
Alawiyah kembali ke ruangan Salimah. Dia terenyuh saat melihat Salimah yang tengah tertidur dengan pulas meski sekitarnya sangat berisik.
"Sal bangun yuk!" ucap Alawiyah lembut sambil menggoyangkan tubuh Salimah secara perlahan.
Salimah bangun dan mengerjap bingung, di sana dia melihat sang sahabat datang bersama seorang perawat yang membawa kursi roda.
"Ada apa Al?" tanyanya bingung.
"Ayo pindah kamar supaya kamu nyaman," jelas Alawiyah sambil tersenyum hangat.
"Apa Mas Jendral dan Triya yang meminta aku pindah?" tanya Salimah lagi.
Alawiyah menghembuskan napas lelah, bukan ide dari dua manusia tak punya hati itu. Melainkan ide darinya yang bertekad akan melindungi Salimah dan anak yang di kandungnya.
"Ayo sus kita pindah!" elak Alawiyah untuk menjawab pertanyaan Salimah.
Tanpa banyak bertanya lagi, Salimah lantas pindah ke kursi roda menuruti perawat dan juga Alawiyah. Rino sendiri berada di gendongan Alawiyah karena balita itu terlihat kelelahan.
Dia di pindahkan ke kelas satu, meski tak semewah kelas perawatan Triya, tapi cukup nyaman menurut Alawiyah.
Bukan tak mau membantu sahabatnya menjalani perawatan terbaik yang sama dengan Triya.
Namun karena kelas eksekutif itu memang sudah penuh semua.
Salimah lantas bertanya mengenai keberadaan suami dan juga madunya. Sebab sejak masuk ke sana keduanya tak pernah menampakkan batang hidungnya.
"Kamu tau mas Jendral sama Triya di mana Al?"
Alawiyah yang tengah bermain dengan Rino menghentikan kegiatannya seketika.
__ADS_1
Dia lalu memandang Salimah dengan sendu. Sebenarnya dia tak ingin membicarakan masalah sang sahabat saat ini sebab keadaan Salimah yang masih lemah.
Namun dia tak ingin menyembunyikan apa pun lagi pada sahabatnya. Salimah harus tau orang yang dia kira baik justru akan membuangnya dan anaknya setelah mereka memiliki anak sendiri.
Alawiyah jadi berpikir, seandainya pun Triya tidak hamil saat ini, tapi tak menutup kemungkinan suatu saat Triya bisa saja hamil dan justru akan membuat anak Salimah yang berada dalam asuhan mereka akan terasingkan.
Jadi Alawiyah berpikir jika Tuhan mungkin tak akan membiarkan anak tak berdosa itu di asuh oleh keduanya.
"Ada yang harus kamu tau mengenai Jendral dan Triya Sal," ucapnya sedikit ragu.
"Ada apa dengan mereka Al?"
Alawiyah menarik napas panjang sebelum menghembuskannya secara perlahan.
Dia menggenggam tangan sang sahabat, "Saat ini Triya lagi hamil. Dia juga di rawat seperti kamu karena kelelahan dan drop," jelasnya.
"Apa Triya baik-baik aja Al?" tanyanya khawatir.
Alawiyah tak menyangka tanggapan Salimah jauh sekali dengan ekspektasinya yang akan terkejut lalu menangis meratapi nasibnya sendiri.
"Kamu mengkhawatirkan mereka? Apa kamu enggak mengkhawatirkan keadaan kamu sendiri?" tanya Alawiyah bingung.
"Memangnya kenapa?" Salimah tak kalah bingungnya.
Alawiyah mendengus sebelum menjawab pertanyaan Salimah.
"Kamu denger tadi aku bilang kalau Triya hamil?"
Salimah mengangguk, tak lama dia berucap syukur karena madunya berhasil hamil anak yang selama ini mereka harapkan, lalu apa masalahnya? Pikir Salimah.
__ADS_1
"Dengerin aku ya Sal," ucap Alawiyah lalu diam sesaat. Dia ingin merangkai kata agar Salimah tak terlalu terkejut dan panik nantinya.
"Mereka berencana menyudahi urusannya denganmu dan anakmu—"
"Apa?!" sela Salimah yang terkejut dengan kenyataan yang di berikan oleh Alawiyah.
"Dengerin dulu ok? Kamu harus tenang, ada aku yang akan menemanimu."
Pikiran Salimah sudah kosong, benaknya di penuhi dengan kenyataan Jendral dan Triya yang memilih melepaskan dirinya dan anak yang ada dalam kandungannya.
"Bagaimana nasib aku sama anakku Al," isaknya.
Menghidupi dirinya sendiri dan Rino waktu itu saja dia kesulitan makanya dia menerima tawaran Triya yang akan membiayai hidupnya dengan cara pinjam rahim.
Namun kini dia di buang begitu saja setelah Triya mengandung anaknya sendiri. Dia tak tau lagi bagaimana harus menghidupi anaknya kelak yang masih kecil-kecil.
"Shuut! Dengerin aku dulu," sergah Alawiyah.
"Aku enggak akan ninggalin kamu. Aku akan bantu kamu dan anak kamu. Jangan panik, biarkan mereka melakukan apa yang mereka mau, karena kamu tak akan bisa menang melawan mereka," jelas Alawiyah.
"Tapi anak ini anak mereka Al, apa mereka setega itu membuang darah daging mereka sendiri?"
"Nyatanya, mereka bilang begitu sama aku. Kamu tenang aja, enggak akan aku biarin kamu di tindas oleh mereka," jawab Alawiyah yakin.
"Memang kenapa kamu bisa berkata seperti itu Al?" ucap Salimah tak mengerti.
"Kamu tenang aja, yang pasti dengerin aku. Kalau nanti Triya dan Jendral menemui kamu dan berkata akan melepaskan kamu dan anak ini, kamu iya in aja, yang lainnya aku yang urus," pesannya.
__ADS_1