Anakku Hanya Milikku

Anakku Hanya Milikku
Bab 51


__ADS_3

Rumah Salimah kedatangan tamu saat dirinya dan Fitria tengah bersantai di hari libur mereka.


Mbok Iyem yang juga tengah duduk bersama mereka segera bangkit saat mendengar suara bel rumah di bunyikan berulang kali.


"Si mbok buka dulu ya Mbak," ucap perempuan paruh baya itu pada Salimah.


Salimah mengangguk karena enggan bangkit. Dia memilih tetap merebahkan diri di sofa ruang keluarga sambil menonton televisi.


Sedangkan Fitria dia sibuk berselancar di dunia maya.


"Mbak, ada tamu yang ingin bertemu dengan mbak Salimah," ucap mbok Iyem yang sudah kembali ke dalam menemui majikannya.


"Siapa memangnya Mbok?" tanya Salimah waswas.


"Itu Non, anu katanya, bapaknya Mas Rino," jawab Mbok Iyem gugup.


"Mas Afnan?" lirih Salimah sambil bangkit duduk.


Fitria yang sejak tadi sibuk dengan gawainya tak terlalu memperhatikan percakapan keduanya. Namun saat melihat raut wajah sendu Salimah dia segera bertanya.


"Ada apa mbak?" cecar Fitria sambil bangkit berdiri.


"I-itu mbak Fit, di depan ada bapaknya Mas Rino," jawab Mbok Iyem.


"Bapaknya Rino? Maksudnya mantan suaminya mbak Salimah? Kok bisa tau tempat tinggal Mbak?" tanya Fitria bingung.


"Mbak mau nemuin apa enggak? Kalau enggak, biar aku aja yang nemuin dia?" tawar Fitria.


Sebagai balas budi, Fitria pernah berjanji pada Evita dan Alawiyah akan selalu menjaga Salimah agar kehamilannya selalu lancar.


Sudah pasti dia akan pasang badan pada apa pun yang mencoba menyakiti hati wanita lembut yang sudah di anggapnya kakak itu.


"Enggak usah Fit, biar mbak aja, mbak enggak papa kok," tolak Salimah.


Tentu saja Salimah tak akan menyia-nyiakan pertemuan dengan mantan suaminya, meski pun dia tak tahu tujuan Afnan datang mencarinya.


Lagi pula dia penasaran dari mana Afnan tahu tempat tinggalnya, apa dari Hari atasannya?


Namun perbincangannya terakhir kali dengan Hari dia meminta sang atasan untuk tak memberitahukan keberadaannya pada Afnan sampai dia melahirkan nanti.

__ADS_1


Setidaknya dia takut merasa cemas yang berlebihan hingga akhirnya bisa membahayakan kandungannya lagi.


"Mau aku temenin mbak?" tawar Fitria cemas.


"Enggak usah Fit, mbak yakin baik-baik aja kok," jawab Salimah sambil tersenyum menenangkan adik angkatnya.


"Kalau mantan suami mbak macam-macam, mbak teriak aja ya!" saran Fitria yang di balas gelakkan tawa Salimah.


"Kamu ada-ada aja Fit. Mantan suamiku orangnya lembut, dia enggak mungkin berlaku kasar sama mbak, tenang aja ya," jawab Salimah setelahnya dia berlalu menemui Afnan.


.


.


"Mas?" panggil Salimah dengan suara bergetar. Rindu, malu serta perasaan bersalah berkecamuk dalam benaknya saat melihat Afnan yang sudah sembuh seperti sedia kala.


"Salimah?" jawab Afnan lirih. Ingin mendatangi dan merengkuh tubuh wanita yang masih di cintainya, tapi ada rasa segan.


Dia tak mau menyakiti hati laki-laki lain yang saat ini menjadi pendamping mantan istrinya.


"Bagaimana keadaan kamu Sal?" tanya Afnan lembut. Tak ada kemarahan di sana meski dia sendiri merasakan kecewa pada mantan istrinya itu.


"Aku ... Enggak bak-baik aja Sal," jawab Afnan yang semakin membuat Salimah merasa bersalah.


"Maafkan aku mas," lirih Salimah.


"Enggak, Sal, maaf kalau kamu salah paham. Justru akulah yang harusnya minta maaf. Maaf soal waktu itu. Dan maaf juga untuk kesalahan ibu,” ucap Afnan.


Salimah menunduk, dia menyeka sudut matanya yang berair. Tak menyangka pertemuan dengan Afnan akan seharu ini.


Dia kira mantan suaminya itu akan marah padanya, atau bahkan merebut Rino seperti ketakutannya tempo hari . Namun tidak, Afnan datang untuk minta maaf atas kesalahan yang justru bukan dia yang perbuat.


"Mas Afnan enggak salah. Akulah yang salah. Maafkan aku yang enggak bisa berada di sisi mas saat itu," jawab Salimah sambil terisak.


Perih sekali hati Afnan saat mendengar ucapan mantan istrinya. Entah kenapa Salimah justru mengatakan sesuatu seolah dirinya masih bertakhta di hati wanita itu.


Tak tahukah Salimah, kalau Afnan sejak tadi sekuat tenaga menahan diri untuk tak memeluknya? Karena dia sadar status mereka kini bukanlah suami istri.


"Di mana Rino?" tanya Afnan mengalihkan pembicaraan yang menyesakkan dadanya.

__ADS_1


Lagi pula kedatangannya ke sana, selain ingin berbicara dengan Salimah dia juga merindukan putra semata wayangnya itu.


Salimah menengadah, dia tersenyum lalu menyeka air matanya.


"Rino ngaji kalau jam segini Mas, dia pulang nanti saat mau Zuhur," jelas Salimah bangga.


"Alhamdulillah, anak kita udah masuk TPQ."


"Lalu di mana suami kamu Sal? Maaf kalau kedatanganku mengganggu, aku sangat merindukan Rino," ucapan Afnan membuat sudut hati Salimah berdenyut nyeri.


Tak lihatkah Afnan pancaran cinta pada tatapan matanya? Hingga dengan tak punya perasaan lelaki itu bertanya tentang lelaki lain yang tak pernah Salimah ada dalam hidupnya selain dirinya.


"A–aku ..."


"PAK AFNAN?" pekik Fitria terkejut.


Gadis berhijab hitam itu tak menyangka jika mantan suami Salimah adalah orang yang selama ini dia sukai.


Andai tadi dia tak memaksa menggantikan Mbok Iyem untuk membawakan minuman, dia tidak akan pernah tau siapa gerangan mantan suami dari orang yang sudah dia anggap sebagai kakak.


"Fitria?" tanya Afnan yang sama terkejutnya dengan sang sekretaris.


Sedangkan Salimah yang sudah tahu hubungan keduanya hanya bisa diam saja. Dia tau kalau Fitria mengenal Afnan, tapi gadis itu tak tahu jika Afnan adalah mantan suaminya.


"Jadi Pak Afnan ini mantan suami mbak Salimah?" tanya Fitria yang terkejut bukan main.


"Iya," jawab keduanya bersamaan.


Hati Fitria di liputi kecemasan. Antara bingung dan juga galau.


Bagaimana kalau Salimah tahu kalau lelaki yang menjadi incarannya adalah mantan suaminya?


Meski dia tidak merebut, tapi pasti akan terasa aneh jika dia memiliki perasaan dengan mantan suami kakak angkatnya itu.


.


.


.

__ADS_1


Tbc


__ADS_2