Anakku Hanya Milikku

Anakku Hanya Milikku
Bab 69


__ADS_3

Tubuh Norma bergetar hebat. Ketakutannya menjadi nyata. Dia memang sempat merasa ada yang aneh dengan tubuhnya, tapi semua dia abaikan karena yakin tak mungkin benih Medi bersemayam dalam rahimnya.


Mengenai datang bulannya. Norma juga tahu hal itu sering terlambat, jadi dia tidak berpikir bahwa keterlambatan kali ini karena dirinya sedang mengandung.


"Mas, aku harus bagaimana?" lirihnya sambil terisak. Sungguh dia ketakutan setengah mati.


Bagaimana kalau sampai orang tuanya tahu dia sedang hamil anak laki-laki lain, sedangkan mereka menggantungkan harapan padanya untuk bisa menikah dengan Afnan.


Mengenai Afnan, Norma yakin lelaki itu pasti tidak akan mau menikahinya. Terlebih saat tahu kondisinya yang sedang hamil benih orang lain.


"Bagaimana apanya? Kamu tinggal minta pertanggungjawaban pacarmu saja," jawab Afnan sambil menekan kata 'pacar'


"Mas tolong, tolong bantu aku mas. Nikahin aku. Aku janji enggak akan mengekang kamu tolong aku mas!" bujuk Norma mengiba.


Norma merengek sambil menarik lengan Afnan agar mau mengabulkan permintaannya.


Norma sangat frustrasi, dia bingung mengapa segala rencananya seakan tak berjalan dengan lancar.


Afnan melepaskan pegangan tangan Norma. "Maaf Nor, aku enggak bisa. Mintalah pertanggung jawaban pada kekasihmu itu. Anak itu butuh pengakuan ayahnya. Jangan egois. Aku enggak akan bilang apa-apa sama orang tuamu. Tapi tolong hentikan semua ini," pinta Afnan lalu meninggalkan Norma seorang diri.


Norma berteriak memanggil Afnan, kalau saja tubuhnya tidak lemah, tentu dia akan bangkit dan menyusul tunangannya itu.


"Tolong yang tenang ya Bu, jangan berteriak di sini. Banyak pasien yang terganggu," tegur salah satu perawat.


Norma menangis histeris, ruangan yang hanya di sekat dengan tirai itu membuat semua orang yang berada di ruangan UGD tentu saja mendengar percakapan mereka.


Bisik-bisik terdengar dan kebanyakan mereka menghakimi Norma yang selingkuh dari Afnan hingga hamil anak lelaki lain.


"Hamil sama siapa, minta tanggung jawabnya sama siapa. Memalukan!" ketus salah satu suara yang mencibirnya.


Norma terisak sambil menutup mulutnya. Sungguh dia malu berlama-lama berada di sana.


Dengan terpaksa dia meminta pulang saat itu juga meski keadaannya masih lemah.


"Tapi ibu masih lemah. Tunggu sampai infusannya habis ya," bujuk perawat yang takut terjadi sesuatu dengan pasien mereka.


"Enggak sus, aku harus pulang sekarang!" tolak Norma tegas.

__ADS_1


Karena Norma pulang dengan paksa, dia di wajibkan mengisi formulir kepulangannya. Sebab sudah menjadi prosedur rumah sakit jika pasien harus di rawat inap lantas memilih pulang jelas ada risikonya dan pihak rumah sakit tak mau menanggung risiko itu.


Norma pulang dengan keadaan linglung, dia tidak tahu apa yang akan di hadapinya kala orang tuanya tahu dia tengah mengandung anak Medi. Lelaki yang tak pernah di restui oleh mereka.


"Lebih baik aku ke apartemen Medi. Aku enggak mau mengemban masalah ini sendiri," monolognya.


Baru juga sampai di apartemen Medi, ponsel Norma berdering. Tertera nama sang ibu di sana. Napasnya tercekat, dia lebih memilih mengabaikannya. Hatinya berdoa semoga orang tuanya tak menghubungi Afnan.


Norma memencet kode pintu apartemen Medi dengan tangan bergetar. Bahkan sudah dua kali ia salah, hingga memutuskan untuk menenangkan diri sejenak.


Beruntungnya Medi yang tengah berada di ruang tamu merasa aneh sebab ada yang memencet tombol pintu rumahnya. Saat mengintip di lubang pintu ternyata kekasihnya, tentu saja Medi bergegas membuka pintunya.


