
"Apa sebenarnya mau mu sih? kau tahu? kau itu senang sekali merusak mood ku, apa kau belum puas ha?" bentak Errando yang langsung membuat Alena terdiam seketika tidak berani mengeluarkan suara walau rasa sakit yang menjalar di area kakinya.
Mendengar bentakan dari Errando membuat Alena terdiam sambil menundukkan kepalanya, manik matanya kini bahkan terlihat berkaca kaca karena menahan rasa sakit di area kakinya. Sedangkan Errando yang sudah terlanjur emosi kemudian lantas mengusap wajahnya dengan kasar dan menatap ke arah Alena yang sedari tadi hanya menunduk dan tidak mengeluarkan suara apapun.
Errando yang penasaran akan apa yang terjadi pada Alena, lantas menatap ke arah bawah dan pandangannya terhenti kepada kedua kaki Alena yang terlihat memerah karena tersiram air panas, bahkan di area kelingkingnya terdapat goresan kecil yang mengeluarkan sedikit noda darah di sana. Errando tertegun melihat Alena hanya diam ketika kedua kakinya terluka, padahal dulu ketika keduanya berpacaran Alena pasti akan langsung manja jika terkena sedikit saja luka goresan, namun mengapa kali ini berbeda?
"Sudahlah lupakan saja, sebaiknya kau obati kaki mu itu... jangan sampai luka mu itu menyebabkan papa dan mama gempar ketika mengetahuinya." ucap Errando dengan nada yang dingin kemudian berlalu pergi dari sana meninggalkan Alena seorang diri tanpa berniat membantunya sedikit pun.
Alena yang melihat kepergian Errando hanya bisa menahan rasa sakit di hatinya. Tangisnya kini bahkan sudah pecah menatap kepergian Errando yang terlihat terus naik ke atas dan meninggalkan dirinya seorang diri di sini.
"Apa secepat itu perasaan seseorang berubah? hiks hiks..." ucap Alena sambil terisak menatap kepergian Errando dari sana.
Tidak berapa lama setelah kepergian Errando dari sana, Surti nampak turun dari atas dengan langkah tergesa gesa mendekat ke arah Alena yang terlihat hanya duduk di tempatnya dan belum beranjak sama sekali.
"Astaga nyonya... apa yang terjadi? apa nyonya baik baik saja?" tanya Surti dengan penuh rasa khawatir.
Mendengar suara cempreng Surti barusan, lantas membuat Alena langsung mendongak menatap ke arah Surti sambil tersenyum dengan manik mata yang berair.
"Hanya ke tumpahan minuman, bibi tak perlu khawatir." ucap Alena sambil tersenyum dengan air mata yang mengalir.
Surti yang melihat ekspresi wajah Alena yang seperti itu, kemudian mengajaknya untuk melipir dari meja makan dan menyuruhnya untuk duduk. Di ambilnya kain bersih dan juga kotak P3K yang sudah ia bawa dari atas sedari tadi.
__ADS_1
Dengan telaten Surti mulai membersihkan kaki Alena dan mengompresnya dengan air dingin secara perlahan, sedangkan Alena hanya diam saja dan menatap kosong ke arah depan ketika Surti sedari tadi tengah mengobati kakinya.
"Lain kali biarkan bibi saja ya yang melakukannya, nyonya hanya tinggal duduk saja dan menikmati semuanya." ucap Surti dengan nada yang lembut.
Sedangkan Alena yang mendengar ucapan dari Surti barusan dengan spontan langsung menatap ke arah Surti dengan tatapan yang sendu, bahkan Surti saja mengatakan hal demikian yang lantas membuat Alena merasa seperti tidak pantas dan tidak bisa melakukan apa apa, bahkan hanya untuk sekedar merawat suaminya.
"Bahkan bibi juga berkata seperti itu, sepertinya aku memang tidak berguna." ucap Alena kemudian menutup wajahnya dengan kedua tangannya dan menangis tersedu di sana.
