
Di salah tempat yang terletak jauh dari peradaban kota.
Bruk
Sebuah suara benda jatuh yang cukup keras membuat Alena yang tengah sibuk memeriksa beberapa tanaman lobak di sana, lantas terlihat bangkit dari posisinya dan langsung berlarian menuju ke arah sumber suara. Dengan raut wajah yang khawatir Alena terlihat terus melangkahkan kakinya menuju ke arah sumber suara untuk melihat suara apa barusan.
**
Enam tahun yang lalu.
Di salah satu Bandara yang terletak di Ibukota tepatnya di dalam sebuah mobil yang dikendarai oleh Riki, keheningan terjadi di dalam sana. Permintaan Alena yang terkesan secara tiba-tiba itu membuat Riki benar-benar tidak tahu harus bersikap seperti apa dan mengambil keputusan apa di saat seperti ini. Riki menatap ke arah Alena yang saat ini tengah menatap penuh harap ke arahnya, membuat helaan napas lantas terdengar berhembus dengan kasar dari mulutnya.
"Lalu nona ingin saya membawa anda kemana?" tanya Riki pada akhirnya setelah menimbang keputusannya beberapa menit.
Alena yang mendapat pertanyaan tersebut tentu saja bingung harus menjawab apa karena ia sendiri bahkan tidak tahu kemana tujuan hidupnya saat ini. Riki yang tak kunjung mendengar jawaban apapun dari Alena lantas kembali menghela napasnya dengan panjang. Hingga ketika sebuah ide yang mungkin agak sedikit terdengar gila tiba-tiba terlintas begitu saja dibenaknya, membuat Riki lantas terlihat langsung menatap ke arah di mana Alena berada saat ini.
"Apa anda mau menetap sementara di kampung halaman saya nona?" tanya Riki kemudian yang membuat Alena langsung terdiam seketika begitu mendengar tawaran tersebut.
__ADS_1
Alena nampak sedikit menimbang keputusannya yang mungkin akan membawanya menuju kebenaran atau bahkan sebuah penyesalan. Hingga ketika otak dan juga kata hatinya bertolak belakang, pada akhirnya Alena memilih untuk mengiyakan ajakan Riki dengan mantap tanpa berpikir lagi untuk yang kedua kalinya.
"Jika begitu mari kita turun dan buat seolah-olah kita menaiki pesawat ini nona agar tidak ada orang yang curiga bahwa kita tidak jadi pergi." ucap Riki yang lantas di balas Alena dengan anggukan kepala.
***
Setelah kejadian kaburnya Alena dan Riki waktu itu, Alena yang sama sekali tidak menyangka bahwa pesawat yang akan ia tumpangi mengalami trouble dan hilang kontak. Membuat Alena sedikit menyesali perbuatannya kala itu, hanya saja ia bersyukur karena berkat dirinya yang kabur saat itu pada akhirnya membuatnya selamat dari ambang kematian. Selama enam tahun belakangan ini Alena hidup di kampung halaman Riki dan merubah namanya menjadi Vivi yang berasal dari nama tengahnya yaitu Viantika. Tidak ada alasan tersendiri hanya saja Alena ingin memiliki kehidupan baru yang lebih bahagia.
Alena sama sekali tidak ada niatan dan bermaksud untuk menipu keluarganya maupun Errando. Hanya saja ia ingin menenangkan dirinya terlebih dahulu, siapa sangka satu bulan kemudian ia mengandung putra Errando yang lantas membuat Alena memutuskan untuk membesarkan anaknya terlebih dahulu baru setelah itu, setelah semua situasinya sedikit lebih tenang dan kondusif Alena berjanji akan kembali kepada keluarganya dan meminta maaf akan kesalahannya yang telah menipu keluarganya dan tidak memberi kabar bahwa ia masih hidup hingga saat ini.
