Antara Cinta & Dendam

Antara Cinta & Dendam
Boleh ku tahu alasannya?


__ADS_3

"Ku bilang diam ya diam! Mengapa kau tidak mengerti juga ha?" teriak Errando dengan tiba-tiba sambil melayangkan sebuah pukulan ke arah kaca wastafel kamar mandi.


Cetar....


Setetes darah segar mengalir dari punggung tangan Errando begitu ia dengan ringannya melayangkan pukulan ke arah kaca wastafel dengan sekali hentakan, sehingga membuat beberapa serpihan kaca lantas berhamburan dan jatuh memenuhi lantai kamar mandinya.


Hening sesaat tanpa ada ucapan apapun selain suara gemericik air yang hingga kini masih membasahi tubuh Alena.


"Kau itu tidak tahu apapun, jadi berhenti seolah kau mengetahui segalanya! Kau harus tahu batasan mu dan jangan lagi terus memaksa ku untuk mengatakan sesuatu yang sama sekali tidak ingin ku katakan ataupun aku bagi dengan mu!" ucap Errando dengan nada yang memperingati Alena agar tidak terlalu menekan dirinya.


"Er... kamu tidak lah seperti ini, di mana Errando yang penuh kehangatan dan cinta? Apa yang telah merubah mu hingga menjadi seperti ini?" ucap Alena dengan mata yang berair namun sebisa mungkin ia sembunyikan agar tidak sampai terlihat oleh Errando.


Mendengar ucapan Alena barusan membuat Errando langsung melangkahkan kakinya mendekat ke arah Alena dan mencengkram dagu Alena dengan erat, membawa manik mata Alena menatap ke arah manik mata miliknya yang terlihat penuh dengan kilatan amarah.


"Errando yang dulu telah mati tepat satu tahun yang lalu, jangan pernah mengungkit tentang Errando yang dulu atau kau akan terima konsekuensinya!" ucap Errando.


Setelah mengatakan hal tersebut Errando menghempaskan dagu Alena begitu saja kemudian melangkahkan kakinya pergi dari area kamar mandi meninggalkan Alena seorang diri di sana.


Alena yang melihat kepergian Errando hanya bisa menatapnya dengan raut wajah yang sendu di bawah guyuran air shower yang membasahi tubuhnya. Alena menekuk lututnya dan meringkuk masuk ke dalam bathtub sambil menatap ke arah pecahan kaya di mana terlihat jelas darah milik Errando masih menempel di sana.


"Sebenarnya apa kesalahan yang telah aku perbuat hingga mengubah Errando menjadi seperti itu? Apa ini ada hubungannya dengan kakak?" ucap Alena pada diri sendiri sambil menatap ke arah serpihan kaca tersebut dengan tatapan yang sendu.


***


Keesokan paginya

__ADS_1


Sinar mentari yang menembus pada celah-celah ventilasi di kamar utama lantas mulai membangunkan Alena dari tidurnya. Perlahan-lahan kelopak mata Alena mulai terbuka dengan lebar, Alena yang merasakan kepalanya berputar lantas memijit pelipisnya dengan pelan sambil bangkit dari tidurnya. Sepertinya karena tidur dengan pakaian yang basah semalam, membuat suhu tubuh Alena meningkat. Sebisa mungkin Alena mencoba untuk menetralisir rasa pusing yang melanda kepalanya karena ia harus bangkit dan menyiapkan segalanya untuk Errando.


Meski semalam ia dan juga Errando bertengkar dengan hebat setidaknya sebagai seorang istri Alena tetap harus melayani dengan baik bukan?


Dengan gerakan yang pelan sambil mencoba menyeimbangkan pijakannya, Alena mulai melangkahkan kakinya menuju ke arah walk in closed dan mengambil setelan jas lengkap milik Errando.


Jika sudah marah dan bertengkar seperti ini, Errando pasti akan tidur dan juga mandi di ruang kerjanya. Untuk itu Alena berinisiatif untuk membawakan setelan jas ini ke ruang kerja Errando.


Alena yang sudah memastikan semuanya sudah lengkap, lantas mulai melangkahkan kakinya secara perlahan sambil berpegangan pada dinding karena pijakannya yang terasa berputar. Selangkah demi selangkah Alena ambil dengan beberapa kali istirahat karena kepalanya kembali berdenyut.


