
Semakin ingin melupakan Afnan, semakin wanita itu merindukan mantan suaminya. Bohong jika Salimah memilih diam dan menerima segalanya.
Yang ada dia memang tak punya pilihan, antara suami dan anak dalam kandungannya, jelas dia tak mungkin membuang anaknya demi bisa kembali pada Afnan.
Bukan karena benih siapa di rahimnya, tapi karena bagaimana pun juga anak itu adalah anaknya.
"Sal?" panggil Hari cemas.
Sepupu Afnan itu memutuskan kembali menemui Salimah setelah kejadian tempo hari.
Dia melihat wanita itu selalu murung. Alawiyah bahkan juga kelabakan karena tak bisa membuat Salimah kembali ceria.
Berbagai cara sudah Alawiyah tempuh, tapi seakan Salimah tak mau keluar dari rasa sedihnya. Hingga Alawiyah memilih membiarkannya tapi tetap masih dia awasi. Karena bagaimana pun Alawiyah takut Salimah berpikiran pendek.
Di sisi lain, Hari sendiri habis di caci maki sang bibi yang tak lain ibunda Afnan yang mengatakan kalau dia adalah lelaki idaman lain mantan menantunya.
Sang ibu bahkan tak henti mencecarnya. Sudah menjawab sejujur mungkin tapi Hari yakin orang tuanya tak seratus persen percaya dengannya.
"Apa setelah kejadian itu, Afnan sama sekali enggak menemui kamu Sal?" tanya Hari serius.
Pertanyaan Hari membuat Salimah menengadah menatap atasannya.
"Maksud bapak? Enggak mungkin mas Afnan mencariku pak, untuk apa? Dia lebih meyakini pikirannya mengenai kita," jawab Salimah.
Hari menghela napas, susah payah dia meminta nomor telepon Afnan dari sepupu-sepupunya untuk mempertemukan dua orang yang masih saling mencintai itu.
Berharap Afnan mau bertanya secara tenang pada Salimah. Nyatanya, semua tinggal harapan. Sang sepupu sama sekali tak menggubrisnya.
"Kenapa bapak enggak menjawab ucapan mas Afnan waktu itu? Kalau aja—"
Salimah tak sanggup melanjutkan ucapannya. Air matanya meluruh, sebagian dirinya menyalahkan Hari yang tak segera menjawab kecurigaan Afnan tentang mereka kemarin, justru malah mengajaknya berlalu pergi.
Sudah pasti mantan suaminya itu tambah yakin dengan ucapan mantan mertuanya tentang dirinya.
"Mau menjelaskan seperti apa, kalau Afnan bukannya bertanya tapi langsung memberikan tuduhan?" sanggah Hari sedikit kesal karena di salahkan.
Bukannya dia tak merasa bersalah, dia pun tahu ada andil dirinya kemarin yang membuat hubungan keduanya semakin menjauh.
Namun dia bisa apa saat ego dan harga dirinya di injak-injak di muka umum selain meng'iya' kan saja tuduhan mereka.
Salimah menangis, Alawiyah yang tadi berada di luar kantor, segera menyusul keberadaan sahabatnya.
Betapa terkejutnya dia saat mendapati sang sahabat tengah menangis di hadapan Hari yang justru terlihat kesal.
__ADS_1
"Ada apa ini Pak!" sentak Alawiyah geram.
"Astaga Al, kamu ini kenapa kalau datang selalu marah-marah? Memangnya salah saya apa? Bisa kan tanya baik-baik?" keluh Hari panjang lebar.
"Bukannya tadi saya nanya ada apa?" jawab Alawiyah ketus.
"Itu bukan pertanyaan tapi pernyataan! Jelas sekali kamu ingin menyalahkan saya!"
"Perasaan bapak aja kali, bukannya saya emang seperti ini?" elak Alawiyah.
Meski Hari mengatakan akan menjembatani hubungan antara Salimah dan Afnan. Namun tak serta merta membuat Alawiyah percaya begitu saja.
Meski dia tahu bagaimana sifat Hari. Namun karena lelaki itu masih bagian dari keluarga besar Afnan membuatnya tetap menaruh curiga.
"Enggak, kamu kalau sama Salimah kaya seorang ibu sama anaknya, lembut sekali," ejek Hari kesal.