Surti yang melihat Alena menangis lantas menjadi kebingungan dan serba salah, Surti tidak tahu harus bagaimana di saat saat seperti ini, sehingga yang ia lakukan hanya bisa menepuk pundak Alena dan berusaha menenangkannya.
"Bibi minta maaf, bibi benar benar gak bermaksud mengatakan hal tersebut... bibi minta maaf." ucap Surti yang merasa bersalah ketika melihat Alena menangis karenanya.
***
Malam harinya di ruang kerjanya, Errando terlihat tengah menatap ke arah layar iPad miliknya dengan tatapan yang fokus, ada beberapa data yang harus ia siapkan sebelum tender minggu depan.
Sebenarnya tidak ada yang memaksa Errando agar terjun langsung ke perusahaan, bahkan Arga sendiri menyuruh putranya itu untuk bersantai dan menikmati masa masa indah pernikahannya terlebih dahulu. Hanya saja tekad yang bulat dari seorang Errando untuk mengikuti tender minggu depan dan melawan langsung Alex, membuatnya bekerja lebih ekstra untuk mempersiapkan segalanya.
Di liriknya sekilas foto seorang perempuan cantik dengan senyum yang mengembang, tengah mencubit kedua pipi gembul seorang pemuda yang berseragam SMA. Errando menatap foto tersebut dengan tatapan yang sendu, kepergian kakaknya yang tiba tiba menyisakan kesedihan yang mendalam di hati Errando, membuat rasa dendam dan juga amarah kian membumbung dan berkumpul menjadi satu di hatinya.
"Kakak tidak perlu khawatir, aku akan memastikan segala penyebab kematian kakak terungkap ke permukaan. Aku yakin kakak tidak akan melakukan hal tersebut karena aku tahu dan mengerti kakak." ucap Errando dengan lirih sambil menatap ke arah foto tersebut.
__ADS_1
Setelah puas memandangi foto kakaknya, Errando kemudian lantas bangkit dari posisinya dan mematikan layar iPad miliknya ketika jam dinding sudah menunjukkan pukul 1 dini hari.
"Aku rasa Alena sudah tidur saat ini." ucap Errando dengan lirih sambil melangkahkan kakinya keluar dari ruangan kerjanya.
**
Kamar
Dengan perlahan Errando mulai membuka pintu kamar utama dan masuk ke dalamnya dengan gerakan yang pelan. Ada sedikit perasaan bingung ketika Errando memasuki kamarnya dan melihat lampu kamar masih begitu terang. Di tatapnya area sekitar untuk mencari keberadaan seseorang di sana.
Pandangan Errando kemudian terhenti pada Alena yang kini terlihat tengah tertidur di sofa dengan posisi yang meringkuk. Melihat Alena yang seperti itu membuat Errando lantas merasa kasihan dan melangkahkan kakinya mendekat ke arah di mana Alena berada.
"Mengapa dia malah tidur di sini? bukankah tempat tidur ku sangat luas?" ucap Errando pada diri sendiri.
Di angkatnya tubuh Alena secara perlahan untuk di pindahkan ke atas kasur. Errando menidurkan tubuh Alena di kasur dengan hati hati agar Alena tidak terbangun ketika di pindahkan. Alena terlihat menggeser tubuhnya mencari tempat ternyaman ketika Errando meletakkannya di atas ranjang, membuat Errando lantas menghela nafasnya panjang sambil menatap ke arah Alena dengan tatapan yang menelisik.
"Harusnya kau ucapkan kata perpisahan saja, mengapa kau suka sekali menyiksa dirimu?" ucap Errando dengan nada yang lirih kemudian berbalik badan hendak pergi dari sana.
"Jangan pergi Er... apa aku berbuat salah padamu?" ucap Alena dengan nada yang lirih membuat langkah kaki Errando terhenti seketika.
Bersambung
__ADS_1