"Aku bisa.. ya sedikit lagi Alena!" ucap Alena menyemangati dirinya sendiri agar terus melangkah.


***


Alena terlihat mulai membuka pintu ruangan Errando dan melangkahkan kakinya mendekat ke arah gantungan baju di ruangan tersebut. Ditatapnya Errando yang masih terlihat tertidur dengan nyenyak pada kursi kerjanya. Bayangan bagaimana Errando memukul kaca dan juga memakinya benar-benar membekas di ingatannya. Membuat Alena lantas menatap ke arah Errando dengan tatapan yang sendu.


Hingga ketika pandangan Alena terhenti pada punggung tangan Errando yang terluka, Alena lantas mulai melangkahkan kakinya mendekat ke arah lemari kaca dan mengambil kotak P 3K di sana kemudian mendekat ke arah kursi kebesaran Errando.


Sambil mengambil posisi bersimpuh Alena mulai mengobati punggung tangan Errando dengan hati-hati dan sebisa mungkin tidak membangunkan Errando.


"Sepertinya dia terlalu lelah hingga tidak merasakan apapun meski aku mengobati lukanya." ucap Alena setelah memberikan plester kepada punggung tangan Errando.


Setelah menyelesaikan tugasnya, Alena kemudian bangkit dengan perlahan sambil berpegangan pada sudut meja karena kepalanya yang kembali berdenyut, membuat Alena terdiam sejenak sambil memijat pelipisnya dengan perlahan. Hingga ketika dirasa mampu barulah Alena kembali melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan Errando dan menuju ke arah dapur untuk menyiapkan sarapan sebelum Errando berangkat bekerja.


***

__ADS_1


Dapur


Pagi ini karena tubuhnya yang kurang fit Alena hanya membuatkan sarapan Errando ala kadarnya saja. Alena menyiapkan sepiring sandwich dan beberapa potong buah di piring Errando dan tidak lupa secangkir kopi untuknya.


"Jika nona kurang enak badan sebaiknya nona istirahat saja, bibi benar-benar tidak tega melihat wajah pucat nona." ucap Surti yang terlihat melangkahkan kakinya mendekat ke arah Alena.


"Gak papa bik, lagi pula ini sudah hampir jadi.. tinggal menaruhnya saja di meja makan. Aku janji setelah ini akan langsung pergi istirahat." ucap Alena sambil memaksakan senyumnya kepada Surti.


Surti yang mendengarkan ucapan dari Alena barusan hanya bisa menghela nafasnya dengan panjang. Selama mengikuti keluarga Valentino dan berakhir dengan melayani tuan muda keluarga Valentino. Surti mengagumi sosok istri Errando yang begitu perhatian dan juga tulus dalam melayani suaminya, walau terkadang Errando tidak pernah melihat ke arahnya.


Sangat disayangkan bahwa Errando menyianyiakan sosok istri seperti Alena ini, membuat Surti selalu saja jengkel ketika melihat Errando memarahi Alena habis-habisan tanpa ampun, hanya sayangnya Surti yang perannya hanya sebagai asisten rumah tangga di sini, sama sekali tidak berhak mencampuri urusan apapun dan membuatnya hanya bisa menutup mulut tanpa bisa menolong ataupun membela Alena di depan Errando.


Disaat Surti nampak melamunkan masalah rumah tangga majikannya, Alena terlihat melangkahkan kakinya menghidangkan masakannya ke meja makan. Alena mendudukkan bokongnya sebentar ke kursi meja makan, diambilnya dua lembar tisu di meja makan kemudian mulai mengusap keringat dingin yang membasahi dahi dan juga lehernya.


"Mau saya antar kembali ke kamar nona?" tawar Surti yang merasa tak tega ketika melihat Alena yang seperti itu.


Sedangkan Alena yang mendengar tawaran dari Surti barusan hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya dengan pelan, seakan menolak dengan halus tawaran dari Surti barusan.


"Tidak perlu Bik saya masih bisa melakukannya sendiri, oh ya Bik seperti biasa jangan katakan kalau aku yang memasak makanan ini ya?" ucap Alena sambil bangkit dari posisinya.


"Boleh saya tahu alasannya nona?" tanya Surti dengan hati-hati.


"Aku..."


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2