"Sayang?" panggil Medi saat Norma sedang menahan tubuhnya menggunakan satu tangan.


Saat menengadah, wajah cantik sang kekasih sangat pucat, membuat Medi panik bukan main.


"Sayang kamu kenapa?" tanyanya Cemas.


"Aku takut Di!" tumpah sudah air mata Norma. Dia tidak berbohong dengan ketakutan yang sedang ia rasakan.


Medi memeluk tubuh Norma setelah berhasil membawanya masuk ke dalam apartemennya.


Setelah berhasil menenangkan diri di pelukan sang kekasih, Norma pun mengusap air matanya.


"A-aku hamil Di," ucapnya dengan bibir bergetar.


"Hamil? Benarkah?" jawab Medi antusias.


"Syukurlah sayang, bagaimana keadaan anak kita?" Medi sangat senang mengetahui jika di rahim kekasihnya kini telah bersemayam buah cinta mereka.


"Kamu senang?" pertanyaan bodoh itu keluar dari mulut Norma. Wanita itu tidak sadar dengan raut bahagia Medi yang sangat memancarkan perasaannya saat ini.


"Tentu aja. Kenapa enggak?" beruntungnya Medi menanggapinya dengan kekekan.


"Tapi orang tuaku?" lirih Norma.


"Kamu jangan khawatir. Kali ini aku akan berjuang," janji Medi penuh keyakinan.

__ADS_1


Norma menggeleng, dia memang tahu kalau lelaki di hadapannya ini sangat mencintainya. Namun dia tak tahu seberapa mengerikannya sang ayah jika sampai tahu dengan kondisinya saat ini.


"Kita bisa di bunuh Di," keluh Norma mengutarakan isi hatinya.


"Kita kabur dari sini. Aku sudah pernah tanya temanku yang ada di negara lain. Aku yakin kita pasti bisa selamat," ucap Medi yakin.


"Siapa aja yang udah tahu tentang kehamilanmu ini?"


"Afnan," jawab Norma lemah.


Mereka kini sudah duduk di ruang tamu demi bisa memikirkan nasib mereka ke depannya.


"Hah bagaimana bisa?" tentu saja Medi terkejut karena justru lelaki yang akan di jodohkan dengan kekasihnya tahu terlebih dahulu tentang keadaan Norma.


Norma pun menceritakan semua kejadiannya. Tak ada yang di tutupi. Dia juga melihat tatapan kecewa Medi saat mendengar ceritanya yang berusaha menjebak Afnan dengan obat perangsang. Bahkan tangan kekasihnya itu mengepal.


Beruntungnya Medi tak langsung menghakiminya. Lelaki itu masih mendengarkan dengan sabar cerita sang kekasih.


"Aku takut Di. Maafkan aku, aku tahu kamu kecewa. Tapi sungguh aku terpaksa. Perusahaan sudah sangat goyah, bahkan sebentar lagi mungkin akan gulung tikar," jelas Norma.


Medi sangat paham bagaimana watak orang tua kekasihnya itu. Dia tidak menyalahkan sang kekasih yang memang berada di bawah tekanan orang tuanya.


Melihat kekasihnya diam saja, Norma kembali terisak. Medi menghela napas, dan kembali memeluk tubuh kekasihnya.


Dia bersyukur untungnya sang kekasih tak berhasil menjebak calon suaminya itu. Dia tak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika anaknya di sirami benih lelaki lain.


"Aku takut Di. Kalau kamu memang berencana membawaku pergi. Aku mohon secepatnya. Aku takut," bujuk Norma.


"Baiklah. Sekarang kamu istirahat dulu ya. Jangan buat anak kita tertekan. Kasihan katanya dia bisa merasakan juga," ajak Medi menuntun sang kekasih ke kamar mereka.


.


.


Di kediaman Norma, orang tuanya harap-harap cemas. Anak mereka tak bisa di hubungi, jadi mereka berpikir jika rencana mereka pasti berhasil.


"Jadi besok kita akan meminta pertanggung jawaban Afnan pah?" tanya Ratna pada suaminya.

__ADS_1


"Tentu saja. Kali ini lelaki sombong itu akan kita rendahkan! Cukup selama ini kita selalu merendah padanya agar segera menikahi putri kita. Besok kita akan membalas segala perbuatannya selama ini!"



__ADS_2