
Hari ini, Hari mengajak Salimah bertemu saat jam makan siang.
Kali ini Salimah tak menolak dan merasa sungkan lagi, sebab dia memang memerlukan bantuan laki-laki itu untuk mengetahui kabar tentang mantan suaminya.
"Bagaimana Pak Hari? Ada berita apa yang mau bapak sampaikan ke saya mengenai mas Afnan? Apa dia sudah pulang?" cecar Salimah.
Hampir satu bulan lebih dia menunggu kabar kepulangan itu dari atasan sekaligus sepupu mantan suaminya ini.
Kandungannya juga sudah kelihatan besar, karena hampir berusia tujuh bulan.
Afnan yang di kabarkan akan pulang beberapa waktu lalu, seperti tak ada kabarnya lagi.
Hari juga tak berhenti memberi kabar mengenai kondisi Afnan pada pegawainya. Meski hati kecilnya masih merasa penasaran tentang apa yang sebenarnya terjadi dengan mereka berdua.
"Hei, sabar dulu Sal!" keluh Hari sambil terkekeh.
"Biarkan aku minum dulu," pintanya.
Salimah hanya tersenyum kaku, dia yang terlalu bersemangat sampai lupa jika lelaki di hadapannya itu baru saja hendak menyeruput minumannya.
Setelah membasahi kerongkongannya. Hari lantas menyingkirkan gelas ke samping kirinya.
"Maafkan aku Sal, waktu kantor memintaku ke luar kota, ternyata bertepatan dengan kedatangan Afnan ke sini," jelas Hari sambil menghela napas.
Mata Salimah sayu, ada rasa sesak saat Hari tak dapat menjumpai mantan suaminya.
"Mamah sama papahku datang menemui mereka. Tapi ... Ada yang aneh kata mereka dengan Afnan saat ini," sambungnya.
"Maksudnya?"
"Orang tuaku enggak berani berbicara mengenai kamu, sebab Afnan seperti agak linglung."
Hari tak bisa menceritakan begitu terperinci mengenai keadaan Afnan, dia hanya menceritakan keadaan sang sepupu melalui kaca mata orang tuanya.
"Kata bibi Sri, ada sebagian ingatan Afnan yang hilang—"
Salimah terkesiap mendengar penjelasan Hari, hatinya mencelos.
Benarkan kamu hilang ingatan Mas? Makanya kamu tidak mencari keberadaan kami? Apa kamu melupakan aku? Dan anak kita?
"Bukan itu aja berita buruknya," Hari memilih tetap melanjutkan ceritanya meski terlihat sekali jika Salimah sudah terlihat lesu.
"Apa Pak?" lirih Salimah yang tak sanggup mendengar hal buruk lainnya.
"Dia akan segera menikah," ucap Hari perlahan.
__ADS_1
Jantung Salimah berdebar sangat kencang, sakit, kecewa, sedih bercampur menjadi satu.
Mengapa harus seperti ini? Mas Afnan harus bertemu dengan kami dulu! Dia tidak mungkin menyingkirkan kami begitu aja!
Air mata Salimah mengalir, dia menggeleng tak percaya. Orang yang selalu mengatakan cinta padanya akan melupakannya begitu saja.
"Tolong Sal, jelaskan sama aku, sebenarnya kalian kenapa?" cecar Hari yang sudah tak dapat membendung lagi rasa penasarannya.
"Memangnya ada apa? Kenapa Pak Hari penasaran sekali dengan keadaan saya?" tanya Salimah masih berusaha mengelak.
Hari menarik napas panjang, mungkin pertanyaannya terdengar menjengkelkan bagi Salimah.
Namun ada hal lain yang ingin dia lakukan, meski rasanya mustahil, yaitu menghentikan niatan Norma, mantan tunangannya.
Bukan dia masih mencintai Norma, tapi dia yakin ada hal buruk yang sedang di rencanakan oleh mantan tunangannya itu terhadap keluarga sang bibi.
Andai dia tahu kalau Norma adalah calon istri dari sepupunya, jelas dia akan mencegahnya.
Namun orang tuanya berkata percuma, ayahnya bahkan pernah bertanya pada saudara lainnya apa tak ada satu pun dari mereka yang tahu kalau Norma adalah calon istri sepupunya? Dan jawaban mereka serempak sama.
Saudara ayahnya yang lain bahkan sudah pernah menasihati Sri tentang siapa Norma sebenarnya.
Namun apa tanggapan Sri? Bibi dari Hari justru menghina keluarganya. Karena dia merasa kalau Norma memang tak selevel dengan keluarganya.