**
Sementara itu Alena yang mendengar suara berisik barusan, lantas langsung melangkah kakinya keluar dari ruangan tersebut. Ketika ia sampai di halaman depan terlihat Riki tengah berbicara dengan Aksa putranya yang kini sudah berusia 5 tahun. Alena tersenyum ketika melihat dua orang tersebut, walaupun Riki hanyalah memainkan peran sebagai seorang ayah untuk Aksa. Namun Riki begitu sangat menyayangi Aksa selayaknya putranya sendiri. Jika untuk kedua orang tua Riki, tepat setelah lima bulan Alena tinggal di sana Ibu Riki meninggal dunia menyusul Ayahnya yang sudah lebih dulu meninggalkan mereka. Hanya tersisa adik perempuan Riki saja yang saat ini tengah bekerja di Ibukota.
"Jangan beritahu Mommy ya Daddy plissss..." ucap Aksa dengan gaya cadelnya membuat pria itu lantas menghela napasnya dengan panjang ketika mendengar permintaan dari Aksa barusan.
"Apa yang jangan beritahu Mommy? Aksa... Riki...!" panggil Alena dengan nada yang memanjang.
__ADS_1
Baik Aksa maupun Riki yang mendengar suara tak asing menggema di telinga mereka, lantas langsung menoleh ke arah sumber suara untuk memastikan akan suara yang baru saja mereka dengar itu. Riki yang melihat Alena tengah berdiri sambil menatap tajam ke arah keduanya lantas langsung bangkit dari posisinya, sedangkan Aksa yang takut Alena akan memarahinya karena terjatuh barusan, lantas langsung bersembunyi di belakang tubuh Riki. Membuat senyuman kecil lantas terlihat dari wajah Alena namun langsung ia sembunyikan agar putranya itu tidak selalu bertindak seperti itu.
Alena melangkahkan kakinya mendekat ke arah Aksa dan juga Riki, kemudian mengambil posisi bersendekap dada dan menatap ke arah Riki dan juga Aksa secara bergantian seakan tengah menunggu penjelasan dari keduanya. Sedangkan Riki yang tahu sebentar lagi Alena akan mengomeli Aksa kembali, lantas kemudian menyuruh Aksa untuk bermain dengan bibinya di sebelah sana. Membuat Aksa yang melihat hal itu dan memang dalam posisi tidak ingin dimarahi oleh Alena lantas langsung berlarian mendekat ke arah Bibi agar terhindar dari amukan Alena.
"Sudah lah Nona biarkan saja lagi pula tuan muda kan masih kecil." ucap Riki yang lantas langsung membuat Alena mendengus dengan kesal ketika mendengar perkataan dari Riki barusan.
"Sudah ku katakan padamu berulang kali untuk memanggilku Vivi saja jika berada di sini, jangan memanggilku Nona Alena atau bahkan Tuan muda kepada putra ku Aksa. Cukup Vivi dan Aksa saja, apa kamu mengerti Riki? Jangan sampai aku mengulanginya kembali. Ini bahkan sudah 6 tahun berlalu tapi kamu tetap saja selalu sama." ucap Alena dengan nada yang kesal karena Riki tidak pernah mengubah sikapnya.
"Maafkan saya Nona saya benar-benar tidak bisa merubah sikap saya karena hubungan antara saya dan juga anda hanyalah sebatas atasan dan juga bawahan, sungguh tidak pantas bukan jika saya tiba-tiba memanggil nama dan menyebut putra anda dengan panggilan nama pula." jelas Riki yang lagi-lagi lantas membuat Alena menghela napasnya dengan panjang ketika mendengar perkataannya.
Hingga kemudian sebuah pemberitaan yang muncul melalui notifikasi beranda ponsel Riki, membuat Riki terdiam seketika dan terkejut dengan informasi yang baru saja ia dapatkan.
"Ada apa Rik?" tanya Alena dengan nada penasaran begitu melihat perubahan ekspresi wajah Riki saat ini.
"Nona tuan besar jatuh sakit..." ucap Riki kemudian.
Bersambung
__ADS_1