"Cih! Yang pentingkan saya sama bapak emang selalu begini, jadi jangan ngeluh pak!" jawab Alawiyah malas.
Alawiyah lantas mengabaikan Hari dan mencoba menenangkan sahabatnya.
"Hei, kenapa sih? Masih gara-gara si Afnan? Udah sih ngapain di tangisin, Kamu ini masih muda, cantik dan berpenghasilan, jadi enggak usah hancur hanya karena Afnan!" ucap Alawiyah lembut tapi terkesan menahan kesal.
"Ya ampun bahasa kamu Al, Salimah lagi sedih malah kamu marahin kaya gitu!" sergah Hari yang menahan tawa melihat perhatian Alawiyah yang aneh menurutnya.
"Pak, lagian nih ya, kalau ada berita buruk mending di simpan aja, aturan bapak ngertiin dong perasaan Salimah. Jujur sih jujur tapi tau sikon juga!" cibir Alawiyah melantur.
"Ya ampun kamu ini ngomong apa sih Al? Kok jadi ke mana-mana memangnya kamu tau kenapa Salimah menangis?" jawab Hari kesal.
Sebagai atasan mereka, hanya Alawiyah yang berani membantah dan menyalahkan dirinya.
Meski konteksnya mereka sedang di luar pekerjaan, tapi hanya Alawiyah yang tak pernah bersikap jaim di depannya.
"Ya pasti tentang Afnan, apa lagi emang yang bikin Salimah sedih," jawab Alawiyah yakin.
Gadis itu kembali fokus pada Salimah. "Hari ini kan kita mau kontrol. Pas banget udah mau tujuh bulan, gimana kalau kita sekalian liat-liat baju bayi, mau?" tawar Alawiyah.
Mendengar kata 'kontrol' tangis Salimah berhenti seketika. Merutuki diri sendiri karena melupakan hal penting itu.
"Kamu pasti lupa kan?" tebak Alawiyah.
Salimah hanya mengangguk, lalu tersenyum malu.
Hari memandang takjub pada sikap Alawiyah yang dia nilai barbar, tapi bisa bersikap seperti seorang ibu pada Salimah meski keduanya seumuran.
__ADS_1
Definisi sahabat terbaik dalam pandangan Hari. Hal itu semakin membuatnya kagum pada Alawiyah.
"Bapak kenapa senyum-senyum sendiri? Gila pak?" ucapnya tanpa sungkan.
"Astaga Al, mulutmu itu kenapa bisa berubah cepet sekali. Tadi lembut tiba-tiba berubah jadi berbisa!" sungut Hari.
"Emang saya uler!"
"Yuk Sal, balik, nanti keburu rame antreannya!" ajak Alwiyah meninggalkan Hari seorang diri.
"Saya pamit ya Pak. Maaf atas ucapan saya tadi. Saya tau situasi kita memang terjebak saat itu. Saya hanya bisa berterima kasih karena bapak sudah menyelamatkan saya dari sana," ucap Salimah sebelum pamit undur diri.
.
.
Di tempat lain, Evita, Darmono dan juga Fitria tengah dalam perjalanan menuju kota tempat tinggal Jendral dan yang lainnya.
Evita merasa cemas meninggalkan Salimah seorang diri meski sudah ada asisten rumah tangga di sana.
Jadi dia meminta Fitria menemani ibu dari cucunya yang sedang hamil besar, sekaligus hendak mengunjungi kediaman putranya yang akan melakukan acara empat bulanan.
Segala oleh-oleh sudah Evita siapkan untuk dua ibu dari cucu-cucunya.
"Kita ke rumah Jendral dulu ya pak?" ajak Evita pada suaminya.
"Iya Bu, nanti justru masalah kalau kita datang dari rumah Salimah, meski bapak sangat penasaran sama dia," jawab Darmono sambil terkekeh.
"Kamu enggak papa kan Fit? Soalnya ibu mau lihat persiapan acara Triya dulu."
Fitria hanya mampu mengangguk dan tersenyum, pilihan apa lagi yang dia punya.
Setidaknya dia sudah di beri kesempatan untuk melihat ibu kota negaranya. Kota yang menjadi tujuannya dalam belajar agar bisa merantau ke sana.
Sungguh Fitria tak sabar merasakan suasana kota yang hanya mampu dia lihat di layar televisi saja.
.
.
.
Tbc
__ADS_1