunga.


Beberapa hari tak melihat atasannya itu membuat dia merindukannya.


Apa pak Afnan merindukan aku juga? Lihatlah wajahnya yang berseri-seri itu saat menemuiku.


"Fit, untunglah kita ketemu di sini," ucap Afnan senang.


"Ada apa pak? Apa bapak udah sehat? Maaf aku enggak buat bekal buat bapak, habis aku enggak tau kalau bapak mau masuk hari ini," jawab Fitria dengan hati berbunga-bunga.


"Enggak-enggak, jangan jadikan itu sebuah tuntutan Fit. Kamu kan kerja di sini, bukan membuat sarapan untukku yang jadi prioritasmu."


"Meskipun aku menyukai masakanmu, tapi jangan jadikan kebiasaan. Aku hanya merasa cocok dengan masakanmu, sebab mengingatkanku akan masakan Salimah," jelas Afnan yang seketika membuat hati Fitria sendu.


Ternyata atasannya menyukai masakannya karena mungkin rasanya mirip dengan masakan kakak angkatnya itu.


Namun tak apa, setidaknya dia memang sudah meminta Salimah memberitahukan apa saja yang di sukai oleh atasannya ini.


"Hei kok ngelamun? Aku ada perlu sama kamu, apa bisa bicara sebentar?" ajak Afnan penuh harap.


Fitria menggigit bibir dalamnya bimbang, tak di ungkiri hatinya senang bukan main saat sang pujaan hati mengajaknya berbicara berdua.


Namun ada pekerjaan yang harus dia selesaikan pagi ini pada atasannya yang tak lain adalah Yudis.


Bagaimana nanti Yudis marah dan menganggapnya tidak profesional? Dia tentu tak mau mendapat teguran dari atasan sementaranya itu.


"Sebenarnya saya ada kerjaan yang harus di kerjakan pagi ini sama pak Yudis Pak —"

__ADS_1


Ucapan Fitria di potong begitu saja oleh Afnan. "Masalah rapat dengan Perusahaan Anugerah? Kamu tenang aja, aku udah minta izin sama Yudis. Dia akan rapat sama Nadia nanti," jelas Afnan.


Senyum Fitria terkembang, tentu saja dia tak akan terkena masalah jika memang sudah di izinkan oleh Afnan. Terlebih lagi dia juga penasaran dengan apa yang ingin di bincangkan atasannya, hingga rela menemuinya seperti sekarang.


Akhirnya mereka menuju kantin di dekat kantor. keduanya memesan kopi untuk menemani obrolan mereka.


"Apa hubungan kamu dengan Salimah Fit?" tanya Afnan sebagai pembuka obrolan.


Fitria sedikit kesal karena ternyata tujuan atasannya itu ingin berbincang dengannya adalah bertanya tentang Salimah.


"Saya adik angkat Mbak Salimah pak. Ada apa memangnya pak?" nada bicara Fitria sudah tak sesantai tadi. Kekesalan tampak jelas dari nada bicaranya.


"Apa kamu tahu siapa suami Salimah?" tanya Afnan mengabaikan keengganan sekretarisnya itu.


"Suami? Jadi bapak ingin bicara dengan saya mengenai kehidupan mbak Salimah?" tebak Fitria langsung.


Afnan menghela napas sebelum akhirnya mengangguk, dia memang penasaran dengan kehidupan mantan istrinya.


DI penglihatannya, Salimah terlihat cukup baik. Tak ada raut wajah tertekan dan terlihat lebih bahagia.


Bukan maksud ingin memperalat Fitria, dia sudah berusaha bertanya pada sepupunya Hari, akan tetapi lelaki itu tak mau memberitahukan tentang kehidupan Salimah, karena dia merasa bukan haknya menceritakan kehidupan Salimah.


Benar memang apa yang di katakan Hari. Namun dia hanya ingin tahu bagaimana kehidupan anak dan mantan istrinya dengan pasangan barunya.


Jangan sampai putra semata wayangnya di abaikan atau bahkan di asingkan oleh suami baru Salimah.


"Saya hanya khawatir dengan kehidupan Rino dengan ayah sambungnya. Kalau memang ayah sambungnya berlaku baik padanya, maka aku bisa tenang," jelas Afnan dengan hati kacau.


Jujur saja dia masih tidak bisa membayangkan wanita yang masih di cintainya itu sudah menjadi milik orang lain.


Fitria bimbang, batinnya berperang antara ingin memberitahu tentang keadaan Salimah yang sebenarnya. Atau memilih berbohong agar pujaan hatinya itu tak lagi mencari tahu tentang kehidupan kakak sambungnya itu.


"Maaf pak, saya enggak punya hak untuk bercerita mengenai kehidupan mbak Salimah," putus Fitria yang memilih menjawab dengan aman.

__ADS_1


Dengan jawaban seperti itu dia rasa tak ada yang salah, sebab dia tak sepenuhnya berbohong.


"Ya sudah, maaf kalau aku terkesan mencari tahu darimu Fit. Aku sungguh penasaran, jujur aku masih sangat mencintai Salimah," ucap Afnan jujur.


Perkataannya itu justru mematik api kecemburuan pada diri Fitria. Dia tak menyangka perpisahan keduanya masih saja menyimpan perasaan cinta yang begitu besar.


Lalu bagaimana di bisa masuk, kalau Afnan tak mau menyingkirkan kedudukan Salimah di hatinya.


"Fit!" tegur Afnan yang melihat sekretarisnya itu tengah melamun. Dia merasa tak enak, mungkin pertanyaannya tadi membuat gadis itu serba salah.


"Kalau udah enggak ada yang mau bapak tanyakan, saya pamit undur diri," dia tak mau semakin patah hati mendengar ungkapan hati atasannya itu.


Afnan mengangguk, tapi tak beranjak dari duduknya. Saat Fitria hendak melangkahkan kaki meninggalkan sang pujaan, tiba-tiba terbesit pikiran bagaimana kalau Seandainya Afnan tahu kalau Salimah sudah kembali bercerai dari Jendral? Apa lelaki itu akan kembali mendekati Salimah?


Lantas bagaimana dengan dia?


"Kenapa Fit?" tanya Afnan yang heran karena melihat sekretarisnya itu justru mematung.


Fitria berbalik dan menatap atasannya sangat dalam.


Beribu kata maaf dia ucapkan dalam hati pada Salimah dan Afnan.


Namun dia harus melakukannya. Dia lelah selalu menjadi orang yang mengalah.


Dia sudah lelah hidup menderita dan tak bisa mendapatkan apa yang dia inginkan.


Dia tak mau lagi mengalah, baru kali ini dia merasakan cinta pada sosok lelaki yang menjadi idamannya.


Biarlah dianggap egois, setidaknya dia berjuang demi perasaannya.


.


.

__ADS_1


.


Tbc


__ADS_2