Anakku Hanya Milikku

Anakku Hanya Milikku
Bab 66


__ADS_3

Di rumah sakit ketegangan sangat di rasakan oleh Evita, Fitria dan juga Afnan.


Afnan yang tidak tahu siapa orang yang di bantunya hanya bisa berdiam diri.


Setelah Dokter menangani Darmono, Afnan memutuskan untuk kembali ke rumah Salimah.


Dia merasa khawatir dengan kejadian di rumah mantan istrinya tadi.


Bagaimana tidak, Afnan mendengar sekilas jeritan mereka yang sedang bertengakr. Terlebih lagi ada seorang wanita yang jatuh terpuruk dengan penampilan yang sudah tak karuan.


Entah sedang terlibat masalah apa mantan istrinya itu hingga keadaan rumah yang biasanya tenang mendadak jadi mencekam.


"Pak?" panggil Fitria yang melihat Afnan diam dengan pandangan kosong.


Afnan mengerjap sejenak untuk memulihkan kesadarannya.


"Eh iya Fit. Maaf karena bapak tadi sudah di tangani, aku pergi sekarang ya," ucap Afnan untuk pamit pergi.


"Tunggu pak saya antar!" cegah Fitria yang tidak bisa melepaskan Afnan begitu saja.


Afnan ingin menolak karena dia benar-benar khawatir degan keadaan Salimah dan putranya, tapi tetap bergeming saat Fitria meninggalkannya guna mendekati wanita yang merupakan istri dari lelaki yang di tolongnya.


"Ayo Pak!" ajak Fitria beranjak meninggalkan Evita seorang diri.


"Bapak tau siapa orang tua tadi?" ucap Fitria tiba-tiba.


Jelas itu bukan pertanyaan untuk Afnan jawab, melainkan sebuah ungkapan sebelum dia mengatakan kelanjutannya.


"Dia itu mertuanya mbak Salimah!" jelas Fitria datar.


Mendengar siapa dua orang yang dia tolong tadi adalah mertua mantan istrinya, membuat langkah Afnan berhenti seketika.


Namun sedetik kemudian dia kembali melanjutkan langkahnya.


Untuk apa dia marah, toh dia sudah tahu kebenaran tentang Salimah yang sudah menikah lagi.


Lalu Afnan teringat akan sosok wanita yang terduduk dengan penampilan yang acak-acakan.


Apa wanita itu istri pertama suami Salimah? Batinnya.


"Perempuan yang mas lihat duduk di lantai itu istri pertama suaminya mbak Salimah," Fitria menjawab pikiran Afnan.


"Ya, seperti yang mungkin bapak pikirkan. Mbak Salimah sama kakak madunya tengah berselisih," ucap Fitria sambil menghela napas.


Afnan bingung bagaimana harus menanggapi ucapan sekretarisnya. Dia lebih memilih diam, di samping dia tidak tahu apa yang terjadi dengan kehidupan mantan istrinya, dia juga ingin mencari tahu semuanya dari Fitria yang dulu memilih bungkam.

__ADS_1


"Aku juga enggak nyangka mbak Salimah akan seserakah itu," tiba-tiba Fitria mengucapkan sesuatu yang membuat langkah Afnan kembali terhenti.


Dia yang sejak tadi memilih mendengarkan, ada rasa tak terima dalam diri Afnan saat perempuan yang masih di cintainya itu di jelek-jelekkan.


Afnan merasa sangat mengenal Salimah. Tak mungkin wanita itu memiliki sifat serakah seperti ucapan sekretarisnya.


Namun hati kecilnya berkata lain. Nyatanya dia tak mengenal sang istri dengan baik. Toh tak dapat di ungkiri Afnan selalu bertanya-tanya mengapa Salimah memiliki pemikiran dangkal dengan mau menjadi seorang istri kedua.


"Sepertinya udah waktunya bapak tau," jawab Fitria tenang.


Inilah yang Afnan harapkan sejak dulu, ingin tahu ada apa dengan kehidupan mantan istrinya.


Namun sayangnya dia memiliki waktu yang amat terbatas. Dia yang berhasil menghindari sang ibu untuk bertemu dengan Salimah dan Rino bingung dengan pemikiran apa mau menukar waktunya untuk mendengar cerita Fitria?


"Bapak bersedia?" cecar Fitria yang melihat keraguan dalam diri Afnan.


Ini adalah kesempatan akhir Fitria untuk menjauhkan Afnan dari Salimah. Tak apa dia di sebut kejam, toh tidak semuanya dia berbohong, sanggahnya meyakinkan diri.


Afnan sendiri agak sangsi untuk mendengarkan cerita Fitria tentang Salimah sekarang.


Jika dulu gadis itu menolak dengan tegas, lalu mengapa sekarang seperti ingin membuka tabir rahasia Salimah, batinnya merancu.


Terlebih lagi Fitria jelas-jelas pernah mengutarakan perasaan padanya.


"Saya sebenarnya enggak mau ikut campur urusan Salimah Fit. Yang penting bagi saya Rino terawat. Urusan Salimah jelas di luar kapasitas saya," jawab Afnan tenang.


