
"Ayolah Pa... Aku bahkan tahu dengan betul bahwa Papa terus saja menangisi Alena setiap malamnya. Namun setelah Alena kembali kepada kita, apa Papa tega mengusirnya begitu saja hanya karena hal kecil ini? Semua bisa dibicarakan baik-baik Pa... Cobalah untuk berpikir lebih dingin lagi. Bukankah Papa sendiri yang mengatakan jika waktu sama sekali tidak bisa di putar kembali? Apa papa yakin mau membuang kesempatan kali ini begitu saja?" ucap Alex kemudian dengan nada yang penuh penekanan berharap dengan begitu Hermawan akan luluh dan membuka hati untuk Alena.
Setelah Alex mengatakan hal tersebut suasana kian menjadi menegang dan hening seketika. Sedangkan Aksa yang tidak mengerti apapun dengan segala hal yang terjadi di sana, lantas terlihat hanya menatap ke arah sekeliling dengan tatapan yang bingung sambil menggoyangkan sedikit tangan Alena agar Alena menoleh ke arahnya.
"Apa Mommy baik-baik saja?" tanya Aksa kemudian ketika melihat wajah sendu Alena saat ini.
Membuat Alena yang mendapat pertanyaan tersebut dari putranya, lantas hanya bisa tersenyum dengan paksa kemudian mengelus puncak kepala Aksa dengan lembut seakan mengatakan bahwa ia tengah baik-baik saja saat ini. Alena benar-benar tidak ingin membuat Putranya itu menjadi khawatir dengan keadaannya saat ini.
"Mommy tak apa, sebaiknya kita pergi dari sini hem.. Ayo Daddy kita pergi..." ucap Alena kemudian sambil mengajak Riki juga untuk ikut dengannya pergi dari ruang perawatan Hermawan.
Baik Tika maupun Alex tentu saja semakin dibuat kesal akan tingkah Hermawan karena ia benar-benar ngotot dan tak mau menoleh sedikit pun ke arah Alena saat ini. Sampai kemudian ketika langkah kaki ketiganya sampai di ambang pintu ruang perawatan tersebut, sebuah suara berat lantas terdengar menggema di ruangan tersebut yang lantas menghentikan langkah kaki ketiganya dengan spontan begitu mendengar suara tersebut menyapa telinga ketiganya.
"Apa perkataan Papa benar-benar menyakiti mu kala itu? Hingga kamu bahkan sampai membohongi Papa dan tidak mengatakan bahwa kamu masih hidup?" ucap Hermawan yang lantas membuat semua orang langsung menatap ke arahnya.
__ADS_1
Mendengar hal tersebut membuat Alena dengan spontan menoleh ke arah sumber suara dan menatap dengan tatapan yang tak percaya seakan tidak terlalu yakin akan pendengarannya barusan yang menangkap sebuah perkataan yang mungkin saja terdengar begitu aneh bagi Alena saat ini. Hermawan yang melihat Alena hanya diam sambil menatap ke arahnya dengan tatapan yang bertanya, lantas langsung membuka kedua tangannya sambil tersenyum dengan lebar seakan mengatakan kepada Alena untuk datang ke pelukan Ayahnya saat ini juga.
Sedangkan Alena yang melihat hal tersebut tentu saja langsung tersenyum bahagia, dilepaskannya genggaman tangannya kepada Aksa kemudian melangkah dengan langkah kaki yang bergegas menuju ke arah Hermawan dan langsung memeluknya dengan erat. Benar-benar momen langka yang membuat semua orang di sana turut bahagia ketika melihat pemandangan tersebut.
Riki yang melihat hal tersebut sambil menggendong Aksa, Riki lantas melangkahkan kakinya mendekat ke arah Alena dan juga Hermawan dengan senyuman yang lega. Setidaknya Hermawan saat ini sudah memaafkan kesalahan Alena walau belum sepenuhnya. Yang harus dipikirkan sekarang adalah bagaimana cara mengatakan kepada semua orang bahwa pernikahan keduanya itu adalah palsu, hanya sebatas surat saja dan tidak lebih dari itu. Bukan Riki tidak ingin sekalian menjelaskan segalanya, hanya saja suasana saat ini benar-benar tidak kondusif dan kacau, jika Riki tetap kekeh mengatakannya yang ada perpecahan akan kembali terjadi dan masalah tidak akan kunjung usai juga
"Semoga saja langkah yang aku ambil untuk nona Alena adalah benar, jika sampai salah aku pasti akan sangat menyesalinya." ucap Riki dalam hati sambil menatap ke arah momen haru keluarga itu.
"Bagaimana mungkin cucu ku lebih mirip Errando dari pada Riki yang jelas-jelas adalah ayah biologisnya? Apa ini hanya perasaan ku saja? Atau jangan-jangan...." ucap Tika seakan mencoba untuk menerka-nerka namun ia sama sekali tidak berani meneruskannya.
***
Malam harinya
__ADS_1
Mobil yang dikendarai Errando terlihat berhenti di parkiran sebuah club malam yang bertuliskan "Welcome to Sky Holic" tepat di area pintu masuk tempat hiburan malam tersebut. Setelah enam tahun lebih lamanya, hari ini pertama kalinya Errando telah kembali menginjakkan kakinya di tempat ini. Perseteruan akibat kesalahpahaman yang terjadi diantara Steven dan juga dirinya, membuat Errando semakin menjaga jarak dengan Steven dan berjanji tidak akan menginjakkan kakinya lagi ke tempat ini. Hanya saja sayangnya setelah hari ini Errando tahu bahwa Steven dan juga Alena tidak ada hubungan apapun, lantas membuat Errando begitu menyesal karena tidak percaya kepada Steven kala itu. Padahal Steven adalah sahabatnya sejak lama, bagaimana bisa Errando malah tidak percaya kepada Steven?
Dengan langkah kaki yang perlahan tapi pasti Errando terlihat terus membawa langkah kakinya memasuki area tempat hiburan malam tersebut. Ketika langkah kaki Errando semakin masuk ke dalam hingar bingar suara alunan musik DJ terdengar begitu memekakkan telinga siapa saja yang mendengarnya, namun sekaligus menjadi ketenangan tersendiri bagi beberapa orang yang mempunyai masalah dalam hidup mereka.
Sambil terus membawa langkah kakinya masuk ke dalam, Errando terlihat mencari keberadaan Steven di sana. Hingga pandangan matanya terhenti pada meja mini bar dimana terlihat Steven tengah sibuk melayani pelanggan wanitanya di area mini bar. Errando yang melihat hal tersebut lantas sedikit mempercepat langkah kaki menuju ke arah mini bar dan mengambil duduk tepat di depan mini bar.
"Buatkan aku satu minuman dengan kadar alkohol sedang." ucap Barra dengan nada yang lirih seakan mencoba untuk memancing Steven.
Sedangkan Steven yang mendengar sebuah suara tak asing di telinganya, tentu saja langsung dengan spontan menoleh ke arah sumber suara seakan ia tidak yakin sekaligus terkejut bahwa suara yang baru saja ia dengar benar-benar berasal dari Errando sahabatnya yang sudah tidak lagi ingin menemuinya sama sekali sejak saat itu.
"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Steven sambil menatap ke arah Errando dengan tatapan raut wajah yang penasaran.
Bersambung
__ADS_1