Hari sangat tahu selicik apa Norma itu. Wanita yang dulu sangat ia perjuangkan nyatanya rela membuat dirinya dan keluarganya menanggung malu seumur hidup karena batalnya pernikahan mereka.
"Kamu tau Sal? Calon istri Afnan ternyata Norma, calon istriku dulu," jelas Hari lemah.
Mata Salimah membulat. Dia memang tidak tahu kalau Hari pernah akan melangsungkan pernikahan, karena memang tak pernah ada ucapan apa pun dari suaminya.
Karena hubungan dua keluarga itu yang memburuk Salimah menarik kesimpulan, jika ada acara di keluarga Hari maka mertuanya enggan mengetahui atau turut hadir.
Dia kembali mengingat gadis cantik yang di gandeng mertuanya saat bertemu di rumah sakit tempo hari.
Gadis cantik dengan garis wajah yang tegas, persis seperti idaman mertuanya, mungkin, pikir Salimah.
"Apa yang menyebabkan Bapak gagal menikah? Enggak mungkin kan gara-gara mas Afnan. Sebab kejadian bapak waktu itu sudah cukup lama," tanya Salimah penasaran.
"Karena aku enggak bisa memberi mahar yang dia minta," jawab Hari sambil menghela napas.
Salimah tentu saja heran, bukankah masalah mahar pasti sudah di bicarakan jauh-jauh hari? Lantas mengapa saat akan melangsungkan pernikahan baru di ributkan? Herannya.
"Kamu pasti berpikir mungkin aku menipu Norma?" tebak Hari yang seakan tahu pikiran wanita di depannya.
Tanpa ragu Salimah mengangguk, memang apa lagi pilihannya kalau bukan Hari yang tidak menepati janjinya.
__ADS_1
Hari menarik napas panjang. "Norma meminta ganti mahar secara mendadak. Sesuatu yang sangat aneh dan keterlaluan," jelas Hari membela diri.
"kamu tentu tau, kalau kita akan mendaftar di KUA masalah mahar pasti sudah di cantumkan. Lalu tiba-tiba Norma dan keluarganya meminta hal lain yang sangat mendadak, akhirnya aku memilih mundur."
"Mungkin berita di luaran sana mengatakan jika aku di tinggalkan calon istriku. Pada kenyataannya akulah yang memutuskan menghentikan acara pernikahan kami," sambungnya.
"Memang Norma meminta apa pak Hari?"
"Dia meminta rumah yang baru saja aku berikan untuk kedua orang tuaku," lirih Hari mengingat masa silam itu.
"Kamu tau, bahkan sangkin orang tuaku tak ingin malu, mereka bersedia menyerahkannya, tapi aku menolak, belum apa-apa saja Norma sudah bersikap keterlaluan dan kurang ajar apa lagi nanti, makanya aku memilih mundur dari pernikahan kami."
Hari terkekeh, bukan tawa bahagia, hanya menertawakan nasib buruknya, tapi dia sama sekali tak merasa kecewa.
Justru lelaki baik itu bersyukur karena Tuhan telah membuka topeng calon istrinya.
"Lalu bagaimana denganmu? Apa aku harus memberitahu Afnan kalau kamu masih mengandung?" tanya Hari tiba-tiba.
Salimah sudah tak sanggup menyembunyikan kondisi kehamilannya lagi.
Dia lantas menceritakan keadaannya pada Hari dengan sejujurnya.
"Astaga, rahim pengganti?" Hari menggeleng tak percaya. Dia mengira Salimah yang terlihat dewasa pasti selalu berpikiran matang dan panjang.
Namun nyatanya wanita itu justru terjebak dalam kondisi yang bahkan tak pernah dia pikirkan akan terjadi.
"Lalu di mana suamimu?" tanya Hari iba.
"Kami sudah bercerai, karena kini istrinya juga telah hamil," jawab Salimah pelan.
"Aku enggak bisa berkata apa-apa lagi Sal. Merutukimu juga percuma. Tapi aku harap kamu baik-baik saja. Bicaralah padaku, karena bagaimana pun aku ini omnya Rino," pinta Hari tulus.
Salimah tersenyum, awalnya dia takut akan respons hari pada keadaan dan statusnya.
Namun ternyata atasannya itu bersikap baik dan bijaksana, Salimah kini merasa tenang karena Hari tetap berjanji akan membantu Salimah agar bisa menjelaskan keadaannya pada Afnan.
Saat keduanya akan keluar kafe, tak di sangka mereka bertemu dengan seseorang yang sejak tadi menjadi obyek pembicaraan mereka.
.
.
.
Tbc
__ADS_1