"Masalahnya ada sesuatu yang harus bapak tau karena pasti mereka akan menanyakan tentang bapak suatu saat nanti."


"Maksudnya?" tanya Afnan heran.


"Bapak tiba-tiba datang, tentu ibu pasti akan menanyakan tentang siapa bapak."


Keduanya sudah sampai di parkiran. Afnan ragu untuk meninggalkan Fitria, karena jelas gadis itu memiliki sesuatu untuk di katakan lagi padanya.


"Ibu? Maksudmu ibu tadi ibumu? Jadi kamu adik iparnya Salimah?" cecar Afnan yang mulai tertarik dengan cerita Fitria.


"Ibu dan bapak tadi orang tua angkat saya. Anak mereka adalah suami mbak Salimah."


Afnan mengangguk mengerti. Pantas respons Fitria dulu kesal saat di anggap adik angkat Salimah. Sebab dia ternyata adik angkat suami Salimah, pikir Afnan. “Jadi ... Ada kejadian apa di rumah Salimah tadi Fit?"


"Bapak lihat kan ibu dan bapak angkat saya lebih suka dengan mbak Salimah dari pada menantu pertamanya? Dan ya ... Itu membuat istri pertama kakak angkat saya cemburu. Terlebih lagi, orang tua angkat saya memang berlaku enggak adil pada kedua menantunya. Saya sebenarnya kasihan dengan istri pertama kakak saya."


Sengaja Fitria tidak menyebutkan satu persatu nama keluarganya. Dia tidak ingin Afnan mencari tahu tentang mereka, pikirnya.


"Makanya saya bilang mbak Salimah serakah, sebab setelah semua yang di lakukan orang tua angkat saya sama dia, rasanya dia berubah jadi tamak dan ingin semuanya."

__ADS_1


Ucapan Fitria benar-benar menyudutkan Salimah. Gadis itu semakin semangat menjatuhkan kakak angkatnya di depan Afnan.


"Terlebih lagi keberadaan bapak hanya semakin mempermudah rencananya," sambungnya lagi.


"Saya? Memang apa yang saya lakukan?" tanya Afnan tak mengerti.


"Saya enggak tau bapak mau percaya apa enggak. Tapi dengan kehadiran bapak, mbak Salimah bisa kembali menekan keluarga angkat saya!"


"Dia bisa berdalih jika bisa meninggalkan mereka untuk kembali pada bapak, kalau permintaannya tak di turuti!"


Semakin tak mengerti Afnan dengan jalan pikiran Salimah. Ada rasa ragu jika mantan istrinya yang berhati baik bisa berbuat seperti itu.


"Memang apa keinginan dia?"


"Dia ingin menjadi satu-satunya istri kakak angkat saya!"


"Hah! Saya mengenal Salimah cukup lama Fit. Rasanya agak aneh kalau tiba-tiba dia jadi seperti yang kamu bilang."


"Terserah bapak mau percaya apa enggak, toh aku udah berusaha menjelaskan pada bapak. Nyatanya bapak hanya di jadikan alat, yang sayangnya mbak Salimah enggak berpikir bahwa rencananya bisa jadi bumerang bagi dirinya."


"Kenapa kamu tiba-tiba bisa tau rencana Salimah? Kalau betul dia seperti apa yang kamu bilang, enggak mungkin dia cerita ke kamu," elak Afnan.


Fitria gelagapan, ternyata tak mudah mempengaruhi Afnan untuk percaya dengan bualannya.


"Kan tadi aku denger sendiri pak, saat mereka ribut di depan rumah!"


"Padahal kalau sampai mbak Salimah berpisah dari kakak angkatku. Yakin dia pasti kehilangan anaknya, karena orang tua angkatku enggak bakalan melepas cucu mereka satu-satunya."


"Oh iya satu yang bapak enggak tau, mbak Salimah itu menikah dengan kakak angkat saya karena istri kakak angkat saya itu enggak bisa hamil. Karena keduanya bersahabat, jadilah kakak ipar saya meminta mbak Salimah jadi madunya. Enggak sangka justru jadi senjata makan tuan," ucap Fitria penuh semangat.


"Maka sih informasinya Fit. Semoga Salimah tidak sepeti yang kamu pikirkan. Kalau pun benar kenyataannya seperti itu, tugas aku hanya melindungi Rino dan memberikan kasih sayang buat dia. Di luar itu, semoga kedekatan kami enggak di salah artikan oleh keluarga angkatmu."


Ada rasa tidak enak dalam diri Afnan, terlebih lagi apa yang di jelaskan oleh Fitria membuat batinnya terpecah, antara percaya dan menolak.


Namun tidak bisa di ungkiri jika cinta itu masih besar untuk mantan istrinya. Meski mungkin Salimah berubah sangat drastis.


"Saya cuma enggak mau bapak kecewa lagi. Mbak Salimah jelas enggak akan mau melepas anaknya hanya demi bapak. Kalau itu terjadi, apa bapak siap terluka untuk kedua kalinya?"


.


.


.


Tbc

__ADS_1


__ADS_2